Nikko National Park

Tempat kunjungan berikutnya setelah National Museum of Nature and Science adalah kota Nikko. Nikko terletak di Tochigi di wilayah Kanto, Jepang. Pemandangan alamnya yang indah merupakan salah satu daya tarik banyak wisatawan mengunjungi kota terluas ke-3 di jepang ini. Selain itu, kota Nikko dekat dan mudah dicapai dari Tokyo. Kami membeli tiket kereta cepat Shinkansen. Perjalanan dari Tokyo ke Utsunomiya dengan shinkansen kurang lebih 1 jam. Kemudian dilanjutkan lagi dengan menggunakan kereta lokal dari Utsunomiya ke Nikko yang memakan waktu kurang lebih 1 jam.


Sampai di Nikko cuaca sedikit mendung. Tampaknya Nikko baru saja diguyur hujan. Pemandangan kota tua yang indah dengan toko dan rumah-rumah mungil dengan hiasan bunga warna-warni menjadikan kota ini bak negeri dongeng.


Kami memutuskan untuk berjalan kaki menuju Nikko National Park sambil menikmati pemandangan sekitar. Namun, tak disangka di tengah perjalanan hujan mengguyur kota ini. Ya, tak apa lah dinikmati saja :). Walaupun sambil berhujan ria, kami tak melewatkan kesempatan untuk mengambil foto di jembatan merah Shinkyo yang terkenal di kota Nikko. Jembatan ini memang tidak berbeda dengan jembatan tradisional lainnya di kota Jepang. Yang membuat jembatan Shinkyo berbeda adalah sungai yang mengalir deras di bawah jembatan serta pepohonan rimbun disekelilingnya yang memberikan pemandangan menakjubkan, terutama di musim gugur ketika daun-daun di pepohonan berubah warna. Sayangnya, saat itu bukan musim gugur. Namun demikian pemandangannya tak kalah indah kok. Keindahan jembatan ini dapat dinimati dari sekelilingnya. Oya, kalau berminat foto-foto di atas jembatan maka kita bisa membeli tiket masuk terlebih dahulu.


Letak jembatan merah tidak jauh dari pintu masuk Nikko National Park. Setelah menyeberangi lampu merah kita menaiki tangga untuk menuju kuil bangunan utama. Ada banyak kuil yang bisa kita kunjungi di Nikko National Park, salah satu yang populer adalah kuil Nikko Tosho-gu. Kuil Nikko Tosho-gu adalah situs peninggalan dunia yang merupakan tempat peristirahatan dari shogun pertama Keshogunan Edu yaitu Tokugawa Leyasu. Shogun Keshogunan Edu telah memerintah Jepang selama lebih dari 250 tahun sampai tahun 1868. Kuil yang berupa bangunan pagoda lima tingkat ini terletak di sebelah kiri pintu masuk utama area kuil Tosho-gu.


Karena cuaca yang kurang mendukung, tak banyak tempat yang dapat kami lihat. Namun demikian perjalanan ke Nikko National Park tetap lah tak sia-sia :).

National Museum of Nature and Science

Musium Nasional Alam dan Ilmu Pengetahuan ini terletak di Ueno. Musium yang mengusung tema keberadaan alam dan manusia ini memamerkan bidang ilmu pengetahuan alam. Musium ini didirikan pada tahun 1877 dan merupakan musium tertua di Jepang yang mempertunjukkan sejarah alam dan perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi. Di dalam musium banyak ditemui koleksi artefak fosil dan flora serta fauna asli jepang.

Musium ini memiliki 2 gallery, yaitu gallery Jepang dan gallery dunia. Di gallery Jepang kita akan disuguhi semua hal mengenai Jepang, dari masyarakat serta sejarah negeri Jepang sendiri. Salah satu yang menarik adalah mengenai sejarah Ninja (samurai). Di gallery dunia kita dapat belajar tentang evolusi semua makhluk hidup.

Ruang simulasi smarthouse cukup menarik perhatian saya. Ini lah gambaran teknologi masa depan, yang hemat energi dan peduli lingkungan. Duh, andai saja murid-murid saya di Indonesia bisa melihat ini ya. Tak heran kalau Jepang menjadi negara maju.


Usai melihat-lihat musium kami segera bergegas untuk menuju tempat lainnya. Kemana? 🙂

Berikutnya adalah Emperor Palace. Emperor Palace adalah tempat kediaman kaisar Jepang yang terletak di Chiyoda, Tokyo. Emperor Palace memiliki taman yang sangat luas. Di sini berdiri istana utama dan rumah pribadi dari keluarga kerajaan. Pengunjung tentu saja tidak bisa masuk ke dalam istana dan taman bagian dalam. Namun pengunjung bisa menikmati suasana taman di bagian luar istana.

Memasuki Emperor Palace saya dibuat terkejut oleh keberadaan pohon delima dengan buah-buahnya yang lebat. Oh, buat penyuka tanaman seperti saya, ini sungguh-sungguh pemandangan yang bikin iri :). Baiklah tak boleh berlama-lama memandangi si buah delima, jadi mari kita teruskan perjalanan.

Sejauh mata memandang lapangan hijau luas terbentang dengan pohon-pohon besar disekelilingnya. Jangan-jangan itu pohon delima juga? Hehehe 😀
Untuk yang ingin foto-foto pemandangan taman kaisar bisa menaiki benteng yang berada di taman. Kalau sudah capek jalan-jalan dan foto boleh loh duduk-duduk di kursi yang ada di area taman atau jika ingin santai bisa berbaring sejenak di lapangan rumput sambil menikmati hangatnya sinar matahari.


Kami tak lama di Emperor Palace karena ada misi lain yang lebih utama, apa itu? Inokashira Park Zoo. Apa istimewanya Inokashira Park Zoo? Karena ada tupai dan penguin di sini :).


Sebenarnya sih kami lebih suka bermain-main dengan tupai yang berada di taman ketimbang yang ada di kebun binatang. Namun selain karena letaknya jauh dan keterbatasan waktu maka kami memutuskan menengok tupai-tupai yang ada di kebun binatang Inokashira. Pengunjung bisa berinteraksi langsung dengan tupai-tupai mungil ini. Nah, ini beberapa gambar kebandelan tupai-tupai tersebut yang sulit untuk difoto karena begitu lincahnya :).

