Museum TMII #1

Kalau bandara Singapura memiliki Butterfly Garden, Indonesia juga punya taman kupu-kupu di dalam Museum Serangga di Taman Mini Indonesia Indah.
kupu4 kupu-tmii
Dengan tiket seharga 15 ribu rupiah maka Anda dapat menikmati dua museum yang ada di TMII ini, yaitu museum serangga dan museum air tawar. Lokasi kedua museum ini berdekatan, hanya dipisahkan oleh sebuah jembatan kecil sebagai penghubung. Di bawah jembatan mengalir air yang dipenuhi berbagai macam ikan. Kalau Anda berminat memberi mereka makan, di sana dijual pakan ikan yang satu bungkusnya dijual seharga 2 ribu rupiah. Oya, jangan lupa buang kemasan plastiknya di tempat sampah ya, jangan ikut dibuang ke dalam air.

Nah, sekarang cerita tentang museum pertama dulu, yaitu museum serangga. Di sini dipamerkan berbagai macam serangga yang tersebar di berbagai kepulauan yang ada di Indonesia. Bahkan ada juga yang habitatnya berasal dari negara lain.

Ada juga serangga hidup yang diletakkan di dalam kotak kaca ditemani tanaman jambu, seperti belalang ranting dan belalang daun. Warna kulit belalang ranting ada yang hijau kebiru-biruan, pun ada yang kuning. Barangkali daun jambu adalah santapan favorit warga belalang, karena saya sering menemui belalang di pohon jambu di rumah.
belalang1 belalang2 belalangranting
Di kotak kaca berikutnya masih dengan pohon jambu dan belalang jenis lain, yaitu belalang daun. Bentuknya mirip sekali dengan daun. Kalau penglihatan tak jeli, kita bisa tertipu oleh bentuk mereka yang menyerupai daun. Lucu juga ketika melihat mulut kecil mereka sibuk mengunyah daun. Walaupun pasti sangat menyebalkan jika daun yang disantap itu adalah koleksi tanaman saya di rumah.. hehe.
bdaun belalangdaun
Sementara itu dipisahkan oleh sebuah tirai Anda bisa memasuki taman kupu-kupu. Di sini Anda bisa bermain dan menikmati suasana alam. Jangan kaget kalau tiba-tiba melintas kupu-kupu di hadapan kita. Di sini kupu-kupu itu bebas beterbangan. Hanya kupu-kupu? Oh, tidak. Sesekali bisa saja Anda bertemu kodok yang sedang menempel di batang pohon, atau capung yang ikut beterbangan. Di sana juga ada kolam yang berisi ikan-ikan kecil.
kupu2-tmii kolam
kupu7 capung
Di Butterfly Garden, Singapura, disediakan wadah untuk meletakkan buah nanas yang kemudian menjadi tempat sejenak berdiamnya kupu-kupu. Mereka asyik menyantap buah nanas. Mungkin itu trik pengelola taman untuk memberi kesempatan kepada pengunjung untuk mengambil foto mereka. Mungkin langkah ini bisa ditiru juga oleh pengelola taman kupu-kupu di museum serangga? Selain tentu saja sulit mengambil gambar kupu-kupu yang selalu berputar dan melayang-layang sesukanya itu. Walaupun sampai sekarang saya masih bertanya-tanya, kenapa buah nanas ya?
995689_10201517791936634_2067291615_n
Di luar taman kupu-kupu Anda bisa melihat seekor rusa dan beberapa ekor bajing. Oya, ada pohon sawo apel yang sangat besar sekali. Buahnya pun rimbun. Ketika saya berdiri di bawahnya, tak jauh dari tempat saya berdiri tiba-tiba sebuah sawo jatuh karena kematangan. Ternyata ada banyak buah sawo berjatuhan.
sawoapel
Keluar dari museum serangga kami bersegera masuk ke museum air tawar. Apa sih isinya museum ini? Tentu donk segala jenis macam hewan laut ada di sini, termasuk ikan, udang, dan kawan-kawannya. Dari ikan kecil sampai besar dan panjang ada, dari yang ‘baik’ sampai predator pun ada.
ikan
Salah satu ikan predator berbahaya adalah Pygocentrus piraya atau yang kita kenal dengan nama Piranha. Walaupun bentuknya kecil tapi jangan remehkan gigi mereka yang serupa silet. Ikan ini terkenal dengan keganasannya yang luar biasa. Konon naluri menyerang mereka sangat kuat terutama jika ia berada dalam kelompok besar (ratusan bahan ribuan). Bahkan di dinding informasi diperingatkan agar siapapun yang memelihara ikan ini agar melaporkan dan menyerahkannya ke TAAT TMII. Ikan ini sangat dijaga agar jangan sampai keluar ke perairan umum. Jika itu terjadi maka bisa sangat membahayakan. Wow, mengerikan sekali ya?
piranha2 piranha1
Ikan unik lainnya adalah ikan lele litrik yang sangat panjang. Ekor dan bagian depan tubuh ikan tersebut mengandung arus listrik yang sangat tinggi.
lelelistrik lelelistrik2
Selain ikan ada juga kura-kura, lobster, dan hewan laut lainnya. Selesai mengunjungi dua museum ini kami melanjutkan perjalanan megunjunngi museum burung. Ada apa saja ya di sana? Ceritanya di tulisan berikutnya ya 🙂

Mummy: Secrets of the Tomb

Jadi, hari Rabu sore saya menyusul partner yang sudah terlebih dahulu berada di Singapore. Mendekati wilayah Singapore, dari jendela pesawat saya melihat kondisi angkasa sepenuhnya putih abu-abu, nyaris tak bisa melihat apapun. Sempat nderedeg juga. Alhamdulillah pesawat mendarat dengan selamat. Menuju skytrain untuk antrian imigrasi. Usai urusan imigrasi menuju pintu keluar dan partner sudah tampak di barisan daftar penjemput ^-^. Malam itu kami habiskan dengan berjalan-jalan. Ada yang berbeda, suasana di luar terasa panas dan pengap, seperti tercekik. Kami tak tahan berada lama di luar. Ini dampak dari abu kebakaran hutan di Indonesia.

Esok hari, partner masih dengan tugasnya dan saya berjalan-jalan sendirian. Awalnya ingin ke musium sains di Jurong tapi karena kami pernah mengunjungi tempat itu partner menyarankan untuk ke musium artscience di sekitar lokasi Marina Bay Sands. Kebetulan tempat itu tak terlalu jauh dari tempat partner bertugas. Mengikuti petunjuk jalan dan sampai lah saya di artscience museum. Ada dua pameran yang sedang berlangsung, Mummy: Secrets of the Tomb; Essential Eames: A Herman Miller Exhibition, dan tentu saja art science museum itu sendiri. ArtScience Museum adalah musium yang diperuntukkan untuk pagelaran berbagai kreasi seni dan ilmu pengetahuan. Maka, saya memutuskan masuk ke dalam dan membeli tiket Mummy: Secrets of the Tomb. Ternyata, tiket berlaku untuk ketiga pameran yang ada. Sayangnya, pengambilan gambar dilarang selama berada di dalam ruang pameran.
photo(5)Pameran Mummi terletak di lantai paling bawah. Memasuki ruang pameran pertama pengunjung diberikan kaca mata 3D. Yup, kami akan disuguhi film tiga dimensi. Sebelum memasuki ruang film kami dapat melihat-lihat beberapa artefak mengenai sejarah mesir. Di dinding musium juga tertera kutipan-kutipan dari (tampaknya) sebuah buku, Book of the Dead. Selanjutnya, duduk manis menunggu pemutaran film ditayangkan.

Film mengenai sejarah mesir ini akan menguak misteri proses penguburan kaum mesir dan proses pengawetan mayat (mumifikasi) dengan memberi perhatian kepada salah satu sosok pendeta kuil bernama Nesperennub.

Melalui teknologi modern pengunjung seolah-olah diajak secara pribadi menjelajahi mumi. Teknologi mutakhir pemindaian ini juga telah memungkinkan bagi para ilmuwan dan ahli purbakala untuk menguak misteri mumi tanpa mumi secara fisik dibuka.

Nesperennub
com12957a_mPerkiraan wajah pendeta Nespennub

Nesperennub adalah seorang rahib yang hidup 3000 tahun lalu di Thebes. Thebes atau Tebe adalah kota di Mesir kuno yang dipenuhi kuil dan istana megah. (Kota ini terletak 800 km sebelah selatan Laut Tengah, di tepi timur sungai Nil. Di atas bekas kuno ini sekarang berdiri kota modern Luxor, yang merupakan salah satu tempat wisata terkenal di dunia.~ sumber: wikipedia). Nesperennub bekerja sebagai seorang imam terbesar di kuil Karnak. Ia juga bekerja sebagai fan bearer (apa ya Indonesianya? pelayan? pengipas?) raja. Dengan kata lain, ia adalah orang penting.

