Film Pendidikan

Daftar film-film berikut ini saya kumpulkan dari rekomendasi kawan-kawan di facebook :). Saya memang ada kalanya menayangkan trailer film (baik sejarah, sains, IT, biografi, dll) dan membahasnya bersama murid-murid saya. Memang beberapa tidak berkaitan dengan mata pelajaran yang saya ampu, tetapi di saat ini lah kesempatan bagi kami untuk saling mendekatkan diri, saling memahami dan syukur-syukur pesan ‘rahasia’ yang ingin saya sampaikan terserap oleh mereka 😉

Terima kasih yang banyak sebelumnya untuk semua kawan-kawan saya di facebook. Terima kasih telah berbagi hal-hal positif.

Inilah daftar film baik berlatar belakang Sejarah, Sains, Teknologi, dll.

1. Walking with dinosours (Arkeologi).
2. Bicential Man – Robin Wiliam (IT, Sains and Medical)
3. November 1828 (Sejarah)
4. Tjoet Nyak Dien (Sejarah)
5. Ainun & Habibie (Biografi)
6. Soekarno (Sejarah)
7. A Beautiful Mind
8. Oxford murders
9. Pirates of Silicon Valley
10. Temple Grandin
11. Einstein and Eddington (tentang dua nama besar yg sifat dan hidupnya beda banget gak saling kenal tapi diakhiri dengan salah satu membuktikan teori yg lain).
12. The Physician (perjuangannya Ibnu Sina saat mengajar ilmu kedokteran pada saat itu)
13. Trancendence
14. The Lady (biografi Aung An Suu Kyi)
15. Hotel Rwanda (tentang pembantaian Rwanda selama 100 hari tahun 1994)
16. Shooting Dogs (tentang pembantaian Rwanda selama 100 hari tahun 1994)
17. Shake Hands with The Devil (tentang pembantaian Rwanda selama 100 hari tahun 1994)
18. Copying Beethoven, tentang Bethoven dari sudut pandang asistennya.
19. Cosmos: A SpaceTime Odyssey
20. The Theory of Everything
21. Exodus (Sejarah)
22. Pearl Harbour
23. A Brief History of Time (1991)
24. Hawking (2004)
25. Breaking the Code (1996)
26. The Imitation Game – biopic Alan Turing.
27. I Aim at the Stars – rocket scientist Dr. Werner von Braun
28. Something the Lord Made (2004) – Bedah jantung Alfred Blalock dan asistennya Vivien Thomas
29. The Story of Louis Pasteur (1936)
30. Flash of Genius, lihat di sini
31. Creation (2009) – Charles Darwin
32. Gorillas in the Mist (1988) – Dian Fossey
33. Breaking the Mould (2009) – Penisilin
34. The Story of Alexander Graham Bell (1939)
35. Dr. Ehrlich’s Magic Bullet (1940)
36. Edison, the Man (1940)
37. Madame Curie (1943)
38. Gie
39. The Davinci Code (Arago, PMT)
40. The Story of Joan of Arc (Sejarah Perancis dengan “Perang 100 tahun” nya dengan Inggris)
41. Fetih 1453
42. The Kingdom of Heaven

Internet of Things

Jadi, sabtu lalu kami berangkat ke Semarang. Partner mendapat undangan untuk memberikan opening speech di acara ICITACEE 2014 di kampus UNDIP. Tema yang diusung dalam conference ini adalah Enhancement of Green Technology and Its Applications for a Better Future.
GT

Mengutip opening speech dari Partner, “Green technology aims to improve the quality of the environment. But it also aims to reduce the negative impact of technology to environment. And it also aims to reengineer the technology itself to ensure sustainability.”