#Japan on August, 2016

The Little Prince Museum

“The most beautiful things in the world cannot be seen or touched, they are felt with the heart.”
― Antoine de Saint-Exupéry, The Little Prince.

Kunjungan berikutnya adalah The Little Prince Museum. Museum Little Prince di Jepang ini terletak di Hakone. Hakone adalah area pegunungan di daerah barat kota Tokyo. Dari kota Hakone kita bisa melihat keindahan Gunung Fuji. Namun sayangnya saat itu hujan sehingga keindahan Gunung Fuji tertutupi oleh kabut dan mendung yang menggayuti langit kota daerah wisata pegunungan ini.

Perjalanan menuju puncak gunung dilanjutkan dengan bus. Bus yang kita tumpangi ini dapat berhenti di setiap shelter, dimana dari sana setiap wisatawan cukup berjalan kaki menuju area wisata yang ingin didatangi. Efisien, rapi, memudahkan. Segalanya sistematis di Jepang ini.

Bus berhenti di dekat museum Little Prince. Kami dan beberapa wisatawan turun. Deras hujan mengguyur tubuh kami. Di pintu masuk museum berdiri patung Little Prince. Biar pun hujan semangat para wisatawan mengambil gambar tak pernah luntur :). Kali ini kami lewati dahulu keiginan mengambil foto. Kami bergegas masuk dan membeli tiket. Selanjutnya untuk memasuki area museum, kami disuguhkan pemandangan yang sangat indah, taman bunga mawar. Seorang penjaga menawarkan payung yang dipinjamkan secara gratis. Wow, kali ini kami tidak bisa melewatkan kesempatan mengambil gambar patung si pangeran kecil di tengah taman yang dipenuhi bunga mawar. Syal warna kuning khas milik si pangeran kecil tampak seolah berkibar diterpa angin.
lp3
Di dalam taman bunga mawar, yang masih merupakan area museum, berdiri rumah-rumah yang berdiri sendiri. Satu rumah berfungsi sebagai museum. Keluar dari rumah tersebut kita dapat mengunjungi rumah lainnya yang diisi dengan kafe dan resto serta rumah yang menjual berbagai cenderamata.
lp1
Memasuki rumah museum tampaklah di tengah ruangan model sampul buku The Little Prince.
lp2
Beberapa potongan tulisan berupa artikel, coretan tulisan dan gambar dari lembaran naskah buku The Little Prince tampak memenuhi ruang museum. Ada juga pemadangan berupa replika dari ruangan kantor, rumah sang penulis, yaitu Exupery. Dilengkapi juga oleh suara rekaman sang penulis. Foto-foto sang penulis beserta aktivitasnya sejak kecil memenuhi dinding kaca di ruang museum. Tak ketinggalan surat-surat Exupery kepada ibundanya pun ditampilkan di museum ini. Beranekaragam jenis paspor milik Exupery tertempel di dinding kaca ruang museum.

Oya, kita juga bisa membubuhkan stiker dengan gambar tertentu di lembaran kertas yang diberikan bersamaan ketika membeli tiket. Ide yang menarik juga nih, seperti berpetualang entah kemana.. hehe.

Usai menikmati kisah-kisah sang pangeran kecil bersama dengan penulisnya, Exupery, kami berjalan keluar menelusuri area taman ditemani rintik hujan. Kami berteduh sebentar di kafe kecil yang menghidangkan roti dan pastry serta minuman. Lumayan sih untuk mengganjal perut yang semustinya sudah diisi menu besar :).

Hujan tak juga reda. Walaupun tak bisa mengunjungi tempat-tempat wisata lainnya namun kami sudah sangat bahagia berhasil mendatangi museum The Little Prince ini :).

Sayangnya di beberapa tempat di dalam museum tidak boleh mengambil foto. Jadi, beberapa saja ya fotonya.

Miraikan

Memilih, Meniru, Menemukan, Menyatukan, Menautkan (Alternative, Mimic, Serendipity, Integration, Association) adalah tahapan-tahapan dalam proses belajar manusia. Tahapan belajar ini tertera di lantai dasar Museum Nasional Ilmu Sains dan Teknologi (National Museum of Engineering Science and Innovation) Miraikan, Odaiba Tokyo. Miraikan sendiri dalam bahasa Jepang berarti lorong masa depan. Mengusung dari namanya maka tak heran apabila isi museum ini banyak didominasi oleh gambaran kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sudah dan (akan) ditemukan oleh manusia.

Salah satu yang menarik dari museum ini adalah penampilan robot Asimo, robot mungil yang menyerupai astronaut ini dapat berjalan dengan dua kaki yang menyerupai gaya berjalan manusia. Asimo juga bisa menari dan menendang bola. Fitur-fitur Asimo yang lain bisa dibaca di wikipedia ya. Asimo tampil pada jam-jam tertentu. Asimo juga mempunyai teman, robot-robot lainnya. Oya, ada robot yang bisa diajak ngobrol loh. Nah, penasaran, kan? Untuk bisa chat dengan robot-robot ini harus antre karena banyak yang berminat ingin chat dengan robot-robot imut ini. Setelahnya kita diminta untuk memasukkan identitas diri dan topik yang ingin diobrolkan bersama si robot. Lalu, chat deh :).

Asimo si robot Honda
asimo1 asimo2

Partner chat sama robot
robot2

Robot wanita
robot1

Ada juga simulasi bagaimana komputer bekerja. Bola-bola kecil berwarna hitam dan putih merepresentasikan bilangan biner yaitu 0 dan 1. Komputer menyimpan dan mengolah bilangan-bilangan biner tersebut. Selanjutnya, bilangan biner yang telah diolah menampilkan diri sebagai sebuah informasi atau data yang dapat dipahami oleh manusia.

Ada banyak percobaan sains serta perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat menarik dan mengunggah rasa ingin tahu kita. Dan semua penemuan yang telah manusia raih hari ini tidak berhenti sampai di sini karena di setiap capaiannya memunculkan pertanyaan baru, terus dan terus.

“Why do we ask why? Stimulate your courius mind”

Simulasi lingkungan, menggambarkan faktor-faktor yang mempengaruhi lingkungan.
simulasi-ling

Fotosintesis mengggunakan bahan kimia
fotosintesis

Ruang baca para astronaut
astro2

Aneka ragam jenis makanan para astronaut
astro3

Miraikan tidak sekedar museum ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi nilai-nilai perenungan dan filosofi makna keberadaan manusia di dunia ini turut menemani langkah kita selanjutnya mengarungi kehidupan.

