Nikko National Park

Tempat kunjungan berikutnya setelah National Museum of Nature and Science adalah kota Nikko. Nikko terletak di Tochigi di wilayah Kanto, Jepang. Pemandangan alamnya yang indah merupakan salah satu daya tarik banyak wisatawan mengunjungi kota terluas ke-3 di jepang ini. Selain itu, kota Nikko dekat dan mudah dicapai dari Tokyo. Kami membeli tiket kereta cepat Shinkansen. Perjalanan dari Tokyo ke Utsunomiya dengan shinkansen kurang lebih 1 jam. Kemudian dilanjutkan lagi dengan menggunakan kereta lokal dari Utsunomiya ke Nikko yang memakan waktu kurang lebih 1 jam.


Sampai di Nikko cuaca sedikit mendung. Tampaknya Nikko baru saja diguyur hujan. Pemandangan kota tua yang indah dengan toko dan rumah-rumah mungil dengan hiasan bunga warna-warni menjadikan kota ini bak negeri dongeng.


Kami memutuskan untuk berjalan kaki menuju Nikko National Park sambil menikmati pemandangan sekitar. Namun, tak disangka di tengah perjalanan hujan mengguyur kota ini. Ya, tak apa lah dinikmati saja :). Walaupun sambil berhujan ria, kami tak melewatkan kesempatan untuk mengambil foto di jembatan merah Shinkyo yang terkenal di kota Nikko. Jembatan ini memang tidak berbeda dengan jembatan tradisional lainnya di kota Jepang. Yang membuat jembatan Shinkyo berbeda adalah sungai yang mengalir deras di bawah jembatan serta pepohonan rimbun disekelilingnya yang memberikan pemandangan menakjubkan, terutama di musim gugur ketika daun-daun di pepohonan berubah warna. Sayangnya, saat itu bukan musim gugur. Namun demikian pemandangannya tak kalah indah kok. Keindahan jembatan ini dapat dinimati dari sekelilingnya. Oya, kalau berminat foto-foto di atas jembatan maka kita bisa membeli tiket masuk terlebih dahulu.


Letak jembatan merah tidak jauh dari pintu masuk Nikko National Park. Setelah menyeberangi lampu merah kita menaiki tangga untuk menuju kuil bangunan utama. Ada banyak kuil yang bisa kita kunjungi di Nikko National Park, salah satu yang populer adalah kuil Nikko Tosho-gu. Kuil Nikko Tosho-gu adalah situs peninggalan dunia yang merupakan tempat peristirahatan dari shogun pertama Keshogunan Edu yaitu Tokugawa Leyasu. Shogun Keshogunan Edu telah memerintah Jepang selama lebih dari 250 tahun sampai tahun 1868. Kuil yang berupa bangunan pagoda lima tingkat ini terletak di sebelah kiri pintu masuk utama area kuil Tosho-gu.


Karena cuaca yang kurang mendukung, tak banyak tempat yang dapat kami lihat. Namun demikian perjalanan ke Nikko National Park tetap lah tak sia-sia :).

National Museum of Nature and Science

Musium Nasional Alam dan Ilmu Pengetahuan ini terletak di Ueno. Musium yang mengusung tema keberadaan alam dan manusia ini memamerkan bidang ilmu pengetahuan alam. Musium ini didirikan pada tahun 1877 dan merupakan musium tertua di Jepang yang mempertunjukkan sejarah alam dan perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi. Di dalam musium banyak ditemui koleksi artefak fosil dan flora serta fauna asli jepang.

Musium ini memiliki 2 gallery, yaitu gallery Jepang dan gallery dunia. Di gallery Jepang kita akan disuguhi semua hal mengenai Jepang, dari masyarakat serta sejarah negeri Jepang sendiri. Salah satu yang menarik adalah mengenai sejarah Ninja (samurai). Di gallery dunia kita dapat belajar tentang evolusi semua makhluk hidup.

Ruang simulasi smarthouse cukup menarik perhatian saya. Ini lah gambaran teknologi masa depan, yang hemat energi dan peduli lingkungan. Duh, andai saja murid-murid saya di Indonesia bisa melihat ini ya. Tak heran kalau Jepang menjadi negara maju.


