Belajar Berpikir Kritis dan Algoritma dari Film The Martian

The Martian adalah salah satu film kegemaran saya. Film ini sering saya ceritakan kepada murid-murid ketika memberi contoh makna cerdas, berpikir kritis dan menggunakan algoritma di dalam kehidupan sehari-hari.

The Martian bercerita tentang seorang astronaut yang berjuang untuk bertahan hidup di Mars. Si tokoh, Watney, adalah seorang ahli botani yang turut dalam program NASA yang dinamai dengan Ares. Ketika sedang melakukan operasi permukaan, Mars diterjang badai pasir. Watney terlempar dan terpisah dari teman-temannya. Ia kemudian diduga tewas dan hilang di Mars. Namun sesungguhnya, Watney masih hidup. Sendirian berada di tempat yang ekstrim dan kemungkinan untuk bertahan hidup tinggal menghitung hari adalah kenyataan yang tak mudah untuk dihadapi. Tetapi astronaut kita ini bukanlah orang yang mudah putus asa. Watney mulai membuat daftar yang berisi urutan langkah-langkah kegiatan yang harus ia lakukan untuk misi penyelamatan dirinya.

Untuk hidup manusia membutuhkan makan. Watney mulai memeriksa semua persediaan pangan yang ia miliki. Ia menghitung dengan cermat pasokan pangan yang ada. Selanjutnya, bagaimana jika persediaan makanan yang ia miliki habis? Ia tidak bisa bergantung kepada bekal makanan yang dibawanya dari bumi. Maka, Watney harus bercocok tanam untuk mempersiapkan kebutuhan pangan. Jangan lupa Watney adalah seorang ahli botani. Ia tahu bahwa untuk bertanam diperlukan tanah yang subur dan benih serta air untuk menghidupi tumbuhan tersebut. Tanah di Mars tidak memungkinkan untuk ditanami. Watney ingat bahwa di pesawatnya terdapat kantong pup milik ia dan kawan-kawan. Ia lalu mengolah pup dan tanah di Mars untuk menghasilkan tanah yang subur. Bagaimana memperoleh benih tanaman pangan? Watney dibekali banyak kentang sebagai menu makanan para astronaut. Ia akan memotong sedikit bagian dari kentang untuk dijadikan benih tanaman. Oke, tanah sudah ada, demikian juga benih. Air. Bagaimana dengan air? Watney ingat ekor pesawat mengandung hidrogen. Melalui proses kimia maka ia menyulap hidrogen menjadi air. Permasalahan untuk persediaan pangan untuk sementara bisa diatasi.

Bagaimana selanjutnya? Watney tak mungkin berdiam diri saja, bukan? Ia harus memberitahu kawan-kawannya di bumi bahwa ia selamat. Dengan demikian maka kawan-kawannya dapat melakukan misi menyelamatkan dirinya dan membawa ia kembali ke bumi. Peralatan komunikasi yang ada tidak berfungsi. Watney mencari cara untuk berhubungan dengan mereka menggunakan bahasa mesin 0 dan 1 atau yang disebut dengan bilangan biner memanfaatkan satelit panel surya. Sinyal yang diberikan Watney ternyata terlacak oleh seorang crew di bumi. Singkat cerita, Watney selamat dan kembali ke bumi berkumpul bersama keluarga dan kawan-kawannya :).

Mari kita amati pelajaran-pelajaran dan pesan moral dari film ini.
Tidak diragukan Watney adalah tokoh yang tidak sekedar pintar namun juga cerdas. Apa itu cerdas? Watney menggunakan semua ilmu pengetahuan yang ia miliki untuk memecahkan masalah yang ia hadapi. Ia juga selalu memikirkan dan mempertanyakan setiap tindakan yang akan ia lakukan. Nah, ini contoh berpikir kritis. Seseorang yang terbiasa berpikir kritis akan mempertimbangkan setiap tindakan yang akan ia ambil dengan tanpa merugikan orang lain. Dan tentu saja algoritma. Watney membuat urutan langkah-langkah yang akan ia lakukan untuk bertahan hidup dan dapat kembali ke bumi. Selain itu, alih-alih merasa putus asa kecewa dan depresi yang bisa berakibat turunnya kekebalan tubuh, Watney memilih untuk bahagia. Ia menonton film-film lucu, mengobrol dengan dirinya sendiri di depan cermin dan melakukan hal-hal yang menyenangkan :). Terbukti, ia mampu bertahan dan kembali ke bumi dengan selamat.

Walaupun hanya film, tapi pembelajaran yang ada pada film ini bisa berlaku di banyak situasi loh.
Dari film ini kita belajar bahwa tidak ada pelajaran yang sia-sia. Seseorang yang cerdas dapat menggunakan semua ilmu pengetahuan yang ia miliki untuk membantunya memecahkan masalah. Jadi, jangan pernah meremehkan pelajaran apapun.

