Ezgif

Jadi, ceritanya beberapa kawan sering bertanya kepada saya perihal bagaimana menggunakan classroom atau pun aplikasi lainnya. Melihat hal tersebut saya kemudian memutuskan untuk membuat video tutorial di youtube, awalnya. Namun, sepertinya cara itu kurang efektif. Barangkali, kuota internet atau jaringan yang kurang bagus. Atau mungkin durasi video terlalu panjang. Sementara itu kebutuhan untuk bisa memanfaatkan teknologi sangat mendesak terutama ketika semua orang harus bekerja dan belajar dari rumah di masa pandemi covid. Lalu, saya memutuskan untuk membuat video yang sangat sederhana. Singkat dan tidak perlu mengakses ke halaman lain untuk melihatnya (seperti ke youtube). Video itu harus bisa diunggah ke whatsapp dan bisa diunduh melalui aplikasi pesan singkat seperti whatsapp. Dengan demikian teman-teman Guru dapat menonton secara offline.

Seringnya, video yang sudah dibuat sederhana itu ternyata tetap besar ukurannya. Whatsapp sendiri membatasi file yang boleh diunggah tidak lebih dari 64 M (kalau tidak salah ๐Ÿ™‚ ). Akhirnya, googling ke paman Google dan ketemulah ini ๐Ÿ™‚

Ezgif adalah layanan online tidak berbayar yang menyediakan berbagai tool seperti membuat dan mengedit animasi GIF, editing dan konversi untuk berbagai format gambar termasuk animasi web, png, mng, dan flif serta editing video dasar lainnya. Tools yang paling populer adalah pembuat gif, konverter video ke GIF dan resizer gambar.

Untuk menggunakan Ezgif sangat mudah. Anda dapat langsung mengaksesnya di sini. Selamat mencoba.

Pilihan lainnya adalah Freeconvert. Freeconvert dapat diakses di sini.

Aplikasi Perekam Video

Pandemi covid membuat semua hal berubah, demikian juga dengan kegiatan belajar mengajar yang beralih menjadi daring. Guru kemudian ‘dipaksa’belajar menggunakan teknologi untuk mempersiapkan bahan ajar yang menarik dan menyenangkan untuk siswa-siswanya. Berbagai software dan aplikasi yang bertebaran di internet menawarkan fitur-fitur yang dapat digunakan untuk pembelajaran. Salah satu software yang banyak digunakan oleh Bapak Ibu Guru adalah Kinemaster. Konon, video yang dihasilkan serupa dengan video pembelajaran Ruang Guru. Saya sendiri belum pernah menggunakan Kinemaster. Saya lebih suka menggunakan aplikasi screen recording tanpa wajah… hehe. Tetapi, berhubung banyak yang bertanya maka saya mulai mencoba beberapa, salah satunya Powerpoint. Software ini saya pilih dengan pertimbangan teman-teman Guru sudah familiar menggunakan Microsoft Powerpoint. Namun, ternyata fitur merekam diri sendiri ini hanya ada di Powerpoint versi 2019 ke atas.

Ada banyak software presentasi dengan video sebenarnya, salah satunya adalah Loom Google Chrome Extension. Loom adalah salah satu fitur video conferencing pada browser Chrome. Loom dapat digunakan secara gratis maupun berbayar. Menariknya, jika Anda adalah guru atau siswa, maka Anda bisa mendapatkan versi profesional secara gratis. Di lamannya, Loom memberikan berbagai contoh penggunaan Loom di berbagai bidang, seperti pendidikan, bisnis, kesehatan, dan lain-lain. Anda bisa dapat banyak ide dari sini. Kekurangan Loom adalah Anda harus terkoneksi ke internet untuk melakukan perekaman.

Berikut contoh penggunaan Loom untuk pendidikan

Oya, antarmuka Loom sederhana dan sangat mudah dipelajari. Penasaran ingin mencoba? Pertama, masuk ke sini. Pilih Download for PC, jika Anda ingin menggunakan Loom di PC desktop. Sebaliknya, Anda bisa Sign In di laman tersebut untuk menggunakan Loom sebagai aplikasi browser.

Berikut adalah cara menggunakan Loom sebagai aplikasi PC desktop.