Kalimat di bawah ini adalah jawaban atas kekaguman saya terhadap negeri yang memegang teguh adat tradisi sekaligus mampu melangkah jauh melalui kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologinya.

“To all visitors: Find your talents and work on their development. Then keep strecthing your limits by asking yourself: “How can I maximize the uses of my talents?

Ginza to Setagaya

Haneda adalah bandara yang kami singgahi setelah menempuh perjalanan kurang lebih 7 jam dari Jakarta dengan Garuda Indonesia. Alhamdulillah kami tiba dengan selamat pada jam 08.00 di bandara Haneda, Tokyo yang cukup lengang dan nyaman. Imigrasi, pengambilan bagasi semua berjalan lancar. Ah, tidak, di sini sempat terjadi kekacauan sedikit yang disebabkan oleh kelalaian kami sendiri. Partner kehilangan telepon genggamnya. Saya sedikit panik sebaliknya partner tampak tenang. “.. ini negeri yang aman,” ujarnya sambil sibuk mengingat dimana terakhir kali ia meletakkan telepon genggam tersebut. Benar saja, tak lama seorang petugas wanita mendatangi kami dengan telepon genggam milik partner di tangannya. Arigatou gozaimashita mbak cantik :). Keren bener negeri matahari terbit ini ya?

Nah, istirahat dulu di bandara, karena kami pun baru bisa check in di hotel jam 3 sore. No need to rush :). Dengan wifi gratis kami mencari informasi menuju hotel. Sampai hotel kami menitipkan koper dahulu baru memutuskan untuk jalan-jalan sambil menunggu waktu check in tiba. Beruntung hotel tempat kami menginap dekat dengan Ginza. Jadi, kami akan cukup jalan-jalan melihat keramaian Ginza. Ginza dikenal sebagai pusat perbelanjaan di Tokyo yang memiliki berbagai toko serba ada, butik, restoran dan kafe. Untungnya, kami berdua bukanlah shopaholic. Kalaupun shopaholic ya biasanya di level bookstore dan di souvenir museum atau science dan technology (jadi, ya sedikit aman lah kalau jalan-jalannya di Ginza mah.. hehe). Selesai jalan-jalan balik ke hotel. Beres-beres dahulu Kemudian lanjut ke Hachiko yang terletak di Shibuya. Di sinilah terletak patung seekor anjing setia yang kisahnya melegenda.

Jalan di Ginza Setiap kota memiliki logo bunga sendiri
jalan-di-ginza bunga-dan-kota-ginza
Gedung Seiko ini sudah berdiri sejak tahun 1881 loh Museum sekaligus toko jam Seiko di Ginza
ginza-seiko seiko-1881
Stasiun Hachiko Patung Hachiko
hachiko3 hachiko2

Hari kedua, ya inilah saatnya ikutan belajar dulu. Kami berangkat ke Setagaya untuk menghadiri APWCS 2016 Conference di Tokyo City University. Topik yang sedang digandrungi dalam konferensi ini ternyata berkisar pada 5G dan IoT. Nara sumber dan beberapa jurnal yang dipresentasikan oleh mahasiswa S2 dan S3 itu banyak membahas mengenai kedua tema di atas. Sementara partner juga membawa misi dari IEEE Indonesia dan bertemu dengan para profesor dan doktor dari beberapa delegasi negara lainnya.

Materi 5G dan IoT
unnamed unnamed-1

Selanjutnya kembali ke hotel. Sebelumnya mampir sebentar di Meiji Shrine. Meiji Shrine adalah taman luas dan rumah ibadah yang besar untuk memperingati Teno (Kaisar) Meiji. Nggak masuk sih cukup di depan pintu masuknya dan menikmati es krim di kedai dekat pintu masuk diiringi suara jahil hewan-hewan reptil dan burung-burung yang ramai bersahutan. Wuih, serasa di hutan :).

Biarkan Foto yang Berbicara

Haji itu musafir. Musafir itu derita. Semoga tabah.

Di atas adalah barisan kata yang tertera di dalam brosur Arnussa (nama travel umrah yang kami ikuti pada perjalanan ibadah umrah akhir tahun lalu). Deretan kata itu mengingatkan saya kepada kata-kata partner: sesiap apapun kita (dalam merencanakan keberangkatan menunaikan ibadah haji atau umrah), ujian pasti ada. Barangkali ujian itu diberikan untuk menguji kesunggguhan iman kita.

Berikut adalah beberapa diantara foto-foto kami dalam perjalanan umrah kemarin. Kami tak banyak mengambil foto tetapi yang sedikit ini mudah-mudahan bisa selamanya terpatri di dalam ingatan :).

Bandara Bombay, Chhatrapati Shivaji International Airport, India. Technical Issue. (Pelajaran berharga dalam perjalanan kami bermulai di sini).

Jeddah
india

Jeddah
Masjid Nabawi

Masjid Nabawi
IMG_7332

nabawi6
Raudah

As-salamu ‘alaika ya rasulillahi warahmatullahi wa baraakatuh.
raudah

makam-nabi

Gunung Arrimah, Pos pasukan pemanah kaum muslim ketika terjadi perang Uhud

Jabal Uhud, di sini perang Uhud terjadi.
jabal-uhud3

jabal-uhud
Kubah masjid Nabawi yang bergeser secara otomatis

Kubah masjid Nabawi
IMG_7345

IMG_7346
Masjid Quba, masjid pertama di dunia

Jabal Rahmah, tugu peringatan tempat pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa
Masjid-Quba

IMG_7378
Padang Arafah, tempat wukuf jamaah haji

Mina-Muzdalifah
padang-arafah

mina
Jabal Nur, di sini Gua Hira terletak. Tempat dimana Nabi Muhammad SAW menerima ayat quran yang pertama, Iqra.

Area pemakaman dimana salah satunya terdapat makam Siti Khadijah, istri Nabi Muhammad SAW.
jabal-tsur

makam-siti-khadijah
Tawaf

Sai
tawaf1

sai
Tempat shalat wanita dibelakang Kaabah. Tempat yang paling diminati jamaah wanita.