Jangan pula merasa cukup dengan pintar. Karena pintar saja tidak cukup. Kita perlu cerdas dan terkadang juga perlu “lucu” (memiliki sisi humoris) agar kehidupan kita menjadi lebih baik dan seimbang.

Untuk review buku The Martian, saya pernah menuliskannya di sini.

Gerakan Literasi

Saya suka membaca dan menulis. Dan salah satu hal yang paling ingin saya tularkan kepada murid-murid saya (dan lingkungan saya) adalah ketertarikan pada buku. Selama proses KBM di ruang kelas, ada saat-saat tertentu saya mendongeng. Saya biasanya memulai dengan menayangkan film, slide atau cerita perjalanan saya mengunjungi berbagai tempat. Itu semacam trik untuk menarik perhatian sebelum kami akhirnya berdiskusi dan lanjut membahas isi buku.

Saya pernah bercerita tentang Hellen Keller, Van Gogh, Marie Curie, Google, Facebook, LHC sampai Dracula dan lain-lain. Tokoh yang saya ceritakan tidak selalu berkaitan dengan mata pelajaran yang saya ampu dan juga tidak selalu mengenai tokoh-tokoh. Saya tidak tahu apakah cara yang saya lakukan bisa menarik murid-murid saya untuk tergerak membaca. Tetapi saya sangat bersyukur ketika beberapa anak kemudian datang sambil membawa buku dan mengatakan, “Ïbu, saya baca ini gara-gara Ibu atau karena saya penasaran, atau ingin mulai membaca, dan semacam itulah. Itu awal yang bagus untuk mereka memulai mengenal buku, bukan?

Lalu, kementerian pendidikan dan kebudayaan meluncurkan gerakan literasi di sekolah. Program ini dimaksudkan untuk membudayakan membaca dan menulis dengan tujuan memperkuat budi pekerti seperti yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015. Dikutip dari laman educenter di sini, wujud Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah membaca selain buku pelajaran selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Dengan GLS, diharapkan siswa terbiasa untuk membaca. Selanjutnya, dapat mengambil nilai-nilai moral dari buku yang dibaca.”

Menurut Unesco, dari seribu orang Indonesia, hanya satu yang gemar membaca. Wow, menyeramkan juga ya?

Kembali ke Gerakan Literasi dari Kemendikbud, tidak terbatas kepada membaca dan menulis, namun juga meliputi literasi lainnya, seperti literasi perpustakaan, media, teknologi, dan lain-lain. Untuk info lengkapnya silakan di baca di link yang saya berikan di atas ya.

Kemudian sekolah bergerak, melakukan berbagai kegiatan yang mendukung gerakan literasi. Saya percaya ada banyak ide-ide yang bisa dikembangkan oleh setiap sekolah, dan jika semua sekolah berbagi mengenai ide dan gagasan mereka untuk menjalankan gerakan literasi sekolah maka kita semua bisa saling belajar. Untuk program gerakan literasi yang ada di sekolah saya, Bapak Ibu Guru bisa membacanya di laman sekolah kami di sini di kategori Gerakan Literasi.

Memang, kita tidak bisa ujug-ujug memaksa anak untuk membaca. Karena, gerakan literasi itu sesungguhnya dimulai dari rumah. Namun sekolah juga tidak bisa lepas tangan. Kita semua harus bergandengan tangan untuk membudayakan membaca dan menulis kepada generasi muda.

Sederhananya, jangan memaksa. Cari tahu dahulu hal yang mereka sukai. Kalau murid kita suka menggambar, dorong mereka untuk membuat komik atau cerita bergambar. Kalau sukanya berbicara, minta mereka bercerita melalui video blogger. Kalau sukanya menulis di whatpadd atau platform digital lainnya, biarkan mereka mengungkapkan tulisannya di sana. Kalau suka menyanyi, dorong untuk membuat lirik lagu sendiri. Banyak sekali cara yang bisa dilakukan.

Jangan lupa, sekarang ini ada banyak startup digital yang dapat diajak bekerjasama untuk mendukung gerakan literasi. Beberapa diantaranya adalah Nulisbuku dan Storial.co.

Semangat membaca 🙂

Silabus dan RPP Kelas 5 dan 6 Informatika

Bagi Bapak Ibu Guru yang menggunakan buku Informatika untuk SD/MI Kelas V dan VI dari Penerbit Erlangga silakan mengunduh silabus dan RPP nya di sini. Namun mohon maaf sebelumnya, RPP masih versi lama, belum mengikuti format dari Pak Nadiem. Namun ke-3 komponen inti ada di dalam RPP.

Silabus dan RPP kelas V, silakan klik di sini.
Silabus dan RPP kelas VI, silakan klik di sana.

Semoga bermanfaat.

Menanti Perubahan Pendidikan untuk Indonesia

Pagi yang mendung dan saya tergelitik untuk membaca artikel ini. Menarik. Dan seperti botol bertemu tutupnya, segala keresahan hati saya bertemu kuncinya dan ingin saya utarakan di sini… hehehe :). Namun, di tulisan ini fokus saya lebih kepada guru. Karena, bukankah guru dan siswa sama? Mereka adalah individu yang ingin belajar dan terus berkembang tanpa ada sekat-sekat yang membatasi dirinya?

“Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 46 Tahun 2016 tentang Penataan Linieritas Guru Bersertifikat Pendidik, sangat mengganggu kemajuan peningkatan kualitas guru dan sekolah. Pasalnya, apabila seorang guru dalam mengajar tidak linier dengan latar belakang keilmuan, maka dia tidak mendapat penghargaan semestinya. Meski ia menguasai materi yang ia ajar.”

Faktanya, tidak hanya tidak sekedar mendapat penghargaan namun juga tidak bisa mengajar materi yang ia kuasai. Keberadaan selembar ijasah adalah segala-galanya. Tanpa ijasah maka penguasaan ilmu dan keterampilan tertentu yang kita miliki patut dipertanyakan. Kita terlanjur percaya bahwa dengan selembar ijasah maka penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan seseorang sudah teruji. Padahal pendidikan yang kita lalui untuk memperoleh ijasah itu (di negeri ini) masih jauh dari harapan ideal berupa penguasaan ilmu dan keterampilan tadi.

Untuk mereka yang berada di dunia pendidikan, saya tidak menafikan bahwa ijasah sesuai latar belakang keilmuan dengan matpel yang diajar memang diperlukan. Namun sejatinya, ijasah tidak menjadi satu-satunya persyaratan mutlak yang menjadi penghalang seorang guru untuk dapat mengajar di mata pelajaran tertentu. Namun ada faktor-faktor lain yang bisa menjadi pertimbangan untuk ia dapat mengajar materi tersebut, seperti buku, karya tulis, dan portofolio lain yang ia hasilkan. Coba kita lihat barisan kalimat dari artikel di atas.

“Karena itu, menurut Illich, perlunya membebaskan masyarakat dari kecenderungan menganggap sekolah sebagai satu-satunya lembaga pendidikan.”

Sejalan dengan konsep mas menteri, yaitu “merdeka belajar.” Bahwa belajar tidak lah melulu harus di sekolah. Belajar bisa darimana saja. Semua tempat adalah lembaga pendidikan, tempat kita belajar dan mendidik diri sendiri.

“Ivan Illich tokoh pendidikan asal Wina juga menawarkan alternatif proses yang ia sebut dehumanisasi di ruang (pendidikan). Yaitu, demokrasi dalam memperoleh pendidikan, dalam sistem pembelajaran dan pengembangan kurikulum. Dalam pendidikan alternatif, sistem pendidikan yang baik dan membebaskan harus memberi kesempatan pada semua orang untuk bebas dan mudah memperoleh sumber belajar setiap saat. Selain itu mengizinkan semua orang yang ingin memberikan pengetahuan mereka pada orang lain dengan mudah, demikian pula bagi orang yang ingin mendapatkannya.”

Demikian juga Guru. Guru dapat belajar dari manapun. Di lapangan ada banyak guru yang tiba-tiba harus kuliah lagi karena mengampu mata pelajaran berbeda dengan ijasah yang ia miliki sebelumnya. Persyaratan linearitas Guru menjadi pembatas bagi guru untuk berkreasi. “Keharusan” ini pada akhirnya hanya menjadi semacam seremonial belaka. Akibatnya, kuliah bukan bertujuan untuk memperoleh ilmu tapi hanya sekedar menggugurkan kewajiban agar memperoleh ijasah sesuai matpel yang diajar sehingga urusan sertifikasi lancar. Sudah bisa ditebak bagaimana hasilnya. Apakah tidak lebih baik jika dibiarkan mereka mencari wadah lain untuk memperkaya ilmu pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan materi yang mereka ampu? Membuat karya tulis, portofolio, mengikuti workshop dan seminar yang di dalamnya mereka juga berperan serta? Bukankah lebih mengasyikkan juga bagi guru yang bersangkutan?

Bukankah kita sebenarnya mengamini bahwa “pendidikan bukan hanya untuk mendapatkan selembar ijazah, tapi yang terpenting penguasaan ilmu dan keterampilan di bidang tertentu.”

Dan jika, tentu saja saya percaya kita semua ingin perubahan pendidikan yang lebih baik untuk semua orang maka diperlukan perubahan radikal dalam pendidikan. Seperti kata Rhenald kasali, tidak ada perubahan yang nyaman. Namun perubahan adalah keniscayaan, dan untuk survive maka kita harus mampu beradaptasi terhadap perubahan.

RPP 1 halaman PKWU

Mumpung libur bikin RPP untuk semester genap mata pelajaran PKWU sekaligus memgimplementasikan anjuran mas menteri, yaitu RPP 1 halaman (yeahhh… 🙂 ). Nanti kalau sudah lengkap RPP nya dibuat dalam format pdf aja (Insya Allah) dan teman-teman Guru silakan mengunduh jika berminat…hehehe.

