Purwokerto

Erlangga 3 Comments »

Purwokerto adalah kota kedua yang saya kunjungi masih dalam rangka road show. Perjalanan kali ini tidak menggunakan pesawat, jadi pilihannya adalah kereta api. Berangkat dari Gambir jam 5 sore dan sampai stasiun Purwokerto jam 10.10. Sampai di Purwokerto sudah dijemput oleh Bapak Sulis dan Bapak Sigit dari Erlangga. Sudah malam tentu saja dan mereka masih juga menawarkan makan malam. Saya menolak dan mereka kembali menawarkan snack :). Terima kasih ya Pak Sulis dan pak Sigit.

pwkt.jpg pohon.jpg

Pagi hari bersiap-siap dan sekaligus check out, karena saya akan langsung kembali ke Jakarta. Saya dijemput tim erlangga jam 7.30, mampir sebentar ke kantor erlangga di Purwokerto. Hm, kantor baru. Perjalanan diteruskan menuju lokasi seminar diadakan. Letaknya di kedungbanteng, sebuah kecamatan di kabupaten Banyumas. Seminar kali ini mengambil tema “Pengembangan Pembelajaran dengan Multimedia”, dihadiri oleh sekitar 290 (atau lebih ya?) guru TK dan SD. Berbeda seperti ketika di Sragen, kali ini saya bukanlah satu-satunya nara sumber. Panitia untuk acara ini PKG UPK. Ada 3 nara sumber, dari kepala UPK dan pengawas SMP. Acara dijadwalkan dari jam 8 sampai jam 13.00. Tapi ternyata mulur, baru mulai jam 9. Sejatinya, masing-masing nara sumber diberi waktu 2 jam. Saya dijadwalkan jam 11 sampai jam 12.

imgp5318.JPG friend.jpg
(2) Bersama tim Erlangga Purwokerto (Pak Sigit, bapak Jefry, dan bapak Sulis serta guru-guru dari kecamatan kedungbanteng)).

Sepertinya, penyaji pertama dan kedua senang nih :), Beliau tidak menyadari waktu yang telah ditetapkan. Asyik dengan bahan presentasi-nya. Pada saat yang bersamaan, ada sms masuk dan mengabarkan jadwal keberangkatan kereta dari Purwokerto ke Jakarta tersedia jam 1 dan 8 malam. Tidak mungkin jam 8, karena sampai di Jakarta menjelang pagi dan saya pun harus mengajar. Jam 1 lebih masuk akal karena saya selesai jam 12. Oke, saya ambil jam 1.

Saya mengabarkan kepada panitia bahwa saya akan naik kereta jam 1. Salah seorang dari mereka mengatakan, seharusnya saya diplot untuk bagian kedua, bukan ketiga. Hmm. Selanjutnya, panitia memberikan pesan tertulis kepada moderator untuk mengingatkan penyaji akan waktu. Moderator terlihat ragu-ragu menegur penyaji, nggak enak hati kali :). Akhirnya, pesan tersampaikan. Apakah Beliau langsung menutup presentasi-nya? Belum, sedikit lagi :).

Sampai bagian saya, hemm, mau ngomong apa ya? Kok serasa linglung begini? :). Ok, lembar presentasi sudah dijalankan dan saya memilih untuk berdiri dan berjalan mendekati audience. Jangan-jangan saya bisa tidur kalau harus ngomong terus sambil duduk manis di depan :). Sambil mata tidak lepas dari menatap jam yang ada di pintu masuk ruangan saya memberikan pemaparan secara singkat. Saya bicara terlalu cepat? Hehehe, tanyakanlah pada rekan-rekan di sragen :). Ok, pelan-pelan.

Terima kasih buat tim erlangga Purwokerto serta rekan-rekan guru dari Purwokerto.  Oh ya, Asmen dari Purwokerto, bapak Iwan, sedang sakit, sehingga Beliau tidak bisa menghadiri acara ini. Semoga cepat sembuh ya, Pak.

Btw, bahan presentasi di atas akan saya upload di slide share. Saya juga memperlihatkan contoh pembelajaran sederhana yang dapat dibuat dengan program presentasi. Oh ‘ya, Anda juga dapat mengunduhnya di sini. Itu hanya contoh saja ya, saya memang tidak sempat mengemasnya dalam bentuk yang lebih menarik. Tapi, mudah-mudahan masih layak guna :).

Di sesi tanya jawab, ada pertanyaan yang diajukan kepada saya, seperti ini:

Jika sekolah memberikan pengajaran dengan multimedia tapi karena di sini kan banyak yang tidak mempunyai komputer di rumahnya, terus bagaimana mereka bisa belajar? Nah, bagaimana menyiasati kondisi yang seperti ini?