Tangga masuk dan keluar area Kaabah
women-prayer

masjidil-haram5
Masjidil Haram Selayang Pandang. Imam di masjid ini suaranya begitu mengharu-biru.

masjidil-haram2

masjidil-haram
Masjid

Masjid Terapung, Laut Merah
masjid

masjid-terapung1
Kata mutiara dari seorang gadis Qatar, teman ngobrol di suatu pagi di Mekkah. Kata dia, ini doa kalau kamu lagi sedih.
kata-mutiara

Dokumentasi: Pribadi (campuran milik partner dan saya 🙂 )

Perjalanan Umrah di Penghujung Tahun 2014 #4

Saat ini begitu banyak travel yang menawarkan paket umrah dan haji. Namun demikian berhati-hatilah memilih dan memutuskan, sebaiknya cari informasi sebanyak-banyaknya, lebih bagus lagi melalui kawan-kawan yang pernah mengikuti travel yang akan kita pilih tersebut. Ada banyak travel yang tidak memiliki ijin resmi, atau bahkan menumpang pada travel lainnya.

Alhamdulillah saya mengenal travel Arnussa. Saya memperoleh informasi travel ini melalui mas Harry Sufehmi (Terima kasih banyak mas Harry untuk rekomendasi travel nya 🙂 ). Tulisan Beliau tentang haji bisa dibaca di sini. Selama perjalanan umrah kemarin saya merasa puas dengan pelayanan yang diberikan Arnussa.

Pada waktu manasik selain memberikan pembekalan cara menjalankan ibadah umrah, pihak Arnussa juga mengingatkan jamaahnya untuk memperhatikan adab-adab yang sebaiknya dimiliki oleh seorang muslim semisal: saling membantu sesama jamaah lainnya, tidak bersikap egois, mampu mengendalikan diri dan terutama tidak perlu mengomentari orang lain (kata ustad, bagian terakhir ini yang paling sering dilakukan oleh ibu-ibu 🙂 ). Benar juga ya :).

Memang tidak ada yang benar-benar sempurna, tetapi saya sangat bersyukur karena pihak panitia sangat perhatian kepada para jamaahnya. Satu lagi yang membuat travel ini berbeda adalah karena Arnussa memberikan kesempatan kepada jamaahnya untuk beribadah secara mandiri. Tentu saja di awal mereka akan membimbing kami terlebih dahulu. Ustad di travel ini juga nggak lebay… hehe. Dalam arti, mereka membaca doa sewajarnya. Tidak berteriak-teriak menarik perhatian orang.

Bagi saya sendiri, doa yang diam-diam kita panjatkan akan terasa lebih khusyuk. Ustad di travel ini pun memiliki visi yang serupa dengan Ibu saya. Ibu saya bilang, kalau kamu tidak hapal doa-nya baca saja doa Robbanaa aatina (atau banyak orang menyebutnya dengan doa sapu jagad), dzikir dan doa yang ingin kamu pinta kepada Allah swt, dengan bahasa apa saja yang kamu bisa.

Pun di sana ketika saya kesulitan membuka buku doa, partner mengingatkan saya, untuk membaca doa apa saja yang saya bisa, dzikir, serta doa-doa berupa keinginan kita. Jangan memaksa diri untuk membaca di tengah keramaian orang demi keselamatan diri sendiri, orang lain serta untuk tidak mengganggu jamaah lainnya.

Kembali ke travel, mereka menyusun kegiatan dengan juga memperhatikan kemampuan fisik jamaahnya. Semisal, ketika hari itu kami akan umrah maka keesokan harinya setelah ibadah umrah maka panitia tidak membuat acara lain alias bebas. Panitia memberikan waktu istirahat bagi jamaah. Mereka diharapkan bisa mengukur ketahanan fisiknya masing-masing. Jika dibutuhkan waktu istirahat maka mereka bisa istirahat atau memilih meluangkan waktu dengan banyak beribadah di masjidil haram baik dengan membaca doa, dzikir, dan lain-lain. Esok harinya baru ada kegiatan ziarah atau umrah lagi. Jadi, tidak setiap hari kami umrah.

Memang banyak orang yang memilih untuk umrah berkali-kali, tidak salah. Tetapi menurut literatur yang saya baca, kualitas lebih baik dari kuantitas. Tidak perlu mengejar jumlah tetapi yang lebih penting adalah kualitas. Untuk apa umrah berkali-kali namun dalam kondisi lelah dan sakit? Ada baiknya travel juga memperhatikan kondisi para jamaahnya. Tidak semua jamaah muda dan sehat. Ada lebih banyak jamaah para orang tua atau mereka yang kondisinya tidak sehat. Bukankah mereka juga patut kita perhatikan?

Susunan kegiatan travel Arnussa memungkinkan kami untuk mengukur kemampuan diri. Hal ini saya rasakan pada hari ke tujuh (kalau tidak salah). Flu menyerang kami. Tubuh terasa demam dan pusing serta bersin berkali-kali sehingga kami memutuskan hari itu usai shalat shubuh di masjidil haram kami tidur sampai siang. Kami tidak shalat dzuhur di majid. Usai jamaah pulang shalat ashar baru kami pergi ke masjid untuk shalat ashar dan menunggu sampai saat shalat Isya. Memang sayang meninggalkan shalat di masjid namun kami juga tidak boleh menzalimi tubuh. Apalagi kami berniat untuk ikut umrah kedua, jadi kami harus menjaga stamina tubuh agar jangan sampai drop. Beristirahat diperlukan untuk melawan penyakit yang datang.

Kadang saya merasa heran juga, kok bisa ya kami rutin bangun tanpa kesulitan jam 2 dini hari, mandi dan pergi ke masjid. Sementara di Indonesia bangun jam 5 aja susahnya minta ampun .. hehe. Jam 2 shalat tahajud, shalat tobat dan shalat sunah lainnya dan baca-baca al-quran sambil menunggu waktu shubuh. Kembali ke hotel, sarapan dan setelah itu tidur sampai jam 8-9. Karena jam 10 kami sudah harus berangkat ke masjid kalau ingin mendapatkan tempat di depan Kaabah. Biasanya jamaah akan berbondong-bondong mencari tempat shalat di depan Kaabah. Karena itu mereka akan berangkat 2-3 jam lebih awal dari waktu shalat. Balik ke hotel untuk makan siang. Istirahat, atau saya biasanya ya tidur lagi. Lalu bersiap shalat ashar dan tetap di masjid sampai waktu shalat Isya. Terkadang urutan dan jam kami ubah, dzuhur di hotel, lalu ashar sampai Isya di masjid. Kami bangun jam 2 dini hari. Kalau partner nekad mandi saya nggak berani. Cukup sikat gigi dan membasuh muka. Barangkali itu sebabnya dia terserang flu terlebih dahulu abis bandel sih. Tetapi sama aja sih karena toh akhirnya saya kena flu juga.. hehe.