(Teknologi hijau tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan. Tetapi juga bertujuan untuk mengurangi dampak negatif dari teknologi terhadap lingkungan. Serta bertujuan untuk merekayasa ulang teknologi itu sendiri untuk menjamin keberlanjutan)

Acara ini menghadirkan 3 nara sumber. Pertama: Prof. Hiroshi Ochi dari Kysuhu Institute of Technology, Japan. Presentasi yang Beliau bawakan berjudul Wireless System – from Theory to Chip Design. Kedua, Prof.Dr.Trio Adiono dari Institut Teknologi Bandung dengan makalahnya Challenges and Opportunities in Designing Internet of Things. Nara sumber ketiga adalah Dr. Adi Rahman Adiwoso dari PT. Pasifik Satelit Nusantara yang memaparkan makalah berjudul Role of Satellite Telecommunication in Indonesia.

Yang ingin saya ceritakan dalam tulisan ini adalah presentasi kedua yang membahas mengenai Internet of Things. Materi pertama terlalu teknis buat saya yang bukan berasal dari jurusan elektro :). Sementara materi ketiga cukup menarik dan menambah wawasan saya tentang satelit mini yang bernama nanosatelit.

Internet of Things
Internet of Things adalah teknologi dimana benda-benda di sekitar kita dapat saling berkomunikasi dengan tablet, PC, dan smartphone melalui sebuah jaringan seperti internet. Benda-benda itu dapat berupa peralatan rumah tangga, dapur dan lain sebagainya yang dimonitor dan dijalankan dari jarak jauh, serupa remote control.

Istilah Internet of Things (IoT) dikenalkan oleh Kevin Ashton pada tahun 1999. Sejak lama Ashton membayangkan bahwa internet dapat terhubung ke dunia fisik melalui berbagai sensor yang dibenamkan di perangkat tertentu, mengumpulkan data, untuk berikutnya mengirimkan ke database atau log server.

Istilah IoT dikenal juga dengan komunikasi M2M (Machine to Machine)
Seperti apakah wujud IoT ini? Mari kita lihat beberapa contoh video di bawah ini.

Perangkat di atas adalah berupa sikat gigi pintar. Sikat gigi ini dapat merekam informasi aktivitas ketika kita sedang menyikat gigi, seperti adakah bagian gigi yang belum dibersihkan, atau memberitahu jika ada bagian yang memerlukan perhatian kusus dan sebagainya. Selanjutnya, alat ini akan memberikan laporan hasil kegiatan sikat gigi tadi ke smartpone atau tablet kita secara langsung. Dengan demikian alat ini dapat membantu memperbaiki kebiasaan sikat gigi kita sehari-hari.

HAPIfork atau garpu pintar. Kebiasaan makan yang baik, pengaturan berat badan dan pencernaan yang baik tidak hanya berkaitan dengan apa yang kita makan akan tetapi juga seberapa banyak kita mengkonsumsi dan seberapa lama kita mengunyah makanan. Alat ini akan membantu mengingatkan jika kita makan terlalu cepat atau mengkonsumsi makanan dalam jumlah yang banyak.

Nah, ini barangkali yang ditunggu oleh anak-anak muda, wearable camera. Dengan alat ini kita tidak perlu lagi membawa tongsis kemana-mana untuk berfoto selfie loh :). Kamu tetap bisa melakukan aktivitas mandiri dan memfotonya sendiri, keren kan?

Ada banyak lagi tentu perangkat digital masa depan yang akan muncul ini. Pada saatnya nanti, semua benda-benda di sekitar kita akan terhubung secara nirkabel melalui Internet of Things (atau Internet of Everything).

Teknologi memang diciptakan untuk memudahkan hidup banyak orang namun jangan lupa kita pun dituntut untuk memanfaatkannya secara bijak.

(Walaupun judulnya hanya menemani partner, tetapi selalu saja ada ilmu pengetahuan dan wawasan baru yang saya peroleh dari acara-acara IEE ini :). Dan yeah, bisa buat bahan cerita ke murid-murid nanti :). Thanks IEEE 🙂 )

Tugas Siswa

Merujuk kepada pembelajaran TIK Sains di Inggris, saya mencoba mengenalkan pemrograman visual dengan menggunakan aplikasi Scratch kepada murid-murid saya di sekolah. Scratch adalah aplikasi yang disarankan oleh para pengajar sekolah-sekolah di Inggris untuk mengenalkan konsep pemrograman dasar kepada murid-murid mereka dari SD sampai SMA.