Saya coba menjawab. Komputer dengan sarana multimedia hanyalah sebagai alat bantu. Multimedia digunakan untuk membantu anak memahami pelajaran yang sulit atau abstrak. Sebagai misal, anak belajar tentang luas persegi panjang. Jika guru hanya menerangkan dengan ceramah, anak mungkin akan kesulitan membayangkannya. Namun jika dibantu dengan multimedia, anak akan lebih mudah menangkap apalagi jika diselingi dengan permainan. Lantas, apa yang dia pelajari di rumah? Bukan multimedia-nya tapi konsep menghitung luas persegi panjang itulah yang terekam dalam otaknya. Sehingga diharapkan anak dapat menyelesaikan masalah atau pelajaran yang dia dapat dari sekolah.

Menyambung Pertanyaan

Pendidikan 1 Comment »

Menyambung pertanyaan yang belum terjawab.

Bagaimana strategi mengajar komputer kepada anak dengan jumlah komputer yang terbatas. Cerita lengkapnya seperti ini.
Bapak guru ini di sekolahnya mempunyai 8 komputer dengan 40 siswa. Jadi, ketika pelajaran komputer, siswa dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama, praktik, dan yang lainnya teori. Namun kendalanya adalah ketika Beliau mengajarkan praktik maka anak-anak yang mengerjakan teori ribut. Pun sebaliknya.

Ada beberapa alternatif yang bisa diterapkan. Pertama, coba lakukan koordinasi dengan rekan guru bidang studi lain apakah memungkinkan untuk bekerjasama. Saya pernah melihat sekolah dengan situasi yang seperti Bapak alami. Jadi, jam pertama ketika sebagian anak masuk ke lab komputer sebagian lainnya belajar art & creativity. Atau pelajaran lainnya. Memang pada akhirnya anak-anak hanya mendapatkan 1 jam pelajaran komputer. Namun itu lebih baik menurut saya.

Kedua, apakah ketika Bapak mengajar, Bapak tidak didampingi oleh seorang asisten, misalnya? Jika Bapak mengajar sendirian memang agak repot dengan situasi yang demikian. Hm, bagaimana jika kelompok anak-anak yang diberi teori diminta untuk menuliskan atau menggambarkan sebuah proyek yang akan mereka buat di komputer nanti. Jadi, semacam sketsa dasar saja. Sehingga ketika di depan komputer mereka sudah tau apa yang harus dilakukan. Untuk anak yang praktik, tak apa dilakukan secara spontanitas. Untuk melatih kreativitas mereka juga. Sebisa mungkin, baik kelompok yang praktik terlebih dahulu atau yang mendapatkan teori, dibuat bergantian masuknya setiap minggu.

Yang lainnya mungkin Bapak bisa menyiapkan semacam bingo atau bahan latihan yang berupa permainan sekaligus bahan evaluasi untuk mereka. Bisa berupa gambar-gambar perangkat komputer yang harus diberi nama. Dan lain sebagainya.

Apalagi ya, Pak? Sementara ini baru itu yang terlintas oleh saya. Insya Allah, kalau ada yang lainnya saya tulis di sini kelak. Oh ya, dua yang di atas itu sudah terjawab kemarin ya? :) Semoga sukses, Pak.

Mengenai permintaan silabus dan RPP TIK SD. Silabus bisa diunduh dari site ini juga di halaman erlangga. Untuk RPP maaf saya belum sempat mengerjakannya. KBK dan KTSP bisa dibaca dari beberapa tulisan saya sebelumnya yang membahas mengenai hal ini.

Setiap Anak Cerdas

Pendidikan No Comments »

“Berapa banyak pemikir dan jiwa kreatif yang disia-siakan, berapa banyak kekuatan otak yang terbuang percuma karena pandangan kuno dan picik kita tentang otak dan pendidikan” - Jeans Houston, The Possible Human.

Itulah kutipan awal dari buku “Setiap Anak Cerdas” karangan Thomas Armstrong.

Dulu, orang selalu melihat kecerdasan sebagai sesuatu yang dibawa sejak lahir dan tidak pernah berubah sepanjang kehidupan seseorang. Sehingga, ketika seorang anak mendapatkan nilai jelek atau pun hasil IQ yang biasa saja maka sejak saat itulah label “tidak mampu” menempel pada diri anak tersebut. Beruntunglah anggapan yang keliru itu tidak berlarut-larut. Howard Gardner, seorang psikolog Harvard, menemukan model kecerdasan baru yang telah diakui oleh dunia. Dengan Teori multiple intelligence-nya, Gardner memberikan landasan yang kuat untuk delapan jenis kecerdasan di dalam diri setiap anak.