Ketika ia meninggal, peti matinya dihiasi dengan wajah Nesperennub yang mengenakan wig serta ikat kepala dan leher dari kelopak bunga teratai. Di bagian tengah tubuhnya terukir dari atas ke bawah deretan huruf Hieroglif, yang berbunyi: “life, prosperity and health”. Di dalam peti mati tergambar lukisan seorang dewi dengan tangan terbuka untuk melindungi tubuh Nesperennub.
Untitled-5 copy   ps323275_l
Pada tengkorak Nesperennub tampak lubang kecil di atas mata kiri. Luka itu diperkirakan sebagai penyebab kematiannya. Berikutnya, film menayangkan proses mumifikasi. Mayat Nesperennub dibersihkan. Semua organ bagian dalam dikeluarkan dari tubuh, kecuali jantung, yang sebelumnya dibalsem dengan resin. (resin menurut KBBI Daring: zat padat tanpa bentuk, berwarna kuning kecokelat-cokelatan, berasal dr getah pohon sbg bahan pembuat pernis, lem, patri, dsb; damar). Proses pengawetan mayat ini memerlukan waktu 70 hari.
Kemudian mayat diberikan perhiasan-perhiasan seperti cincin di kedua tangan, serta jimat. Tubuh dibungkus dan dimasukkan ke dalam kotak cartonnage yang selanjutnya dimasukkan ke dalam peti mati kayu. Pada kotak cartonnage tertera tulisan yang menerangkan bahwa Nesperennub dan ayahnya bekerja sebagai rahib di komplek kuil Karnak.

Sekilas Mesir

Beberapa puluh tahun lampau Ibu dan Ayah mengajak kami sekeluarga mengunjungi Mesir. Yang masih terlintas dalam ingatan mengenai Mesir adalah kota yang terik. Di sana kami mengunjungi musium Firaun, dimana jasad Firaun diletakkan di sebuah kotak kaca. Kami juga mengunjungi piramida. Piramida adalah makam raja-raja masa dahulu. Ada juga Sphinx, patung singa berkepala manusia. Sphinx atau dikenal sebagai The Great Sphinx of Giza, adalah simbol nasional Mesir, baik kuno dan modern. Dan yang menarik perhatian saya saat itu adalah huruf Hieroglif serta kertas papirus.

Kaos berhiaskan nama saya dengan huruf hieroglif 🙂
kaos
Menurut Wikipedia, papyrus adalah sejenis tanaman air yang dikenal sebagai bahan untuk membuat kertas pada zaman kuno. Tanaman ini umumnya dijumpai di tepi dan lembah Sungai Nil. Kira-kira 3500 SM, bangsa Mesir Kuno sudah memanfaatkan papirus. Mereka pada saat itu membuat kertas dari kulit-kulit tipis atau kulit-kulit halus papirus, sebelum kertas (seperti yang kita kenal sekarang) ditemukan. Sedangkan Hieroglif adalah tulisan berupa gambar dan lambang dalam bentuk manusia, hewan, dan benda.
hieroglyph-glossary-jan-1-20091

images

 

 

 

 

 

 

 

 

Kembali ke topik di atas, tradisi mumifikasi masyarakat Mesir menjadi ciri khas dari negara tersebut dan menjadi salah satu kekayaan budaya negara Mesir.

Pameran ini dilengkapi oleh ratusan artefak mengenai sejarah Mesir serta proses pengawetan mayat. Pengunjung diajak untuk mengenal dunia para rahib serta kepercayaan mengenai kematian.

informasi lainnya:
1. Ka and Ba
2. Nesperennub
3. British Museum
4. Bingo mengenai mummy untuk guru
5. lihat di sini
6. Book of the dead
7. mummy little’s secret
8. another review

photo(1)

ChiangMai

Hari Jumat pagi kami (saya, partner dan beberapa kawan dari IEEE Indonesia) berangkat menuju Bangkok dengan menggunakan pesawat Garuda Indonesia. Transit di bandara Suvarnabhumi dan melanjutkan perjalanan dengan pesawat Thai Airways menuju Chiangmai.

IEEE adalah komunitas profesional untuk non profit, tempat berkumpulnya para insinyur yang mempunyai visi untuk membantu penelitian dalam bidang teknologi dan ilmu pengetahuan. Keikutsertaan saya di sini adalah menemani partner. Beberapa kali dalam kegiatan IEEE, untuk forum umum sesekali saya ikut mendengarkan presentasi-presentasi yang dibawakan oleh para pakar di bidang mereka masing-masing. Edukasi dan teknologi adalah tema yang paling saya suka. Banyak informasi bermanfaat yang menambah wawasan saya.

Back to the topik :). Chiangmai terletak di sebelah utara Thailand. Kota ini terkenal dengan alam pegunungan dan udara yang sejuk.
Kami tiba di Chiangmai menjelang malam hari. Sepanjang perjalanan menuju hotel beberapa kami temui benteng-benteng kerajaan. Konon, itu adalah peninggalan yang tersisa dari raja Mengrai, pendiri provinsi Chiangmai.
ds14
Beristirahat sebentar di hotel dan kemudian kami berjalan-jalan mengunjungi night market. Chiangmai bersinar di malam hari oleh pasar malamnya. Setiap sore dari jam 18.00 sampai jam 01.00 dini hari Chiangmai menjadi kota yang sibuk.
IMG_0654
Di sini banyak penjaja menggelar dagangan mereka, dari makanan, aksesori, dan berbagai kerajinan tangan khas Thailand. Bertebaran juga tempat pijat tradisional dan pijat refleksi yang ramai dikunjungi wisatawan.
IMG_0551
Sayangnya, sulit menemukan tempat makanan dengan label halal di sini. Jadi, kami memutuskan untuk mencari tempat makanan yang berjejer di sepanjang area pasar malam dengan pilihan menu seafood. Usai santap malam kami melanjutkan melihat-lihat suasana kota Chiangmai. Transportasi di Chiangmai disebut taxi. Salah satu taxi adalah tuktuk, yaitu kendaraan roda 3. Tuktuk serupa bajaj, namun di bagian kiri dan kanan dinding kendaraaan dibiarkan terbuka.
IMG_0584
Walaupun jalanan dipenuhi pasar malam, kota ini tetap terjaga kebersihannya. Setelah berkeliling dan membeli beberapa keperluan kami memutuskan kembali ke hotel.

Rakyat Thailand memiliki aksara mirip dengan hanacaraka. Bahasa yang mereka gunakan disebut Kham Muang atau Lanna. Uniknya, beberapa kata yang memiliki arti sama ternyata mempunyai pengucapan yang berbeda, tergantung kepada jenis kelamin yang berbicara. Misalnya:

Terima Kasih : Khob Khun Krab atau Khob Khun Khab (diucapkan oleh laki-laki)
Terima Kasih : Khob Khun Kha (diucapkan oleh perempuan)

Lucu juga ^-^.

Chiangmai di waktu siang sangatlah berbeda di kala malam. Kota ini sepi dan tenang, sepertinya seluruh warga masih tertidur. Hanya beberapa toko yang buka. Ah, saya tak begitu tertarik masuk ke toko-toko. Akhirnya, saya memutuskan berjalan saja, entah kemana. Memfoto berbagai rupa stupa yang banyak ditemui di kota Chiangmai.
IMG_0573 IMG_0580

Hari ketiga, setelah seminat dilanjutkan dengan kegiatan acara jalan-jalan bersama keluarga IEEE, yaitu mengunjungi Wat Phrathat Doi Suthep.
doi sutep
Doi Suthep adalah kuil paling terkenal dengan legenda Gajah Putihnya di Chiang Mai. Ada sekitar 300 anak tangga yang harus ditempuh untuk mencapai kuil ini. Disediakan juga kereta kabel. Namun saya dan partner memilih menaiki anak tangga. Haha, uji ketahanan fisik. Tetap sih umur tidak bisa dibohongi, berhenti beberapa kali di anak tangga *-*.

Tiket masuk ke kuil ini untuk wisatawan asing dikenakan biaya 30 baht (atau setara 9.780 IDR) dan gratis untuk wisatawan lokal. Kami membayar tiket masuk dan segera berkeliling ke dalam kuil. Komplek kuil ini sangat luas dan dipenuhi dinding serta ornamen berwarna kuning keemasan.
ds1 ds2 ds12
Banyak penganut agama Budha mengunjungi situs ziarah ini sepanjang tahun. Di dalam kuil terdapat satu patung Budha emas. Berbagai deretan patung yang melambangkan sifat manusia berjejer di dalam komplek.