Ah, rasanya mimpi kami masih di sana. 9 hari terasa kurang. Semoga, suatu saat nanti Allah swt memberikan kami kesempatan untuk kembali ke sana, ke Baitullah. Amin yra.

Perjalanan Umrah di Penghujung Tahun 2014 #3

Pelajaran apa yang saya petik dari perjalanan ibadah umrah kali ini?

Sebelumnya saya sering mendengar cerita bahwa perbuatan kita di tanah air akan berbalas ketika kita berada di Makkah atau Madinah. Saya sendiri mempunyai pendapat yang berbeda. Baik di tanah air atau dimanapun jika kita mau membuka mata hati sebenarnya lah Allah selalu memberikan kita petunjuk dan peringatan. Hanya saja kita biasanya terlalu disibukkan oleh rutinitas sehingga kepekaan hati itu sedikit terabaikan. Kita cenderung menganggap apa yang kita peroleh atau yang kita nikmati adalah hal yang biasa saja atau memang sudah semustinya begitu. Sehingga kita kemudian menjadi sulit untuk bersyukur.

Ada sebuah hadis yang sangat saya sukai dan menjadi pengingat untuk diri saya di setiap waktu. Hadis itu berbunyi: “Jika kamu berbuat baik maka kebaikan itu untuk diri kamu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu juga untuk diri kamu sendiri.”

Maka, jika saya berbuat jahat terhadap makhluk ciptaan Allah itu sama artinya saya sedang menzalimi diri saya sendiri. Allah tidak pernah menghukum hamba-Nya, kita lah yang menzalimi diri kita sendiri oleh karena perbuatan kita sendiri.

Cerita bahwa perbuatan kita akan berbalas di tanah Arab mungkin disebabkan karena kita menjadi lebih peka terhadap perlakuan orang lain terhadap kita. Itu pula yang saya rasakan saat itu.
Ada momen manis, menggetarkan pun ada peringatan yang membuat saya menitikkan air mata.

Perjalanan ibadah umrah ini mengajarkan saya untuk lebih bisa mengendalikan emosi dan mengekang keinginan-keinginan pribadi. Bepergian dengan orang banyak tidak lah mungkin kalau tidak menimbulkan masalah. Tetapi, itu sesungguhnya adalah bagian dari ujian yang Allah berikan kepada kita. Tidak itu saja, faktor-faktor lainnya di sana pun bagian dari ujian kesabaran kita.

Melihat bagaimana orang berlari, berteriak-teriak histeris, mendorong dan menyakiti orang lain agar bisa shalat dan berdoa di Raudah atau mencium hajar aswad atau memperebutkan tempat-tempat mustajab lainnya membuat saya menghela napas. Tiba-tiba terlintas di dalam benak saya pasti sangat berat perjuangan Nabi Muhammad saw pada masa itu untuk mendidik umatnya.

Menyimak cerita patner tentang beberapa kisah Nabi, diantaranya seseorang yang dengan tanpa merasa bersalah mengeluarkan hajat kecil di masjid. Lalu Nabi menegurnya. Atau cerita lainnya ketika Nabi meminta tolong sahabatnya untuk mencarikan batu sebagai pengganti air yang akan digunakan untuk menutup hajat besar. Salah seorang dari mereka malah membawakan kotoran unta yang sudah keras.
Menyimak cerita-cerita ini menyadarkan saya mengapa kemudian agama berkesan diajarkan seolah dengan ancaman. Barangkali begitu bebalnya kita, manusia, bahkan yang dengan akal dan pikiran yang Allah anugerahkan kepada kita dengan tujuan agar digunakan untuk berpikir, seringkali dalam kenyataannya tidak digunakan secara baik dan maksimal.

Saya jadi teringat salah satu ayat yang berbunyi:
“Katakanlah, “Apakah sama orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu?” Sesungguhnya hanya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (QS 39 : 9).

“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS 58 :11).

Apa artinya? Ilmu diperlukan didalam kehidupan. Dengan ilmu kita memperoleh pengetahuan, mengetahui hal-hal yang baik dan mulia serta menjauhi perbuatan yang buruk.

Maka semustinya sebagai makhluk yang berilmu, kita memahami bahwa berlari dan berteriak-teriak histeris di rumah Allah adalah bukan perbuatan yang terpuji. Bukankah kita adalah tamu Allah? Maka sebagai tamu Allah berperilaku dan beradab lah yang baik. Jangan pula mendorong dan menyakiti orang lain karena mereka yang berilmu sejatinya memahami bahwa sesama muslim adalah bersaudara. Maka, sayangi dan kasihi mereka sebagaimana perintah Allah.

Saya senang menyimak cerita-cerita yang disampaikan partner. Terkadang ketika saya membaca al-quran saya melihat pesan yang saling berkaitan dengan apa yang saya amati atau saya dengar. Saya tak pandai membaca huruf arab, lebih banyak tertatih-tatih. Walau demikian saya berharap suatu hari nanti saya bisa membaca huruf arab dengan lebih baik. Amin yra.

Perjalanan Umrah di Penghujung Tahun 2014 #2

Selepas dari Raudah siang hari itu saya kembali ke hotel untuk mengikuti jadwal ziarah yang diadakan oleh panitia. Sementara dua orang kawan saya memutuskan untuk memperbanyak ibadah di masjid. Partner telah menunggu saya di depan hotel. Oya, partner sudah lebih dahulu kembali ke hotel ketika saya mengirimkan pesan bahwa saya bersama dua orang kawan akan ke Raudah terlebih dahulu. Saya tak sempat lagi makan siang karena waktu makan siang telah lewat dan kami akan segera berangkat. Hari itu kami ziarah ke masjid Quba, masjid pertama di dunia. Shalat sunnah dan ashar di sana.
Foto hasil jepretan partner.
Masjid-Quba
Berikutnya Jabal Uhud atau Bukit Uhud. Di lembah gunung ini pernah terjadi peperangan besar antara pejuang Islam sebanyak 700 orang melawan kaum kafir Quraisy dari Makkah sebanyak 3.000 orang pada 15 Syawal 3 Hijriyah (Maret 625 Masehi) yang menyebabkan 70 pejuang mati syahid. Dari pihak kafir Quraisy gugur sebanyak 22 orang. Perang ini kemudian disebut dengan perang Uhud.

