Buku TIK Duta

Untuk rekan Guru yang membutuhkan perangkat pembelajaran (Silabus, Peta Konsep dan RPP) dan file-file penunjang dari Buku TIK untuk SD dari Penerbit Duta silakan masuk ke sini.
duta

Oya, di buku TIK ini mulai dikenalkan TIK Sains (Computer Science) di kelas 6. Semoga ke depannya pembelajaran TIK Sains yang sudah dimulai gebrakannya di Eropa dan menyusul negara-negara lainnya juga akan mewabah di sekolah-sekolah di Indonesia ya. Untuk di lingkup pendidikan kursus sendiri di Jakarta sudah mulai banyak berdiri kursus pemrograman untuk anak, seperti Clevio dan lainnya.

Pembelajaran TIK di jenjang SD sejak KTSP sudah dimasukkan ke dalam muatan lokal. Dengan demikian akan lebih mudah bagi penerbit atau pun satuan pendidikan untuk berkreasi dalam pembuatan kurikulum sendiri.

Ingin tahu apa itu TIK Sains? Silakan baca tulisannya di sini.

Untuk lebih tahu mengenai TIK Sains atau Computer Science silakan masuk ke laman Hour of Code di sini ya.

Balsamiq Mockup

Mockup artinya model atau replika mesin atau struktur, yang digunakan untuk tujuan instruksional atau eksperimental.

Balsamiq mockup adalah program aplikasi yang digunakan dalam pembuatan tampilan user interface sebuah aplikasi. Software ini sudah menyediakan tools yang dapat memudahkan dalam membuat desain prototyping aplikasi yang akan kita buat. Software ini berfokus pada konten yang ingin digambar dan fungsionalitas yang dibutuhkan oleh pengguna.

Alih-alih menggambar sketsa (wireframe) atau prototype rancangan desain website di atas kertas balsamiq mockups membantu seorang web desainer membuat tampilan web dalam bentuk gambar di komputer. Tujuannya selain agar membuat tampilan (desain) website menarik juga dapat menyesuaikan dengan kebutuhan customer (pelanggan). Dengan alat pembuat mockup maka seorang web desainer dapat menganalisa tata letak, desain dan fungsi.

Contoh komponen user interface pada Balsamiq Mockups. (sumber: https://balsamiq.com/products/mockups/)

mockups

Kelebihan Balsamiq Mockups dibanding software pembuat mockup lainnya adalah aplikasi ini berbasis cloud, disertai aplikasi desktop yang memungkinkan kita dengan cepat dan mudah membuat rancangan website. Dengan konten yang terbuat seperti dari gambaran tangan, akan membuat kita fokus pada pemecahan masalah user interface yang lebih besar, daripada pada perincian website. Di websitenya sendiri ada dua pilihan untuk para pengguna, ada versi trial for dekstop dan ada juga yang bisa kita download untuk versi dekstop. Namun ada juga yang disediakan dalam versi berbayar. Aplikasi ini bisa digunakan untuk sistem operasi Windows, Mac OS, dan Linux.
Aplikasi ini dapat diunduh di laman mereka di sini.

Aplikasi ini sedianya akan saya kenalkan kepada murid-murid dalam pembelajaran pemrograman web sebagai lanjutan dari materi semester gasal.

referensi:
1. http://www.kaskus.co.id/thread/52e874abfaca179724000049/9-aplikasi-mockup-website-bagi-web-desainer/

Strategi Pengajaran

Saya tidak tahu nama metode atau strategi yang saya gunakan di dalam aktivitas saya belajar bersama murid. Namun saya berkeyakinan setiap Guru secara naluri akan mencari solusi dari setiap kesulitan belajar siswa-siswanya. Tidak ada Guru yang bahagia ketika melihat muridnya merasa gagal, bukan?

Di dalam buku Diferensiasi dituliskan bahwa kompetensi guru yang dibutuhkan untuk menerapkan strategi diferensiasi adalah penguasaan rupa-rupa strategi pembelajaran, salah satunya memvariasikan besaran kerja kelompok.
Berikut ini adalah strategi yang pernah saya terapkan yaitu dengan membuat kelompok berpasangan. Strategi ini saya lakukan dengan tujuan untuk menguji pemahaman terhadap materi yang saya ajarkan. Saat itu saya ingin memastikan siswa memahami konsep table di dalam pembuatan web. Table adalah kunci untuk membuat sebuah web.