Jangan membayangkan pemrograman sebagai hal yang rumit, saat ini ada banyak tersedia aplikasi pemrograman visual yang menarik dan mudah dipelajari, bahkan oleh orang dewasa yang awam sekalipun. Belajar pemrograman akan menjadi lebih menyenangkan, tentu saja.

Berikut ini akan saya tampilkan beberapa karya siswa saya ketika mereka belajar dengan Scratch.
Karya-karya itu berupa animasi, simulasi dan games sederhana.


Prosedur: Klik bendera hijau. Selanjutnya, tekan Space bar di keyboard.

Untuk projek akhir saya menugaskan mereka untuk membuat video dengan latar aplikasi yang telah mereka buat. Mereka akan menceritakan kepada Anda bagaimana aplikasi itu dibuat. Enjoy 🙂

(tunggu mereka mengumpulkan tugas akhirnya besok ya.. hehehe :))

TIK Sains, Paradigma Pembelajaran TIK Baru

“Anak-anak kita saat ini adalah mereka yang disebut dengan digital native. Digital native adalah istilah untuk mereka yang lahir bersamaan dengan lahirnya era digital. Sejak dini mereka sudah terbiasa berkirim teks melalui gadget, bermain game online, serta berselancar di internet. Namun, apakah semua itu menandakan bahwa mereka sudah mahir menggunakan teknologi? Walaupun anak-anak muda itu hampir setiap saat bersentuhan dengan media digital, ternyata hanya sedikit dari mereka yang mampu menciptakan games, animasi, ataupun simulasi.” (kutipan artikel dari “Scratch: Programming for everyone)

Situasi di atas digambarkan sebagai, “It’s as if they can read but not write.”

Menteri Pendidikan Inggris, Michael Cove, menjawab kondisi mengkhawatirkan di atas dengan melakukan sebuah revolusi besar di dalam pembelajaran TIK di sekolah. Cove kemudian mengenalkan kurikulum TIK Sains di awal tahun 2013. TIK Sains adalah pembelajaran TIK yang berfokus kepada pemrograman. Kurikulum ini diberlakukan dari jenjang Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas, sebagai pondasi awal.

Sebelumnya, pembelajaran TIK di sekolah lebih banyak menekankan keterampilan digital mendasar.
Dikutip dari majalah E&T, Fresh Fruit For Teacher. Volume 8 Issue 3 April 2013, Erick Schmidt dari Google mengatakan bahwa mengajarkan anak-anak hanya pada bagaimana menggunakan software dibanding menciptakannya, sama artinya menghilangkan warisan kemampuan komputasi yang dimiliki anak-anak itu.

Anak-anak memerlukan suatu tantangan yang dapat memunculkan kreativitas mereka. Belajar pemrograman dapat membantu anak mengembangkan keterampilan matematika dan logika, meningkatkan kreativitas, serta melatih mereka untuk memecahkan masalah. Keterampilan-keterampilan di atas tadi dapat membantu anak menghadapi kehidupan mereka di masa depan.

Anak-anak dengan keterampilan dan pengetahuan tentang kode komputer akan melahirkan orang-orang seperti Mark Zuckerberg (pendiri Facebook), atau Larry Page dan Sergei Bin (pembuat mesin pencari Google). Tumbuh besarnya para pencipta aplikasi (dan produk) ini akan membangkitkan dunia kewirausahaan yang sekaligus juga turut meningkatkan ekonomi negara.

Di Indonesia sendiri, keberadaan TIK Sains belum terlalu terdengar gaungnya, kecuali di jenjang pendidikan yang lebih tinggi, di tingkat SMK ke atas. Pembelajaran TIK atau lebih dikenal dengan mata pelajaran Komputer baru dikenalkan di sekolah sebagai mata pelajaran wajib pada Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) di tahun 2004 untuk semua jenjang (SD sampai SMA). Kemudian di tahun 2006, keberadaan TIK SD bergeser menjadi mata pelajaran muatan lokal. Sementara untuk tingka SMP dan SMA tidak mengalami perubahan. Dan di tahun 2013, mata pelajaran TIK dihapuskan sebagai mata pelajaran wajib di tingkat SMP dan SMA berganti dengan mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan.