  1. Jalankan Loom.
  2. Akan muncul tampilan seperti di bawah ini.
  1. Ada 3 pilihan: Screen_Cam, jika ingin merekam layar dan yang tampak di kamera (wajah), Screen Only untuk yang tampak di layar dan Cam Only untuk yang tampak di kamera.
  2. Pastikan Microphone berfungsi.
  3. Selanjutnya, Start Recording. Oya, jalankan dahulu file yang akan dipresentasikan. Misalnya Powerpoint.
  4. Tekan tombol Ctrl+Shift+L, Atau klik ikon kotak merah untuk berhenti. Selain ikon Stop, ada juga ikon untuk membatalkan rekaman dan lain sebagainya.
  5. File rekaman ada di laman loom milik Anda. Anda bisa menghapus, mengedit video ataupun membaginya ke orang lain.

Nah, cukup mudah, bukan? Selamat mencoba ๐Ÿ™‚

RPP PKWU

Pandemi covid menyebabkan disrupsi di berbagai sektor, tak terkecuali pendidikan. Sistem pembelajaran yang mulanya tatap muka berubah drastis menjadi pembelajaran daring. Gagap? Kaget? Bingung? adalah respon yang sangat wajar ketika pertama kali kita harus beradaptasi pada sebuah perubahan. Namun perubahan adalah keniscayaan. Jadi, kita tidak boleh mundur pun takut menghadapi perubahan. Sebaliknya, belajar dan terus belajar. Saya memilih menyimak berbagai informasi yang ada. Menyaring dan mempelajarinya secara seksama. Seperti di masa ini, begitu banyak webinar yang ditawarkan dan hampir semuanya gratis. Wadah kita untuk belajar dan mengembangkan diri terbuka lebar-lebar. Tetapi, bukan berarti semua webinar kita ikuti semata hanya untuk mengumpulkan sertifikat. Saya, cenderung malah melupakan urusan sertifikat . Saya akan selektif memilih berbagai webinar yang saya ikuti. Saya akan bergabung jika itu sesuai dengan bidang dan minat yang ingin saya tekuni. Dan, tentu saja juga mempunyai hubungan yang relevan dengan profesi saya saat ini.

Bicara profesi, walaupun saat ini libur, sebagai pendidik saya harus menyiapkan RPP untuk kelas yang akan saya ajar pada tahun ajaran baru 2020-2021. Mengutip kata kawan-kawan, PJJ itu lebih capek dibandingkan belajar tatap muka di sekolah. Hm, memang benar ;-). Namun, sisi menariknya adalah, kita boleh menyusun RPP kita sendiri tanpa harus kaku terpaku pada silabus.

Jadi, saya berusaha memodifikasi materi pembelajaran PKWU dengan menyelaraskan sesuai tema pandemi covid.

Begini, di setiap kelas untuk mata pelajaran PKWU ada 5 tahapan kewirausahaan yang harus dilakukan: Perencanaan Usaha, Sistim Produksi, Keuangan, Strategi Pemasaran, dan Evaluasi Kegiatan. Setiap semester ada 4 aspek yang ditawarkan yaitu Kerajinan, Budidaya (tanaman dan hewan), Pengolahan Makanan serta Rekayasa. Dan, guru boleh memilih 1 aspek untuk setiap satu semester.

Yang saya lakukan saat ini bisa dilihat di RPP yang saya publish di laman GuruBerbagi di sini. Saya tidak memilih salah satu aspek. Namun saya membebaskan siswa saya untuk memilih satu dari 4 aspek yang ingin mereka gali dari situasi pandemi covid.

Sebagai contoh: seorang anak yang minatnya pada boga, boleh memilih untuk menciptakan produk makanan yang contactless. Mengapa contactless? Seperti kita ketahui, covid adalah penyakit menular. Di masa seperti ini, tentu banyak orang yang khawatir membeli atau jajan makanan di luar. Maka, solusinya adalah memastikan bahwa produk yang dibuat pelaku bisnis aman dan higenis, sehingga konsumen tidak khawatir dan mau membeli produk tersebut.

Anak yang tertarik pada teknologi mungkin akan berpikir untuk membuat aplikasi yang dapat mengenali dan memberitahu user area-area yang termasuk ke dalam zona merah. Atau membuat game yang memberikan nuansa damai atau ketenangan kepada user yang merasa takut dengan situasi pandemi. Dan banyak lainnya.

