Menulis di Media Cetak

Beberapa media di bawah ini menerima berbagai tulisan dari pembaca dengan memberikan honor untuk setiap tulisan pembaca yang dimuat.

PIKIRAN RAKYAT
Forum Guru ada hampir setiap hari. Memuat opini-opini guru dan tenaga kependidikan terkait masalah pendidikan, misalnya bimbingan belajar, UN, moral dll. Panjang tulisan 2000-3000 karakter. Email : forumguru@pikiran-rakyat.com. Sertakan foto.
Cakrawala, tulisan tentang pengetahuan umum. Ada setiap hari kamis, berisi 5-6 artikel.Biasanya satu penulis bisa dimuat 3 judul sekaligus dan masih berhubungan. Tapi bisa juga mengirimkan satu judul, nanti akan dimuat bersamaan tulisan lain yang temanya sama/sejenis. Panjang tulisan 4000 – 6000 karakter. email : cakrawala@pikiran-rakyat.com
Khasanah, berisi tulisan tentang budaya. Bisa berupa cerpen, puisi atau feature. Dimuat setiap minggu. Panjang 4000 – 6000 karakter. email : khazanah@pikiran-rakyat.com
Geulis, berisi tentang tips kecantikan dan kesehatan perempuan. Hadir setiap minggu. Panjang 4000 – 6000 karakter. email : geulis@pikiran-rakyat.com
Kampus, untuk mahasiswa, tulisan seputar kampus dan perkulihan.Panjang 4000 – 6000 karakter. Email : kampus_pr@yahoo.com . Kalau gak salah tiap kamis.
Opini tiap hari ada, kecuali sabtu dan minggu. Panjang 5000-6000 karakter. Kirim berserta foto ke email :opini@pikiran-rakyat.com

REPUBLIKA
Yang saat ini lagi naik daun di kalangan ibu-ibu adalah rubrik leisure yang tayang setiap hari selasa.

Buah hati, berisi tentang pengalaman pribadi yang unik, inspiratif dan bermanfaat dalam mengasuh anak.Tulisan sekitar 2500 karakter + foto
Parenting, berisi artikel dan tips pengasuhan anak, sejauh ini sepertinya ditulis oleh redaktur republika, tapi tidak ada salahnya dicoba. Tulisan sekitar 4000-6000 karakter.
Jalan-jalan, berupa pengalaman perjalanan ke suatu kota atau tempat wisata, bisa local, tidak harus luar negeri. Tulisan sepanjang 7500 karakter beserta foto-foto.
Untuk ketiga rubric di atas bisa dikirim ke leisure@rol.republika.co.id

JAWA POS / INDOPOS
Perempuan Bercerita, tema bebas, 750 kata email ke her_relationship@jawapos.co.id
Gagasan, usulan pendek tentang apa saja, panjang 250 kata,
Opini, panjang 850 kata
Keduanya email ke opini@jawapos.co.id sertakan CV, no rek, NPWP dan telp. Naskah yg 5 hari tidak dimuat otomatis dianggap kembali ke pengirim.

sumber: http://absurditasmalka.blogspot.com/2012/05/ayo-menulis-di-media-berbayar.html

Ruang Menulis bagi Guru

Bagi Anda, para guru yang ingin mengirimkan tulisan ke media cetak, beberapa daftar surat kabar di bawah ini barangkali bisa membantu.

1. Rubrik Forum Guru di Pikiran Rakyat, Bandung.
Forum Guru ada hampir setiap hari. Memuat opini-opini guru dan tenaga kependidikan terkait masalah pendidikan, misalnya bimbingan belajar, UN, moral dll. Panjang tulisan 2000-3000 karakter.
Email : forumguru@pikiran-rakyat.com. Sertakan foto.