Keputusan menghapus mata pelajaran TIK tentu sangat disesalkan banyak pihak. Terlebih lagi karena kita menyadari bahwa di era digital ini kemampuan berbahasa asing dan teknologi adalah sebuah syarat mutlak yang perlu dikuasai.

Harapan:
Dan sebelum penghapusan mata pelajaran TIK diberlakukan di semua sekolah, semoga tulisan sederhana ini bisa menjadi sedikit rujukan bagi pengambil keputusan untuk menentukan langkah selanjutnya. Barangkali, ya barangkali, memperbaiki kurikulum TIK adalah pilihan yang lebih bijak daripada menghapuskannya? Semoga. Amin yra.

Finlandia

Welcome to Helsinki, ibukota Finlandia. Salah satu negara yang ingin aku kunjungi karena keunggulannya dalam sistem pendidikan. Republik Finlandia merupakan negara di Eropa Utara yang berbatasan dengan Swedia, Norwegia dan Rusia. Bahasa resmi mereka adalah bahasa Finlandia dan Swedia, namun jangan khawatir mereka juga dapat berbahasa inggris dengan sangat baik.

Hotel tempat kami menginap terletak di dekat shelter bus. Di pagi hari tertentu lapangan luas ini beralih menjadi market place yang menjual berbagai kebutuhan sehari-hari. Semacam pasar kaget kalau di Indonesia :). Di Finlandia, kami berjalan-jalan keliling kota, menyusuri taman dan tak lupa mengunjungi toko buku :).

Kami sempatkan pergi ke musium udara terbuka Seurasaari. Niatnya ke sini cuma satu, pengin bermain dan mengejar-ngejar squirrel kecil yang lucu dan imut sebelum kembali ke Indonesia :).

Seurasaari with squirrel

Awalnya, tupai-tupai ini sulit didekati. Namun dalam perjalanan menuju keluar dari Pulau tersebut seekor makhluk kecil mendekat. Sepertinya mahkluk kecil ini tau bahwa kami membawa banyak bekal biji-bijian untuk mereka :). Sayangnya kami harus segera kembali karena udara semakin dingin.

Finlandia menjadi negara skandinavia pertama, dan negara bekas Rusia pertama yang kami kunjungi dan menjadi penutup dalam perjalanan EuroAsia 2014. Eh, masih ke Berlin sih tetapi hanya di bandaranya saja untuk transit dan pindah terminal :).

Budapest

Dari Zurich, kami mampir semalam di Budapest. Budapest adalah ibu kota dan kota terbesar di Hongaria. Negeri ini memiliki sejarah yang menarik. Dikutip dari wikipedia, Budapest awalnya adalah dua kota yang dipisahkan oleh sungai yang lebar. Nama sungai itu adalah sungai Danube. Nama dua kota tersebut adalah Buda dan Pest. Setelah dibangun jembatan menjadi satu kota yang disebut Budapest 🙂 (ini beneran loh). Mengutip dari wikipedia, “kawasan ini memulai lembaran baru sebagai kawasan yang sejahtera, dan Budapest menjadi  kota global setelah disatukannya kota Buda di tepi barat sungai Donau (Danube) dengan kota Pest di tepi timur pada tanggal 17 November 1873. Budapest menjadi ibu kota kekaisaran Austria-Hongaria setelah ditetapkannya Kompromi Austria-Hongaria pada tahun 1867 dan menjadi kekuatan besar yang akhirnya bubar pada tahun 1918 akibat kekalahannya dalam Perang Dunia I.

Tak banyak yang dilihat, tapi kami sempatkan mencoba jalur metro tertua kedua di dunia setelah Inggris, yaitu Jalur Kereta Api Bawah Tanah Milenium (MRT pertama di Eropa), dengan nama jalurnya M1. Bentuknya yang klasik disertai pelayanan model kuno memberi pengalaman yang berbeda tidak hanya kepada masyarakat setempat namun terutama turis atau wisatawan asing. Menakjubkan aja rasanya, seperti berada di lorong waktu di masa lampau :).

