Dwi (Komentar untk tulisan di sini) :
waduh bu Enggar, hebat komentar tentang keterbatasan komputer yang dimiliki suatu sekolah bukanlah masalah yang sangat dipermasalahkan, yang jadi masalah mungkin media apa dan bahan materi yang akan diberikan itu dari apa bu???? Bu saya mau daftar sebagai guru bantu didesa terpencil yang jumlah comp nya sangat minim sekali jadi mohon solusinya bu enggar………
—————-
Hm, saya mencoba berpikir positif aja deh dengan komentar ini :). Saudara Dwi, saya menyadari bicara itu lebih mudah dibanding praktiknya (yang saya maksud di sini adalah saya). Adakalanya kalimat yang saya ucapkan itu adalah penyemangat untuk diri saya sendiri. Tapi saya juga berhati-hati agar itu tidak sekedar bualan. Saya tidak memungkiri kesulitan yang dihadapi oleh guru dengan terbatasnya sarana untuk belajar. Saya merasakan kondisi ini. Selain mengajar di SMPN di Jakarta saya juga mengajar di sekolah terbuka di Bandung. Sekolah ini tidak punya gedung, apalagi komputer. Tapi, pelajaran komputer adalah muatan wajib untuk tingkat SMP. Dan masalah berat buat saya ketika diminta mengajar bidang studi TIK. Apa yang harus saya berikan ke siswa sementara mereka mungkin malah tidak tahu bentuk komputer itu seperti apa. Waktu itu ada satu komputer milik staf. Saya pinjam. Oya, rekan saya malah membawa notebook miliknya sendiri. Dan dengan satu komputer serta 20 murid saya paksakan diri juga mengenalkan TIK. Sulit? Sangat.
Biarlah, saya sadar bahwa semua materi tidak akan terkejar. Yang saya lakukan adalah meminta setiap anak mencoba. Dari memegang mouse, mengetikkan 1 kalimat, dan seterusnya bergantian. Bosan? Lama? Ribut? Yah, itu sudah pasti tak terhindarkan. Jangan bayangkan situasi yang ideal untuk sebuah KBM. Teori dan praktik bergantian. Hari berikutnya sudah lebih baik. Mungkin juga karena murid-murid senang.
Sekarang sudah ada 7 komputer dari para donatur dengan spesifikasi komputer yang rendah. Untuk itu kami pilih menggunakan Linux (disesuaikan dengan dana yang tersedia). Dengan murid berjumlah 20 untuk kelas 7 dan 8. Tentu, masih ada 2 atau 3 anak dengan satu komputer. Tapi, saya boleh merasa bangga karena anak-anak ini cepat sekali belajar dan salah satu kemenangan mereka dalam lomba cerdas cermat antar sekolah kemarin adalah sebagian besar soal TIK bisa mereka jawab dengan baik. Kemenangan itu mengantarkan mereka ke tingkat provinsi dan nasional. Seperti juga yang saya tanamkan kepada murid-murid saya adalah jangan mudah menyerah. Insya Allah selalu ada jalan jika kita bersungguh-sungguh.
Untuk materi pelajaran yang saya gunakan adalah buku paket biasa dan media pada awalnya adalah papan tulis dan poster atau iklan kemudian satu komputer. Untuk keinginan Anda menjadi guru di sekolah di desa terpencil dengan jumlah komputer yang sedikit. Pertanyaan saya adalah mengapa harus di desa? Di kota pun banyak sekolah yang sarana belajarnya tidak memadai. Bagaimana caranya? Ya, tanya langsung aja ke guru di sekolah yang Anda taksir itu.
Sekian aja balasan saya.
Recent Comments