2. Suluh, Tribunjabar
3. Suara Guru (Galamedia)
4. Guru Menulis (Republika)
5. Mimbar Atikan (Mangle)
6. dan lain-lain

Anda juga bisa mengirim karya tulis di majalah pendidikan
1. Majalah Suara Daerah PGRI Jabar
2. EduGlobal PGRI Jabar
3. Majalah Guruku
4. Suara Guru PB-PGRI
5. BKW Disdik Jabar

diadaptasi dari:
1. http://suaradaerahajengkania.blogspot.com/2011/07/kupas-tuntas-eksis-menjadi-penulis.html

Eco Green Park

Monumen Tugu tampak cantik dilatari langit biru cerah. Alun-alun Tugu atau yang biasa disebut dengan alun-alun bundar ini terkenal sangat indah. Tugu yang sekaligus merupakan ikon kota Malang ini dilengkapi dengan kolam dan hiasan bunga teratai yang sangat indah.
tugu1 tugu3
Setelah berfoto-foto sebentar di sana, kami kembali ke hotel. Sarapan dan bersiap berjalan-jalan keliling kota Malang :). Bersama dengan dua orang kawan kami pun diajak mengunjungi Jatim Park 2. Ada apa di sini ya?

Mengusung semboyan Hijaukan Bumi Bersama Eco Green Park, inilah wisata ekologi pertama di Jawa Timur yang tepatnya terletak di Jl. Oro-oro Ombo No. 9A, Kota Wisata Batu, Malang. Selepas pintu masuk Eco Green kita bisa menikmati miniatur landscape pertanian, perkebunan beserta hasil budidaya serta dampak dari kerusakan alam.
a kerusakanalam
Di dalam wahana Eco Green yang luasnya kurang lebih 5 hektar ini dapat kita temui berbagai kreasi seni patung yang terbuat dari barang bekas dan sampah.

gajah
Patung dari barang bekas

patung gajah dari sampah elektronik

Wahana pertama yang kami kunjungi adalah Insectarium. Insectarium adalah tempat jenis serangga hidup yang ada di kebun binatang, atau museum atau pameran tinggal serangga. Insectarium sering menampilkan berbagai jenis serangga dan arthropoda serta sejenisnya seperti laba-laba, kumbang, kecoa, semut, lebah, kaki seribu, kelabang, jangkrik, belalang, serangga tongkat, kalejengking dan belalang sembah. Selain itu ditampilkan juga keterangan mengenai serangga-serangga tersebut seperti bentuk serangga, tempat hidup mereka, dan berbagai pengetahuan seputar serangga. (sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Insectarium)

kupu

kupuUU
Kupu-kupu herbarium

Kupu-kupu yang dilindungi UU

Walau makhluk-makhluk mungil itu tampak indah dan adakalanya ringkih namun jangan salah, diantara mereka pun ada yang menebarkan racun. Oya, di sini kita juga bisa berinteraksi langsung dengan serangga-serangga tersebut dan mengamati dengan detail setiap bentuk serangga yang ada, seperti di ruangan yang diisi dengan pohon jambu dan belalang ranting. Kita bisa masuk ke ruangan ini dan mencoba menemukan si belalang yang mahir menyamar sebagai ranting pohon. Tapi, hati-hati ya, karena beberapa serangga itu sering tampak di antara batu-batu yang bisa saja secara tidak sengaja kita injak.

belalangranting

belalanganggrek

belalangsembah
Belalang ranting

Belalang anggrek

Belalang sembah

Coba perhatikan bentuk belalang sembah. Konon nama ini diberikan karena bentuk belalang ini menyerupai selayaknya orang berdoa.

Keluar dari ruang insectarium kami menuju walking bird, wahana di mana kita dapat mengamati jenis-jenis burung yang tidak suka terbang. Sayangnya, si penguin belum ada di sini, padahal penguin itu burung yang tidak suka terbang, kan ya? :). #colek pipi ah ;-)

Hei, ada makhluk mungil dengan ekornya yang menggemaskan. Bisa menebak? Ya..ya.. tupai :). Tupai, makhluk yang konon sukanya berpasangan ini tampak sedang melahap biji-bijian, sementara tupai pasangannya entah dimana tak terlihat.
tupai
Jangan kaget jika kita sedang asyik berjalan-jalan berpapasan dengan burung-burung yang tersasar ya. Biasanya penjaga di sana selalu sigap. Tenang saja, barangkali mereka pun bosan dan ingin bertemu kawan baru :)