Dalam peperangan tersebut gugur paman Nabi Muhammad SAW, Hamzah bin Abdul Muthalib. Awalnya perang ini dimenangkan oleh kaum muslimin. Namun, menurut cerita pemanah umat islam yang berada di atas gunung arrimah (bukit sebelah utara Uhud) di bawah pimpinan Mash’ab bin Umair tergoda oleh barang-barang yang ditingalkan musuh (kisah lainnya mencantumkan bahwa musuh memberikan umpan dengan menyebar uang dan perhiasan) dan mereka kemudian meninggalkan pos-nya. Padahal, Nabi Muhammad SAW sebelumnya telah memerintahkan agar mereka tidak meninggalkan pos apapun yang terjadi.
jabal-uhud3
Gunung arrimah, pos pasukan pemanah kaum muslim

Pengosongan pos oleh pasukan pemanah dimanfaatkan oleh Khalid bin Walid (yang waktu itu belum masuk islam) untuk menggerakkan tentaranya menyerang pejuang islam dari arah belakang yang menyebabkan umat islam mengalami kekalahan yang menyebabkan 70 orang sahabat gugur sebagai syuhada. Nabi Muhammad sendiri mendapat luka-luka, dan para sahabat yang menjadi perisai Nabi Muhammad SAW gugur karena tubuh mereka penuh dengan anak panah. Setelah perang usai kaum musyrikin mengundurkan diri kembali ke Makkah. Para syuhada atas perintah Nabi Muhammad saw dimakamkan di tempat mereka roboh.
jabal-uhud
Bukit paling kanan, tempat para syuhada berperang dan dimakamkan.

Selanjutnya adalah ke kebun kurma. Hampir di sepanjang jalan baik di Jeddah, Madinah atau Makkah tumbuh pohon kurma. Saya melihat beberapa pohon kurma dengan gerombolan buahnya. Pohon kurma ini hanya berbuah satu kali dalam setahun. Namun demikian sekali panen dalam satu pohon bisa menghasilkan sekiar 70 kg buah kurma. Banyak sekali, bukan?
Kata pemandu kami, pohon kurma di musim dingin tidak bisa berbuah. Pohon ini membutuhkan asupan sinar matahari yang cukup banyak.
IMG_7287
Bis berhenti tepat di depan toko (atau pabrik kurma) di area perkebunan tersebut. Kami semua turun. Berbagai jenis dan macam kurma dijual. Saya baru tahu bahwa ukuran kurma ajwa Madinah dan Mekah ternyata berbeda. Kurma ajwa yang kecil-kecil seperti yang kita kenal ternyata berasal dari Mekah sementara ajwa Madinah ukurannya lebih besar. Ada juga kurma lapis coklat, isi almond, tabur wijen dan lain sebagainya.

Tak lama rintik hujan turun, saya dan partner yang sedang asyik mengambil foto langsung naik ke dalam bis sambil menunggu kawan-kawan lain yang masih asyik berbelanja kurma.

Ziarah hari ini usai dan kami kembali ke hotel.

Esok hari, selepas dzuhur kami akan berangkat ke Makkah melalui Bier Ali untuk miqat dan memasang niat umrah di sana. Perjalanan dari Madinah ke Makkah kurang lebih 6 jam. Tiba di Makkah kami check-in hotel, istirahat sejenak dan makan malam lalu menyempurnakan umrah dengan melakukan thawaf, sai, dan tahallul. Kaabah tampak bercahaya dengan untaian kaligrafi arab bercorak emas di beberapa bagiannya. Pintu emas Kaabah menarik perhatian saya. Diantara pintu emas dan hajar aswad itu lah Multazam, tempat mustajab untuk berdoa seperti halnya Raudah.
Kaabah
Usai thawaf dengan mengelilingi Kaabah sebanyak 7 kali kami lalu shalat sunah bersama dan berdoa. Selanjutnya dianjurkan untuk minum air zam-zam. Kemudian melakukan sai, berjalan dari bukit Safa ke Marwah sebanyak 7 kali. Berikutnya yaitu tahallul, memotong rambut. Seluruh kegiatan ibadah umrah dibimbing oleh ustad. Ibadah umrah selesai mendekati waktu Shubuh. Ustad memberikan pilihan kepada kami untuk kembali ke hotel atau melanjutkan shalat shubuh. Beberapa memilih untuk menunggu waktu shubuh di masjid sebagian lainnya memilih kembali ke hotel.
umrah
Saya dan partner serta beberapa orang lainnya memilih untuk menunggu waktu shalat shubuh yang tak lama lagi. Barangkali karena kami tak tidur semalaman (kami tidur di bis dalam perjalanan dari Madinah ke Makkah) maka beberapa kali saya nyaris tertidur. Usai shalat shubuh kami kembali ke hotel, sarapan dan membersihkan diri. Hari ini tidak ada acara khusus atau bebas. Jamaah boleh memperbanyak ibadah di masjid baik sendiri atau berkelompok. Saya dan partner memutuskan tidur sebelum siang nanti kami berangkat ke masjid untuk shalat dzuhur. Di sini beberapa jamaah mulai terserang flu.

Hari ketiga di Makkah partner dan saya mulai terserang flu. Partner demam sehingga hari itu usai menunaikan shalat shubuh dan sarapan kami memutuskan tidur dan melewatkan waktu dzuhur dan ashar di masjid. Lepas waktu ashar, kami berangkat ke masjid. Shalat ashar dan menunggu waktu magrib sampai Isya di masjidil haram.