Anak-anak boleh membuat produk atau karya apapun yang dapat menjadi solusi bagi kondisi di masa pandemi covid. Dan, saya percaya, karya dan produk mereka dapat menjadi solusi tidak hanya bagi negeri ini namun juga dunia. Semoga. Bersama kita bisa melawan covid-19.

Jangan lupa, baca RPP nya di sini ya.

Hehe, mau kasi tahu RPP aja panjang bener ceritanya ya? ๐Ÿ˜€

Zoom

Aplikasi satu ini sedang marak diperbincangkan banyak orang, terutama di saat kebijakan work from home untuk mencegah penularan virus corona digaungkan oleh pemerintah. Zoom merupakan aplikasi video conferencing yang digunakan sebagai sarana tatap muka secara online. Biasanya zoom banyak digunakan oleh pekerja kantoran untuk keperluan meeting atau rapat, pembelajaran kuliah online, dan saat ini juga banyak digunakan oleh guru-guru untuk pembelajaran siswanya.

Saya pun telah beberapa kali mencoba aplikasi ini kepada siswa-siswa saya. Tanggapan yang diberikan sangat bagus. Ketika pertama kali saya menerapkan ini kepada siswa kelas X, komentar mereka adalah, “Seru, Bu.” :). Saya cukup maklum ketika pertemuan pertama ini kegiatan mengajar belum kondusif karena perhatian mereka sedang terfokus pada cara pemakaian aplikasi ini. Menariknya, mereka akan saling membantu jika ada kawan atau bahkan ibu gurunya kesulitan :). Saya bisa menayangkan slide presentasi, bahkan memandu mereka belajar layaknya di ruang kelas konvensional. Kemudahan ini ada di dalam fitur share screen. Selain itu, saya juga bisa menggunakan whiteboard seperti menggunakan papan tulis di kelas. Wah, pokoknya keren lah dan anak-anak pun bisa belajar sambil diskusi dan bertanya jika mereka tidak paham. Bagaimana jika koneksi internet kita tidak stabil? Jangan kuatir, saya pun mengalaminya. Alhamdulillah kualitas video dan audio tetap aman dan jeda pembicaraan relatif tidak terganggu.

Nah, bagaimana? Berminat menggunakan Zoom Bapak/Ibu Guru? Silakan mengunduh filenya di sini.

Oya, Zoom bisa digunakan secara gratis tetapi dengan durasi waktu terbatas. Untuk versi tidak berbayar waktu yang diberikan adalah 40 menit dengan jumlah partisipan sebanyak 100 orang. Fitur yang disediakan diantaranya adalah schedule, dimana kita bisa membuat jadwal tanggal dan waktu untuk melakukan video conference. Kita juga bisa mengunggah gambar atau video untuk dijadikan latar belakang ketika melakukan percakapan. Cara penggunaan Zoom cukup mudah kok. Kalau nggak percaya coba aja sendiri :).

Berikut ini adalah potongan rekaman video KBM saya bersama siswa kelas X ๐Ÿ™‚

Screen Recording Software

Saya seringkali harus membuat video-video tutorial, terutama untuk melengkapi file-file penunjang tulisan-tulisan di buku pelajaran sekolah yang saya susun. Merekam layar video seperti ini susah-susah gampang, kenapa? Dari memilih software sampai proses perekamannya pun memiliki cerita yang unik. Misal, sedang seriusnya merekam video tiba-tiba terdengar suara penjaja makanan lewat di depan rumah atau saya lupa tahapan pengerjaan proyek yang akan dibuat, dan lain-lain.

Pemilihan software perekam layar adalah masalah pertama yang harus saya cari solusinya. Mencoba berbagai software, mengunduh dan menginstal cukup membuat laptop saya beberapa kali langsung crash. Sampai akhirnya saya dikenalkan program ini dari seorang rekan. Nama programnya adalah Screen Recording.

Screen recording software atau disingkat SRecorder adalah program perekam layar tidak berbayar. Software ini biasanya digunakan jika kita ingin merekam semua kegiatan di layar komputer, misalnya membuat video tutorial menggunakan microsoft word dan sebagainya. Sejauh ini program SRecorder cukup membantu saya untuk membuat video-video tutorial. Waktu perekaman yang diberikan untuk versi tidak berbayar memang tidak lama tetapi cukup memadai kok.

Yang ingin mencoba program ini silakan unduh dahulu di laman mereka, di sini.