Oya, dari lokasi ini pula kita dapat menikmati pemandangan indah kota Chiangmai.
ds16
Menyusuri jalan menuju kembali ke hotel mengingatkan saya pada suasana puncak di Indonesia. Jalan yang berliku dan terjal serta pemandangan alam pegunungan yang indah membuat saya merasa kangen Indonesia. Haha, saya memang mencintai negeri tempat saya dilahirkan, Indonesia.

Oya, ada kalanya kabar dan isu teknologi yang saya peroleh dari hasil menyimak percakapan di antara anggota IEEE memberi saya inspirasi ketika menulis atau bahkan ketika mengajar di sekolah. Memang, belajar itu bisa dari mana saja, bukan? 🙂

Musium Bali

Rabu pagi, tepat di hari pemilihan calon gubernur di Jakarta kami berangkat menuju Bali. Kalau kami tidak memilih itu dikarenakan KTP kami masih Jawa Barat. Yup, sejogyanya kami memang masih warga Bandung yang beberapa tahun lalu merantau ke Jakarta. Perjalanan ditempuh dalam waktu 1.5 jam. Sampai di Denpasar jam 10 lebih waktu setempat. Perbedaan waktu antara Jakarta dan Bali adalah satu jam lebih awal. Jika di Jakarta jam 09.00 maka di Bali jam 10.00.

Ini kunjungan pertama saya ke Bali setelah sekian lama, berpuluh tahun lamanya. Jadi, sempat kaget juga ketika pilot mengumumkan bahwa pesawat akan segera mendarat sedangkan dari jendela pesawat yang saya lihat adalah lautan. Partner kemudian menjelaskan bentuk landasan di atas laut yang ada di pulau dewata ini.

Hotel kami letaknya di Sanur. Dengan taxi dari Bandara menuju Grand Beach Bali memakan waktu sekitar 1.5 jam.

Bali terkenal dengan pantainya yang indah. Berjalan-jalan di sepanjang pantai sanur. Memunguti kerang. Duduk dan membaca buku di bawah pohon dengan hamparan pasir putih serta pemandangan laut yang jernih. Memandangi burung-burung beterbangan dan menukik dengan indahnya ke dalam laut untuk memangsa korbannya. Wah, yang terakhir itu pemandangan yang tidak terlalu mengenakkan sesungguhnya.

Hari kedua saya niatkan pergi ke musium Bali. Sendirian? Yup, dibandingkan Jakarta, Bali memang jauh lebih aman. Di Bali musium mungkin bukan tempat yang biasanya dituju oleh wisatawan. Kebanyakan turis akan pergi ke Kuta, Sanur, pura, dan lainnya. Saya pun tahu musium ini dari mas Graifhan yang memang lama tinggal di Bali. Berbekal petunjuk dari Beliau saya mengunjungi musium Bali. Oya, transportasi publik di Bali agak sulit. Bisa dibilang jarang ditemukan bis atau angkutan umum lainnya. Itu pun rute-nya tidak menentu. Maka, daripada menyasar tak tentu arah, saya memilih taxi. Sesuai rekomendasi mas Dhani, saya menggunakan taxi biru dengan lambang burung yang induknya pun ada di Jakarta.

Harga tiket masuk ke musium cukup murah, 5000 saja. Untuk guide di dalam musium dikenakan biaya 50 ribu untuk turis lokal. Entah apakah itu mahal atau tidak. Namun melihat wisatawan yang jarang menengok tempat ini rasanya itu cukup layak untuk mereka. Rasanya miris setiap kali melihat musium-musium yang ada di Indonesia. Sepi. Namun musium Bali ini kondisinya jauh lebih baik walau tak banyak yang dipamerkan. Sayang, karena sebenarnya banyak sekali kisah dari sisa-sisa peninggalan masa lampau dan gambaran tentang kebudayaan suku-suku bangsa yang hidup tersebar di muka bumi yang bisa digali.

Memasuki musium, di halaman puri Raja Denpasar, terdapat meriam peninggalan bangsa Belanda.

Kemudian masuk ke dalam puri. Di kiri kanannya diletakkan meriam dari China.

Saya lupa, siapa nama raja Bali yang suka bepergian ke berbagai negara itu ya? Dia banyak mengumpulkan berbagai benda seni yang diperolehnya dari setiap negara. Beberapa koleksinya disimpan di sini.

Di dalam sebuah ruangan, Pak Agung, si guide mulai menceritakan sejarah berkenaan dengan artefak yang ada di dalam kaca. Salah satunya, 3 patung dewa umat Hindu. Mereka adalah: Brahma, Wisnu, dan Shiwa. Brahma adalah mewakilkan pencipta, Wisnu pemelihara dan Shiwa adalah perusak.

Dewa Brahma juga dianggap sebagai perwujudan dari Brahman (sebutan bagi Tuhan Yang Maha Esa untuk umat Hindu atau disebut Sang Hyang Widi).

Ada patung Dewi Saraswati. Dewi Saraswati adalah simbol ilmu pengetahuan dan seni. Perayaan hari Dewi Saraswati diperingati oleh umat Bali setiap hari sabtu legi (setiap 210 hari menurut kalendar Bali). Pada hari itu umat Hindu tidak diperkenankan mengakses apapun yang berbau ilmu pengetahuan dan komunikasi. Larangan itu dimaksudkan sebagai bentuk penyucian, agar ilmu pengetahuan kembali bersih dan suci.

Selanjutnya yang menarik adalah mata uang kepeng atau pis bolong. Diberi nama pis bolong karena koin beraneka bentuk seperti lingkaran, bujur sangkar, dan lain-lain itu di tengahnya berlubang. Kepeng adalah mata uang yang digunakan sebagai alat pembayaran yang sah pada tahun saka. Mata uang kepeng ada yang dibuat sendiri (nusantara) ada juga yang diimpor dari Cina.

Ada juga diorama dari kehidupan masyarakat Bali asli di sebuah pegunungan. Lalu deskripsi dari tradisi umat Hindu lainnya seperti potong gigi bagi mereka yang akil balik (setelah usia 15 tahun), serta upacara seperti ngaben, kuningan, nyepi, dan masih banyak lainnya.

Ada juga kalendar Bali untuk menentukan hari baik. Beberapa kebudayaan Bali mempunyai kemiripan dengan suku Jawa. Seperti di Bali mereka mempunyai aksara huruf yang bernama Hanacaraka Datasawala. Di Jawa mereka menyebutnya dengan Honocoroko Dotosowolo. Suku Jawa pun masih memercayai adanya hari baik pada penanggalan suku mereka.

Beberapa teks prasasti dan naskah-naskah kuno ditulis di atas kertas lontar. Mengingatkan saya pada Mesir dan kertas papirusnya.

Lukisan perang puputan membuat sedikit rasa sesak di dalam dada. Puputan yang berarti perang sampai mati adalah wujud kecintaan masyarakat Bali pada tanah airnya. Saat itu mereka berperang melawan Belanda. Ini adalah perang yang besar karena memakan banyak korban tidak hanya pria, namun juga wanita dan anak-anak yang ikut berjuang. Ini adalah perang puputan yang dilakukan oleh kerajaan Buleleng ketika melawan kolonial Belanda. Tampak di gambar lokasi perang puputan terjadi dan itu letaknya tepat di depan musium Bali, yang keberadaanya saat ini telah menjadi taman puputan.

Saya melangkahkan kaki keluar menuju taman puputan. Taman luas dengan rimbun pepohonan dan beberapa tempat duduk, tempat warga meluangkan waktu bersama keluarga, sauadara, dan teman-teman mereka.

Di tengah taman tampak monumen puputan dengan 3 patung yang terdiri dari pria, wanita, dan anak. Patung itu melambangkan para korban dalam perang puputan.

Taman yang cukup bersih. Teduh dan nyaman. Bali sungguh beruntung memiliki taman kota yang sejuk dan hijau. Saya beristirahat sejenak sambil mengambil beberapa foto. Asyiknya, walau saya duduk sendirian tidak ada orang yang iseng. Konon, kata mas Graifhan ada bunga sakura di taman puputan. Bunga-bunga sakura itu akan mekar di bulan Agustus-september. Ah, sayangnya sekarang masih bulan Juli. Tak apa deh, siapa tahu di lain kesempatan saya bisa melihat bunga-bunga sakura bermekaran dengan indahnya.

Bali kota yang menyenangkan, cukup bersih dibanding Bandung saat ini. Masih banyak taman kota, dan tempat duduk-duduk di sepanjang jalan.