Ini RPP untuk kelas XI dengan aspek Rekayasa.

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
No. 01

Sekolah :
Mata Pelajaran : PKWU
Kelas/Semester : XI/Genap
Tahun Pelajaran :
Materi Pokok : Bidang usaha konversi energi
Alokasi Waktu : 2×45 menit

A. Tujuan Pembelajaran
Siswa dapat memahami bidang usaha konversi energi

B. Kegiatan Pembelajaran

1. Guru mempraktikkan penggunaan produk konversi energi berupa mobil panel surya (mengubah dari cahaya menjadi listrik lalu menjadi gerak), water salt toys car (mengubah dari energi kimia ke listrik lalu menjadi gerak).
2. Guru melakukan tanya jawab kepada siswa.
Seperti: bentuk energi yang ada pada produk tersebut. Apa itu energi? Apakah terjadi perubahan energi? Perubahan energi apa yang terjadi?
3. Guru menjelaskan mengenai usaha bidang konversi energi. Materi dapat dilihat pada buku teks PKWU Penerbit Sewu halaman 42.

C. Penilaian

Penilaian: Tulis (Uraian bebas)
1. Jelaskan tujuan konversi energi bagi umat manusia.
2. Berikan contoh bidang usaha konversi energi.

Semoga bermanfaat.

Oya, untuk demo produk konversi energi mobil panel surya bisa dibuat sendiri. Saya pernah menuliskan caranya di sini. Untuk melihat videonya sila ditonton di bawah ini :).

RPP 1 halaman

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (mendikbud) Nadiem Makarim baru saja menetapkan empat program pembelajaran nasional. Empat program ini disebut sebagai kebijakan pendidikan “meredeka Belajar”. Apa saja? Program tersebut meliputi Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), Ujian Nasional ( UN), Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan Peraturan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Zonasi.

Nah, saya ingin membahas RPP. RPP atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ini dibuat lebih ramping dari sebelumnya. Silakan lihat tabel di bawah ini.

Bagaimana membuat RPP 1 halaman? Saya teringat ketika saya mengajar di sekolah TK anak-anak para ekspatriat. Di sana lesson plan yang kami buat cukup satu lembar halaman. Setiap jumat sore kami guru bersama kepala sekolah berkumpul dan mendiskusikan lesson plan yang telah kami susun. Di saat itulah kami saling belajar dengan guru dari bidang studi lainnya. Setelah disepakati maka lesson plan akan ditandatangani oleh kepala sekolah. Lesson plan itu akan menjadi panduan kami mengajar selama seminggu ke depan.

Nah, karena mas menteri sudah mengijinkan maka saya coba membuat rpp 1 halaman. Oya, namanya juga coba-coba dan sekaligus menghilangkan jenuh karena melototin excel seharian buat input nilai maka kalau rpp nya tidak ok jangan dimarahi ya :).

Sebagai contoh, ini adalah rpp untuk buku teks informatika dari Penerbit Erlangga tahun terbit 2019.


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
No. 01

Sekolah :
Mata Pelajaran : Informatika
Kelas/Semester : IV/Ganjil
Tahun Pelajaran :
Materi Pokok : Membuat Animasi
Alokasi Waktu : 2 x35 menit (1 x pertemuan)

  • Tujuan Pembelajaran

Siswa dapat memahami penggunaan perangkat teknologi informasi dan komunikasi untuk melatih keterampilan digital dasar seperti membuat animasi.

  • Kegiatan Pembelajaran

Langkah 1
Alat dan bahan: smartphone dengan aplikasi pemindai barcode, buku teks Informatika untuk SD Penerbit Erlangga, film animasi, flip book (lembaran-lembaran berisi serangkaian gambar yang beragam)

Guru memperlihatkan lembaran-lembaran berisi serangkaian gambar dan membukanya secara cepat. Ajukan pertanyaan dan arahkan siswa kepada materi animasi. Contoh untuk mengetahui cara pembuatan animasi:

Pertanyaan : Apa yang terjadi ketika lembaran-lembaran kertas diputar secara cepat?
Jawab: gambar seolah bergerak

Materi animasi dapat dilihat di halaman 3

Langkah 2
Siswa berlatih praktik membuat animasi. Guru mengajak siswa terlebih dahulu untuk memindai barcode yang ada di halaman 2 buku teks. Jelaskan cara pembuatan animasi dan pentingnya membuat story board. Mempraktikkan bersama-sama cara membuat animasi (halaman 4 s.d 12)

Langkah 3
Bagi siswa ke dalam kelompok. Siswa menentukan proyek animasi yang akan dibuat serta berbagi tugas untuk mengerjakan kegiatan pada halaman 13.

Langkah 4
Menyimpulkan bersama materi yang telah dipelajari.