Usai melihat-lihat musium kami segera bergegas untuk menuju tempat lainnya. Kemana? ๐Ÿ™‚

Berikutnya adalah Emperor Palace. Emperor Palace adalah tempat kediaman kaisar Jepang yang terletak di Chiyoda, Tokyo. Emperor Palace memiliki taman yang sangat luas. Di sini berdiri istana utama dan rumah pribadi dari keluarga kerajaan. Pengunjung tentu saja tidak bisa masuk ke dalam istana dan taman bagian dalam. Namun pengunjung bisa menikmati suasana taman di bagian luar istana.

Memasuki Emperor Palace saya dibuat terkejut oleh keberadaan pohon delima dengan buah-buahnya yang lebat. Oh, buat penyuka tanaman seperti saya, ini sungguh-sungguh pemandangan yang bikin iri :). Baiklah tak boleh berlama-lama memandangi si buah delima, jadi mari kita teruskan perjalanan.

Sejauh mata memandang lapangan hijau luas terbentang dengan pohon-pohon besar disekelilingnya. Jangan-jangan itu pohon delima juga? Hehehe ๐Ÿ˜€
Untuk yang ingin foto-foto pemandangan taman kaisar bisa menaiki benteng yang berada di taman. Kalau sudah capek jalan-jalan dan foto boleh loh duduk-duduk di kursi yang ada di area taman atau jika ingin santai bisa berbaring sejenak di lapangan rumput sambil menikmati hangatnya sinar matahari.


Kami tak lama di Emperor Palace karena ada misi lain yang lebih utama, apa itu? Inokashira Park Zoo. Apa istimewanya Inokashira Park Zoo? Karena ada tupai dan penguin di sini :).


Sebenarnya sih kami lebih suka bermain-main dengan tupai yang berada di taman ketimbang yang ada di kebun binatang. Namun selain karena letaknya jauh dan keterbatasan waktu maka kami memutuskan menengok tupai-tupai yang ada di kebun binatang Inokashira. Pengunjung bisa berinteraksi langsung dengan tupai-tupai mungil ini. Nah, ini beberapa gambar kebandelan tupai-tupai tersebut yang sulit untuk difoto karena begitu lincahnya :).

#Japan on August, 2016

PKWU

Perkembangan teknologi yang sangat pesat membawa pengaruh ke dalam berbagai bidang, tak terkecuali dunia usaha. Belajar berwirausaha di era digital akan memberikan banyak peluang dan kemudahan dalam menjalankan kegiatan usaha jika pelaku bisnis dapat menggunakan dan memanfaatkan pengetahuan teknologi dan informasi dengan baik.

Itulah sebabnya dalam pemelajaran PKWU di ruang kelas saya berusaha menyisipkan pengetahuan TIK kepada siswa-siswa saya. Semisal mengajarkan bahasa pemformatan HTML. Pengetahuan HTML diperlukan untuk membuat toko online. Toko online ini akan menjadi wadah setiap kelompok (setiap perusahaan) untuk memasarkan produk mereka. Siswa juga bisa belajar berinteraksi (membuat networking) dengan konsumen secara langsung melalui sosial media dan instant messenger. Selain itu siswa dapat mengoptimalkan layanan online advertising lainnya seperti membuat fanpage di facebook, dan lain-lain.

Tentu, pemasaran konvensional tetap dilakukan, antara lain dengan membuat media promosi offline seperti brosur, kartu nama, dan sebagainya.

Dunia seputar e-commerce dan startup juga menjadi tambahan materi pengajaran saya kepada peserta didik. Jangan lupa, siswa kita adalah generasi Z, yang sejak dini sudah bersentuhan dengan teknologi. Beberapa siswa saya banyak yang menggunakan layanan instagram untuk berjualan. Ada juga yang menjadi dropshipper atau reseller dan memasarkan produknya melalui market place.
Maka tak ada alasan bagi kita untuk menafikan keberadaan TIK. Dalam berbagai bidang apapun maka peranan teknologi informasi dan komunikasi tidak bisa diabaikan.