Dari musium Bali tadinya saya ingin ke art center. Tapi ya itu, menunggu pesanan taxi yang sudah lama dan sedikit mendung serta batere yang lowbat sepertinya agak beresiko. Maka setelah jalan dan bersantap siang di rumah makan Jawa Timur, yang tidak sengaja saya lewati, saya memutuskan untuk kembali ke hotel.

Keputusan yang tidak saya sesali. Tanpa disangka seekor makhluk mungil tampak di hadapan saya. Bentuk dan ekornya yang ajaib membuat saya hampir saja berteriak saking kagetnya. Sesaat saya sempat terpaku dan si.. ya si tupai coklat itu sedang membelakangi saya. Ekor kecilnya berputar-putar. Hahaha. Saya langsung membuka isi tas dan merobek kemasan yang berisi almond. Berjongkok dan memanggilnya. Si tupai melihat dengan takut-takut. Tapi ternyata ia tidak terlalu takut dengan manusia. Tupai coklat berjingkat-jingkat, mencari celah mendekati almond yang saya sebar tak jauh dari tempat saya berjongkok. Mengambil satu dan berlari ke atas pohon. Kembali lagi dan lagi. Beberapa tupai lainnya muncul tiba-tiba. Dan sebuah keluarga dengan anak-anaknya berteriak memanggil si tupai. Si tupai kabur dan berlari cepat. Saya mengajari mereka cara memanggil tupai. Memberikan almond kepada mereka. Tupai muncul tapi kembali ke atas pohon.

Tak lama keluarga itu pergi dan saya masih sedikit bermain bersama mereka. Saya baru sadar kalau tempat saya bermain-main dengan si tupai adalah tempat berlalu lalangnya orang-orang. Untungnya di Bali, di mana orang terbiasa belajar menghargai perbedaan dan bahkan mungkin juga keanehan :).

Hari terakhir kami menyempatkan diri menyusuri jalan-jalan kecil dengan bersepeda. Mencecap asin udara laut. Bermain-main di atas hamparan pasir putih dan bertemu dengan kepiting-kepiting kecil yang berlari cepat ketika kaki-kaki kami melewati mereka.

Tupai-tupai masih berlarian dengan lincahnya, meloncat dari pohon yang satu ke pohon lainnya. Riang. Di sini tupai-tupai dilindungi dan dilestarikan. Para karyawan hotel biasa memberi makan tupai-tupai itu pada pagi dan sore hari. Mereka memberi kentang goreng atau pisang yang diiris tipis untuk tupai-tupai itu. Wow, pantas saja tupai-tupai di sini lebih gendut. Hehe. Mereka juga suka bermalas-malasan dengan bobo di atas pohon kelapa yang berayun-ayun.

Selamat bermain tupai bandel. Seize the day, squirrel :))

Bye Bali, hope to see you again.

Paris

Paris adalah kota kedua setelah London dalam perjalanan kami dua minggu ke negara Eropa. Paris sangat terik menjelang akhir bulan Mei. Waktu terasa lebih panjang dan jam istirahat di malam hari menjadi lebih pendek. Jam 21 sinar matahari masih terasa hangat. Akibatnya, waktu makan dan istirahat kami terkacau kan.

Hotel Ibis tempat kami menginap terletak di tempat yang cukup strategis. Jalan raya dengan banyak resto, cafe, dan toko-toko di sisi kiri dan kanan jalan. Berjalan sebentar dan kami sampai di stasiun bawah tanah, taxi, dan terminal bis.

Sore ini kami mengunjungi Eiffel Tower. Angin bertiup cukup kencang. Kawasan Eiffel tumpah ruah dengan ratusan (atau ribuan) orang? Mereka mengantre untuk bisa naik ke atas menara. Pun demikian dengan kami. Saya sendiri tak antusias untuk naik ke atas. Saya tak berani. Beberapa tahun silam saya pernah ke sini bersama adik dan kami tak naik ke atas. Waktu itu saya berhasil membujuk adik untuk tidak naik ke sana (karena baik saya dan dia sebenarnya agak takut juga..hehe). Namun kali ini saya mengalah. Partner tak akan naik jika saya tak  ikut. Duh. Akhirnya dengan memberanikan diri saya pun ikut antre. Antara takut tapi penasaran itulah yang saya rasakan. Dan akhirnya sampailah kami di depan loket. Partner memilih tiket untuk sampai di puncak. Oya, ada 2 pilihan tiket. Pertama, di tengah dan kedua di puncak menara. Selanjutnya, kami mengantre menunggu lift yang akan membawa kami ke atas sana.

Pintu lift membuka dengan suara berdesir. Kami masuk ke dalam. Rangkaian tali pengangkut lift bergerak naik mengeluarkan bunyi berderak-derak. Saya memilih berada di bagian lift yang sedikit tertutup. Saya mengalihkan perhatian pada rangkaian besi dan tali lift yang berjuluran dan saling mengkait. Lift berhenti dan kami pindah lift. Naik lift lagi, naik tangga dan sampailah di puncak. Angin kencang menyambut kedatangan kami. Saya tak berani lama-lama berada di pinggir dinding. Rasanya angin bisa saja menerbangkan tubuh saya yang tipis ini. Partner sih senang saja. Memfoto dan malah asyik bercerita bagian-bagian kota Paris, yang memang sangat indah terlihat dari atas menara. Kemudian kami turun dan singgah di bagian tengah menara sebelum akhirnya turun. Saya sendiri tidak menyesal memutuskan naik ke atas. Pemandangannya sungguh cantik. Sungai Seine tampak berkilau-kilau. Musium Pantheon berdiri megah dan benderang.

Pagi berikutnya kami niatkan untuk berjalan-jalan sebelum singgah di musium Pantheon. Di tengah perjalanan kami mampir di toko buku yang kebetulan memajang koleksi buku Pangeran Kecil. Partner adalah kolektor buku Pangeran Kecil dari berbagai bahasa. Berjalan sedikit menanjak kami menemui universitas Sorbonne, universitas tertua dan terkenal di dunia. Oya, tempat kuliahnya Andrea Hirata si penulis Laskar Pelangi :>.  Akhirnya, sampailah kami di musium Pantheon, dengan atap berbentuk seperti kubah. Kami membeli tiket dan masuk ke dalamnya. Agak sedikit kecewa sebenarnya karena isi musium ini tidak sebanyak musium-musium lain yang umumnya ada. Di lantai bawah berisi makam-makam para ilmuwan, antara lain Marrie Currie dan suaminya, Piere Currie.

Di lantai pertama, di tengah ruangan terdapat pendulum foucault. Pendulum itu menggantung pada sebuah kawat tipis di langit-langit gedung. Nah, partner bilang pendulum foucault menunjukkan salah satu bukti bahwa bumi berputar. Tentu saja pada saat Foucault memasang pendulum itu, warga bumi sudah sadar bahwa bumi itu bulat dan berputar.

Saya yang memang senang didongengkan macam-macam iseng bertanya “Kalau di Indonesia dipasang seperti ini bisa nggak? Apakah bolanya juga akan bergerak seperti di sana itu?”. Mau tahu jawabannya? Indonesia terletak di garis khatulistiwa. Bukti bahwa bumi berputar hanya bisa dibuktikan di bagian utara dan selatan bumi. Penjabaran yang lebih lengkap ada di sini.

Dari Pantheon kami mengarah ke institure dan musium Currie. Sayang, musium ini tutup karena sedang renovasi. Kami masuk ke dalam institut dan memfoto musium dari luar pagar. Selanjutnya kami menuju musium Orsay. Musium di mana beberapa karya pelukis terkenal dipamerkan. Beberapa di antaranya adalah Degas, Van Gogh, Monet, Renoir.  Partner yang penyuka Renoir dan Van Gogh asyik mematut lukisan idolanya. Sedangkan saya asyik mengagumi karya Monet. Kadang rasanya lucu, karena jauh sebelum kami saling mengenal satu sama lain, saya mengenal dan menyukai musik klasik dari kakak dan adik. Saya suka menggambar dan menyukai karya-karya Monet. Saya pernah menghadiahi partner diary dengan sisipan foto-foto karya Monet. Tapi saya tak tahu kalau dia menyukai lukisan saat itu. Beberapa hal yang menjadi minat saya sempat terabaikan dan baru muncul kembali ketika saya bertemu dengannya. Ajaib juga ya? Hehe. Tapi tentu saja saya hanya ada di batas penikmat ringan <wink>.

Paris masih panas. Ketika orang-orang memilih untuk berjemur kami sebaliknya mencari tempat yang teduh. Haha, maklumlah kami dari negeri tropis yang setiap hari dikucur hangat matahari. Kali ini kami menuju istana Perancis atau Palais du Louvre. Kalau pernah baca buku Da Vinci Code atau melihat filmnya, nah inilah tempat di mana professor Robert Langdon bersimpuh memeriksa tubuh Saunier, si kurator terkenal dalam misteri pembunuhan.