Murid di dalam kelas berjumlah 36. Saya menyiapkan 18 variasi format table. Saya membagi siswa ke dalam kelompok berpasangan. Karena murid saya sudah cukup besar (SMA) maka saya membebaskan mereka untuk mencari pasangan kelompoknya dengan syarat yang sudah merasa mengerti tabel berpasangan dengan yang belum memahami. Tidak sepenuhnya saya bebaskan karena diam-diam ada juga yang mencari kawan dengan kemampuan yang sama ;-). Setiap pasangan di dalam kelompok mendapatkan satu lembar format table. Mereka bekerja berpasangan dan memastikan bahwa pasangan mereka paham. Bersama-sama mereka menuliskan skrip table di buku dan memeriksanya di komputer.

Strategi ini saya pandang cukup efektif dengan bercermin dari hasil tes selanjutnya yang saya berikan. Siswa juga terlihat aktif, saling belajar serta melakukan refleksi belajar sendiri. Dengan kelompok berpasangan saya mengamati bahwa kemampuan sosial anak-anak seperti kepedulian dan tolong menolong terasah.

Oya, saya juga pernah menerapkan strategi belajar bersama tutor sebaya untuk seluruh kelas. Jadi, ketika itu di dalam satu kelas terdapat dua siswa saya yang menyukai pemrograman web. Setiap saya mengajar kedua anak ini sudah asyik sendiri mencoba berbagai fitur untuk web mereka. Saya bahkan seringkali belajar dari mereka. Nah, suatu hari saya minta keduanya untuk mengajarkan JavaScript. Saya tentukan terlebih dahulu cakupan materinya, kalau tidak khawatir mereka mbablas kemana-mana.. hehe. Ternyata mereka menyambut dengan sukacita. Keduanya begitu antusias dan bersungguh-sungguh. Satu hari itu mereka menjadi Guru dan saya menjadi murid (enak juga loh.. hihihi). Saya juga ikutan mengerjakan latihan yang mereka tugaskan. Tetapi nggak selesai karena maklumlah saya merangkap asisten pengajar juga kan hari itu :).

Mencoba berbagai strategi pengajaran itu bagi saya menyenangkan karena kadangkala hasilnya di luar dugaan. Dan selama tujuan pembelajaran tercapai dan kegiatan belajar menjadi hidup, mengapa tidak? :)

Pelatihan Strategi Diferensiasi

Jumat dan Sabtu tanggal 4-5 Desember lalu saya mengikuti pelatihan Strategi Diferensiasi yang diadakan oleh Kampus Guru Cikal di sekolah Cikal Cilandak. Saya mengikuti pelatihan ini melalui jalur beasiswa yang diberikan oleh Kampus Cikal. Terima kasih untuk Pak Bukik dan Kampus Cikal yang telah memberi kesempatan untuk saya bisa mengikuti pelatihan ini :).

Dari obrolan dengan beberapa rekan kebanyakan dari mereka dikirim melalui sekolah atau yayasan Guru. Sayangnya, kenapa pelatihan yang bagus seperti ini tidak saya temui di pelatihan-pelatihan dari Kemendikbud ya? Atau barangkali Kampus Guru Cikal bisa menggandeng Kemendikbud suatu hari nanti? 😉

d1
Hari pertama pelatihan diawali dengan perkenalan yang dikemas dalam bentuk permainan. Instruktur kami yaitu Ibu Imelda dan Ibu Didi menginstruksikan kami untuk berjalan sambil diiringi lagu. Ketika lagu berhenti maka semua peserta harus berhenti dan mencari teman di dekatnya. Kami dipersilakan untuk saling mencari tahu hal-hal menarik yang disukai oleh kawan kita. Permainan ini bertujuan untuk saling mengenal. Permainan ini juga dapat diaplikasikan kepada siswa-siswi kita di kelas. Jika permainan diterapkan di tengah semester maka pertanyaan dapat disesuaikan dengan materi yang sedang diajarkan.

Permainan kedua, kami diminta berbaris menurut lama mengajar. Setiap peserta dipersilakan bertanya kepada kawan-kawannya tanpa bersuara. Dari sana kami dibagi menjadi beberapa kelompok.

