File dari Diklat Kurikulum 2013

Selama seminggu dari tanggal 30 Juni sampai 4 Juli 2014 saya mengikuti diklat kurikulum 2013 untuk mata pelajaran Prakarya. Tujuan diklat konon untuk mempersiapkan guru dalam menyambut tahun ajaran baru dengan model pembelajaran kurikulum 2013.

Baiklah, saya tidak ingin memberi komentar mengenai pelatihan kurikulum itu. Berikut ini adalah beberapa file yang bisa Bapak/Ibu Guru unduh.
1. Contoh RPP Prakarya, di sini.
2. Implementasi Kurikulum2013, di sini.
3. Permendikbud Kurikulum 2013, di sini.
4. PPT Implementasi Kurikulum 2013, di sana.
5. RPP Prakarya, di sana.
6. Salinan Permendikbud No. 65 tahun 2013 tentang Standar Proses, di sini.

Dari yang bisa saya rangkum dalam pelatihan tersebut barangkali poin-poin di bawah ini bisa memberikan gambaran singkat mengenai kurikulum 2013 terutama dalam hal pelaporan perangkat pembelajaran. Bila terdapat kekurangan atau kesalahan Anda bisa memberikan komentar di bawah tulisan ini.
1. KD 3 dan KD 4 harus saling berpasangan. KD 3 itu Pengetahuan dan KD 4 Keterampilan. (Permen No. 69)
2. Dari KD diturunkan ke Tujuan Pembelajaran.
3. Penggunaan metode pembelajaran di RPP disesuaikan dengan KD. (Misal, kalau KD nya berisi projek berarti menggunakan RPP Model Pembelajaran Project Based Learning)
4. Redaksi untuk Tujuan Pembelajaran sesuai dengan tahapan dari KD yang dimiliki.
5. KD tidak boleh diubah tapi boleh dikembangkan. (Namun ada juga yang berpendapat bahwa KD boleh diubah untuk mata pelajaran Pilihan, disesuaikan dengan budaya setempat. Atau ada saran jika ada pengembangan materi maka sebaiknya dimasukkan ke dalam kolom Indikator).
6. Penilaian ada 3, yaitu: Pengetahuan, Keterampilan, dan Sikap.
7. Pendekatan Saintifik yang ditandai dengan 5 M (Mengamati, Menanya, Mengasosiasi, Mengkomunikasikan)
8. Model Pembelajaran: Product Based Learning, Project Based Learning dan Discovery Learning.

Apakah Pemerintah telah melakukan upaya yang cukup untuk pengembangan ICT?

“If the government is only going to throw a few pennies, then we’re going to get stuck in.”
10368808_10204236670426897_964908206572746942_o
Kutipan di atas diambil dari artikel utama majalah LinuxUser berjudul “Is the government doing enough for computing?”

Seperti diketahui awal tahun 2013 menteri pendidikan nasional UK, Michael Gove, melakukan perubahan besar dalam pembelajaran ICT di sekolah-sekolah di Inggris. Gove mengenalkan kurikulum TIK Sains yang mengedepankan pemrograman. Menurut Gove, pelajaran TIK yang lalu hanya menekankan keterampilan digital mendasar.

Untuk mewujudkan keinginan tersebut maka diperlukan keterlibatan pemerintah untuk menyediakan sarana dan prasarana. Namun, kurangnya investasi dari pemerintah kepada organisasi-organisasi yang berperan serta dalam pengembangan komputasi menjadi hambatan yang cukup berarti. Salah satu diantaranya adalah kurangnya pelatihan bagi para guru.

Menurut Beale, direktur pengembangan pendidikan yayasan Raspberry, komputasi adalah penyelamat pada tahun-tahun 80-90 an. Tapi kemudian komputasi tersesat sepanjang jalan. Salah satu masalah yang kita hadapi saat ini adalah kekurangan keterampilan.
“If you teach English, you tend to have an English degree. If you teach Physic, you have a Physic degree. But if you teach computers, then it’s not the case that you will have a computing degree. It may be maths, science or business studies. Those with Computer Science degrees have a choice: get a job on a very good salary or start on £21,000 or so as a teacher. The choice to make is clear and it means there are not a lot of skills on the ground.”

jadi, menurut Beale, ada kesalahpahaman pandangan bahwa seorang guru dituntut untuk memahami program secara menyeluruh. Tidak seperti itu. Yang lebih diutamakan sesungguhnya adalah keterampilan menjelaskan pengajaran itu sendiri kepada anak-anak.