Istana Perancis ini sangat luas. Di tengahnya berdiri piramid kaca dan dilengkapi kolam air mancur yang jernih. Tersedia juga bangku-bangku yang dapat dinaiki guna untuk memanipulasi efek pemotretan dengan latar belakang piramid. Dengan gaya yang sesuai maka si model seolah raksasa yang mengangkat piramid.

Selepas dari istana Perancis, kami melewati kawasan kantor parlementer. Di tengahnya berdiri (serupa) batu menhir. Konon itu adalah batu menhir yang dibawa Asterix ke Galia (Paris). Tentu saja ini sekedar candaan yang diambil dari komik terkenal Asterix dan Obelix.

Kami meneruskan perjalanan menuju Arc de Triomphe atau Tugu Kemenangan. Tugu kemenangan rakyat Perancis ini awalnya dibangun oleh Napoleon Bonaparte. Untuk pendirian tugu ini Napoleon meminjam uang rakyat. Namun sebelum tugu selesai Napoleon meninggal. Pemerintah kemudian meneruskan pendiriannya sekaligus sebagai peringatan bahwa Napoleon masih berhutang kepada rakyat. Tempat ini juga dikenal sebagai pintu gerbang pasukan Napoleon berangkat dan pulang dari pertempuran.

Kisah pasukan Napoleon ini diceritakan partner tepat ketika kami berada di bawah terowongan menuju arc de triomphe. Ketika itu suasana cukup sepi. Kiri kanan dinding dipenuhi lukisan sejarah. Tiba-tiba saya merasakan jauh dibelakang sana pasukan Napoleon bergerak lengkap dengan tabuh genderang peperangan. Merinding. Berharap sinar menyembul di ujung terowongan saya berjalan cepat.
Menyusuri Champs Elysee, kami berbalik arah pulang. Dan woah, sepanjang jalan ini bertabur toko-toko dengan merk eksklusif. Kawasan ini penuh sesak dengan orang-orang yang bershopping ria. Di outlet Louis Vitton antre-an mengular. Dan ternyata di sini kami lebih sering bertemu dengan orang Indonesia dibanding tempat lainnya itu tadi :).

Sebelum meneruskan perjalan ke Wina, kami sempatkan melihat Academie Nationale de musique. Ini adalah tempat di mana musik klasik dipertunjukkan. Kami juga mampir ke institute Pasteur. Lagi, musium ini ditutup karena sedang dipugar. Kami hanya bisa memotretnya dari luar. Saya berusaha mengintip, mencari patung seorang bocah laki-laki dengan seekor anjing. Ketemu. Dalam biografinya, Pasteur pernah menceritakan seorang bocah laki-laki yang bernama Joseph Meister. Saat itu bocah ini digigit anjing rabies, penyakit gila yang mematikan. Saat kejadian terjadi tidak jauh dari laboratorium tempat Pasteur sedang bekerja bersama kawan-kawannya. Pasteur sudah berhasil membuat vaksin rabies tapi dia belum pernah mencobakannya pada manusia. Saat itu Ibu Joseph menggedor pintu lab dan memohon Pasteur untuk memberikan obat pada putranya. Awalnya Pasteur menolak tapi Ibu Joseph memaksa. Dengan dukungan kawan-kawannya Pasteur kemudian menyuntikkan vaksin itu ke tubuh Joseph. Perkembangan Joseph dipantau setiap hari. Josep berangsur membaik dan sembuh. Itulah awal vaksin rabies diberikan kepada manusia dan kemudian dikembangkan untuk memberantas penyakit anjing gila.

Menyusuri kota Perancis untuk terakhir kali sebelum kami bersiap melanjutkan penerbangan menuju kota lainnya, Wina.

Au revior, Perancis. See you in another time.

Berlin

Bis bertingkat dua membawa kami melanjutkan perjalanan menuju Berlin. Terminal bis di Berlin tampak lengang. Kami turun dan bergegas mencari taxi.

Hotel tempat kami menginap letaknya cukup strategis. Tepat di depan hotel adalah pemberhentian bus, jadi mudah bagi kami jika ingin berjalan-jalan. Kamar kami ada di lantai 2.5. Yup, naik lift sampai lantai 2 dan dilanjut naik tangga setengahnya. Unik juga. Belum selesai, di depan kami tampak sebuah tembok besar. Sebuah gagang pintu klasik tersembul. Kami memutarnya. Lantai terasa berderak-derak saat diinjak. Lorong sempit berkelok dengan nomor pintu di sisi kiri dan kanan. Wuih, hotel ini seperti tempat persembunyian para tentara di jaman perang. Tatanan kamar yang kaku dan serba minimalis tertutupi oleh kelembutan dua keping coklat yang dikemas rapi sebagai ucapan selamat datang.

Kami memutuskan berjalan-jalan sore itu. Walaupun langit sore cerah namun udara Berlin cukup dingin. Partner memutuskan untuk berjalan kaki menuju Berlin Pilharmonie yang letaknya tidak begitu jauh dari hotel. Kami masuk ke dalamnya dan melihat beberapa jadwal pertunjukan musik.

Perjalanan masih berlanjut di pusat kota. Kami sampai di perbatasan tembok Berlin, tembok yang dahulu sebelum tahun 1989 pernah memisahkan Berlin Barat dan Berlin Timur. Beberapa bagian tembok masih dipertahankan sebagai pengingat dengan dilampiri foto-foto yang ditempelkan di dinding tembok.

Berlin sangat menarik. Di tengah hiruk pikuk kota mereka memiliki hutan yang luas di tengah kota. Dan itu adalah hutan sungguhan. Di dalamnya tinggal hewan-hewan liar seperti babi (celeng) dan tupai tentu saja. Sayangnya kami tidak bertemu tupai di sini. Mungkin mereka berada jauh di dalam sementara kami waktu itu hanya berjalan di tepi luarnya saja.
“Ah, kapan ya Jakarta punya hutan di tengah kota? Tidak melulu isinya mall?”

Dari tembok Berlin kami menyusuri jalan sampai ke Brandenburg tor atau gerbang Brandenburg. Brandenburg tor dulunya bekas gerbang kota dan simbol utama Berlin. Berfoto sebentar, mampir ke toko souvenir yang menjual berbagai aksesori seperti gantungan kunci, magnet, dan lain-lain sebelum memutuskan kembali ke hotel karena udara yang semakin dingin.

Hari berikutnya kami mengunjungi musium fur naturkunde atau musium sains. Rasanya seperti berada di musium geologi Bandung, karena begitu kami masuk langsung disambut dengan kerangka dinosaurus yang besar-besar itu. Hemm.. keponakan-keponakan saya pasti suka. Mereka hapal nama dan jenis dinosaurus.

Masuk ke ruangan lain tentang bebatuan dan sejarah bumi. Ada layar besar yang berjalan mengelilingi globe. Setiap berhenti pada sebuah pulau atau lapisan bumi maka akan muncul film yang menayangkan sejarah geologi dan ekologi bagian tersebut. Menakjubkan. Rasanya iri deh, berkhayal kapan di negara kita mempunyai musium yang bagus sepert ini. Pasti anak-anak Indonesia banyak yang suka dan tambah pintar.

Di ruangan lainnya ada ruang kecil membentuk planetarium. Sofa-sofa membentuk lingkaran. Di atasnya ada layar terbentang. Film tentang penjelajahan tata surya dan galaksi diputar beberapa jam sekali. Layar kadang tampak begitu dekat menampilkan benda-benda langit dan kemudian menjauh sesuai dengan isi tema dalam film. Di sampingnya dipamerkan bentuk-bentuk fisik dari unsur kimia dalam tabel periodik. Mengasyikkan. Sungguh betah berlama-lama di sini.

Terakhir, kami melihat hewan-hewan yang diawetkan. Ada kura-kura, tupai, kelinci, dan hewan-hewan laut di dalam botol. Yang ini serupa dengan musium zologi di Bogor. Ada juga jenis-jenis serangga seperti yang ada di musium serangga, Taman Mini Indonesia Indah.

Keluar dari musium sains, kami kembali ke Postdamer Platz. Menunggu bis yang akan membawa kami ke hotel. Namun bis tertunda cukup lama. Akhirnya kami memutuskan berjalan kaki di tengah rintik hujan. Kami harus bersiap untuk menonton pertunjukan orkestra di Berlin Pilharmonie.

Rehat sebentar dan kami naik bis menuju Berlin Pilharmonie. Malam itu mereka akan mementaskan Missa Solemnis dari Beethoven. Sebagai choir adalah Bayerischer Rundfunk. Dan sebagai konduktor adalah Herbert Blomstedt.
Rasanya saya baru dengar karya-karya Beethoven yang ini.. hehehe. Tapi memang benar, suguhan yang mereka berikan sungguh keren.