Rekomendasi software sejenis lainnya adalah Free Cam, dapat diunduh di sini.

Belajar Berpikir Kritis dan Algoritma dari Film The Martian

The Martian adalah salah satu film kegemaran saya. Film ini sering saya ceritakan kepada murid-murid ketika memberi contoh makna cerdas, berpikir kritis dan menggunakan algoritma di dalam kehidupan sehari-hari.

The Martian bercerita tentang seorang astronaut yang berjuang untuk bertahan hidup di Mars. Si tokoh, Watney, adalah seorang ahli botani yang turut dalam program NASA yang dinamai dengan Ares. Ketika sedang melakukan operasi permukaan, Mars diterjang badai pasir. Watney terlempar dan terpisah dari teman-temannya. Ia kemudian diduga tewas dan hilang di Mars. Namun sesungguhnya, Watney masih hidup. Sendirian berada di tempat yang ekstrim dan kemungkinan untuk bertahan hidup tinggal menghitung hari adalah kenyataan yang tak mudah untuk dihadapi. Tetapi astronaut kita ini bukanlah orang yang mudah putus asa. Watney mulai membuat daftar yang berisi urutan langkah-langkah kegiatan yang harus ia lakukan untuk misi penyelamatan dirinya.

Untuk hidup manusia membutuhkan makan. Watney mulai memeriksa semua persediaan pangan yang ia miliki. Ia menghitung dengan cermat pasokan pangan yang ada. Selanjutnya, bagaimana jika persediaan makanan yang ia miliki habis? Ia tidak bisa bergantung kepada bekal makanan yang dibawanya dari bumi. Maka, Watney harus bercocok tanam untuk mempersiapkan kebutuhan pangan. Jangan lupa Watney adalah seorang ahli botani. Ia tahu bahwa untuk bertanam diperlukan tanah yang subur dan benih serta air untuk menghidupi tumbuhan tersebut. Tanah di Mars tidak memungkinkan untuk ditanami. Watney ingat bahwa di pesawatnya terdapat kantong pup milik ia dan kawan-kawan. Ia lalu mengolah pup dan tanah di Mars untuk menghasilkan tanah yang subur. Bagaimana memperoleh benih tanaman pangan? Watney dibekali banyak kentang sebagai menu makanan para astronaut. Ia akan memotong sedikit bagian dari kentang untuk dijadikan benih tanaman. Oke, tanah sudah ada, demikian juga benih. Air. Bagaimana dengan air? Watney ingat ekor pesawat mengandung hidrogen. Melalui proses kimia maka ia menyulap hidrogen menjadi air. Permasalahan untuk persediaan pangan untuk sementara bisa diatasi.

Bagaimana selanjutnya? Watney tak mungkin berdiam diri saja, bukan? Ia harus memberitahu kawan-kawannya di bumi bahwa ia selamat. Dengan demikian maka kawan-kawannya dapat melakukan misi menyelamatkan dirinya dan membawa ia kembali ke bumi. Peralatan komunikasi yang ada tidak berfungsi. Watney mencari cara untuk berhubungan dengan mereka menggunakan bahasa mesin 0 dan 1 atau yang disebut dengan bilangan biner memanfaatkan satelit panel surya. Sinyal yang diberikan Watney ternyata terlacak oleh seorang crew di bumi. Singkat cerita, Watney selamat dan kembali ke bumi berkumpul bersama keluarga dan kawan-kawannya :).

Mari kita amati pelajaran-pelajaran dan pesan moral dari film ini.
Tidak diragukan Watney adalah tokoh yang tidak sekedar pintar namun juga cerdas. Apa itu cerdas? Watney menggunakan semua ilmu pengetahuan yang ia miliki untuk memecahkan masalah yang ia hadapi. Ia juga selalu memikirkan dan mempertanyakan setiap tindakan yang akan ia lakukan. Nah, ini contoh berpikir kritis. Seseorang yang terbiasa berpikir kritis akan mempertimbangkan setiap tindakan yang akan ia ambil dengan tanpa merugikan orang lain. Dan tentu saja algoritma. Watney membuat urutan langkah-langkah yang akan ia lakukan untuk bertahan hidup dan dapat kembali ke bumi. Selain itu, alih-alih merasa putus asa kecewa dan depresi yang bisa berakibat turunnya kekebalan tubuh, Watney memilih untuk bahagia. Ia menonton film-film lucu, mengobrol dengan dirinya sendiri di depan cermin dan melakukan hal-hal yang menyenangkan :). Terbukti, ia mampu bertahan dan kembali ke bumi dengan selamat.

