Buku TIK SD sesuai standar KTSP

Erlangga 15 Comments »

Rekan dan teman, buku TIK SD yang disesuaikan dengan standar KTSP dari penerbit Erlangga telah selesai seluruhnya. Untuk silabus dan contoh RPP dapat Anda unduh di sini. Mohon maklum untuk RPP tidak bisa saya buat seluruhnya.

Oya, saya lampirkan beberapa tambahan materi, yang mungkin Bapak/Ibu perlukan. Anda dapat meng-unduhnya di halaman yang sama. Saya akan cicil melalui blog ini.

Saya juga menyadari bahwa banyak kekurangan pada buku tersebut, untuk itu kritik dan saran Anda sangat saya harapkan. Terima kasih atas perhatiannya. Semoga bermanfaat.

update:

Teman, sepertinya ada kekeliruan di file silabus tik KBK jilid 2. File-nya tertimpa dengan silabus tik ktsp. Untuk sementara file silabus jilid 2 dengan standar KBK jangan diunduh dulu. Maaf kan ya.

Leaving Microsoft To Change The World

Obrolan, Pendidikan 7 Comments »

leavemicrosoft4.jpgBuku bagus, memoar dari seorang mantan eksekutif di microsoft. John Wood melepaskan karir bagusnya di microsoft dan memilih untuk mendirikan lembaga nirlaba yang menyediakan dana untuk pendidikan anak-anak di negara berkembang. Berawal dari kedatangan John ke sebuah tempat di ketinggian Himalaya di dataran tinggi Nepal, di sebuah desa terpencil yang dihuni oleh orang-orang buta huruf dan kebanyakan anak-anak putus sekolah.

Menyadari bahwa kesempatan yang dia miliki sekarang adalah berkah dari sebuah pendidikan yang baik, maka John ingin memberikan peluang yang sama kepada anak-anak yang kurang beruntung. Langkah pertama yang ditempuhnya adalah memberikan bantuan banyak buku ke sekolah yang membutuhkan di Nepal. Mengirimkan dana untuk membangun sekolah, lab komputer dan lab bahasa. Lembaga ini diberi nama Room to read. Pada proyek sosial pertamanya John menggunakan kas pribadi. Berikutnya, dibantu donasi dari para donatur. Lembaga ini kemudian melebarkan bantuannya ke negara-negara berkembang lain, seperti vietnam, kamboja, india. Serta memberikan beasiswa kepada anak-anak perempuan yang diberi nama room to grow.

Mengutip kalimat bijak dari seorang rekan John ‘Ketika Anda mendidik seorang anak laki-laki, Anda mendidik hanya seorang anak laki-laki. Tetapi ketika Anda mendidik seorang anak perempuan, Anda mendidik seluruh keluarga, dan generasi berikutnya’.

John dan timnya meyakini untuk menciptakan perubahan sosial yang abadi di negara-negara berkembang adalah memasukkan anak-anak perempuan sejak dini ke sekolah dan menjaga agar mereka tidak putus sekolah setidaknya sampai akhir sekolah lanjutan. Kelak mereka akan lebih percaya diri dan terberdayakan serta mandiri secara finansial.

Buku dari penerbit bentang ini sungguh menginspirasi. Membuat saya bertanya-tanya tidakkah negeri ini belajar bagaimana negara-negara lain menghargai sebuah pendidikan? Karena pendidikan akan menghantarkan kita kepada banyak pilihan hidup dan kesempatan, tidak sekedar alternatif punya uang atau tidak.

Raker

Pendidikan 5 Comments »

Selama 2 hari dari tanggal 9 dan 10 saya mengikuti raker yang diadakan di sekolah. Hari pertama acara dibuka dengan laporan ketua panitia dan beberapa kata sambutan. Berikutnya membahas program kurikulum, yang terdiri dari kalendar akademik, program pembelajaran, pembagian tugas tambahan, dan pembagian tugas kepanitiaan. Saya mendapat jatah untuk persiapan UAS semester ganjil dan PSB (Penerimaan Siswa Baru) 2009/2010. Dilanjutkan dengan kesiswaan dan program sekolah.