Esok harinya kami bersiap menuju Tegel airport. Belanja apa di Tegel? Wkwkwkwk… Nggak belanja apa-apa. Eh, sebentar kayanya partner beli sesuatu yang bisa dipakai buat minum. Boleh dicuri nggak ya? :>

Sambil menunggu boarding kami mengistirahatkan tubuh di Starbuck. Saya mencicipi masakan timur tengah yang namanya kuskus. Wah, ini sebenarnya bukan pilihan saya. Awalnya saya kira itu pudding. Tapi tak apa deh, lucu juga mencobai menu masakan ini. Kuskus adalah nasi kecil-kecil yang dibumbui kenari dan biji matahari. Rasanya? Hehe, tiba-tiba saya kangen ketoprak, gado-gado, somay dan makanan Indonesia yang tiada duanya.

Ah, Indonesia tunggu ya kami segera datang 🙂

Cerita lebih lengkap ada di blog partner di sini.

Bayreuth

Kota berikut yang kami kunjungi adalah Bayreuth. Kota kecil nan tenang di bagian Jerman. Di sini kami ditemani Dian, ibu dosen yang sedang menyelesaikan kuliahnya. Dian yang menjadi pemandu selama kami di sini.

Kami menginap di hotel Lohmühle. Hotel bergaya tradisional yang dilengkapi dengan perapian. Lucu juga. Jadi membayangkan seandainya musim dingin dan perapian itu dihidupkan.

Sore itu setelah merapikan diri kami langsung berjalan-jalan menuju rumah Wagner. Yup, satu-satunya alasan mengapa kami ke Bayreuth adalah karena partner pecinta sejati Wagner, si komponis terkenal dari Jerman. Wah, saya baru tahu tanggal lahir Wagner beda sehari dengan saya.. hehe, narsis dulu ah, bentar :>. Tapi kok bukan saya yang menggilai karya-karya dia ya?

Kami menyusuri jalan menuju rumah Wagner. Rumah dengan kebun belakang yang luas. Tanaman dengan bunga warna-warni. Cantik. Pohon-pohon besar yang rindang. Lebih menarik lagi jika ada banyak tupai yang belarian (maunya.. hehe).

Rumah Wagner ini diberi nama Wahnfried. Di tembok rumah itu tertulis “Di sini kesintinganku beroleh kedamaian, maka tempat ini kunamakan Wahnfried.”

Di belakang rumah terdapat dua makam, makam Wagner dan istrinya, Cosima Wagner. Kami kemudian berjalan memasuki taman entah apa namanya.

Melihat dan menikmati kota ini mengingatkan saya pada kampung halaman di Jawa Timur sana, Madiun. Kota mungil yang dihuni oleh kebanyakan para orang tua sementara anak mudanya memilih merantau. Mungkin seperti itulah Bayreuth. Perbedaannya, Bayreuth juga menjadi pilihan bagi mahasiswa asing untuk menempuh pendidikan mereka. Jadi, kata Dian, selain orang tua, banyak juga mahasiswa asing bersekolah di sini.

Kami mampir di apartemen Dian. Menikmati nasi uduk dengan abon dan pangsit goreng serta tomat kecil yang manis. Apa namanya ya? Tomat cherry kah? Menyempatkan menumpang mencuci baju di sini. Dan kembali diantar Dian ke hotel sambil melewati rumah Wagner kembali.

Esok harinya setelah sarapan dan berkenalan dengan mbak Ivo, terima kasih buat telur mata sapinya mbak, kami melanjutkan kunjungan ke beberapa tempat lainnya.

Masih ditemani oleh Dian, kami melihat beberapa istana, mengunjungi toko buku (seperti biasa.. wkwkwk). Dan saya asyik memandangi bunga-bunga yang ada di tepi jalan. Sambil bertanya-tanya, kira-kira kalau saya tanam di Indonesia bakal tumbuh nggak ya bunga-bunga itu? :>


Terakhir mengunjungi gedung opera Wagner. Bayreuth Opernhaus adalah gedung opera yang khusus memainkan semua karya-karya Wagner. Konon, Wagner memilih Bayreuth karena tempat ini dulunya memiliki gedung opera yang besar. Namun kemudian Wagner membangun gedung operanya sendiri, tempat dimana ia menggelar operanya secara megah. Opera Wagner kemudian ditampilkan setiap tahun di gedung opera (Bayreuth Opernhaus) itu sampai sekarang.


Maka, Bayreuth akan menjadi kota yang ramai di bulan Juli, bulan di mana opera Wagner ditampilkan. Untuk mendapatkan tiket opera Wagner kabarnya kita perlu antre selama 7 tahun. Bayangkan.

Hai, tiba-tiba kami dikejutkan oleh seekor tupai merah yang imut. Ekor tebalnya melambai-lambai. Sayang saya terlalu bersemangat melihatnya, menyebabkan tupai yang cuma satu ekor itu langsung berlari memanjat pohon sampai tinggi. Curang. Duh..duh, menyesal bukan buatan kenapa baru hari ini ketemu tupai? Sedangkan kami sudah harus berburu bis lagi untuk menuju kota berikutnya.

Baiklah tupai imut yang bandel, hari ini kami tidak bisa bermain denganmu tapi siapa tahu kelak kita berjumpa lagi. Kami punya banyak stok kenari loh 🙂

Praha

Kereta api melaju membawa kami ke kota pecahan negara Chekoslowakia, Praha. Melewati stasiun Brno, partner mengatakan di kota itulah penulis The Unbearable Lightness of Being, Milan Kundera dilahirkan.

Kemudian tak lama kereta memasuki kota Praha. Dari buku panduan travelling kami sempat diingatkan bahwa taxi di kota Praha memasang tarif tinggi terutama bagi para turis. Benar saja. Pengemudi taxi menawarkan harga 800 kc. Kami tidak mau lebih dari 400 kc, sesuai harga yang disarankan di buku panduan. Deal. Kami pun naik ke dalam taxi menuju hotel Malastrana, tempat kami menginap. Kc atau CZK (Ceko atau Ceska) adalah kepanjangan dari Koruna, mata uang resmi negara Ceko. I Kc kira-kira sama dengan Rp. 500,-.

Praha adalah ibukota dari Republik Ceko. Republik Ceko sendiri adalah sebuah negara di Eropa Tengah yang dibentuk setelah bubarnya negara Cekoslowakia. Konon dahulunya Ceko dan Slowakia adalah negara yang terpisah. Namun karena sebuah keterpaksaan, (ini ceritanya agak panjang. Walaupun sudah diceritakan oleh partner ingatan saya hanya merekam nggak sampai setengahnya) atau tepatnya untuk menghindari dijajah kembali oleh negara tetangga mereka, yaitu Jerman, Hungaria, dan Austria maka negara Ceko dan Slowakia bersatu. Selain itu mereka memiliki bangsa dan bahasa yang serupa. Dan ketika kemudian mereka berpisah, ceritanya jadi cukup menyedihkan, adalah karena negara Slowakia merasa miskin sementara negara Ceko tumbuh makmur dan menyumbang terus ke Slowakia. Kemudian Slowakia melakukan pemilu untuk memisahkan diri. Negara Ceko pun menerima keputusan pemisahan negara Slowakia.

Ceko memang tumbuh maju dibanding negara-negara yang pernah dijajah komunis. Kota terbesar di Republik Ceko ini adalah Praha yang sekaligus merupakan ibukota Republik Ceko. Praha telah berdiri sejak abad kesebelas sebagai ibukota Bohemia (Kerajaan). Walaupun disebut sebagai kota yang memiliki biaya hidup relatif rendah dibandingkan di kota-kota besar lainnya di Uni Eropa, jangan tertipu karena harga barang-barang di sana mahalnya mulai menyamai euro.

Nah, apa yang menarik di Praha? Praha dikenal sebagai kota paling cantik di Eropa. Ada kastil Praha, bahasa cekonya Pražský hrad merupakan komplek kastil terbesar di dunia. Bagi penyuka astronomi pasti tak ingin melewatkan astronomy clock. Ada juga jembatan Charles Bridge, jembatan yang dibangun sekitar tahun 1200. Jembatan ini bergaya gothik dan berdiri di atas sungai Vlatava.

Hari pertama kami lalui dengan menyusuri jalan-jalan di sepanjang jembatan Charles Bridge. Jembatan ini dibangun pada masa pemerintahan Charles II. Di atas jembatan deretan patung menghiasi tepi jembatan. Pada abad XX jembatan Charles Bridge ditutup untuk kendaraan dan hanya digunakan khusus untuk pejalan kaki.