Walaupun hanya film, tapi pembelajaran yang ada pada film ini bisa berlaku di banyak situasi loh.
Dari film ini kita belajar bahwa tidak ada pelajaran yang sia-sia. Seseorang yang cerdas dapat menggunakan semua ilmu pengetahuan yang ia miliki untuk membantunya memecahkan masalah. Jadi, jangan pernah meremehkan pelajaran apapun.

Jangan pula merasa cukup dengan pintar. Karena pintar saja tidak cukup. Kita perlu cerdas dan terkadang juga perlu “lucu” (memiliki sisi humoris) agar kehidupan kita menjadi lebih baik dan seimbang.

Untuk review buku The Martian, saya pernah menuliskannya di sini.

Gerakan Literasi

Saya suka membaca dan menulis. Dan salah satu hal yang paling ingin saya tularkan kepada murid-murid saya (dan lingkungan saya) adalah ketertarikan pada buku. Selama proses KBM di ruang kelas, ada saat-saat tertentu saya mendongeng. Saya biasanya memulai dengan menayangkan film, slide atau cerita perjalanan saya mengunjungi berbagai tempat. Itu semacam trik untuk menarik perhatian sebelum kami akhirnya berdiskusi dan lanjut membahas isi buku.

Saya pernah bercerita tentang Hellen Keller, Van Gogh, Marie Curie, Google, Facebook, LHC sampai Dracula dan lain-lain. Tokoh yang saya ceritakan tidak selalu berkaitan dengan mata pelajaran yang saya ampu dan juga tidak selalu mengenai tokoh-tokoh. Saya tidak tahu apakah cara yang saya lakukan bisa menarik murid-murid saya untuk tergerak membaca. Tetapi saya sangat bersyukur ketika beberapa anak kemudian datang sambil membawa buku dan mengatakan, “รbu, saya baca ini gara-gara Ibu atau karena saya penasaran, atau ingin mulai membaca, dan semacam itulah. Itu awal yang bagus untuk mereka memulai mengenal buku, bukan?

Lalu, kementerian pendidikan dan kebudayaan meluncurkan gerakan literasi di sekolah. Program ini dimaksudkan untuk membudayakan membaca dan menulis dengan tujuan memperkuat budi pekerti seperti yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015. Dikutip dari laman educenter di sini, wujud Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah membaca selain buku pelajaran selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Dengan GLS, diharapkan siswa terbiasa untuk membaca. Selanjutnya, dapat mengambil nilai-nilai moral dari buku yang dibaca.”

Menurut Unesco, dari seribu orang Indonesia, hanya satu yang gemar membaca. Wow, menyeramkan juga ya?

Kembali ke Gerakan Literasi dari Kemendikbud, tidak terbatas kepada membaca dan menulis, namun juga meliputi literasi lainnya, seperti literasi perpustakaan, media, teknologi, dan lain-lain. Untuk info lengkapnya silakan di baca di link yang saya berikan di atas ya.

Kemudian sekolah bergerak, melakukan berbagai kegiatan yang mendukung gerakan literasi. Saya percaya ada banyak ide-ide yang bisa dikembangkan oleh setiap sekolah, dan jika semua sekolah berbagi mengenai ide dan gagasan mereka untuk menjalankan gerakan literasi sekolah maka kita semua bisa saling belajar. Untuk program gerakan literasi yang ada di sekolah saya, Bapak Ibu Guru bisa membacanya di laman sekolah kami di sini di kategori Gerakan Literasi.

Memang, kita tidak bisa ujug-ujug memaksa anak untuk membaca. Karena, gerakan literasi itu sesungguhnya dimulai dari rumah. Namun sekolah juga tidak bisa lepas tangan. Kita semua harus bergandengan tangan untuk membudayakan membaca dan menulis kepada generasi muda.

Sederhananya, jangan memaksa. Cari tahu dahulu hal yang mereka sukai. Kalau murid kita suka menggambar, dorong mereka untuk membuat komik atau cerita bergambar. Kalau sukanya berbicara, minta mereka bercerita melalui video blogger. Kalau sukanya menulis di whatpadd atau platform digital lainnya, biarkan mereka mengungkapkan tulisannya di sana. Kalau suka menyanyi, dorong untuk membuat lirik lagu sendiri. Banyak sekali cara yang bisa dilakukan.