Agenda hari kedua adalah KTSP dan analisis KKM. Tidak ada pembuatan RPP dan silabus raker kali ini. Mengulang ucapan dari kepala sekolah, bahwa pembuatan RPP dan silabus tidak akan dibahas karena itu adalah tugas guru sehari-hari. ;-). Hari ini harusnya saya ikut training tapi karena agak kurang sehat saya memilih di rumah saja. Minggu depan sekolah akan dimulai. Kembali mengajar.

Oya, ternyata hari belajar efektif smester ganjil ini sangat sedikit karena banyaknya libur. Bukan berarti gurunya senang tapi justru khawatir, karena lieur mengatur beban materi yang harus tersampaikan dengan waktu yang minim. Bisakah?

Menjawab Komentar

Obrolan, Pendidikan 1 Comment »

Dwi (Komentar untk tulisan di sini) :

waduh bu Enggar, hebat komentar tentang keterbatasan komputer yang dimiliki suatu sekolah bukanlah masalah yang sangat dipermasalahkan, yang jadi masalah mungkin media apa dan bahan materi yang akan diberikan itu dari apa bu???? Bu saya mau daftar sebagai guru bantu didesa terpencil yang jumlah comp nya sangat minim sekali jadi mohon solusinya bu enggar………

—————-
Hm, saya mencoba berpikir positif aja deh dengan komentar ini :). Saudara Dwi, saya menyadari bicara itu lebih mudah dibanding praktiknya (yang saya maksud di sini adalah saya). Adakalanya kalimat yang saya ucapkan itu adalah penyemangat untuk diri saya sendiri. Tapi saya juga berhati-hati agar itu tidak sekedar bualan. Saya tidak memungkiri kesulitan yang dihadapi oleh guru dengan terbatasnya sarana untuk belajar. Saya merasakan kondisi ini. Selain mengajar di SMPN di Jakarta saya juga mengajar di sekolah terbuka di Bandung. Sekolah ini tidak punya gedung, apalagi komputer. Tapi, pelajaran komputer adalah muatan wajib untuk tingkat SMP. Dan masalah berat buat saya ketika diminta mengajar bidang studi TIK. Apa yang harus saya berikan ke siswa sementara mereka mungkin malah tidak tahu bentuk komputer itu seperti apa. Waktu itu ada satu komputer milik staf. Saya pinjam. Oya, rekan saya malah membawa notebook miliknya sendiri. Dan dengan satu komputer serta 20 murid saya paksakan diri juga mengenalkan TIK. Sulit? Sangat.

Biarlah, saya sadar bahwa semua materi tidak akan terkejar. Yang saya lakukan adalah meminta setiap anak mencoba. Dari memegang mouse, mengetikkan 1 kalimat, dan seterusnya bergantian. Bosan? Lama? Ribut? Yah, itu sudah pasti tak terhindarkan. Jangan bayangkan situasi yang ideal untuk sebuah KBM. Teori dan praktik bergantian. Hari berikutnya sudah lebih baik. Mungkin juga karena murid-murid senang.

Sekarang sudah ada 7 komputer dari para donatur dengan spesifikasi komputer yang rendah. Untuk itu kami pilih menggunakan Linux (disesuaikan dengan dana yang tersedia). Dengan murid berjumlah 20 untuk kelas 7 dan 8. Tentu, masih ada 2 atau 3 anak dengan satu komputer. Tapi, saya boleh merasa bangga karena anak-anak ini cepat sekali belajar dan salah satu kemenangan mereka dalam lomba cerdas cermat antar sekolah kemarin adalah sebagian besar soal TIK bisa mereka jawab dengan baik. Kemenangan itu mengantarkan mereka ke tingkat provinsi dan nasional. Seperti juga yang saya tanamkan kepada murid-murid saya adalah jangan mudah menyerah. Insya Allah selalu ada jalan jika kita bersungguh-sungguh.

Untuk materi pelajaran yang saya gunakan adalah buku paket biasa dan media pada awalnya adalah papan tulis dan poster atau iklan kemudian satu komputer. Untuk keinginan Anda menjadi guru di sekolah di desa terpencil dengan jumlah komputer yang sedikit. Pertanyaan saya adalah mengapa harus di desa? Di kota pun banyak sekolah yang sarana belajarnya tidak memadai. Bagaimana caranya? Ya, tanya langsung aja ke guru di sekolah yang Anda taksir itu.

Sekian aja balasan saya.