  • Penilaian

Penilaian proyek

Semoga bermanfaat

Pendampingan & Supervisi Program Kewirausahaan SMA

Jadi, inilah 3 kota yang saya singgahi dalam rangkaian tugas menjadi petugas supervisi dan pendampingan program kewirausahaan SMA tahun 2019.
1. Aceh
Apa yang menarik dari Aceh? Banyak. Saya sungguh bersyukur dan merasa beruntung ketika mengetahui bahwa sekolah pertama yang harus saya kunjungi adalah Aceh. Telah lama saya memiliki keingintahuan besar untuk melihat bagaimana masyarakat Aceh bangkit membangun kotanya setelah peristiwa bencana dan tsunami besar di tahun 2004. Sekolah yang akan saya kunjungi adalah Sekolah Menengah Atas Swasta Darul Abrar yang terletak di kabupaten Aceh jaya dengan ibukota Calang. Oya, provinsi ini luluh lantak pada bencana tsunami dan gempa bumi tahun 2004. Saya bersama seorang kawan dari Direktorat menempuh jarak kurang lebih 3 jam perjalanan dari kota Aceh melalui jalur darat. Menuruni 3 gunung dan 3 daratan sungguh perjalanan yang penuh petualangan tapi juga menakjubkan dengan keindahan alamnya.

Letak SMAS Darul Abrar yang berdekatan dengan laut dan pegunungan memberikan banyak potensi alam yang tak terhingga. Pecahan batu-batu (serupa batu giok) dari gunung berserakan di area sekolah. Dahulu, waktu maraknya aksesori batu-batuan, Calang menjadi salah satu pengekspor batu-batuan ke kota besar. Ada lagi siput. Mereka menyebutnya dengan chu. Siput-siput hidup di rawa-rawa yang banyak ditemui di kabupaten Calang. Ada lagi tanaman kedondong pagar yang tumbuh liar di sekolah. Tanaman ini diniscayai dapat menyembuhkan sakit lambung. Daunnya bisa dipetik dan dijadikan teh. Kemudian, buah janeng yang merupakan buah khas daerah Aceh. Buah janeng dapat ditemui di hutan-hutan. Buah janeng tidak diperjualbelikan. Di Calang, keberadaan buah janeng mulai menipis paska bencana tsunami tahun 2004. Menariknya, buah ini membantu warga Aceh bertahan hidup pada peristiwa tsunami.

Seorang rekan sekolah yang merupakan penyitas pada peristiwa tsunami bercerita, pada waktu tsunami besar terjadi di Aceh tahun 2004, ia dan kawan-kawannya pergi ke hutan untuk mencari buah janeng. Buah ini beracun tetapi jika diolah dengan benar ia bisa menjadi makanan pokok pengganti nasi. Para leluhur biasa mengolah dan mengonsumsi buah janeng sebagai makanan pokok.

Di belakang sekolah terbentang laut biru dengan deburan ombak. Pasir di laut ini putih dan bersih. Tidak banyak orang yang bermain ke laut. Barangkali, karena hari itu bukan hari libur ya? 🙂

Satu lagi, yang mungkin tidak banyak orang menyadari, Aceh ternyata mengalami 4 kali perubahan nama. Awalnya adalah Aceh Darussalam. Kemudian Daerah Istimewa Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam dan terakhir Aceh. Menurut ke[ala sekolah SMAS Darul Abrar, perubahan nama ini karena masyarakat Aceh ingin dipanggil sebagai Aceh, bukan DI atau NAD, yang merupakan singkatan dari nama-nama sebelumnya.

Oya, balik ke tugas negara. Hari pertama kami melakukan supervisi. Hari kedua adalah tugas saya untuk memberikan IHT berupa materi design thinking dan business model canvas.

Berikut materi presentasi dan foto-foto kegiatan selama berada di SMAS Darul Abrar.

2. Papua
Setelah ujung barat Indonesia, kali ini perjalanan saya ke provinsi paling timur wilayah Indonesia, yaitu Papua. SMA Oransbari kab. Manokwari Selatan, Papua Barat. Sekolah Oransbari terletak di atas bukit. Tidak ada air. Siswa dan guru membawa air sendiri. Aktivitas kbm hanya sampai jam 2, karena setelah itu mereka harus membantu orang tua di ladang. Anak-anak ada yang naik motor pun jalan kaki. Dibutuhkan stamina yang cukup untuk berjalan kaki. Tetapi, anak-anak tetap masuk, walau dengan sepatu yang sobek atau baju yang basah dengan keringat. Mereka punya impian yang sama dengan anak-anak di P. Jawa. Mereka juga ingin melihat dunia. Saya salut dengan Bapak Ibu guru yang ada di sana. Dengan segala keterbatasan mereka berusaha membantu mewujudkan harapan dan kehidupan yang lebih baik untuk siswa-siswanya.

Orang Papua ramah-ramah. Mereka suka tersenyum dan malu-malu. Tingkat toleransi di Papua sangat tinggi. Mereka baik dan ramah dengan pendatang. Anak-anak Papua terampil menggunakan tangan mereka untuk membuat berbagai kerajinan tangan. Berbeda dengan di Aceh, produk kewirausahaan di sekolah ini lebih banyak berkisar kerajinan.