Kami juga berfoto sejenak di beberapa tempat menarik seperti gedung parlemen yang berada di tepi sungai Danube dan alun-alun Pahlawan Hosok Tere. Banyak wisatawan menikmati suasana malam dengan duduk-duduk memandangi pemandangan gedung parlemen bertabur cahaya lampu, atau menikmati perjalanan dengan perahu untuk menghabiskan malam di kota yang disebut sebagai salah satu kota paling indah di Eropa.

Selanjutnya, dari Budapest kami terbang menuju Finlandia dengan pesawat baling-baling… hehehe :). Transit dahulu di Riga dan menyambung kembali. Perjalanan kurang lebih ditempuh dalam waktu 2.5 jam.

Gedung Parlemen di tepi sungai Danube
Gedung Parlemen di saat siang hari
Ticket box di M1
MRT pertama di Eropa, stasiun Hosok Tere
M1 dengan pelayanan tempo dulu

Hősök tere merupakan salah satu alun-alun utama di Budapest, Hongaria, yang kaya akan konotasi historis dan politis. Kompleks patung ikoniknya, yaitu Memorial Millenium, selesai dibangun pada tahun 1900. Pada tahun yang sama, alun-alun ini dinamai “Alun-alun Pahlawan.” Tempat ini berada di ujung Andrássy út dan bersebelahan dengan Taman Kota. (sumber dari sini)

Jembatan pemersatu dua kota, Buda dan Pest
Transit dulu di bandara Riga

Amsterdam

Konon Amsterdam sering disebut sebagai kota percontohan berkonsep Smart City. Apa sih Smart City itu?

Smart City adalah sebuah konsep berplatform teknologi untuk mengintegasikan pengelolaan segala sumber daya yang ada, untuk mengatasi berbagai permasalahan sekaligus menghasilkan kehidupan yang lebih berkualitas dan efisien.

Konsep Smart City ini sekarang menjadi topik bahasan populer di berbagai negara.

Kota-kota besar di dunia pada umumnya memiliki permasalahan yang sama, diantarany kemacetan lalu lintas, sistem transportasi, sampah, arus urbanisasi, kesehatan, dan lain-lain. Permasalahan ini timbul oleh karena derasnya laju urbanisasi ke kota-kota besar disebabkan penyebaran hasil pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang tidak merata, yang hanya terpusat di kota-kota besar.

Situasi ini membuat perkotaan menjadi tidak nyaman untuk dihuni. Berbagai penyakit baru pun bermunculan yang disebabkan oleh tingginya polusi. Tingkat kriminalitas pun tinggi.

Konsep Smart City kemudian hadir untuk bisa menjadi solusi dari berbagai permasalahan di atas tadi.

Amsterdam adalah kota yang sangat sibuk. Kota ini menghasilkan banyak sekali karbondioksida. Untuk mengurangi itu maka pemerintah menargetkan untuk mengurangi emisi CO2 nya. Bagaimana caranya? Pemerintah tidak bekerja sendirian. Untuk mewujudkan konsep Smart City ini mereka melibatkan semua pihak, masyarakat, pengusaha, sampai pengembang teknologi untuk menjadikan Amsterdam sebagai kota yang berudara bersih, hemat energi namun masyarakatnya tetap dapat bersentuhan dengan teknologi.

Mereka merumuskan ada 4 aspek yang menyumbang langsung kepada penciptaan emisi karbondioksida ini, yaitu:kebutuhan di tataran rumah tangga, kantor, fasilitas publik dan mobility.

Untuk menghindari orang berkumpul di satu tempat maka mereka membuat fasilitas seperti kantor bayangan di dekat rumah warga. Mereka dapat menggunakan fasilitas ini dengan gratis.
Di tempat-tempat umum digunakan lampu LED yang hemat energi dengan watt yang kecil tapi sangat terang. Di rumah-rumah waga, semua alat elektonik meeka disambungkan dengan software yang membuat si pemilik rumah dapat mengetahui pola konsumsi energi mereka melalui sebuah website.
IMG_0013.JPG

IMG_0012.JPG
Saat ini sudah banyak kota-kota besar di berbagai negara menerapkan konsep Smart City. Bagaimana dengan Indonesia? Kabarnya beberapa kota di Indonesia pun sedang menjajaki untuk menerapkan konsep Smart City ini. Satu diantaranya adalah Bandung. Kalau tidak salah Makasar juga deh :).
Bagaimana dengan Jakarta?