Usai perkenalan, Ibu Imelda meminta kami untuk mengikuti bacaan puisi yang akan Beliau bacakan. Yang menarik, Ibu Imelda menampakkan karakter diri yang berbeda dengan ketika bersama kami tadi. Beliau yang ramah mendadak seperti galak, tanpa senyum dan seperti tidak peduli ketika memberikan perintah. Ada apa ini ya? Apa yang dirasakan oleh peserta saat itu ya? :)

Perasaan tak nyaman, takut dan lainnya, seperti ini lah juga rasa yang dialami oleh siswa-siswi kita bila kita sebagai pendidik tidak memberikan rasa senang, nyaman kepada mereka. Di sini kami sebenarnya sedang belajar menempatkan diri kami sebagai siswa-siswi tersebut.

Selanjutnya, setiap kelompok ditugaskan untuk mendefinisikan kata Belajar. Apa sih Belajar itu menurut Anda? Nah, ini Belajar menurut kami semua :)
d3
d2

Menurut penelitian kemampuan otak untuk menyimpan informasi sebanyak 1%, 99% persen hilang atau tersimpan sementara. Oleh karenanya penting bagi kita untuk mengetahui esensi dari kegiatan belajar, yaitu konsep belajar itu sendiri. Sebagai contoh, ketika mengajarkan Tata Surya. Kita tidak mengajarkan mereka untuk menghapal jarak planet-planet, warna, dan semacamnya. Namun yang utama adalah memberi pemahaman kepada siswa bahwa mereka perlu mengetahui informasi itu untuk memahami bahwa Bumi, tempat dimana kita tinggal adalah planet yang dapat memfasilitasi kebutuhan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya. Dan karenanya kita harus menjaga dan merawatnya dengan baik. Catat: bukan tidak penting ya, informasi jarak dan lain-lain itu adalah tambahan data untuk melengkapi pemahaman kita mengapa bumi begitu istimewa untuk manusia.

Hari kedua, untuk mengingat materi sebelumnya maka semua peserta membentuk lingkaran serupa kue donat, yang terdiri dari lingkaran dalam dan luar. Peserta yang berada di dalam lingkaran dalam akan berpindah mengelilingi lingkaran. Sebaliknya dengan peserta yang berada di lingkaran luar. Pertama-tama, peserta di lingkaran luar dan dalam akan saling berhadapan. Peserta di lingkaran luar diminta terlebih dahulu memceritakan materi yang telah dipelajari di hari sebelumnya. Kemudian bergantian. Peserta di lingkaran dalam tidak boleh mengulang cerita sama yang telah dipaparkan pasangannya tadi. Setelah Ibu Didi memberi perintah untuk berpindah, maka peserta di lingkaran dalam harus berjalan berputar ke kawan sebelahnya dan mengulangi aktivitas yang sama.

Permainan di atas membantu kita untuk mengingat kembali materi pelajaran yang telah diberikan sebelumnya. Cara mengingat seperti ini cukup efekif karena kita dapat saling belajar dari kawan lainnya dengan cara berbagi.

Memasuki kegiatan pelatihan, kami semua dipersilakan membaca berbagai strategi pembelajaran yang ditempel di dinding kelas. Kami dapat memilih apa yang paling menarik minat dari strategi yang ada dan dipersilakan mengajukan pertanyaan. Selanjutnya, diskusi dan tanya jawab yang berlangsung seru. Oya, pelatihan kami baik hari pertama dan kedua selalu ramai dengan diskusi dan tanya jawab, baik antarkelompok ataupun antara peserta dan instruktur.

Berikutnya, kami dibagi menjadi kelompok kembali. Kelompok yang ini berbeda lagi dengan yang kemarin. Materi pertama di hari kedua adalah membaca surat. Kami diminta untuk mencari tahu hal-hal yang menarik perhatian kami dari surat tersebut. Kemudian dibantu panduan balasan surat, kami akan membalas surat tersebut dengan memasukkan kriteria yang diminta. Aktivitas ini adalah salah satu cara untuk mengetahui minat dan kemampuan serta kebutuhan belajar siswa.