Bersama kawan dari Direktorat, saya mengisi kegiatan IHT design thinking dan business model canvas di hari kedua. Contoh saya ambil dari kondisi sekitar. Kebetulan di belakang sekolah mereka ada pohon beringin yang besar. Akar gantung di pohon beringin sangat banyak dan seringkali terserak begitu saja. Anak-anak di sana mengambil akar-akar gantung dari pohon beringin dan merangkainya menjadi produk kerajinan seperti tas, wadah makanan, dan lain-lain. Kreasi anak-anak Papua ini bagus-bagus loh.

Oya, awalnya saya sempat ragu pergi ke Papua. Tetapi, rasa ingin tahu mengalahkan segalanya sehingga saya pun memutuskan untuk berangkat ke kota yang ternyata indah. Selama perjalanan yang ditempuh kurang lebih 3 jam dari bandara Rendani, Papua Barat saya bisa menikmati pemandangan laut dan pegunungan yang berbukit-bukit.

Slide dan foto kegiatan ada di bawah ini ya.

3. Bengkulu
Sekolah yang kami kunjungi ini adalah SMAN 2 Mukomuko. Sekolah ini terletak di kabupaten Mukomuko, Bengkulu. Kali ini saya berangkat sendiri. Rekan saya berasal dari Bengkulu, karena itu dia menunggu saya di sana. Kami menempuh perjalanan 5 jam untuk sampai ke SMAN 2 Mukomuko. Sejauh mata memandang dalam perjalanan dari bandara ke sekolah kami disuguhi pemandangan pohon sawit dan laut biru yang luas.

Produk wirausaha siswa-siswi SMAN 2 Mukomuko adalah kuliner. Potensi keunggulan lokal mereka adalah ikan slengek. Di daerah ini ikan slengek mudah didapat dan harganya murah. Warga setempat biasa mengolah dengan cara digoreng atau dipepes. Namun tulangnya banyak,- orang Bengkulu menyebut duri dengan tulang- sehingga tidak banyak orang yang berminat mengolahnya. Walaupun banyak duri dan seringkali diabaikan rasa ikan slengek sebenarnya cukup enak. Siswa-siswi SMAN 2 mukomuko kemudian berkreasi dengan mengolah ikan slengek menjadi kerupuk, abon, stik, pempek, somay, tekwan, dan lain-lain. Mereka juga memproduksi terus produk makanan tersebut dan menjualnya di koperasi sekolah. Setiap jam istirahat bergantian siswa-siswi menjaga konter yang ditempatkan di selasar sekolah.

Pagi hari sebelum kami melaksanakan IHT, kami berkeliling sebentar. Kami melihat jembatan gantung yang merupakan ikon kota Ipuh. Ipuh adalah salah satu nama kecamatan dari kabupaten Mukomuko. Di bawah jembatan mengalir sungai yang deras. Sungai ini menjadi sumber aktivitas keseharian warga Ipuh. Mereka mencuci dan mandi di sungai. Sungai ini menjadi ramai terutama di musim kemarau.

Beberapa foto kegiatan dan slide

Contoh design thinking karya siswa-siswi SMAN 2 Mukomuko.

Itulah ke-3 sekolah yang saya kunjungi. Pada kegiatan ini yang bisa saya simpulkan adalah banyak sekali keunggulan lokal yang dimiliki setiap daerah. Para pelajar dapat lebih mudah berkreasi dalam menemukan ide dan gagasan produk dengan bantuan pendekatan design thinking dan BMC.

Sampai bertemu di FIKSI ya anak-anakku. Semoga ilmu yang kami berikan bermanfaat. Aamiin.

ToT Petugas Pendampingan & Supervisi Program Kewirausahaan SMA

Menyambung dari tulisan sebelumnya, setelah mengikuti pelatihan dari PJI saya melanjutkan perjalanan ke Bogor untuk mengikuti ToT Petugas Pendampingan & Supervisi Program Kewirausahaan dari Kementerian yang diadakan selama 4 hari.

Menukil dari kata pengantar modul pelatihan, “Sebagai bentuk pemerataan dan peningkatan mutu pendidikan, Direktorat Pembinaan SMA pada tahun 2019 melaksanakan Program Kewirausahaan di 204 SMA yang tersebar di 34 provinsi. Untuk memastikan keterlaksanaan program tersebut, Direktorat Pembinaan SMA akan melaksanakan supervisi dan pendampingan terhadap 150 SMA pelaksana. Selain itu, supervisi dilakukan dengan harapan agar mendapatkan kondisi riil sekolah dalam pelaksanaan program kewirausahaan yang sesuai dengan rencana kerja. Pendampingan dilaksanakan untuk memberikan bantuan atau solusi pemecah masalah/kendala yang dihadapi sekolah dalam bentuk In House Training (IHT(. SMA pelaksana program kewirausahaan diharapkan memiliki karya kreatif dan inovatif agar siswa memiliki jiwa-jiwa entrepreneur. Sebagai bentuk persiapan sebelum pelaksanaan pendampingan dan supervisi, Direktorat Pembinaan SMA menyelenggarakan ToT Petugas Pendampingan dan Supervisi Program Kewirausahaan di SMA.”