Gagasan mengenai komputasi di bidang pendidikan di UK selama beberapa tahun mengabur sampai kemudian dibangkitkan lagi oleh Eric Schmidt, presiden komisaris Google. Dalam sebuah kesempatan Eric mengatakan bahwa peluang keberhasilan ekonomi Inggris dalam media digital terhambat kembali. Untuk mengatasi hal itu ia menyarankan agar menyalakan kembali gairah anak-anak untuk mempelajari ilmu pengetahuan, teknik dan matematika.

Menteri Pendidikan, Gove, sependapat dengan hal ini, dan dalam pidato nya di bulan Januari 2012, Gove mengemukakan harapannya untuk mengembangkan TIK Sains sebagai pedoman dasar kurikulum baru di sekolah. TIK akan digantikan oleh mata pelajaran computing. Dan itu akan dimulai dari sekolah dasar , mengajarkan anak-anak untuk menganalisa masalah-masalah pada komputasi sambil menerapkan prinsip-prinsip dan konsep abstraksi, logika, algoritma dan representasi data. Pembelajaran itu akan berlanjut sampai ke sekolah menengah sehingga memberikan landasan yang kokoh bagi siswa.

“Bayangkan sebuah perubahan dramatis yang mungkin akan kita capai dalam beberapa tahun dengan perubahan kurikulum ini. Alih-alih membuat anak bosan dengan belajar word dan excel, kita bisa memiliki anak-anak berusia 11 tahun yang mampu membuat animasi 2D sederhana dengan menggunakan program Scratch yang telah disediakan oleh MIT.

Laiknya sebuah perubahan, tentu saja diperlukan adaptasi baik bagi para guru, murid, dan orang tua. Mata pelajaran computing diharapkan sudah diterapkan pada bulan September ini sementara ada beberapa kendala di lapangan, seperti: guru tidak mempunyai waktu banyak untuk mempelajari kurikulum dikarenakan tugas harian mereka yang padat, selain itu pengajaran computing ini pun diajarkan oleh guru yang tidak memiliki keahlian di bidang itu. Untuk mengatasi hal tersebut dan membantu para guru, maka yayasan Raspberry PI mengembangkan sebuah perangkat yang dapat membantu belajar komputasi dengan mudah. Dengan perangkat tersebut maka guru tidak perlu mengajarkan program secara langsung.

Yayasan Raspberry berharap dengan atau tanpa anggaran yang cukup memadai dari pemerintah, visi mereka menyebarluaskan pentingnya computing dapat sampai kepada guru.

“We just want to get the message across to teachers that computing is just as much a way of thinking as it is coding. It is about algorithms and abstractions and getting stuff done, says Beale. It’s really good for the brain and that’s why we love it; it teaches a special way of problem solving and that’s why Computer Science Unplugged (csunplugged.org) is brilliant – it’s a resource that shows how to teach comuters without a computer – colouring in stuff to learn binary.”

As time goes on, Beale predicts teachers will become more confident and coding will, at that stage, start to take on greater prominence. “if you can’t program, you can’t tell a computer what to do,” he says. “But at the age of five, six, and seven, you want to be introducing them to the concepts. What we don’t want is teachers to panic. This is a long journey and teachers will come to understand that learning is two-way with computing. If we can get people to a point where computing is just as common a skill as reading, then we’ve cracked it – and i think we will get there one way or another.”

Jadi, belajar komputer tanpa komputer apakah mungkin? Tentu saja mungkin dan bisa. Computing baik untuk otak, ia akan melatih anak-anak kita untuk bisa memecahkan masalah. Salah satu materi TIK Sains bisa dilihat di sini, http://csunplugged.org

Dan apakah harus seorang guru yang memiliki latar akademik komputer untuk mengajarkan computing? Beale sudah menjelaskannya di atas :).

