Bagi bapak ibu guru yang membutuhkan bahan praktik untuk pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KA), berikut beberapa platform yang dapat digunakan:
Untuk kegiatan praktik di kelas, Bapak/Ibu Guru dapat mengajak murid mempelajari konsep dan cara kerja kecerdasan artifisial melalui berbagai aktivitas interaktif yang tersedia di Code.org. Platform ini menyediakan beragam permainan dan tantangan yang dapat dipilih sesuai dengan usia dan tingkat kemampuan murid.
Contohnya adalah aktivitas Mix & Move with AI dari platform Code.org. Proyek kreatif ini menggabungkan koding, seni, musik, tarian, dan kecerdasan artifisial (AI). Aktivitas ini dirancang untuk siswa kelas 2–12 dengan tingkat kesulitan yang dapat disesuaikan.
Pada aktivitas ini murid bisa memilih atau membuat karakter penari, menggunakan AI untuk membantu membuat gerakan tari, memilih atau mencampur musik, mengatir koreografi menggunakan blok kode serta menjalankan dan memperbaiki hasil.
Konsep dasar informatika yang mereka pelajari dalam permainan ini adalah: algoritma, sequence (urutan), loop (perulangan), debugging, kreativitas berbasis KA, serta kolaborasi manusia dan KA.
Aktivitas ini juga mengenalkan kepada murid bagaimana KA dapat menjadi alat bantu kreatif (generative AI). Pada buku Mengenal Koding dan KA, materi ini ada pada Bab 3: Literasi dan Etika Kecerdasan Artifisial (KA) pada subbab Manfaat dan Dampak KA. KA dapat membantu manusia, memberikan ide, membantu membuat konten lebih cepat dan hasil KA dapat dimodifikasi sesuai keinginan kita. Namun demikian, kita, manusia, tetap bertanggung jawab terhadap hasil KA.

Selain Code.org, Scratch, Teachable Machine, dan MakeCode juga dapat dimanfaatkan untuk memperkuat pemahaman konsep Koding dan KA melalui kegiatan praktik yang menyenangkan dan kontekstual.
Berbagai platform tersebut sangat sesuai digunakan sebagai pendamping pembelajaran pada buku Mengenal Koding dan Kecerdasan Artifisial terbitan Penerbit Erlangga. Bapak/Ibu Guru dapat mengombinasikan pembelajaran teori dan praktik secara bergantian, misalnya dengan menyisipkan kegiatan praktik setelah setiap materi KKA selesai dipelajari atau membagi pembelajaran menjadi satu jam untuk penyampaian konsep dan satu jam berikutnya untuk praktik menggunakan platform yang relevan. Dengan cara ini, murid tidak hanya memahami konsep secara teoretis, tetapi juga memperoleh pengalaman belajar yang lebih aktif, menarik, dan bermakna.