Kecerdasan itu sendiri menurut gardner dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk memecahkan masalah dan menciptakan produk yang mempunyai nilai budaya.

Delapan kecerdasan itu sendiri adalah linguistik, logis-matematis, spasial, kinestetik-jasmani, musikal, antarpribadi, intrapribadi, dan naturalis. Untuk penjelasannya saya yakin sudah banyak sumber yang menuliskan tentang multiple intelligence.

Menurut Anda sudahkah metode pengajaran kita di sekolah dapat menampung delapan kecerdasan di atas? Ataukah selama ini saya atau Anda ketika mengajar hanya untuk mengejar sebuah nilai? Nilai yang harus dipenuhi anak agar mereka lulus. Sehingga keberhasilan mereka pun dapat mengangkat nama institusi pendidikan dimana mereka belajar? Hanya sampai itukah?

Menulis ini karena sedang lieur melihat nilai teori anak-anak yang anjlok, walaupun secara praktik saya bisa mengukur kemajuan yang mereka dapat. Setidaknya itu cukup menghibur hati. Dan karena saya yakin mereka pun sama cerdasnya dengan anak-anak lain. Sayangnya, kepercayaan diri mereka telah lebih dahulu hancur oleh karena status sekolah yang terlanjur melekat. Kenapa sih harus ada sistem ranking?

Poster

Materi TIK No Comments »

Ini dia pemenang lomba poster untuk tingkat SMP yang diadakan di sekolah tempat saya mengajar semester lalu. Lomba ini diadakan untuk memeriahkan acara ulang tahun sekolah.

Tema : Global warming

Program: Adobe Photoshop

smp-madina-razanah-mahdi-m-copy.jpg Razanah, dari SMP Madina. Tebet.

Pengembangan Pembelajaran dengan Multimedia

Erlangga No Comments »

Judul di atas adalah bahan presentasi yang saya harus siapkan untuk minggu depan. Belum sepenuhnya selesai, baru coretan saja. Hm, bagaimana kalau kita ambil salah satu contoh dari internet? Seperti di bawah ini.

Pembelajaran TIK

Pendidikan 14 Comments »

Beberapa pertanyaan yang muncul pada acara road show kemarin, diantaranya:

  1. Adakah batasan-batasan materi untuk mengajarkan komputer kepada anak (materi atau program maksudnya ya?)
  2. Mempertanyakan kedangkalan materi dari buku dengan kurikulum 2004
  3. Strategi mengajar komputer kepada anak dengan jumlah komputer yang terbatas
  4. Silabus dan RPP dari buku TIK SD
  5. KBK dan KTSP

Saya coba menuliskannya kembali di sini. Biar tidak bosan bacanya saya bagi menjadi beberapa tulisan ya :)

Apakah ada batasan materi untuk mengajarkan komputer kepada anak? Saya lebih memilih untuk menjawab tidak. Tapi tidak nya dengan tanda kutip :). Di Jakarta banyak saya temui sekolah dasar yang memberikan program-program yang sejatinya baru diajarkan di sekolah menengah pertama (sesuai KBK). Contoh, program grafis seperti corel dan photoshop mengikuti KBK baru diajarkan di SMP tapi beberapa sekolah dasar sudah mengenalkan dan memberikan materi ini kepada siswa mereka. Salahkah? Tidak, jika Anda yakin murid Anda sudah bisa mengikuti, tidak semata-mata mengikuti ambisi kita.

Apakah langsung belajar photoshop dan kemudian mengacuhkan program standar lainnya? Walaupun tidak ada kaitannya belajar photoshop dengan belajar program office, tapi saya memilih untuk mengenalkan dan mengajarkan program standar tersebut terlebih dahulu. Kalau kita perhatikan beberapa pengenalan ikon dan menu baik yang ada di program pengolah kata atau pengolah angka, semuanya rata-rata mempunyai kegunaan yang sama. Cukupkah anak bisa membuat wordart? Dapatkah mereka membuat kreasi dari ikon wordart dan ikon-ikon lainnya yang telah mereka pelajari? Mengapa tidak mencoba membuat sebuah produk atau proyek ketrampilan mungkin? Bukankah akan menyenangkan jika mereka mengetahui bahwa dengan komputer ternyata mereka bisa membuat apa saja. Tidak sekedar mengetik, misalnya. Menurut saya, banyak sekali yang bisa di eksplorasi dari hanya sebuah program. Dan ketika murid Anda sudah akrab dengan fitur-fitur yang ada dalam sebuah program maka mereka akan dengan mudah menyesuaikan untuk mempelajari program aplikasi lainnya. Jadi, untuk pertanyaan pertama, saya akan jawab dengan tidak sebatas Anda meyakini bahwa anak didik Anda mampu untuk belajar lebih jauh lagi.