Nah, ini bagian yang membuat kerasan, perkebunan sayur :). Dalam wahana ini kita bisa belajar mengenai cara berkebun atau menanam sayur dan mengenal berbagai jenis sayuran. Dilanjut dengan rumah strawberry, jamur, dan carnivora garden. Kita juga bisa belajar cara budidaya strawberry dan jamur beserta pengolahannya dan juga bisa membeli hasilnya seperti sate strawberry dan kripik jamur. Tergiur dengan buah strawberry yang bergelantungan di pot-pot akhirnya saya membeli satu tanaman strawberry. Cukup satu, itu pun tidak terlalu yakin apakah bisa lolos di pemeriksaan bagasi nanti? Tapi, terkadang nekat itu diperlukan juga :)

bawang

l&w
Bawang Prei

Lobak dan wortel
sayur

lobak
Seledri

Lobak
buah3

buah8
Tomat cherry

Strawberry

Kalau ingin belajar pengolahan limbah sampah atau kotoran hewan juga bisa loh di sini. Oya, ada yang terlupa, dalam wahana yang sama dengan perkebunan sayur, kita bisa belajar tentang cara mengolah susu hingga menjadi produk susu.

Selain strawberry ada juga tanaman tomat cherry dengan buah-buah berwarna merah hijau kecil yang bergelantungan. Yang menarik perhatian saya adalah tanaman tomat ini dipasangi tali yang menjulur ke atas. Ketika saya tanyakan kepada petugas yang ada di sana, Beliau bilang itu untuk memudahkan mengambil buahnya karena pohon tomat tingginya bisa mencapai 3 meter. Good idea :), yang kemudian saya terapkan di pohon tomat saya yang saat ini juga mulai berbuah :).

Berikutnya, pasar burung. Di beberapa tempat biasanya terdapat wahana permainan yang cukup ramai antre-annya dan saat itu lebih sering kami lewati saja. Kebetulan wahana menggunakan kereta untuk melihat kehidupan prasejarah mulai dari zaman purba sampai jaman modern saat itu antre-annya sepi sehingga kami sempatkan ke sana.

Wahana sains walau sedikit namun tetap memikat hati. Di sini ditampilkan percobaan kincir angin untuk membangkitkan tenaga listrik. Berbagai macam kincir yang jika kita sentuh dengan kecepatan tertentu maka bisa menyalakan lampu-lampu gedung dan bangunan sebagai latar belakangnya. Ada juga stalaktit dan stalagmit serta ruangan dengan suasana gempa bumi. Atau ingin merasakan dinginnya Antartika? :)
kc

Atau ingin melihat berbagai hasil karya yang terbuat dari barang bekas atau sampah? Berikut ini adalah keterampilan yang dipamerkan. Ada yang terbuat dari kemasan rokok, limbah kertas, tutup botol dan kaleng, dan lain-lain. Bagus-bagus ya?

seni2

seni4
seni5

seni6
seni7

seni8

Mendapatkan pengetahuan sejatinya bisa darimana saja. Dengan 35 wahana yang memadukan konsep wisata alam, kebudayaan, lingkungan dan seni yang inspiratif, menarik, dan mendidik, Eco Green park bisa menjadi pilihan untuk memperoleh pengetahuan dengan cara yang menghibur dan menyenangkan.

Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai Eco Green Park silakan kunjungi situs mereka di sini.

Musium Malang Tempo Doeloe

Kota yang terletak di dataran tinggi yang cukup sejuk ini bernama Malang. Kota yang dikelilingi oleh gunung-gunung ini baru berdiri pada tahun 1914, menurut catatan yang tertera di dinding musium Malang Tempo Doeloe.

Musium ini diresmikan tanggal 22 Oktober 2012 dan berlokasi di Jl. Gajahmada, belakang Balaikota Malang. Dengan tiket masuk seharga 15.000 IDR, kita dapat melihat sejarah panjang kota Malang sejak jaman prasejarah sampai modern. Berbeda dengan musium pada umumnya, musium Malang Tempo Doeloe didesain dengan cita rasa masa kini. Tidak ada pemandu khusus tapi Anda bisa mengajukan permintaan jika merasa memerlukan. Lebih enaknya sih ditemani pemandu karena bisa mendapat banyak cerita yang mungkin luput dari perhatian kita.

Pameran diawali dari hasil penemuan bekas-bekas fondasi batu bata, kemudian berbagai prasasti, bangunan candi dan arca serta berbagai gerabah yang ditemukan dari periode akhir Kanjuruhan (abad ke-8 dan ke-9) yang kesemuanya ditemukan di tempat yang saling berdekatan.

Di ruang pertama terdapat miniatur kota Malang disertai gunung-gunung yang mengelilinginya. Wilayah cekungan Malang telah ada sejak masa purbakala dan menjadi kawasan pemukiman.