Keesokan harinya ziarah ke berbagai tempat seperti Jabal Al-Nour, Arafah, Muzdalifah dan Mina.
Jabal Nur, tempat dimana gua hira berada. Jabal Nur atau The mountain of light adalah tempat ketika Nabi Muhammad saw menerima ayat Quran yang pertama. Kami tidak turun hanya melihat dari bis. Letak Jabal Nur berada di atas bukit. Untuk naik ke sana jamaah bisa menyewa mobil.
jabal-tsur
Tujuan ziarah berikutnya adalah Arafah. Di padang ini lah para jamaah haji melakukan wukuf. Di sini juga terdapat Jabal Rahmah berupa tugu peringatan yang didirikan untuk mengenang tempat bertemunya Adam dan Hawa di muka bumi.
jabal-rahma
Di sini juga banyak burung. Kami bermain-main sebentar bersama mereka :). Burung termasuk hewan yang paling banyak ditemui di tanah Arab ini.
arafah
Selanjutnya, melanjutkan perjalanan ke Muzdalifah dan Mina.

Selepas ziarah kami ke Ja’ronah untuk miqat pasang niat umrah. Kali ini jamaah boleh memilih untuk ikut umrah atau tidak. Ada yang umrah untuk pribadi ada juga yang meng-umrahkan Ayah, Ibu atau kerabatnya yang telah tiada.
umrah2
Usai umrah, kegiatan hari itu adalah bebas. Jamaah dipersilakan untuk memperbanyak ibadah seperti dzikir, baca al qur’an, muhasabbah dan lain-lain di Masjidil Haram.

Hari ke delapan, melaksanakan thawaf Wada’. Usai shalat shubuh saya dan partner melakukan tawaf Wada’. Seperti juga ketika di Madinah, berat rasanya hati meninggalkan Masjidil Haram. Beberapa kali kami masih memandangi Kaabah, mencoba merekam setiap ingatan tentang nya. Membayangkan masa dimana Nabi Ibrahim membangun bangunan suci ini yang pertama kali dibangun oleh Nabi Adam. Menurut cerita ustad (kalau saya tak salah menangkap informasi ya) kala itu Nabi Ibrahim kehabisan dana halal. Maka digunakanlah dana yang ada namun sebagai pembedanya dibuatlah hijir ismail berupa tanda setengah lingkaran. Maka siapapun yang shalat dan berdoa di dalam hijir ismail sama artinya shalat berada di dalam Kaabah. Namun bagi mereka yang umrah tidak boleh memasuki wilayah di dalam hijir ismail.

Usai Dzuhur kami berangkat ke Jeddah untuk melanjutkan perjalanan ke Bangkok. Sebelumnya kami mampir terlebih dahulu ke Laut merah.
read-sea
Jam 1.00 malam pesawat kami take off menuju Bangkok dengan jarak tempuh kurang lebih 7 jam. Transit 15 jam dan menginap di hotel yang disediakan JetAsia lalu melanjutkan perjalanan ke Jakarta, Indonesia. Alhamdulillah kami sampai dengan selamat di Jakarta sekitar jam 8 lebih pagi hari.

Saya bersyukur memiliki kesempatan melaksanakan ibadah umrah bersama partner, sebutan saya untuk suami :). Seseorang yang mengajari pemahaman agama kepada saya melalui kebaikan budi dan ketulusan hati.

update:
Terima kasih untuk semua yang telah mendoakan kami juga untuk travel Arnussa atas persaudaraan dan pelayanannya yang keren. Mudah-mudahan kita bisa bertemu kembali ya :).

Perjalanan Umrah di Penghujung Tahun 2014 #1

Sesungguhnya kami tak menyangka akan bisa pergi melaksanakan umrah tahun ini. Berawal dari tawaran sebuah travel (kami diperkenalkan oleh seorang kawan dengan travel Arnussa), saya dan partner kemudian memutuskan untuk mendaftarkan diri. Kebetulan tanggal dan bulan yang ditawarkan oleh travel Arnussa bertepatan dengan libur sekolah. Perjalanan ibadah umrah dimulai dari tanggal 24 Desember sampai tanggal 2 Januari 2015. Dengan pesawat JetAsia kami berangkat dari bandara Soekarno-Hatta untuk kemudian transit di bandara Suvarnabhumi, Bangkok Thailand dan meneruskan perjalanan ke Jeddah.

Manusia boleh berencana namun Tuhan yang menentukan. Di tengah perjalanan pilot memberi kabar bahwa pesawat akan mendarat di Bombay, India, dikarenakan ada masalah teknis. Jangan tanya perasaan hati kami saat itu. Partner menenangkan saya. Kami berdoa bersama. Alhamdulillah pesawat mendarat dengan selamat di bandara Bombay, India.

Karena kami tidak memiliki visa negara ini, maka seluruh penumpang tetap berada di dalam pesawat. Selama 11 jam kami berada di dalam pesawat tanpa suplai makanan dikarenakan JetAsia tidak membawa cadangan makanan, bahkan air di toilet pun habis.  Barangkali ini adalah ujian pertama yang harus kami lalui. Sejak awal partner telah mengingatkan saya untuk tidak marah dan mengeluh. Dalam menunggu kepastian untuk melanjutkan perjalanan sebagian orang mulai marah sementara sebagian lainnya menenangkan diri. Betul apa yang dikatakan ustad kami pada waktu manasik, banyaknya uang yang kita miliki bukan jaminan kita bisa berangkat umrah. Hanya ridha Allah semata yang menjadikan segalanya mungkin. Maka, yang bisa saya lakukan saat itu adalah berdoa, memohon ampunan dan berharap ridha-Nya agar kami semua diperkenankan untuk bisa sampai ke Baitullah. Menyalahkan satu pihak atau orang lain tidak lah ada gunanya. Karena seperti partner bilang ke saya, kita semua di sini memiliki dosa yang kita tanggung bersama-sama.

Kurang lebih 11 jam total delay, pilot pesawat datang dan mengabarkan bahwa pesawat kami akan segera berangkat. Alhamdulillah. Sampai di bandara Jeddah sekitar tengah hari. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Madinah dengan bis. Perjalanan ke Madinah ditempuh kurang lebih 5 jam. Sampai di Madinah menjelang Isya. Sampai hotel kami segera membersihkan diri. Alhamdulillah saya bersama partner bisa melaksanakan shalat Isya di masjid Nabawi.

nabawi1 IMG_7325

Malam itu kami berlama-lama di masjid Nabawi. Rasa syukur yang tak terhingga bahwa kami telah sampai di sini dengan selamat. Pada waktu shalat Isya seorang wanita arab di sebelah saya membagi sajadahnya ke saya. Awalnya saya tidak paham maksudnya kemudian dia berkata, it’s cold, dan dia menepuk pundak saya dengan halus meminta agar saya duduk di atas sajadahnya. Antara haru dan entah apa itu, hanya ucapan terima kasih yang sanggup saya berikan. Saat itu saya memang tidak membawa sajadah dan sedang shalat sunnah di atas lantai yang dingin. Madinah pun sedang musim dingin. Usai shalat saya menunggu dia selesai berdoa dan mengucapkan terima kasih sekali lagi. Wanita muda itu tersenyum manis. Mungkin berlebihan tetapi diantara peristiwa-peristiwa yang ada kalanya membuat hati getir ada juga momen-momen indah yang menggetarkan hati, yang membuat hati kita membuncah tiba-tiba oleh sebuah rasa yang tak terucapkan.