Merujuk kepada nukilan di atas, maka tugas dan tanggung jawab petugas supervisi dan pendampingan program kewirausahaan adalah mengimbaskan ilmu yang kami pelajari pada pelatihan ini kepada sekolah-sekolah yang telah menerima dana bantuan untuk program kewirausahaan. Materi yang dipelajari pada pelatihan adalah mengenai design thinking dan business model canvas (BMC). Kedua materi inilah yang harus saya sampaikan nanti pada kegiatan IHT di sekolah-sekolah tersebut untuk membantu mereka memahami konsep kewirausahaan.

Pada hari ke-4 kami diberikan tes. Tes ini bertujuan untuk pemetaan kompetensi dari setiap petugas.

Prestasi Junior Indonesia dan Citibank

Saya mengenal Prestasi Junior Indonesia pada tahun 2018. Pada saat itu saya bersama siswa sedang mengikuti pelatihan kewirausahaan yang diadakan oleh British selama sebulan setiap hari sabtu. Di sana saya berkenalan dengan seorang kawan Guru yang kemudian mengajak saya untuk melihat pameran dan kompetisi kewirausahaan tingkat Asia yang diadakan di Lotte, Kuningan. Acaranya sangat keren loh. Saya jadi bermimpi suatu hari murid-murid saya juga bisa mengikuti program yang diadakan oleh PJI. Saya kemudian berkenalan dengan salah seorang penanggung jawab dari pihak PJI. Dari keterangan pihak PJI untuk bisa mengikuti program ini hanya sekolah yang memperoleh rekomendasi dari Dinas atau yang dipilih oleh pihak sponsor bersama PJI. Ada juga program mandiri. Namun untuk mengikuti program mandiri dana yang dibutuhkan tidak sedikit. Berawal dari obrolan singkat ini saya kemudian mencoba mengajukan permohonan dana sponsor untuk sekolah kami.

Singkat cerita, mbak Olen perwakilan dari PJI mengabarkan saya bahwa Citibank sebagai pihak sponsor setuju untuk menggelontorkan dana CSR nya untuk sekolah kami. Selanjutnya, pihak Prestasi Junior Indonesia (PJI) datang ke sekolah untuk memberikan gambaran program kerjasama yang akan mereka lakukan. Kami kemudian membentuk tim. Saya mengawal program Ja Be karena saya kebetulan mengajar di kelas X. Saya bersama 3 kawan kemudian berbagi tugas. 2 guru mengawal program Ja Be dan 2 kawan lainnya bertanggung jawab untuk program SC (Student Company).

Oya, saya mau bercerita terlebih dahulu apa itu Prestasi Junior Indonesia (PJI). PJI adalah lembaga non profit (NGO) yang mengelola dana CSR dari banyak perusahaan-perusahaan besar, salah satunya adalah Citibank. Di Indonesia PJI secara aktif membina para pelajar setingkat SMA/SMK untuk membangun ide bisnis dan mengelola usaha mikro di sekolah. PJI memiliki 2 program kewirausahaan yaitu Ja Be dan SC. kedua program ini, Ja Be dan SC telah diikuti oleh 116 negara.

Ja Be adalah program yang bertujuan untuk memberikan pembekalan kewirausahaan kepada peserta didik di kelas. Program ini berjalan selama 8 kali pertemuan yang diampu oleh masing-masing guru PKWU yang mengajar di kelas X. PJI memberikan buku kerja siswa kepada sebanyak siswa kelas X. Program ke-dua yaitu Student Company (SC). Student company adalah perusahaan siswa yang dibentuk oleh kurang lebih 25 anak. 25 anak ini akan mempraktikkan pembelajaran kewirausahaan yang telah diperoleh dan akan melalui rangkaian kompetisi dari tingkat region, nasional sampai Asia Pasifik. SC sendiri dimaksudkan sebagai rangkaian program pemberdayaan generasi muda melalui peningkatan kemampuan serta keterampilan. Melalui program kewirausahaan diharapkan akan lahir banyak wirausahawan social muda dalam bisnis yang memiliki orientasi untuk membantu menyelesaikan masalah sosial di lingkungan.

Maka, tanggal 25 Oktober saya dan 3 kawan guru lainnya mengikuti pelatihan untuk program Ja Be dan SC ini. Pihak PJI memaparkan mekanisme yang akan dilaksanakan oleh Guru dalam kedua program tersebut. Program ini akan berjalan selama kurang lebih 8 bulan. Dari DKI yang mengikuti program dari PJI ini ada 5 sekolah, yaitu 2 dari SMA (SMAN 71 dan SMAN 81), 3 lainnya adalah SMK.