Dipamerkan juga koleksi bebatuan dari zaman pra sejarah sampai saat ini. Bentuk batu-batu jaman dahulu lebih besar dan kuat jika dibandingkan dengan batu-batu yang ada saat ini. Ada juga relief batu yang menggambarkan kehidupan pada masa itu.
photo 2 photo 4
Sebuah lukisan candi terpasang di dinding ruangan. Itu lah candi Badut, candi tertua di Indonesia. Candi ini terletak di kawasan Tidar, di bagian barat kota Malang.

Di ruangan lain dipamerkan berbagai jenis celengan dari tanah liat. Ada cerita menarik mengenai asal kata celengan. Setelah kerajaan Kanjuruhan, di masa emas kerajaan Singasari (100 tahun setela Masehi) di daerah Malang ditemukan satu kerajaan yang makmur, banyak penduduknya serta tanah-tanah pertanian yang amat subur. Ketika Islam menaklukkan Kerajaan Majapahit sekitar tahun 1400, Patih Majapahit melarikan diri ke daerah Malang. Ia kemudian mendirikan sebuah kerajaan Hindu yang merdeka, yang oleh putranya diperjuangkan menjadi satu kerajaan yang maju. Pusat kerajaan yang terletak di kota Malang sampai saat ini masih terlihat sisa-sisa bangunan bentengnya yang kokoh bernama Kutobedah di desa Kutobedah. (sumber: wikipedia).
Nah, konon di jaman kerajaan Majapahit anak-anak sudah diajarkan tentang pentingnya menabung. Bentuk tabungan pertama yang dibuat adalah celeng atau babi hutan. Sejak itu, mereka menyebutnya dengan celengan.
mmtd8
Ada juga sebuah prasasti berhuruf Jawa Kuno Hanacaraka Datasawala.
mmtd7
Berikutnya, di sudut ruangan terdapat properti rumah tangga seperti teko, cangkir, dan lain-lain dilengkapi dengan peralatan pembuatnya atau disebut rumah tembikar.
mmtd6 mmtd5
Berbagai peralatan tradisional masyarakat jaman itu pun dipamerkan, seperti lesung untuk menumbuk padi, alat penggilingan jagung, ani-ani (alat untuk memotong padi), serta mixer tradisional untuk pengaduk bahan makanan. Alat ini digunakan pada masa pengungsian Belanda tahun 1939. Cara kerja mixer tradisional ini adalah dengan menarik kedua tali saling berlawanan untuk menggerakkan pangkal kayu di bawahnya.

Kota Malang kemudian tumbuh dan berkembang setelah hadirnya kolonial Hindia Belanda. Beberapa aksesori masa itu bisa ditemukan di sini. Ada juga penjara yang banyak diisi oleh orang Belanda ketika Jepang menduduki kota Malang.

Di musium ini ditampilkan juga foto-foto walikota Malang sejak masa penjajahan Hindia Belanda, Jepang dan masa Kemerdekaan.

Ruang musium berakhir di gerai-gerai yang menampilkan unsur-unsur dari budaya kota Malang masa lampau. Semua yang tersaji di stand-stand ini bernuasa tempo doeloe seperti makanan, minuman dan souvenir (kesenian dan kerajinan tradisional). Ini adalah bagian dari acara tahunan yang digelar di kota Malang, Jawa Timur, yang disebut dengan festival Malang atau Malang Tempo Doeloe.
mtd-gerai1 IMG_0411

Dari Workshop ke Musium

Udara sejuk menyambut kedatangan kami di bandara Abdul Rachman Saleh, Malang. Bandara ini terletak di Pakis, Kabupaten Malang, atau sekitar 17 km arah timur dari pusat kota Malang. Setelah check in di hotel terlebih dahulu, kami langsung berangkat ke tempat acara yang diadakan oleh komunitas di SMK Sandhy Putra, tempat partner menjadi pembicara esok hari. Saya sendiri hanya menemani dengan niat jalan-jalan :). Tetapi, berhubung salah satu pembicara berhalangan hadir maka saya dimintai tolong mengisi sesi Beliau. Reaksi pertama tentu saja menolak. Iya sih, pesertanya seusia murid saya tapi tanpa persiapan materi? Wow :)