Langit sore dipenuhi sapuan warna-warni oranye, merah, dan ungu. Semburat jingga memenuhi langit memantulkan bayangan indah pada sungai-sungai di bawahnya dan memancarkan nuansa gemerlap pada kastil-kastil dan bangunan kuno yang tampak di kejauhan. Ditemani para musisi jalanan di sepanjang charles bridge. Beraneka ragam musik yang mereka mainkan, dari country sampai klasik. Tak mau ketinggalan, para pedagang kagetan menggelar dagangan mereka, dari karya lukis sampai pernak-pernik hiasan.

Senja beranjak gelap. lampu-lampu kota benderang. Kastil-kastil Praha bercahaya. Kota Praha tampak indah dengan latar belakang kastil dan bangunan tua yang melingkupinya.

Hari kedua kami sempatkan mengunjungi kastil Praha, Musium Kafka dan Astronomy clock.

Kastil Praha
Kastil Praha terletak di atas bukit. Untuk sampai ke kastil Praha kami memilih naik tram. Tram berhenti tepat di depan sebrang kastil. Kami menyusuri jalan masuk ke dalam kastil. Taman luas dan hijau berbukit-bukit berada di kiri dan kanan jalan. Sampailah kami di pintu masuk menuju kompleks kastil. Di pintu gerbang tampak dua pos yang dijaga oleh pengawal. Menariknya banyak turis yang memilih berlama-lama berdiri di depan pos penjaga. Entah sekadar mengantre untuk berfoto atau memang karena mengagumi kegantengan si mas pengawal…hehe. Ketika kami ke sana kebetulan tak lama ada pergantian pasukan pengawal. Penggantian pasukan pengawal ini termasuk satu momen yang ditunggu-tunggu oleh para turis.

Kastil Praha sangat luas. Di sinilah dulu pernah tinggal raja-raja ceko. Sampai sekarang bahkan kepala pemerintahan Republik Ceko berdiam di dalam komplek kastil. Kastil Praha adalah kastil tertua dan terbesar di dunia. Dibangun pada abad ke 9 atau tepatnya 870 masehi oleh pangeran Borivoj. Bangunan-banguan di dalam kastil mewakili hampir semua gaya arsitektur milenium terakhir. Di dalam kompleks kastil ini selain berdiri bangunan-bangunan tua gereja dan istana raja juga dibangun musium-musium yang menyimpan seni dan sejarah Ceko.


Musium Kafka
Franz Kafka si penulis novel dan cerpen terbaik di abad ke 20. Kami mengunjungi musium ini karena partner saya adalah penyuka karya-karya Kafka. Saya sendiri belum pernah membaca bukunya. Namun yang menarik adalah ketika saya melihat surat-surat yang ia kirimkan ke ayahnya secara rutin. Saya teringat ketika dua tahun lalu kami mengunjungi musium Herriot si penulis If Only They Could Talk. Di sana juga diperlihatkan buku catatan harian Herriot yang ditulis tangan secara teratur. Membuat saya berpikir, apakah penulis-penulis hebat memang dilahirkan dengan kebiasaan menulis? Menulis apapun, surat, buku harian, catatan, dan sebagainya?

Kisah hidup Kafka cukup menyedihkan. Melihat-lihat isi musium Kafka membangkitkan minat saya untuk membaca salah satu karyanya sesampai kami di Indonesia.

Dari musium Kafka kami melanjutkan perjalanan menyusuri kota tua Praha. Berderet toko souvenir memamerkan cindera mata. Kami selalu tertarik dengan magnet dan gantungan kunci unik dari setiap negara. Tapi keinginan untuk berlama-lama di toko souvenir mampu diredam, karena untungnya kami berdua tak begitu doyan belanja. Sampailah kami di alun-alun kota. Sebuah menara tua tempat jam astronomi berada.

Astronomy Clock
Sesuai namanya maka jam astronomi menampilkan semua informasi seputar astronomi, seperti: posisi matahari, bulan, rasi bintang serta planet-planet. Jam astronomi ini dibuat pada tahun 1410 dan merupakan satu-satunya jam astronomi yang masih bekerja.

Pada waktu-waktu tertentu, lonceng jam akan berdentang keras. Boneka-boneka tradisional bergantian muncul dari kotak-kotak yang tertutup di bagian atas jam diiringi musik yang lembut. Para turis bertepuk tangan dan mereka sibuk merekam kegiatan itu dalam kamera atau telepon genggam.

Kami menikmati suasana kota dengan duduk-duduk di bangku dekat air mancur. Burung-burung riuh beterbangan mencari remah-remah roti dan biskuit yang sering dilemparkan oleh para turis.

Melanjutkan perjalanan kembali dengan melihat-lihat pasar tradisional, mampir ke toko buku, dan turun dengan menggunakan tram menuju bukit Petrin.

Bukit Petrin
Bukit Petrin akan menjadi salah satu tujuan para turis yang menyukai karya-karya Milan Kundera. Di bukit inilah Kundera menceritakan salah satu tokohnya yaitu, Tereza, bermimpi merasa Thomas (pacarnya) akan membunuhnya. Di atas bukit yang senyap sekelompok pria menembaki orang-orang yang sukarela melakukan bunuh diri dengan ditembak. Kisah di atas adalah bagian dari novel The Unbearable Lightness of Being.

Saya pernah membaca novel The Unbearable Lightness of Being, namun tak paham makna dari kisah yang tertera di dalam buku yang fenomenal itu. Di sana, di bukit Petrin di tengah hamparan rumput hijau dan di bawah pohon yang rindang kami menikmati keceriaan sore hari sambil sesekali bercakap tentang Thomas, Tereza, dan sisi-sisi kehidupan manusia. Sayang rintik hujan mulai turun. Kami bersegera turun. Saya sekali lagi memandang jauh ke kaki bukit Petrin membayangkan Tereza dan Thomas serta pergulatan yang senantiasa ada pada diri kita sebagai individu. Manis. Indah dan terkadang menggelisahkan.

Rintik hujan menderas dan kami berjalan cepat menuju hotel yang letaknya tak begitu jauh. Bersiap untuk petualangan esok hari menuju sebuah kota yang tak kalah menarik.

note:
Kisah lebih lengkap mengenai Praha dan perjalanan kami ada di blog partner di sini.

Wina, Kota Musik Klasik

Wina, kota kedua dalam kunjungan kami ke Eropa setelah sebelumnya Paris dan mampir dulu di London. Kami berangkat menggunakan pesawat domestik Iberia dari Perancis. Jarak tempuh Perancis ke Wina kurang lebih 2 jam. Hari itu tanggal 28 May, jam 17 waktu Paris. Kami sampai di Wina jam 18.55.

Wina atau dalam bahasa inggrisnya Vienna adalah ibukota dan satu dari 9 propinsi di Austria. Wina dikenal sebagai kota kelahiran banyak musisi ternama, di antaranya Johann Straus I, Schubert, dan lain-lain. Selain itu di kota ini pula Mozart dan Beethoven meniti karir musik mereka. Maka tak heran, jika Anda berjalan-jalan di daerah turis akan banyak officer yang menawarkan berbagai acara konser musik yang dapat Anda nikmati. Berbagai pilihan diberikan, dari konser musik kamar sampai opera besar. Harga tiketnya pun bervariasi. Menariknya lagi para officer ini beberapa mengenakan pakaian klasik abad pertengahan.

Hotel tempat kami menginap terletak tidak jauh dari sungai Danube, sungai terbesar yang salah satu anak sungainya membentuk sebuah pulau. Wow, terbayang betapa luas sungainya, bukan?

Transportasi di Wina adalah kereta bawah tanah, bus, dan tram. Stasiun kereta bawah tanah di kota ini mempunyai nama yang lucu di telinga kami, yaitu U-Bahn (Unter-Bahn) dengan simbol huruf U berwarna putih. Kami mencandainya dengan menyebut ‘cari uban atau cari putih’ untuk mencari lokasi stasiun kereta bawah tanah berada. Ada juga tram. Tram seperti perpaduan bus dan kereta api dengan jarak pendek-pendek. Tram ini mempunyai jalur seperti rel kereta api. Jika kereta api mempunyai roda yang besar maka tram memiliki roda yang kecil. Kami iseng ingin merasakan naik tram. Sempat nyasar sih sampai ke perhentian terakhir, tapi tram ini tidak berhenti lama. Kondektur memeriksa seluruh isi tram kemudian melanjutkan perjalanan kembali. Kami dan sepasang turis lainnya termasuk yang melanjutkan perjalanan kembali dengan tram ini dengan alasan yang sama: tersasar. Walaupun menyasar tapi ini pengalaman yang seru dan mengasyikkan. Oh ya, konon katanya tram juga pernah ada di Jakarta, Bandung, Malang, dan beberapa kota lainnya di Indonesia. Sayangnya, angkutan itu kemudian menghilang, entah kenapa. Padahal akan sangat menarik, unik, bahkan bisa menjadi transportasi yang lebih baik dari busway sekarang. Dan juga bisa menarik wisatawan karena keberadaannya yang tampak klasik.