Seputar kegiatan saya mengajarkan PKWU kepada murid-murid dapat dilihat di blog saya yang ini.

Oya, contoh RPP PKWU kelas X saya bisa diunduh di sini.
Semoga bermanfaat ๐Ÿ™‚

The Little Prince Museum

โ€œThe most beautiful things in the world cannot be seen or touched, they are felt with the heart.โ€
โ€• Antoine de Saint-Exupรฉry, The Little Prince.

Kunjungan berikutnya adalah The Little Prince Museum. Museum Little Prince di Jepang ini terletak di Hakone. Hakone adalah area pegunungan di daerah barat kota Tokyo. Dari kota Hakone kita bisa melihat keindahan Gunung Fuji. Namun sayangnya saat itu hujan sehingga keindahan Gunung Fuji tertutupi oleh kabut dan mendung yang menggayuti langit kota daerah wisata pegunungan ini.

Perjalanan menuju puncak gunung dilanjutkan dengan bus. Bus yang kita tumpangi ini dapat berhenti di setiap shelter, dimana dari sana setiap wisatawan cukup berjalan kaki menuju area wisata yang ingin didatangi. Efisien, rapi, memudahkan. Segalanya sistematis di Jepang ini.

Bus berhenti di dekat museum Little Prince. Kami dan beberapa wisatawan turun. Deras hujan mengguyur tubuh kami. Di pintu masuk museum berdiri patung Little Prince. Biar pun hujan semangat para wisatawan mengambil gambar tak pernah luntur :). Kali ini kami lewati dahulu keiginan mengambil foto. Kami bergegas masuk dan membeli tiket. Selanjutnya untuk memasuki area museum, kami disuguhkan pemandangan yang sangat indah, taman bunga mawar. Seorang penjaga menawarkan payung yang dipinjamkan secara gratis. Wow, kali ini kami tidak bisa melewatkan kesempatan mengambil gambar patung si pangeran kecil di tengah taman yang dipenuhi bunga mawar. Syal warna kuning khas milik si pangeran kecil tampak seolah berkibar diterpa angin.
lp3
Di dalam taman bunga mawar, yang masih merupakan area museum, berdiri rumah-rumah yang berdiri sendiri. Satu rumah berfungsi sebagai museum. Keluar dari rumah tersebut kita dapat mengunjungi rumah lainnya yang diisi dengan kafe dan resto serta rumah yang menjual berbagai cenderamata.
lp1
Memasuki rumah museum tampaklah di tengah ruangan model sampul buku The Little Prince.
lp2
Beberapa potongan tulisan berupa artikel, coretan tulisan dan gambar dari lembaran naskah buku The Little Prince tampak memenuhi ruang museum. Ada juga pemadangan berupa replika dari ruangan kantor, rumah sang penulis, yaitu Exupery. Dilengkapi juga oleh suara rekaman sang penulis. Foto-foto sang penulis beserta aktivitasnya sejak kecil memenuhi dinding kaca di ruang museum. Tak ketinggalan surat-surat Exupery kepada ibundanya pun ditampilkan di museum ini. Beranekaragam jenis paspor milik Exupery tertempel di dinding kaca ruang museum.

Oya, kita juga bisa membubuhkan stiker dengan gambar tertentu di lembaran kertas yang diberikan bersamaan ketika membeli tiket. Ide yang menarik juga nih, seperti berpetualang entah kemana.. hehe.

Usai menikmati kisah-kisah sang pangeran kecil bersama dengan penulisnya, Exupery, kami berjalan keluar menelusuri area taman ditemani rintik hujan. Kami berteduh sebentar di kafe kecil yang menghidangkan roti dan pastry serta minuman. Lumayan sih untuk mengganjal perut yang semustinya sudah diisi menu besar :).

Hujan tak juga reda. Walaupun tak bisa mengunjungi tempat-tempat wisata lainnya namun kami sudah sangat bahagia berhasil mendatangi museum The Little Prince ini :).

Sayangnya di beberapa tempat di dalam museum tidak boleh mengambil foto. Jadi, beberapa saja ya fotonya.