Esok hari, setelah shalat shubuh kami berniat ke Raudah. Setelah mencari informasi mengenai waktu-waktu Raudah dibuka untuk wanita, saya bersama dua orang kawan memutuskan untuk tetap di masjid sampai menunggu waktu dzuhur. Raudah dibuka untuk wanita setelah shalat dzuhur. Askar, sebutan untuk polisi wanita di dalam masjid, menyarankan untuk ke Raudah setelah shalat Isya karena waktunya lebih panjang. Setelah shalat dzuhur biasanya banyak orang. Setelah mempertimbangkan banyak hal, kami bertiga tetap memutuskan untuk mencoba ke Raudah setelah shalat dzuhur.

Lepas dzuhur, kami antre untuk bisa masuk ke Raudah. Askar membagi menjadi beberapa kelompok: Melayu, Pakistan, dll. Saya melihat pembagian kelompok ini bertujuan baik, diantaranya adalah untuk melindungi orang-orang Melayu. Mohon maaf jika saya salah, tetapi orang Melayu terkenal dengan profilnya yang mungil sementara wanita Turki, dkknya memiliki profil besar dan kuat. Mereka sanggup mendorong dan berlari dengan kuat. Saya bersama kawan menyetujui untuk menaati aturan yang diberikan oleh askar. Maka, kami berjalan tanpa berlari. Melihat bagaimana para wanita berlari, berteriak, mendorong dan menyikut orang lain demi mendapatkan dirinya bisa shalat dan berdoa di depan Raudah menimbulkan berbagai macam pertanyaan yang berkelindan di kepala. Saya memutuskan untuk shalat dan berdoa sebentar saja di depan Raudah jika memungkinkan tetapi seandainya tidak bisa pun tak apa. Alhamdulillah, siang itu saya bisa shalat dan berdoa di depan Raudah. Demikian juga dengan partner.

Foto di bawah adalah hasil jepretan partner.
IMG_7333 makamnabidansahabat

Saya ingat pesan partner untuk tidak mendorong, melukai dan menyakiti orang lain. Saya berusaha untuk tidak melakukan hal itu, walau di tempat yang padat seperti itu didorong dan mendorong bisa jadi tak ada bedanya. Jika Allah berkehendak maka pasti ada saatnya Ia akan memberikan kita kesempatan untuk bisa shalat dan berdoa di Raudah atau di tempat manapun yang kita inginkan.

Malamnya, saya bersama kawan ke Raudah kembali. Niat awal menemani kawan yang belum ke Raudah. Namun situasi malam hari berbeda dengan siang hari. Kali ini jamaah begitu banyak dan padat. Antrean pun lama sekali. Saya ingin menyerah tak terbayangkan seperti apa di dalam nanti. Ternyata apa yang saya takutkan terjadi, lautan manusia yang saling berteriak dan mendorong. Pegangan saya dengan kawan terlepas. Saya nyaris putus asa. Alhamdulillah Allah menyelamatkan saya, setelah sempat terlempar sesuatu mendorong saya keluar dari himpitan kelompok manusia. Kawan saya masih di dalam sana. Namun saya tak mungkin kembali. Saya menunggu dengan beribu-ribu doa yang mengalir dan kepanikan yang melingkupi. Tak lama kawan saya berhasil keluar. Kami terdiam beberapa saat. Rasa ngeri dan ketakutan begitu nyata. Saya melihat atau merasakan? ketika seseorang melangkahi atau nyaris menginjak orang yang sedang shalat. Kami keluar. Sepanjang jalan saya tak habis mengerti mengapa orang bisa begitu liar dan tak terkendali. Apakah Tuhan akan mengabulkan permohonan kita jika kita memintanya dengan cara menyakiti orang lain?

Peristiwa malam itu di Raudah membuat saya merenung lama. Menjelang shubuh, saya dan partner berangkat ke masjid Nabawi. Kami berangkat lebih awal agar bisa melaksanakan shalat tahajud di masjid. Kejadian tadi malam masih membekas di ingatan. Saya berdoa diam-diam. Lama. Lalu, seorang Ibu menyapa saya, finish? tanyanya. Oh, dia bertanya apakah saya telah selesai berdoa. Barangkali dia sudah lama memperhatikan saya berdoa. Ibu itu lalu meletakkan kedua tangannya dibelakang punggung saya, mengelusnya dengan halus sambil mengucapkan beberapa kalimat dengan bahasa yang tak saya mengerti. Dia tersenyum lalu berkata kepada kawannya. Kami lalu tersenyum kembali. Entah apa yang ia ucapkan atau perbincangkan, semoga itu hal yang baik.

Di sini, kami juga bertemu sekelompok Ibu-Ibu dari Indonesia yang tersasar. Salah seorang Ibu kakinya sakit, sehingga dengan terpaksa ia melepaskan sandalnya dan berjalan tertatih-tatih. Saya bersama partner mencoba mencari hotel tempat Ibu-ibu itu menginap. Syukur lah di tengah perjalanan kami bertemu dengan kawan satu grup dengan Ibu-Ibu itu dan ternyata hotel tempat mereka menginap pun sudah dekat.

Peristiwa dan berbagai pengalaman yang saya alami di sini membuat saya banyak merenung. Ada kalanya pertanyaan-pertanyaan itu menemukan jawabnya di antara ayat-ayat suci yang saya baca ketika menunggu waktu shalat. Saya tidak fasih membaca huruf arab, maka saya lebih banyak membaca huruf latinnya. Layar telepon pintar itu seringkali menampilkan barisan kalimat yang membuat dada saya sesak setiap kali usai membacanya. Seolah Allah berbicara kepada saya melalui teks-teks indah itu.

“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Baqarah, 115)