Buku Paket

Erlangga 3 Comments »

Lihat di sini

Jakarta, Kami Datang

Pendidikan 4 Comments »

Kabar lanjutan dari lomba cerdas cermat tingkat provinsi. Hari jumat murid-murid sekolah terbuka yang diwakili oleh kelompok juara pertama (Erni, Cyndi dan Fajar) mulai berlomba kembali. Selama 3 hari, dari tanggal 4 sampai dengan 6 Juli mereka menginap di puri khatulistiwa bersama wakil-wakil juara dari kota-kota jawa barat lainnya. Setelah lolos di babak penyisihan dan semi final, tim ini akhirnya memastikan diri mereka berhasil mengusung piala dan tiket ke tingkat nasional. Itu artinya, mereka akan ke Jakarta. Wow, hadiah yang sangat manis dan membanggakan. Ada rasa haru dan kebahagiaan yang tak terbayarkan oleh apapun. Terima kasih rekan untuk semua doa dan support-nya. Insya Allah, lomba motivasi belajar mandiri tingkat nasional ini akan berlangsung dari tanggal 14 sampai 18 Agustus, di Jakarta. Doakan kami ya.

image006.jpg juara11.jpg

Buku Sekolah Elektronik

Pendidikan 18 Comments »

Request from my chief editor :)

Departemen Pendidikan Nasional meluncurkan buku sekolah elektronik yang dapat diakses melalui situsnya di sini. Buku ajar ini telah dibeli hak ciptanya oleh Depdiknas. Dari surat kabar harian Kompas, dikabarkan pemerintah telah menargetkan 295 judul buku sekolah elektronik pada Agustus 2008. Dan saat ini  telah terdapat 49 judul buku  digital yang dapat diunduh masyarakat lewat internet secara gratis. Dengan adanya buku sekolah elektronik maka siapapun berhak untuk mengunduh, mencetak, memperbanyak dan menjualnya dengan ketepan harga yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Saya sudah melihat situsnya.  Buku-buku yang ada di sini masih terbatas. Buku-buku yang termasuk ke dalam UN sepertinya lebih diutamakan.  Saya juga mencoba mengunduh satu buku. Filenya lumayan besar.

Terobosan pemerintah untuk meluncurkan program bse ini memang layak kita dukung. Beberapa komentar baik kritik dan saran diberikan. Nah, apa saran dan kritikan Anda? Walaupun sudah banyak orang yang menuliskan dan memberi komentar mengenai bse ini, ndak pa-pa kan? :)

Saya lebih ingin tahu, kira-kira bagaimana dengan industri perbukuan di Indonesia? (Termasuk penulis dan penerbitnya, tentu).

Komentar saya? Hmm.. hmm.. nanti aja deh ;-)

Veni Vidi Vici

Obrolan 10 Comments »

Alhamdulillah, Sekolah Terbuka Firdaus memenangkan lomba cerdas cermat yang berlangsung hari Senin, tanggal 23 Juni kemarin. Laporan lengkapnya bisa dilihat di sini. Selanjutnya, mereka harus menyiapkan diri untuk lomojari ke tingkat provinsi tanggal 4 Juli. Kami punya waktu sekitar 2 minggu. Teman, terima kasih doa dan supportnya. Terus doakan kami ya.

smpt2.jpg smpt5.jpg

smpt6.jpg smpt1.jpg

Keterangan gambar: (dari kiri ke kanan)

  1. Suasana lomba di babak pertama.
  2. Sang juara pertama (Fajar, Erni, dan Cyndi)
  3. Juara ketiga (Imam, Nina, dan Yuli)
  4. Bersama Bapak dan Ibu guru

Do Not Covet Your Ideas

Obrolan 12 Comments »

Give away everything you know and more will come back to you. Kalimat serupa pernah diucapkan Ibu saya ketika pertama kali saya memutuskan untuk menjadi guru. Tepatnya, seperti ini ‘yang perlu kamu ingat ketika memutuskan untuk menjadi guru, jangan pelit dengan ilmu yang kamu punya. Jangan takut ilmu mu habis karena tuhan pasti akan memberinya lebih banyak lagi’.

Kalimat awal saya kutip dari bukunya Paul Arden, yang berjudul ‘It’s Not How Good You Are, It’s How Good You Want To Be. Saya ambil salah satu isi dari bab Do Not Covet Your Ideas.