d4

Aktivitas berikutnya adalah membaca buku Diferensiasi. Buku ini diberikan secara gratis untuk semua peserta loh. Keren, kan? Setiap kelompok yang terdiri dari 3 orang akan berperan sebagai juru ambil, koordinator dan, duh, satu lagi lupa. Setiap kelompok ditugaskan membaca 2 bab yang sama. jadi, kalau dalam satu kelompok ada 3 orang maka 2 orang bertanggungjawab untuk membaca masing-masing satu bab. Mengikuti tugas yang diberikan koordinator maka saya membaca bab RPP yang bermakna (Kok bisa pas sama tugas saya ya? ;-)). Kemudian, setelah itu kami diminta untuk menceritakan ulang bab-bab yang telah dibaca kepada anggota kelompok kami lainnya. Setelah itu seperti biasa akan disimpulkan, diberi tanya jawab dan diskusi.
d6

d9
Ingin tahu hasilnya? Silakan lihat kesimpulan dari diskusi kami semua mengenai Diferensiasi di sini ya.
d7

Berikutnya, kami diminta untuk memilih produk yang akan ditampilkan dari pembelajaran mengenai Diferensiasi. Ada 4 produk yang ditawarkan: Poster, lagu (puisi), main peran, narasi dialog, komik. Kelompok kami memilih main peran. Ah, saya nggak suka sih, apalagi harus bicara di depan, tapi anggota kelompok saya yang lain tidak keberatan, jadi baiklah :).
12346602_1510592705907431_1657167561707522176_n
Terakhir, dengan kelompok yang berbeda kami diminta untuk mencari tahu arti sebuah puisi untuk selanjutnya mengubah objek pada puisi tersebut. Setelah selesai kami dipersilakan untuk berkeliling melihat dan membaca puisi-puisi gubahan yang telah dibuat oleh masing-masing kelompok.

Nah, kegiatan memilih produk adalah bentuk diferensiasi berdasarkan hasil dengan konten yang sama. Sedangkan aktivitas mengubah puisi adalah strategi diferensiasi berdasarkan proses. Pada kegiatan mengubah puisi ini, Guru dapat mengelompokkan siswa ke dalam kelompok untuk mengetahui pemahaman setiap siswa terhadap materi yang sedang diajarkan. Misalnya, Guru dapat lebih membagi perhatiannya kepada kelompok yang belum paham.

Jika rekan Guru ingin tahu lebih banyak mengenai Diferensiasi ada baiknya membaca buku Diferensiasi dari Komunitas Guru Belajar ini.

Terima kasih untuk Ibu Imelda dan Ibu Didi, pelatihannya seru, keren dan banyak ilmu yang kami peroleh. Terima kasih juga untuk sekolah Cikal Cilandak, walau tempatnya jauh banget dari rumah saya .. hehe. Tapi sangat memuaskan deh pokoknya :)
d5

Karya Tulis

Karya tulis berikut ini adalah pembelajaran pertama saya membuat sebuah karya ilmiah (belum tepat dibilang karya ilmiah juga sih.. hehe). Tema penulisan adalah strategi pembelajaran yang telah saya terapkan ke siswa-siswa saya. Mulanya dipersiapkan untuk mengikuti lomba tetapi belum berhasil. Tak apa. Karena saya pun menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan ini. Nah, daripada hanya saya yang baca, barangkali ada baiknya saya share. Siapa tahu bermanfaat :)

Sinergi Kearifan Lokal dan Pemanfaatan TIK dalam Pembelajaran Prakarya dan Kewirausahaan

update:
Ini tulisan yang kedua, setelah yang pertama juga gagal. Karya tulis yang pertama dan kedua ini sebenarnya serupa, dengan penambahan di sana-sini.
Karya tulis ketiga saya buat lebih terperinci dengan tema yang berbeda. Untuk saat ini belum bisa saya publish.

Training The Trainer Hour of Code

Hari sabtu lalu, tanggal 14 November 2015 saya mengikuti pelatihan Hour of Code. Pelatihan ini sejatinya ditujukan untuk siapapun yang berkenan mengadakan acara Hour of Code pada tanggal 12-20 Desember (untuk Indonesia). Dikutip dari laman https://hourofcode.com/id
ticket-HOC
Hour of code adalah gerakan mendunia yang merengkuh puluhan juta pelajar dari 180+ negara. Setiap orang, di mana saja, dapat mengadakan acara Hour of Code. Tersedia tutorial-tutorial berdurasi satu jam dalam lebih dari 40 bahasa. Tak perlu pengalaman. Usia 4 sampai 104.