Jangan lupa, sekarang ini ada banyak startup digital yang dapat diajak bekerjasama untuk mendukung gerakan literasi. Beberapa diantaranya adalah Nulisbuku dan Storial.co.

Semangat membaca ๐Ÿ™‚

Menanti Perubahan Pendidikan untuk Indonesia

Pagi yang mendung dan saya tergelitik untuk membaca artikel ini. Menarik. Dan seperti botol bertemu tutupnya, segala keresahan hati saya bertemu kuncinya dan ingin saya utarakan di sini… hehehe :). Namun, di tulisan ini fokus saya lebih kepada guru. Karena, bukankah guru dan siswa sama? Mereka adalah individu yang ingin belajar dan terus berkembang tanpa ada sekat-sekat yang membatasi dirinya?

โ€œPeraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 46 Tahun 2016 tentang Penataan Linieritas Guru Bersertifikat Pendidik, sangat mengganggu kemajuan peningkatan kualitas guru dan sekolah. Pasalnya, apabila seorang guru dalam mengajar tidak linier dengan latar belakang keilmuan, maka dia tidak mendapat penghargaan semestinya. Meski ia menguasai materi yang ia ajar.โ€

Faktanya, tidak hanya tidak sekedar mendapat penghargaan namun juga tidak bisa mengajar materi yang ia kuasai. Keberadaan selembar ijasah adalah segala-galanya. Tanpa ijasah maka penguasaan ilmu dan keterampilan tertentu yang kita miliki patut dipertanyakan. Kita terlanjur percaya bahwa dengan selembar ijasah maka penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan seseorang sudah teruji. Padahal pendidikan yang kita lalui untuk memperoleh ijasah itu (di negeri ini) masih jauh dari harapan ideal berupa penguasaan ilmu dan keterampilan tadi.

Untuk mereka yang berada di dunia pendidikan, saya tidak menafikan bahwa ijasah sesuai latar belakang keilmuan dengan matpel yang diajar memang diperlukan. Namun sejatinya, ijasah tidak menjadi satu-satunya persyaratan mutlak yang menjadi penghalang seorang guru untuk dapat mengajar di mata pelajaran tertentu. Namun ada faktor-faktor lain yang bisa menjadi pertimbangan untuk ia dapat mengajar materi tersebut, seperti buku, karya tulis, dan portofolio lain yang ia hasilkan. Coba kita lihat barisan kalimat dari artikel di atas.

“Karena itu, menurut Illich, perlunya membebaskan masyarakat dari kecenderungan menganggap sekolah sebagai satu-satunya lembaga pendidikan.”

Sejalan dengan konsep mas menteri, yaitu “merdeka belajar.” Bahwa belajar tidak lah melulu harus di sekolah. Belajar bisa darimana saja. Semua tempat adalah lembaga pendidikan, tempat kita belajar dan mendidik diri sendiri.

“Ivan Illich tokoh pendidikan asal Wina juga menawarkan alternatif proses yang ia sebut dehumanisasi di ruang (pendidikan). Yaitu, demokrasi dalam memperoleh pendidikan, dalam sistem pembelajaran dan pengembangan kurikulum. Dalam pendidikan alternatif, sistem pendidikan yang baik dan membebaskan harus memberi kesempatan pada semua orang untuk bebas dan mudah memperoleh sumber belajar setiap saat. Selain itu mengizinkan semua orang yang ingin memberikan pengetahuan mereka pada orang lain dengan mudah, demikian pula bagi orang yang ingin mendapatkannya.”

Demikian juga Guru. Guru dapat belajar dari manapun. Di lapangan ada banyak guru yang tiba-tiba harus kuliah lagi karena mengampu mata pelajaran berbeda dengan ijasah yang ia miliki sebelumnya. Persyaratan linearitas Guru menjadi pembatas bagi guru untuk berkreasi. “Keharusan” ini pada akhirnya hanya menjadi semacam seremonial belaka. Akibatnya, kuliah bukan bertujuan untuk memperoleh ilmu tapi hanya sekedar menggugurkan kewajiban agar memperoleh ijasah sesuai matpel yang diajar sehingga urusan sertifikasi lancar. Sudah bisa ditebak bagaimana hasilnya. Apakah tidak lebih baik jika dibiarkan mereka mencari wadah lain untuk memperkaya ilmu pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan materi yang mereka ampu? Membuat karya tulis, portofolio, mengikuti workshop dan seminar yang di dalamnya mereka juga berperan serta? Bukankah lebih mengasyikkan juga bagi guru yang bersangkutan?