Kita tentu ingat ketika murid-murid di sekolah menutupi jawaban soal mereka dengan menelungkupkan lengan mengelilingi kertas untuk menghindari contekan teman. Situasi yang sama terjadi di tempat kerja. Orang akan merahasiakan ide-ide mereka. Buku ini menyatakan jika kita menyimpan ilmu hanya untuk diri sendiri maka kita hidup dengan ilmu itu saja (baca: puas dan tidak berkembang alias macet). Sebaliknya, dengan memberikan ilmu yang kita punya kepada orang lain maka diri kita akan selalu mencari pengetahuan lain untuk menggantikan ilmu yang telah kita berikan. Mengutip kembali tulisan dari bab ini ‘Somehow the more you give away the more comes back to you’.

Ide atau gagasan adalah pengetahuan yang terbuka. Jangan pernah mengakuinya sebagai milikmu sendiri. Gagasan itu bukanlah kepunyaanmu. Mereka milik orang lain. Ide-ide itu bertebaran dimana-mana. Diri kita hanyalah mengambil satu bagian daripadanya.

Persiapan Lomba

Obrolan 4 Comments »

Hari ini saya dihubungi oleh SMPT untuk memberikan pendalaman materi untuk beberapa siswa. Mereka rencananya akan mengikuti lomba cerdas cermat, yang diikuti oleh seluruh sekolah terbuka yang ada di wilayah Bandung. Acara ini akan diadakan hari senin tanggal 23 Juni 2008. Karena waktu yang cukup sempit mungkin akan diteruskan esok hari. Sebenarnya tidak mendesak juga namun karena jadwal yang saling bertubrukan, saya sendiri harus mengajar di jakarta dan anak-anak juga persiapan UAS, maka baru hari ini disempatkan. Tadi mendapat laporan dari Ibu Galuh bahwa anak-anak tidak bisa menjawab pertanyaan TIK. Saya minta beberapa contoh soal yang pernah diuji tandingkan.

Murid-murid yang belajar hari ini tidak hanya berasal dari SMPT Firdaus, ada 3 anak yang berasal dari sekolah di daerah cisaranten (Saya agak lupa nama sekolahnya). SMPT Firdaus dan sekolah Cisaranten ini berasal dari sekolah induk yang sama, yaitu SMPN 8, jadi memang tidak masalah jika anak-anak dari kedua sekolah itu digabungkan. Dari SMPT Firdaus diwakili oleh Imam dan Yuli (kelas 7) serta Erni (kelas 8). Dari sekolah Cisaranten ada Fajar, Nina, dan Cyndi. Hari ini saya mencoba membahas latihan soal yang ada. Ternyata, anak-anak bisa menjawab beberapa pertanyaan yang saya berikan. Sebenarnya, saya pun yakin anak-anak ini bisa menjawab pertanyaan soal-soal tersebut. Tapi, memang ada satu masalah yang menurut saya cukup mengganggu, yaitu rasa percaya diri. Dan itu adalah pemandangan umum yang terjadi pada murid-murid saya di sini. Tidak hanya di SMPT Firdaus tapi juga anak-anak dari sekolah terbuka cisaranten serta murid-murid saya di Jakarta.

Ibu galuh pun mengatakan hal yang sama kepada saya. Beliau juga menanyakan bagaimana membangkitkan kepercayaan diri kepada anak-anak itu. Hmm. Saya yakin guru-guru lain telah menerapkan pendekatan belajar kepada mereka. Dan upaya itu tentulah tidak langsung terlihat. There is no instant solution. Butuh waktu tentu saja. Dan seperti yang saya katakan kepada mereka tadi, menang atau kalah itu tidak penting. Yang penting adalah mereka berani dan mau mencoba.

Oya, Bu Galuh sempat menceritakan murid-murid kita jatuh ketika menyadari suporter lawan sangat banyak. Nah, untuk rekan-rekan yang membantu mengajar di PBA, jika ingin datang memberikan semangat untuk murid-murid Anda bisa datang ke SMPN 51 di daerah Ciwastra. Acaranya jam 8. Insya Allah, saya berangkat dari sekolah untuk mendampingi mereka.

WP Theme & Icons by N.Design Studio
Entries RSS Comments RSS Login