Kegiatan Hour of code bertujuan untuk mengenalkan pemrograman kepada masyarakat luas. Tidak seperti yang kita bayangkan selama ini, pemrograman akan dikenalkan dengan cara yang lebih menyenangkan dan mudah dipelajari melalui laman Code.org di sini.

Para calon tutor (jika kelak mereka akan mensosialisasikan kegiatan Hour of code ini) tidak lah harus Guru. Siapapun Anda bisa turut berperan aktif. Untuk karyawan bisa melakukan kegiatan hour of code ini di lingkungan rekan sekerja, sama bos nya juga boleh :). Pokoknya tidak terbatas di dalam lingkup pendidikan, dimanapun dan siapapun bisa.

Kalau daerah kami tidak ada listriknya apakah bisa mengikuti kegiatan Hour of code? Jangan khawatir, pemrograman tidak melulu berhubungan dengan komputer. Ada banyak kegiatan unplug yang dapat diunduh di laman mereka di sini atau silakan ke sini https://code.org/learn di pilihan “No device or internet? Try ‘unplugged’ computer science”

Berikut ini adalah beberapa materi yang saya peroleh dari pelatihan.
1. Kegiatan online melalui laman code.org/learn
Kami dibagi menjadi kelompok. Setiap kelompok akan berlomba menyelesaikan permainan angry birds. Nah, jangan salah, melalui game angry birds ini peserta dilatih berpikir komputasi loh. Setiap anggota kelompok bekerjasama untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam setiap level permainan. Berhubung pesertanya orang dewasa memang tak terdengar teriakan semacam “yes” atau tepuk tangan (tos) 😉 -yang biasanya dilakukan murid-murid saya ketika mereka berhasil membuat atau memecahkan masalah di dalam KBM- Tetapi diam-diam tetap mencari tahu kelompok yang di sana itu sudah level berapa… hehehe.

Di akhir permainan Hour of Code akan memberikan reward berupa sertifikat yang bisa di simpan atau dicetak sendiri, seperti foto di bawah ini.
12219583_10208342197062497_7399194386237723432_n

2. Latihan kedua adalah bermain peran.
Setiap anggota yang terdiri dari 3 orang akan berperan sebagai programmer, komputer, dan user.
Programmer harus memberikan instruksi kepada komputer untuk menyelesaikan masalah. Masalah yang diberikan adalah menyusun potongan puzzle dari sebuah bangun ruang. Tugas komputer untuk menyusun sesuai instruksi programmer. Sementara user mengamati apakah komputer menjalankan perintah sesuai instruksi programmer.
Cukup seru, karena jika instruksi dari programmer tidak jelas maka komputer bisa dipastikan hang 😀
12241644_10208183062042369_1701892184422225045_n

3. Permainan ketiga diberi nama Backwards Robotics.
Salah seorang peserta akan menjadi robot. Peserta lainnya menjadi programmer. Tema hari itu adalah mengenai sampah. Jadi, robot harus mengikuti perintah programmer untuk memungut sampah. Namun tentu saja si robot harus membelakangi sampah dan tempat sampah berada.

Bisa dilihat video klip di bawah ini yang menerapkan teknik yang sama dengan permainan di atas

4. Menyusun gelas
Setiap kelompok diberikan kertas berbentuk gelas. Setiap kelompok dibebaskan untuk menyusun posisi gelas namun jangan terlihat oleh kelompok lain. Setelah menyusun gelas kelompok juga harus menyusun kode-kode berupa simbol, seperti panah atas, bawah, kiri, kanan, rotate dan lain-lain. Kode-kode itu berfungsi untuk menyusun gelas. Selanjutnya, kode yang telah dibuat oleh masing-masing kelompok dipertukarkan dan setiap kelompok dipersilakan mengikuti instruksi yang ada pada kode-kode tadi untuk menyusun gelas. Berikutnya, setiap kelompok diminta untuk saling memeriksa kebenaran penyusunan gelas tersebut.
12241388_10208340110490334_4109450853168473251_n

IMG_2405

Bagaimana? Seru, bukan? Wah, pasti menyenangkan bisa menerapkan kegiatan belajar pemrograman ini di ruang kelas ya? Belajar pemrograman bukan hanya untuk mereka yang ingin menjadi seorang programmer. Namun, belajar pemrograman adalah melatih keterampilan berlogika, berpikir runut, memecahkan masalah serta meningkatkan kreativitas. Keterampilan dasar di atas diperlukan di dalam berbagai bidang pekerjaan serta membantu anak menghadapi kehidupan mereka di masa depan.