Dan seperti yayasan Raspberry yang tidak akan berhenti walau tanpa dukungan anggaran yang cukup dari pemerintah, semustinya kita, guru TIK, di Indonesia juga tidak berdiam diri. Walaupun mata pelajaran ini dihapuskan kita bisa memilih untuk mengajarkan mata pelajaran ini sebagai mulok atau ekstrakurikuler atau apapun. Kita bisa belajar dari mana saja, sekian banyak literatur, majalah, dan buku yang tersebar adalah guru kita, tempat kita belajar.

Sumber: Diadaptasi dari majalah LinuxUser. Ini bukan terjemahan tetapi hanya garis besar dari isi artikel di atas.

Kata Kerja Operasional

Komponen penting dalam silabus maupun RPP adalah indikator pencapaian kompetensi. Komponen ini penting karena menjadi dasar untuk menyusun indikator penilaian. Indikator penilaian perlu dirumuskan untuk dijadikan dasar pedoman penialian bagi guru, peserta didik, maupun pengawas di sekolah. Setiap penilaian yang dilakukan melalui tes dan non tes harus sesuai dengan indkator penilaian. Indikator penilaian ini menggunakan kata kerja lebih terukur dibandingkan dengan indikator pencapaian kompetensi.

Rumusan indikator penilaian memiliki batasan-batasan tertentu sehingga dapat dikembangkan menjadi instrumen penilaian dalam bentuk soal, lembar pengamatan, dan atau penilaian hasil karya atau produk, termasuk penilaian diri.

Kata Kerja Operasional untuk pengembangan Indikator Silabus dan RPP berdasarkan taksonomi Bloom dibagi dalam beberapa pencapaian kompetensi dasar, yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi.

Taksonomi Bloom pertama kali disusun oleh Benjamin S. Bloom pada tahun 1956. Dalam hal ini, tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain dan setiap domain tersebut dibagi kembali ke dalam pembagian yang lebih rinci berdasarkan hirarkinya.
Tujuan pendidikan dibagi ke dalam tiga domain, yaitu:
1. Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.
2. Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.
3. Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin.

Dalam mengembangkan indikator perlu mempertimbangkan:
1. Tuntutan kompetensi yang dapat dilihat melalui kata kerja yang digunakan dalam Kompetensi Dasar
2. Karakteristik mata pelajaran, peserta didik, dan sekolah;
3. Potensi dan kebutuhan peserta didik, masyarakat, dan lingkungan/ daerah.

Daftar kata kerja operasional dengan tiga ranah yang biasa dipergunakan untuk menyusun indikator.

A. Ranah Kognitif
Koginitif adalah penilaian yang didasarkan pada perilaku (behavior) siswa yang diharapkan muncul setelah melakukan serangkaian kegiatan untuk mencapai kompetensi yang diharapkan. Perilaku ini sejalan dengan keterampilan proses sains, tetapi yang karakteristiknya untuk mengembangkan kemampuan berfikir siswa. Indikator kognitif produk berkaitan dengan perilaku siswa yang diharapkan tumbuh untuk mencapai kompetensi yang telah ditetapkan.

Berikut ini adalah contoh kata kerja operasional yang dapat dipakai untuk ranah kognitif
kk operasional-2

B. Ranah Afektif
Indikator afektif merupakan sikap yang diharapkan saat dan setelah siswa melakukan serangkaian kegiatan pembelajaran. Indicator afektif disusun dengan menggunakan kata kerja operasional dengan objek sikap ilmiah. Beberapa contoh sikap ilmiah adalah: berlaku jujur, peduli, tanggungjawab, dll. Selain itu, indikator Afektif juga perlu memunculkan keterampilan sosial misalnya: bertanya, menyumbang ide atau berpendapat, menjadi pendengar yang baik, berkomunikasi dll.