Setelah berusaha menolak dan menawar akhirnya diputuskan saya ditemani pembicara utama, mbak Ollie (Mbak Ollie ini sudah mengisi sesi sebelumnya). Sambil mencari ide agar sesuai dengan bahasan worksop yang mengambil tema Start up, saya memutuskan bercerita tentang murid-murid saya dan karya mereka. Beruntung saya pernah memberikan materi prakarya berupa perancangan produk, yang mengenalkan siswa kepada dunia kewirausahaan berbasis digital. Dan materi serta karya siswa itu saya simpan dan tulis di blog saya di sini. Alhamdulillah, presentasi hari itu berjalan lancar.
photo 1
Hari kedua, sementara partner menjadi pembicara, saya memutuskan untuk berjalan-jalan menyusuri kota Malang. Tujuan pertama yaitu musium Brawijaya. Rintik hujan menyapa ketika saya turun dari becak. Sedikit berlari saya menapaki tangga musium. Tiket masuk musium ini 2.500 IDR.
photo 1
Bangunan musium tampak tua, berdebu dan kurang terawat. Beberapa anak sekolah berlarian. Mulanya agak takut juga masuk ke dalam sendirian, apalagi kemudian ruangan di sisi kiri itu mendadak sepi dan sunyi. Tapi ketakutan itu hilang begitu melihat foto dan peralatan yang digunakan para pejuang untuk melakukan komunikasi dengan memanfaatkan burung merpati. Hebat juga ya, merpati bisa dilatih untuk menyampaikan pesan.
photo 2 photo 3
Ada juga koleksi peralatan komunikasi dan model komputer lawas. Dokumentasikan dahulu, barangkali bermanfaat untuk bahan mengajar.
photo 1
Dan, yang tak kalah menarik adalah koleksi mata uang RI jaman lalu. Ada juga mata uang Jepang yang sempat beredar di Indonesia, ketika negeri matahari terbit itu menjajah Indonesia. Sebagai mantan kolektor koin saya cukup berlama-lama di bagian ini.
photo 4 photo 5 photo 2
Beberapa barang peninggalan sejarah lainnya masih terawat baik seperti mobil, tank, peralatan tempur serta perlengkapan dari pakaian sampai perabotan seperti kursi, meja, yang digunakan oleh panglima Soedirman.

Di halaman belakang musium Brawijaya terdapat gerbong maut. Gerbong ini pada masa penjajahan Belanda digunakan untuk mengangkut 100 tawanan pejuang Indonesia dari Bondowoso menuju Surabaya. Keadaan gerbong yang kecil serta tertutup rapat mengakibatkan 46 orang meninggal, 11 sakit parah, 31 sakit, dan yang masih sehat hanya 12 orang.

Di luar, tetes-tetes hujan membasahi permukaan bumi. Patung panglima besar Soedirman berdiri tegak di tengah terpaan hujan. Sebuah tekad telah ditanamkan, di dada seorang pangsar Sudirman, “Janji sudah kita dengungkan, tekad sudah kita tanamkan. Semua ini tidak akan bermanfaat apabila janji dan tekad ini tidak kita amalkan dengan amalan yang nyata.”

Selaras dengan semboyan “Citra Uthapana Cakra” yang berarti “Sinar Yang Membangkitkan Kekuatan”, musium Brawijaya berharap dapat menjadi tempat yang bisa membangkitkan semangat bagi siapa saja yang datang.

Keluar dari musium Brawijaya, saya melanjutkan perjalanan mengunjungi klenteng. Klenteng adalah sebutan untuk tempat ibadah penganut agama Konghucu. Masuk ke dalam klenteng tidak dipungut bayaran. Berfoto-foto sebentar untuk kemudian melanjutkan kunjungan ke musium berikutnya, musium Malang Tempo Doeloe.

Fort Rotterdam

Rintik hujan menemani perjalanan kami sore ini menuju Fort Rotterdam, benteng peninggalan Kerajaan Gowa, Sulawesi Selatan. Letak benteng berada di pinggir pantai Losari sebelah barat kota Makassar.