Berikut adalah dokumentasi pelatihan yang diadakan di kantor PJI.

Membuat Daftar Isi Otomatis

Pengalaman menulis naskah buku ‘memaksa’ saya belajar membuat daftar isi otomatis. Tak mungkin membuat daftar isi manual, tak terbayang capek dan mangkelnya nanti…hehe. Ada cara mudah dan sederhana untuk membuat daftar isi. Walaupun ada beberapa tahapan yang sebaiknya diikuti, namun membuat daftar isi dengan urutan langkah di bawah ini rasanya cukup memudahkan. Yuk, kita mulai.

  1. Buka program microsoft word.
  2. Susun dulu outline penulisan. Sebagai contoh:
    Cover
    Kata Pengantar
    Daftar Isi
    Bab
  3. Halaman cover ada di section-1. Kata Pengantar dan daftar isi ada di section-2, Bab ada di section-3. Tujuan pembagian ini untuk memudahkan kita ketika mengatur penomoran halaman dengan format yang berbeda. Contoh: penomoran halaman dalam bentuk angka romawi untuk halaman Kata Pengantar dan Daftar Isi. Sementara untuk halaman Bab dan seterusnya menggunakan penomoran angka desimal. Untuk cover tidak dikenakan penomoran halaman.
  4. Siapkan halaman untuk Cover. Caranya, ketikkan cover, untuk menandai bahwa halaman tersebut akan digunakan untuk keperluan cover.
  5. Selanjutnya, pilih menu Layout. Pilih Breaks. Pilih Next Page di opsi Section Breaks.
  6. Kursor akan melompat ke halaman berikutnya. Ketikkan Kata Pengantar, untuk menandai halaman yang berisi Kata Pengantar.
  7. Kemudian tekan tombol Enter atau tekan tombol Ctrl+Enter secara bersamaan untuk berpindah ke halaman berikutnya. Ketikkan Daftar Isi untuk halaman daftar Isi.
  8. Untuk membuat halaman Bab, maka kita perlu membuat section baru. Caranya, pilih menu Layout. Pilih Breaks. Klik Next page di opsi Section Breaks.
  9. Kursor akan melompat ke halaman berikutnya. Ketikkan Bab untuk halaman Bab.

Setelah selesai membuat pembagian section, langkah berikutnya adalah membuat penomoran halaman.

Halaman Cover

  1. Letakkan kursor di halaman cover. Klik dua kali di atas teks cover untuk menampilkan menu Header & Footer. Selanjutnya, beri tanda centang pada pilihan Different First Page.
  2. Klik ikon Close Header & Footer untuk melihat hasil. Lihatlah, tidak ada nomor halaman untuk halaman Cover.
  3. Selanjutnya, berpindah ke halaman Kata Pengantar. Tampilkan menu Header dan Footer.
  4. Pilih ikon Page Number. Pilih Bottom of Page dan klik salah satu pilihan misalnya di tengah, untuk meletakkan nomor di tengah bawah halaman. Berikutnya, klik pada pilihan Format Page Numbers.


  5. Akan tampil jendela page Number Format. Pilih Number Format yang diinginkan, misalnya angka romawi kecil. Beri tanda centang pada pilihan Start at

  6. Lihat hasil. Pada halaman Kata Pengantar, nomor halaman adalah angka romawi kecil. Perhatikan, pada halaman Daftar Isi, penomoran halaman mengikuti nomor selanjutnya dengan format angka romawi
  7. Lakukan langkah yang sama, namun pilih angka desimal untuk penomoran halaman Bab dan seterusnya. Jangan lupa isikan dengan angka satu pada pilihan Start at.
  8. Lihatlah, penomoran halaman penulisan sudah rapi, bukan?

Selanjutnya adalah mengatur format dokumen menggunakan fitur style. Fitur styles berguna untuk mengotomatisasi format dokumen sehingga dapat menghemat waktu saat mengerjakan dokumen di word. Fitur styles wajib digunakan ketika kita akan membuat daftar isi secara otomatis.

Sebagai contoh, kita akan menggunakan format dokumen dengan aturan seperti di bawah ini

Heading 1
Kata Pengantar
Daftar Isi
Bab

Heading 2
Sub bab

Untuk menggunakan fitur style, langkahnya adalah sebagai berikut:

  1. Blok (seleksi) teks terlebih dahulu. Pada menu Styles, pilih Heading 1. Lakukan langkah yang sama untuk judul Daftar Isi dan Bab.
  2. Buat teks sub bab. Blok teks sub bab. Pada menu Styles, pilih Heading 2.
  3. Kembali ke halaman daftar isi. Pilih menu References. Klik ikon Table of Contents. Pilih bentuk tabel daftar isi yang disukai. Klik. Lihatlah hasilnya. Daftar isi otomatis telah muncul.
  4. Untuk meng-update isi tabel daftar isi, klik di area konten daftar isi dan pilih Update Table.

Bagaimana? Mudah, bukan? 🙂
Semoga bermanfaat