kk operasional-3

C. Ranah Psikomotor
Indikator psikomotorik merupakan perilaku (behavior) siswa yang diharapkan tampak setelah siswa mengikuti pembelajaran untuk mencapai kompetensi yang telah ditetapkan.

kk operasional-4

sumber: dari berbagai sumber

Paradigma Pembelajaran TIK di Sekolah

Memasuki awal tahun 2013, menteri pendidikan nasional Inggris, Michael Cove melakukan perubahan besar dalam pembelajaran TIK di negaranya. Cove mengenalkan kurikulum TIK yang mengedepankan pembelajaran TIK Sains. Menurut Cove, pelajaran TIK yang lalu hanya menekankan keterampilan digital mendasar.
Dikutip dari majalah E&T, Fresh Fruit For Teacher. Volume 8 Issue 3 April 2013, Erick Schmidt dari google dalam pidatonya di sebuah festival televisi internasional Edinburgh memberikan pendapatnya bahwa mengajarkan anak-anak hanya pada bagaimana menggunakan software dibanding menciptakannya, sama artinya menghilangkan warisan kemampuan komputasi yang dimiliki anak-anak itu.

Untuk menghasilkan generasi pencipta dan bukan sekedar pemakai, Cove ingin para murid belajar tentang kode komputer sehingga mampu menghasilkan animasi yang sederhana atau membuat aplikasi untuk telepon pintar mereka.
Bersamaan dengan revolusi pembelajaran ICT di UK, maka di pertengahan tahun 2013 mendikbud RI mengeluarkan kurikulum baru yang diberi nama Kurikulum 2013. Salah satu kebijakan dari kurikulum 2013 adalah dihapuskannya mata pelajaran TIK di jenjang SMP dan SMA, untuk kemudian menggantinya dengan mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan.
Keputusan ini tentu sangat disayangkan banyak pihak. Munculnya alasan dari pemerintah bahwa, “anak TK dan SD saja sudah bisa internetan,” menghadirkan pertanyaan baru, “apakah -bisa internet- dapat dijadikan parameter bahwa anak-anak kita sudah mahir menggunakan dan memanfaatkan internet dengan baik?

Barangkali, kutipan artikel dari “Scratch: Programming for everyone,” di bawah ini dapat menjadi bahan renungan bersama.
“Anak-anak kita saat ini adalah mereka yang disebut dengan digital native. Digital native adalah istilah untuk mereka yang lahir bersamaan dengan lahirnya era digital. Sejak dini mereka sudah terbiasa berkirim teks melalui gadget, bermain game online, serta berselancar di internet. Namun, apakah semua itu menandakan bahwa mereka sudah mahir menggunakan teknologi? Walaupun anak-anak muda itu hampir setiap saat bersentuhan dengan media digital, ternyata hanya sedikit dari mereka yang mampu menciptakan games, animasi, ataupun simulasi. Dalam artikel ini, situasi di atas digambarkan sebagai, “It’s as if they can read but not write.”
Belajar pemrograman tidak sekedar bertujuan agar semua anak menjadi programmer. Namun, pemrograman dapat membantu anak mengembangkan keterampilan matematika dan logika, meningkatkan kreativitas, serta melatih mereka untuk memecahkan masalah. Keterampilan dasar di atas akan membantu anak menghadapi kehidupan mereka di masa depan.

Alih-alih menghapus mata pelajaran TIK di sekolah apakah tidak sebaiknya merevisi kurikulum TIK dan menyesuaikan dengan kebutuhan masa depan generasi bangsa?

Mencari Buku Digital

Sumber: dari sini.

Mencari buku di toko buku versi daring dapat diperoleh di books.google.com , ada tempat lain yang juga menarik salah satunya adalah di BookFinder (http://en.bookfi.org/).

Untuk mencari, cukup ketikkan kata kunci. Buku juga dapat diunduh versi pdf nya atau dapat dibeli (pesan) versi cetaknya.

Menulis di Media Cetak

Beberapa media di bawah ini menerima berbagai tulisan dari pembaca dengan memberikan honor untuk setiap tulisan pembaca yang dimuat.