Beberapa bangunan musium di Wina terletak di dalam komplek istana Hofburg, seperti: musium sejarah seni, musium sejarah alam, musium etnologi. Sayangnya musium sejarah alam yang ingin kami kunjungi pada saat itu sedang dipersiapkan untuk sebuah acara. Musium lainnya dibuka pada saat-saat tertentu yang saat itu pun tak dapat kami masuki. Ada satu musium yang saat itu sedang memamerkan lukisan, tapi kami tak memasukinya karena di Paris kami sudah mengunjungi musium Orsay, tempat karya pelukis berkumpul.
 
Bendera Wina terdiri dari dua layer dengan warna: merah, putih dengan posisi horisontal. Mirip dengan negara kita ya? Lambang negara ini adalah elang dengan sayap-sayapnya yang berjuntai rapi.

Mata uang Wina adalah Euro. Satu euro kira-kira sama dengan 12000 idr. Bentuk uang kertas di setiap negara Eropa adalah sama, yang berbeda adalah koin. Di Wina koinnya ada yang bergambar Mozart.

Kami menginap dua malam di Wina. Karena hari pertama di Wina sudah menjelang malam, dengan berjalan kaki kami melihat-lihat sungai Danube yang letaknya tidak jauh dari hotel tempat kami menginap. Udara di kota Wina saat itu berbeda dengan Paris yang sudah memasuki musim panas. Wina terasa lebih dingin dan di waktu siang tidak begitu terik dibanding Paris.

Beberapa tempat yang kami kunjungi di hari kedua adalah:
1. Stephansdom (Katedral St.Stephen), gereja bergaya gothik. Letak gereja ini di pusat kota Wina.
2. Gedung Opera Wina (Wiener Staatsoper), tempat orkestra besar dimainkan.

3. Istana Hofburg. Selain gedung-gedung musium, di dalam komplek istana kekaisaran ini terdapat kantor pemerintah. Ada juga bangunan sekolah menunggang spanyol yang ditandai dengan patung berkuda di depannya dan perpustakaan nasional Austria (Österreichische Nationalbibliothek/ONB) yang dirancang oleh Joseph Fischer von Erlach dan putranya Johann pada awal tahun 1700 (dari sini).




Malam harinya kami melihat konser musik kamar yang dipertunjukkan di gedung Schonbrunn. Sebelumnya kami telah memesan tiket melalui hotel. Musik klasik yang dipertunjukkan beragam dari tenang sampai dinamis dan riang. Selain memainkan karya waltz dari Johan Strauss I, ada juga Mozart dan karya komponis lainnya. Dengan paduan beberapa penyanyi dan iringan tari konser musik ini memang sengaja diperuntukkan untuk para turis. Terkadang diselingi dengan tingkah laku dan gaya lucu yang mengundang senyum para penonton. Dan di akhir penampilan mereka memainkan satu musik yang saya suka. Saya beberapa kali pernah menampilkan video musik ini dari youtube di wall facebook. Musik apa ayo? 😉

Sayang kami tak lama di kota yang cantik dan sarat dengan seni dan musik ini. Kelak jika Allah mengijinkan kami ingin kembali ke kota ini, insya Allah. Amin yra.

Kota berikut yang menjadi agenda perjalanan kami adalah Praha. Apa yang menarik di Praha? Saya susulkan nanti ya 🙂

Museum

Perjalanan kami berakhir di kota London. Ibukota Inggris ini sangat ramai dan padat. Berbeda ketika kami berkunjung di luar kota London, jam 5 atau 6 sore hampir bisa dipastikan semua toko tutup. Tempat makan semacam MC D pun sudah tutup. Untunglah ada satu dua supermarket kecil yang masih membuka gerai tokonya. Kadang kami tak sadar kalau jam sudah menunjukkan angka 7 malam karena langit tampak cerah dan sinar hangat matahari masih terasa disertai hembusan angin dingin yang menusuk tulang.

Menjelang senja kami tiba di London. Perjalanan dari York ke London ditempuh dalam waktu 5 jam dengan menggunakan coach National Express. Kami langsung menuju wisma merdeka, tempat kami menginap di London. Malam itu London Symphony Orchestra akan mempergelarkan orkestra Haydn Symphony No. 97, Mozart Piano Concerto No. 17, dan Nielsen Symphony No. 4 (‘Inextinguishable‘). Konser bertempat di Barbican Centre. Haydn Symphony No. 97 adalah paduan yang paling menarik buat saya :). Kedua, Nielsen. Kenapa Nielsen? Sebenarnya saya lebih suka Mozart, tapi saat itu saya sedang merasa sangat lelah dan mendengar Nielsen seperti membangunkan saya pada sebuah kesadaran. Musiknya sinting. Semua alat musik dimainkan bersama-sama. Tapi dalam kondisi normal Nielsen sepertinya tidak menjadi pilihan saya.. hehehe.

Paginya kami melanjutkan petualangan ke daerah yang merupakan bagian dari kota London, Greenwich.Satu tempat yang kami tuju adalah musium Greenwich. Letaknya tepat di atas bukit. Dalam perjalanan menuju musium kami bertemu banyak tupai. Dan seperti biasa kami meluangkan waktu sebentar bercanda dengan tupai-tupai itu.

Untuk masuk musium Greenwich kami tak dikenakan pembiayaan, free. Tapi kami boleh memberikan donasi pada kotak amal yang telah disediakan. Di musium ini dipamerkan alat pengamat perbintangan. Selain itu ada juga simulasi dari benda-benda langit. Di layar lebar sedang ditayangkan sejarah bintang. Proses kelahiran dan kematian bintang serta bagaimana diri kita tersusun dari debu bintang. Keseluruhan isi film mengingatkan saya pada buku Cosmos, Carl Sagan. Sayangnya kami tak diijinkan mengambil gambar. Ada juga planetarium, yang saat kami di sana sedang tak bisa dioperasikan :(.

Oya, ada tempat yang paling istimewa di sini, yaitu lokasi O derajat yang dikenal sebagai standar waktu yang kita gunakan sekarang, atau GMT singkatan dari Greenwich Mean Time. Lokasi O derajat ini ditandai dengan sebuah garis logam panjang di lantai.

Setelah selesai kami kembali menuruni bukit dan bercengkerama sebentar dengan tupai-tupai yang sudah menunggu kami kembali *GR*. Kami harus bergegas untuk mempersiapkan kunjungan berikutnya yaitu: musium sains dan The British Museum. Ada apa di sana?

Pagi telah datang dan kami naik underground menuju musium sains yang terletak di South Kensington. Dan seperti musium Greenwich di sini pun kami tak diharuskan membeli tiket. Ada banyak pameran di musium ini, di antaranya: matematika dan komputer, serta cosmos. Di pameran komputer ditampilkan mesin komputer pertama yang ditemukan oleh …. (ayo, siapa yang bisa jawab? :)). Charles Babbage, adalah penggagas mesin komputer pertama. Ada juga kisah programer komputer pertama, dia adalah seorang perempuan yang bernama Ada Lovelace. Ada membantu Babbage membuat algoritma untuk menghitung bilangan Bernoulli yang akan digunakan pada mesin analitik Babbage.

Di bagian Cosmos sendiri, ditampilkan alat peraga perbintangan dan benda-benda langit. Di antaranya adalah teleskop yang dibuat oleh William Herschel. Planetary Model, Celestial Sphere: bola dunia yang menampilkan rasi-rasi bintang, Silver Star dan lain-lain. Duh, bukunya hilang padahal ingin lebih rinci menulis tentang ini.

Memang tak banyak yang dapat kami lihat karena waktu terus berjalan. Akhirnya beberapa tempat kami lewatkan. Menunggu sampai diusir pulang oleh yang punya musium, kami langkahkan kaki menuju wisma merdeka. Berberes untuk kembali ke tanah air esok hari dan kami masih berniat untuk sejenak bisa mengunjungi The British Museum pagi hari. Jika dan seandainya kami mempunyai kesempatan, tak akan bosan rasanya kembali ke negeri ini. Buat para pecinta buku, Inggris adalah tempat dimana banyak penulis bertebaran di berbagai kota lainnya di London. Dan saya belum ke Lordship Lane dan Beckenham, dua kota bersejarah penulis kesayangan saya, Enid Blyton.