Terima kasih untuk Clevio yang telah berbagi ilmu kepada kami. Dan sebagai penutup tulisan ini saya ingin mengutip kalimat Pak Onno Purbo.
Ingin merdeka? Coding :)

Membuat Rumah Panel Surya

Memiliki rumah dengan panel surya barangkali tidak hanya impian saya namun juga banyak orang. Nah, sementara belum terpenuhi maka boleh lah bikin prototype nya dahulu, siapa tahu impian kita jadi nyata kelak :). Amin yra.

Membuat model rumah panel surya untuk menyalakan 3 lampu led seperti gambar di bawah ini cukup mudah.
r1

r2
Berbekal rangkaian elektronika yang telah saya berikan sebelumnya kepada murid-murid di sini, kali ini saya wujudkan rangkaian tersebut dalam kemasan rumah panel surya :). Awalnya menghindari urusan solder menyolder namun akhirnya musti nyolder juga :).

Alat dan bahan yang dibutuhkan:
1. Stik ice cream
2. lem UHU
3. Gunting
4. Panel surya (mini solar cell dengan tegangan 0.6 V)
5. 1 resistor
6. 3 lampu led warna-warni
7. kabel

Kalau ditotal seluruhnya biaya yang dikeluarkan tidak sampai 50 ribu. Satu bungkus stik ice cream harganya 2000-3000. Panel surya dengan resistor sekitar 30 ribu. 1 lampu led harganya 500 rupiah, kalau tiga berarti 1500. lem UHU 5000-10.000

Cara pembuatan:
1. Bikin desain untuk model rumah.
2. Lubangi stik ice cream sebanyak 3 untuk menempatkan lampu led. Perhatikan jarak dan besar lubang.
3. Masukkan kepala led ke dalam lubang. Susun dalam posisi kaki led berlawanan.
4. Sambungkan kaki led ke kabel dengan cara menyoldernya (lihat rangkaian elektronikanya untuk mengetahui posisi solder menyoldernya ya).
led-kelip-253x300
5. Sambungkan resistor ke kutub positif (+)
6. Kemudian sambungkan ke saklar (jika ingin menambahkan saklar. Jika tidak langsung sambungkan kabel-kabel tersebut ke panel surya dengan cara menyoldernya juga.
7. Nah, rumah impian panel surya kita sudah selesai.
8. Letakkan di bawah matahari atau di ruangan yang terdapat celah matahari masuk. Perhatikan lampu led mu menyala ceria :)

Membuat mobil-mobilan Panel Surya

Di dalam materi Prakarya dan Kewirausahaan aspek Rekayasa untuk kelas XI Semester 1 materi pembelajaran adalah mengenai Pembangkit Listrik Sederhana.

Tulisan ini akan memaparkan cara membuat model alat pembangkit listrik energi surya dengan memanfaatkan panel surya. Produk rekayasa tersebut berupa mobil panel surya. Mobil-mobilan ini hemat energi tentu saja karena tidak menggunakan baterai untuk menjalankannya. Cara bikinnya mudah. Untuk projek mobil mainan ini memang belum diprogram oleh komputer, jadi memang betul-betul manual dan mengandalkan sinar matahari untuk menggerakkan si mobil.

Alat dan bahan yang dibutuhkan:
panel surya
Tempat ice cream atau botol plastik air kemasan
4 motor dan 4 roda (kalau tidak ada 4 cukup 2 roda dan satu lagi bahan pengganti untuk roda ketiga)
papan roti (optional).