Memasuki komplek benteng, di kiri kanan berdiri bangunan-bangunan yang telah dialih fungsikan menjadi museum. Sementara beberapa bangunan lainnya di dalam benteng sudah banyak yang hancur, walaupun kondisinya masih tampak baik.
photo 5

Menyusuri tepian benteng dan sesaat angan mengembara jauh. Dahulu, di sini, selama satu tahun penuh Kesultanan Gowa diserang. Sultan Hasanuddin dan para pejuangnya bertempur mati-matian mempertahankan benteng melawan Belanda. Tujuan penyerbuan Belanda adalah untuk menguasai jalur rempah-rempah dan memperluas kekuasaan untuk memudahkan mereka membuka jalur ke Banda dan Maluku. Pertempuran ini menyebabkan beberapa bagian benteng hancur. Kesultanan Gowa pun kalah dan dipaksa untuk menandatangani Perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667.

Guberbur jenderal Speelman, armada pemimpin perang saat itu kemudian membangun kembali beberapa bagian benteng yang hancur dengan model arsitektur Belanda. Dan menambahkan satu bastion lagi di sisi barat. Ia juga menamakan benteng dengan Fort Rotterdam, yang diambil dari nama tempat kelahiran Speelman (narsis juga ya? hehe)

Dinding tembok benteng konon dibuat dari batu padas hitam, yang bahan dasarnya merupakan campuran batu dan dan tanah liat yang dibakar hingga kering. Tembok benteng sudah dipenuhi lumut, namun kenangan kemegahan sebuah benteng masih jelas tergambar.
photo 2
Sayang, beberapa museum seperti museum La Galigo sudah tutup, mungkin karena kami sudah terlalu sore ke sana. Namun ada satu museum yang masih buka. Entah museum apa namanya. Untuk masuk ke dalam museum ini tarif yang dikenakan adalah 5000 IDR untuk wisatawan lokal, untuk turis asing 10000 IDR. Isi museum antara lain, perahu pinisi, kapal layar tradisional suku Bugis dan Makassar. Ada juga berbagai hasil bumi dan rempah pulau ini, antara lain: kopra, kopi, dan lain-lain. Rumah adat masyarakat Bugis dan Makasar, serta peralatan membuat kapal, melaut, dan banyak lagi. Dipamerkan juga kreasi corak dan warna khas kain sutra Bugis dan Makasar yang ditenun secara tradisional.
photo 2
makassar
Keluar dari museum kami menuju penjara Pangeran Diponegoro. Pangeran dari Jawa Tengah ini pernah dipenjara oleh Belanda. Sel ini memiliki ruangan yang sempit dengan atap melengkung dan pintu yang rendah. Lagi, kami tak bisa masuk ke dalam dan hanya bisa melihat dari luar.
photo 5
Di sekitar benteng terdapat toko souvenir yang menjual berbagai benda kerajinan tangan. Ada juga toko yang menjual buku-buku hikayat dan sejarah kepahlawanan kota ini, yang juga sayangnya sudah tutup. Maka, kami cukup menyusuri sudut-sudut benteng dan lorong-lorong bastion yang berbeda satu sama lain. Beberapa bagian lorong dan sudut bastion mengingatkan saya pada kisah-kisah detektif. Lorong-lorong dan gua misteri yang menegangkan dan begitu seru untuk dieksplorasi.
photo 5
Rintik hujan masih mengguyur Makassar, pulau nenek moyang pelaut sejati. Kami keluar dari benteng Fort Rotterdam untuk perjalanan berikutnya. Saatnya mencicipi kuliner kota Anging Mammiri yang terkenal dengan ragam olahan berbahan dasar ikan dan kaya rempah.

Kuliner khas di Makassar adalah coto makassar, masakan berkuah segar panas yang terdiri dari beberapa pilihan seperti daging sapi, lidah sapi, dan jeroan. Disantap bersama ketupat atau buras, disertai sambal hijau pedas. Makassar juga terkenal dengan olahan dasar ikan. Rasa ikan di sini berbeda dengan di Jakarta, lebih manis. Disantap bersama tumis kangkung, sambal mangga, sambal dabu-dabu dan sambal ikan bakar yang racikannya terdiri dari sambal kacang dilengkapi jeruk nipis, hemm.. enak deh :). Cemilan khas kota ini adalah pisang epe. Pisang tanduk muda yang dibakar dan dilapisi keju bersama larutan coklat dan biji durian. Untuk menghangatkan tubuh bisa mencoba saraba, minuman yang berisi campuran susu dan jahe. Rasanya serupa dengan bajigur atau bandrek.

Malam semakin larut, dari lantai kamar hotel laut Losari tampak tenang, temaram. Beberapa kapal tampak di kejauhan. Itukah pinisi?