Bukankah kita sebenarnya mengamini bahwa โ€œpendidikan bukan hanya untuk mendapatkan selembar ijazah, tapi yang terpenting penguasaan ilmu dan keterampilan di bidang tertentu.โ€

Dan jika, tentu saja saya percaya kita semua ingin perubahan pendidikan yang lebih baik untuk semua orang maka diperlukan perubahan radikal dalam pendidikan. Seperti kata Rhenald kasali, tidak ada perubahan yang nyaman. Namun perubahan adalah keniscayaan, dan untuk survive maka kita harus mampu beradaptasi terhadap perubahan.

RPP 1 halaman

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (mendikbud) Nadiem Makarim baru saja menetapkan empat program pembelajaran nasional. Empat program ini disebut sebagai kebijakan pendidikan “meredeka Belajar”. Apa saja? Program tersebut meliputi Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), Ujian Nasional ( UN), Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan Peraturan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Zonasi.

Nah, saya ingin membahas RPP. RPP atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ini dibuat lebih ramping dari sebelumnya. Silakan lihat tabel di bawah ini.

Bagaimana membuat RPP 1 halaman? Saya teringat ketika saya mengajar di sekolah TK anak-anak para ekspatriat. Di sana lesson plan yang kami buat cukup satu lembar halaman. Setiap jumat sore kami guru bersama kepala sekolah berkumpul dan mendiskusikan lesson plan yang telah kami susun. Di saat itulah kami saling belajar dengan guru dari bidang studi lainnya. Setelah disepakati maka lesson plan akan ditandatangani oleh kepala sekolah. Lesson plan itu akan menjadi panduan kami mengajar selama seminggu ke depan.

Nah, karena mas menteri sudah mengijinkan maka saya coba membuat rpp 1 halaman. Oya, namanya juga coba-coba dan sekaligus menghilangkan jenuh karena melototin excel seharian buat input nilai maka kalau rpp nya tidak ok jangan dimarahi ya :).

Sebagai contoh, ini adalah rpp untuk buku teks informatika dari Penerbit Erlangga tahun terbit 2019.


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
No. 01

Sekolah :
Mata Pelajaran : Informatika
Kelas/Semester : IV/Ganjil
Tahun Pelajaran :
Materi Pokok : Membuat Animasi
Alokasi Waktu : 2 x35 menit (1 x pertemuan)

  • Tujuan Pembelajaran

Siswa dapat memahami penggunaan perangkat teknologi informasi dan komunikasi untuk melatih keterampilan digital dasar seperti membuat animasi.

  • Kegiatan Pembelajaran

Langkah 1
Alat dan bahan: smartphone dengan aplikasi pemindai barcode, buku teks Informatika untuk SD Penerbit Erlangga, film animasi, flip book (lembaran-lembaran berisi serangkaian gambar yang beragam)

Guru memperlihatkan lembaran-lembaran berisi serangkaian gambar dan membukanya secara cepat. Ajukan pertanyaan dan arahkan siswa kepada materi animasi. Contoh untuk mengetahui cara pembuatan animasi:

Pertanyaan : Apa yang terjadi ketika lembaran-lembaran kertas diputar secara cepat?
Jawab: gambar seolah bergerak

Materi animasi dapat dilihat di halaman 3

Langkah 2
Siswa berlatih praktik membuat animasi. Guru mengajak siswa terlebih dahulu untuk memindai barcode yang ada di halaman 2 buku teks. Jelaskan cara pembuatan animasi dan pentingnya membuat story board. Mempraktikkan bersama-sama cara membuat animasi (halaman 4 s.d 12)

Langkah 3
Bagi siswa ke dalam kelompok. Siswa menentukan proyek animasi yang akan dibuat serta berbagi tugas untuk mengerjakan kegiatan pada halaman 13.

Langkah 4
Menyimpulkan bersama materi yang telah dipelajari.

  • Penilaian

Penilaian proyek

Semoga bermanfaat