Cara membuat
1. Buat lubang kecil di penutup kotak ice cream. Sesuaikan letak lubang dengan sumbu (+) (-) yang ada di panel surya. Karena sumbu (+) (-) yang akan digunakan di contoh ini terletak di tengah maka penempatan lubang juga disesuaikan di tengah kotak ice cream.
mobil-1

2. Rekatkan panel surya di penutup kotak ice cream dengan menggunakan double tape. Tempel di sisi tepi panel suryanya.
mobil2

3. Sambungkan kabel ke sumbu (+) (-) yang ada di panel surya dengan cara menyoldernya.
mobil1

4. Selanjutnya buat lubang atau bor di kedua sisi kotak ice cream untuk meletakkan roda mobil. Sambungkan roda dengan motornya.
mobil3

5. Pasang kabel sesuai aturannya, (+) dengan (+), (-) dengan (-). Pemasangan kabel bisa juga dicermati pada mobil mainan yang menggunakan baterai. Di sini kami menggunakan bread board (papan roti) semata untuk menghindari proses penyolderan. Jadi, kalau mau disolder juga nggak pp. Atau bisa juga melihat rangkaian elektronikanya di bawah ini.
mobil

6. Untuk yang hanya menggunakan 2 roda gunakan bahan alternatif lain untuk roda ketiga. Roda ketiga ini berfungsi untuk menyeimbangkan posisi mobil.

7. Letakkan di bawah sinar matahari. Tada, mobil mainan panel surya mu telah siap dijalankan.

Oya, silakan berkreasi sendiri untuk bentuk mobilnya. Yang kami buat di sini sangat sederhana :).

Prinsip kerja mobil panel surya
Panel surya menangkap dan menyerap sinar matahari secara langsung yang kemudian digunakan untuk menjalankan mobil.

Panel surya tidak menyimpan energi yang ada pada sinar matahari sehingga jika tiba-tiba langit mendung atau panel surya tidak mendapat sinar matahari maka mobil mainan panel surya di atas tidak dapat berjalan. Untuk menyiasati hal tersebut kita dapat menambahkan aki atau baterai untuk menyimpan sinar matahari sehingga mobil mainan tetap dapat dimainkan walau tidak memperoleh sinar matahari.

Mobil panel surya merupakan teknologi masa depan yang ramah lingkungan serta solusi untuk mengurangi konsumsi bahan bakar. Kenapa ramah lingkungan? Karena pemanfaatan dari sumber-sumber energi terbarukan (seperti air, angin, matahari, biomassa/biogas) memiliki emisi gas buang yang rendah sehingga tidak menimbulkan polusi.

Beberapa kreasi mobil panel surya yang dapat dibuat. Sumber: Google.
solar-water-bottle1 sunny_side_up_parts_n11

KT-CARKIT4_2

mini-solar-toy-car-DIY-solar-car-solar-energy-toy-vehicle-for-children-education

ssu_11

Hm, bikin apalagi ya? :)

Kincir Angin

Salah satu produk rekayasa pembangkit energi listrik sederhana tenaga angin adalah kincir angin. Untuk membuat kincir angin seperti di bawah ini alat dan bahannya murah saja kok. Namun yang perlu diperhatikan adalah jangan lupa menyiapkan multitester atau ada yang menyebutnya dengan multimeter atau VOM (Volt-Ohm meter). Multimeter ini berfungsi untuk mengukur tegangan (voltmeter), arus listrik (amperemeter) dan hambatan (ohm-meter). Alat ini dapat mengukur listrik AC dan DC.
FullSizeRender (1)

Multimeter di sini juga dapat membantu untuk menentukan sumbu positif dan negatif LED’s yang kita tempelkan di dinamo kincir. Alat ini juga membantu untuk mengetahui tegangan yang dihasilkan dari putaran kincir. Untuk menyalakan sebuah lampu led kecil maka tegangan yang dibutuhkan cukup 0.6 volt atau setara 600 milivolt.

Berikut ini adalah kreasi kincir angin yang saya buat sebagai bahan demo kepada murid-murid.
Cerita saya yang lain tentang pembuatan kincir angin ada di sini.

Asyik juga memandang kincir angin kita berputar-putar ketika ditiup angin, apalagi melihat lampu led nya menyala di malam hari.

#save energy dari sekarang :)

Teaching with Technology

Selasa, 25 Agustus Eduspec dan Microsoft mengadakan acara talk show dengan tema Teaching with Technology di atamerica. Acara ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya. Kebanyakan peserta yang menghadiri adalah kalangan pendidikan termasuk Bapak/Ibu Kepsek dan Guru.