Btw, beberapa bentuk bangunan, jalan dan tempat di Belanda ini mirip di Bandung loh 🙂

Hello Entrepreneurs, Good Bye Borders

planet-entrepreneur-cover
Judul: Planet Entrepreneur
Penulis: Steven D. Strauss
Penerbit: Wiley (John Wiley & sons, Inc., Hoboken, New Jersey).

Saat ini kita hidup dalam dunia yang saling terhubung satu sama lain. Informasi bergerak cepat, orang-orang bertambah cerdas dan ide serta gagasan menyebar dengan cepat. Tidak demikian halnya dahulu, wajah dunia saat itu sungguh berbeda. Dibatasi oleh persaingan ekomoni dan politik, maka Timur adalah Timur dan Barat adalah Barat dan tidak pernah keduanya itu bertemu.

Dunia kemudian mempunyai dua kutub: Demokrasi dan Kapitalisme yang bertentangan dengan komunisme. Mereka terjebak dalam tirai besi dan tidak bisa keluar. Hampir mustahil bagi masyarakat dan gagasan serta uang untuk berpindah tempat dari asal mereka berada. Bagi seorang entrepreneur (wirausaha), mereka terisolasi. Terkucil di suatu tempat dimana ia berada, entrepreneur pada masa itu membangun bisnis mereka dan hanya memenuhi kebutuhan pasar di area ia berada.

Namun segalanya berubah. Tembok Berlin jatuh. Uni Soviet terbagi menjadi negara-negara kecil. Cina menjelma menjadi kapitalis dan seratus miliader bermekaran. Internet lahir dan tak lama kemudian internet kecepatan tinggi datang. Amazon.com menciptakan e-commerce. Disusul facebook. Pembaharuan, kesalingterhubungan dalam dunia digital kemudian dengan cepat meninggalkan kerangka cara berpikir lama.

Bagi entrepreneur, perubahan ini tidak bisa diabaikan. Perubahan nilai, tumbuhnya kapitalisme, keberhasilan entrepreneur, akses global untuk berkomunikasi dan munculnya internet yang jika dikombinasikan akan berarti bahwa seorang penjaga toko di sebuah tempat bisa mempromosikan dan menjual produknya di tempat lain dengan cara melakukan perdagangan online (e-commerce) atau memasarkan melalui facebook, atau yang lainnya.

Perubahan-perubahan di atas menyebabkan batasan-batasan lama yang menjadi penghalang bagi berkembangnya sebuah usaha menjadi tidak begitu penting.

Dan fakta kita semua saling terhubung ke seluruh dunia dengan sesuatu yang sederhana, seperti ponsel yang setiap saat ada di saku kita – berarti bahwa setiap saat kita membutuhkan informasi apapun maka kita bisa mengaksesnya setiap waktu, setiap saat, sekarang dan saat ini juga.

Dan bagi seorang entrepreneur, batasan geografis, tempat, dan lain-lain yang dahulu menjadi kendala tidak lagi ada. Perkembangan teknologi membantu mereka untuk menjual produknya ke pelanggan di berbagai belahan dunia lainnya.

This is what we mean by hello entrepreneurs, good bye borders.

Bagi saya, selain penting menumbuhkan kewirausahaan di dalam negeri juga utama bagi mereka mengenal teknologi. Teknologi akan membantu wirausaha untuk memperoleh target pasar yang lebih luas, efisiensi waktu dan tempat serta memiliki kemampuan berkompetisi dengan para wirausaha di luar sana.

Diadaptasi dari “Hello Entrpreneur, Good bye borders”, dengan judul buku “Planet Entrepreneur. Business Success Around The World.”