PIKIRAN RAKYAT
Forum Guru ada hampir setiap hari. Memuat opini-opini guru dan tenaga kependidikan terkait masalah pendidikan, misalnya bimbingan belajar, UN, moral dll. Panjang tulisan 2000-3000 karakter. Email : forumguru@pikiran-rakyat.com. Sertakan foto.
Cakrawala, tulisan tentang pengetahuan umum. Ada setiap hari kamis, berisi 5-6 artikel.Biasanya satu penulis bisa dimuat 3 judul sekaligus dan masih berhubungan. Tapi bisa juga mengirimkan satu judul, nanti akan dimuat bersamaan tulisan lain yang temanya sama/sejenis. Panjang tulisan 4000 – 6000 karakter. email : cakrawala@pikiran-rakyat.com
Khasanah, berisi tulisan tentang budaya. Bisa berupa cerpen, puisi atau feature. Dimuat setiap minggu. Panjang 4000 – 6000 karakter. email : khazanah@pikiran-rakyat.com
Geulis, berisi tentang tips kecantikan dan kesehatan perempuan. Hadir setiap minggu. Panjang 4000 – 6000 karakter. email : geulis@pikiran-rakyat.com
Kampus, untuk mahasiswa, tulisan seputar kampus dan perkulihan.Panjang 4000 – 6000 karakter. Email : kampus_pr@yahoo.com . Kalau gak salah tiap kamis.
Opini tiap hari ada, kecuali sabtu dan minggu. Panjang 5000-6000 karakter. Kirim berserta foto ke email :opini@pikiran-rakyat.com

REPUBLIKA
Yang saat ini lagi naik daun di kalangan ibu-ibu adalah rubrik leisure yang tayang setiap hari selasa.

Buah hati, berisi tentang pengalaman pribadi yang unik, inspiratif dan bermanfaat dalam mengasuh anak.Tulisan sekitar 2500 karakter + foto
Parenting, berisi artikel dan tips pengasuhan anak, sejauh ini sepertinya ditulis oleh redaktur republika, tapi tidak ada salahnya dicoba. Tulisan sekitar 4000-6000 karakter.
Jalan-jalan, berupa pengalaman perjalanan ke suatu kota atau tempat wisata, bisa local, tidak harus luar negeri. Tulisan sepanjang 7500 karakter beserta foto-foto.
Untuk ketiga rubric di atas bisa dikirim ke leisure@rol.republika.co.id

JAWA POS / INDOPOS
Perempuan Bercerita, tema bebas, 750 kata email ke her_relationship@jawapos.co.id
Gagasan, usulan pendek tentang apa saja, panjang 250 kata,
Opini, panjang 850 kata
Keduanya email ke opini@jawapos.co.id sertakan CV, no rek, NPWP dan telp. Naskah yg 5 hari tidak dimuat otomatis dianggap kembali ke pengirim.

sumber: http://absurditasmalka.blogspot.com/2012/05/ayo-menulis-di-media-berbayar.html

Ruang Menulis bagi Guru

Bagi Anda, para guru yang ingin mengirimkan tulisan ke media cetak, beberapa daftar surat kabar di bawah ini barangkali bisa membantu.

1. Rubrik Forum Guru di Pikiran Rakyat, Bandung.
Forum Guru ada hampir setiap hari. Memuat opini-opini guru dan tenaga kependidikan terkait masalah pendidikan, misalnya bimbingan belajar, UN, moral dll. Panjang tulisan 2000-3000 karakter.
Email : forumguru@pikiran-rakyat.com. Sertakan foto.

2. Suluh, Tribunjabar
3. Suara Guru (Galamedia)
4. Guru Menulis (Republika)
5. Mimbar Atikan (Mangle)
6. dan lain-lain

Anda juga bisa mengirim karya tulis di majalah pendidikan
1. Majalah Suara Daerah PGRI Jabar
2. EduGlobal PGRI Jabar
3. Majalah Guruku
4. Suara Guru PB-PGRI
5. BKW Disdik Jabar

diadaptasi dari:
1. http://suaradaerahajengkania.blogspot.com/2011/07/kupas-tuntas-eksis-menjadi-penulis.html