“Many who know me say i am also defined by my curiosity and thirst for learning. I buy more books than i can finish. I sign up for more online course than i can complete. I fundamentally believe that if you are not learning new things, you stop doing great and useful things.” ~ Satya Nadella, Microsoft CEO.

Di atas adalah kalimat pembuka dari presentasi nara sumber pertama, Bapak Obert Hoseanto dari Microsoft. Menurut Pak Obert, kegiatan pembelajaran yang baik perlu memperhatikan ke-4 hal di bawah ini, yaitu:
1. The need for change
2. The journey to transformation
3. Skills for the future
4. The role of technology

Sementara itu, Pak Obert juga memberikan ulasan dari Unesco mengenai kompetensi ICT yang harus dimiliki oleh seorang Guru. Daftarnya bisa dilihat di bawah ini.
IMG_1532
Menjadi seorang Guru di era digital mensyaratkan kemampuan Guru untuk mampu berinteraksi dengan teknologi informasi dan komunikasi. Menyikapi hal tersebut Microsoft sebagai salah satu perusahaan perangkat lunak komputer menyediakan wadah bagi komunitas Guru dan Pendidik untuk belajar bersama dalam sebuah laman yang bernama Microsoft Educator Newtwork di sini. Situs ini berisi berbagai inovasi pembelajaran abad 21, dan pelatihan-pelatihan yang dapat diikuti oleh Guru secara gratis.
Nah, berminat? Silakan mendaftar dan ikuti berbagai kursus dan pelatihan yang mereka berikan.

Pembicara kedua, Pak Indra Charismiadji, seorang pakar pendidikan mengemukakan pentingnya Memanfaatkan Teknologi dalam Mengajar. Pendekatan pengajaran yang diberikan seorang Guru dewasa ini semustinya tidak lagi sama dengan jaman dahulu. Anak-anak kita saat ini adalah mereka yang disebut dengan digital native, yaitu anak-anak yang hidup dalam dunia digital. Sejak lahir mereka sudah lekat dengan teknologi. Berbeda dengan orang dewasa yang diistilahkan dengan digital immigrant, yaitu mereka yang mengenal internet setelah dewasa. Maka, pendekatan pengajaran dengan anak-anak digital native ini tentu lah berbeda dengan kita dahulu orang dewasa. Jika anak-anak digital immigrant mengandalkan Guru dan buku sebagai sumber informasi maka generasi digital native dapat dengan mudah mengakses informasi dari manapun. Melalui perangkat gadget mereka dapat berselancar di internet dan bebas mengakses informasi, pun berbagi dan berkomunikasi.

Dengan demikian peran Guru bergeser menjadi fasilitator, orang dewasa yang mendampingi dan mengarahkan peserta didik agar dapat menggunakan dan memanfaatkan teknologi dengan benar sehingga membuat pendidikan berjalan lebih sistematis dan efisien.

Menurut Pak Indra, Pembelajaran abad 21 tidak lagi menjadikan Guru sebagai sumber informasi namun menjadi jembatan informasi, atau Pak Indra mengistilahkannya dengan infokultur.

IMG_1540

Oya, ada salah satu tayangan menarik mengenai anak-anak dari sebuah sekolah yang terhubung ke kawan-kawan mereka dari kota lain. Mereka diminta menebak dari kota mana kawan mereka berasal. Mereka boleh mengajukan pertanyaan kepada kawan mereka di kota lain tersebut. Melalui berbagai petunjuk yang diberikan mereka akhirnya dapat menebak kota kawan mereka berasal.
Di dalam video tersebut kita dapat melihat bagaimana anak-anak berkolaborasi, serta menggunakan berbagai media seperti peta, internet, dan lainnya untuk menemukan petunjuk yang diberikan. Seru? Tentu saja :)

Skye bukanlah satu-satunya, ada banyak aplikasi yang sebenarnya bisa dioptimalkan tidak hanya untuk menunjang KBM di kelas namun juga memudahkan pekerjaan seorang Guru, seperti Skype, OneDrive, OneNote, dan lain-lain.

Ingin menjadi Guru abad 21? Beralihlah ke teknologi :).

Terima kasih untuk Eduspec, Microsoft dan Atamerica untuk berbagi pengetahuan kepada kami. Ditunggu acara serupa lainnya :)