Mungkin saya bisa cerita sedikit mengenai anak didik saya saat ini. Semester ini saya mengajar di sebuah sekolah negeri. Sebagian besar dari mereka tidak mempunyai komputer dan bisa jadi baru mengenal dan menggunakan komputer untuk pertama kali. Program yang harus saya ajarkan kepada mereka adalah Swish, program animasi. Sampai pertemuan ke-2 saya merasa begitu gagal. Saya tidak bisa melanjutkan program ini, murid-murid saya setidaknya harus mempunyai bekal untuk bisa menggambar terlebih dahulu di komputer. Saya biasakan mereka untuk menggambar dahulu, membiasakan mereka berakrab dengan mouse dan keyboard. Saya pilih mengajarkan Paint terlebih dahulu. Saya minta mereka menggambar dengan menggunakan fitur-fitur seleksi, copy, paste, pencil, brush, transparent background, dst. Saya juga suka mengajak mereka untuk membayangkan detil-detil penggambaran dari sebuah objek. Nah, di bagian ini seru aja melihat wajah-wajah mereka :). Selain melatih daya imajinasi saya ingin mereka sedikit kreatif. Tak ‘apa kan? :) Btw, gambar mereka sekarang bagus-bagus lho.

Untuk pertanyaan kedua, kedangkalan materi dari buku TIK SD. Hm, mungkin memang dangkal. Tapi apa yang ada di buku TIK itu hanyalah acuan standar. Jadi, kalau bisa lebih tentu lebih baik, sekali lagi sesuaikan dengan kemampuan anak didik Anda. Kedangkalan materi bisa disamarkan dengan cara pengajaran yang menyenangkan, bukan? Contohnya? Padukan dengan tema dan pengajaran bidang studi lainnya. Kalau perlu selingi dengan permainan. Hei, bukankah dunia anak dunia bermain? :)

Jadi, untuk apa anak belajar komputer? Komputer melatih anak ber-nalar (bahasanya kok aneh gini ya? ;-)). Dan tugas guru komputer mengajarkan kepada anak bahwa komputer bisa membantu mereka untuk hal-hal lain, seperti membuat puisi, membuat cerita, dan yang utama membantu mereka dalam belajar.

Pertanyaan ke-3 dan ke-4 saya jawab di tulisan yang berikutnya ya. Buat rekan-rekan guru lain, bisa tolong di share ide-nya? Tentu akan lebih baik mempunyai banyak masukan dibanding hanya dari satu orang yang sok tau kaya saya ya? hehehe.

Blogger Guru

Pendidikan 9 Comments »

Rekan guru, bersiap-siap lah untuk menyambut pesta blogger bulan Oktober nanti. Masih ingat harapan yang diajukan Pak Cahyana di pesta blogger tahun lalu?

“Dari satu juta blogger itu, Pak Cahyana berharap akan ada banyak blogger yang berprofesi sebagai guru. Para guru, Cahyana berharap, dapat meng-upload bahan ajaran di blog mereka sehingga dapat dibaca oleh setiap orang dan bukan hanya muridnya.”

Nah, rekan guru, apa yang Anda persiapkan untuk menyambut pesta blogger tahun ini? :)

Skenario Pembelajaran TIK

Pendidikan 2 Comments »

Dari berbagai sumber dikatakan bahwa ada 3 skenario pembelajaran TIK.

  1. Sebagai objek pembelajaran
  2. Sebagai alat pembelajaran
  3. Sebagai media pembelajaran

Pengajaran TIK kita ada di level manakah? Hm, saya sih penginnya menyatakan kalau kita sedang menyiapkan diri menuju ke skenario pembelajaran ketiga, atau kedua? Mungkin tidak seperti malaysia dengan konsep sekolah Bestari-nya, tapi dukungan pemerintah dengan proyek jardiknas dan geliat pendidikan TIK di kota-kota kecil memberikan keyakinan bahwa telah tumbuh kesadaran dari masyarakat akan pentingnya peranan TIK dalam menunjang kemajuan pendidikan. Bagaimana menurut pendapat rekan-rekan?

Oleh-oleh dari Sragen

Erlangga 10 Comments »

Alhamdulillah perjalanan ke Sragen berjalan lancar. Sampai di Solo saya dijemput oleh asisten manajer erlangga sragen. Mampir di kantor erlangga sebentar untuk kemudian meneruskan perjalanan. Kira-kira 1 jam kemudian kami tiba di kantor Sragen. Di sana telah menunggu rekan-rekan lain. Ngobrol-ngobrol sebentar untuk acara esok hari. Selanjutnya mengantarkan saya ke penginapan. Malam itu saya nggak bisa tidur, wah, padahal besok musti presentasi.

sragen1.jpg palma.jpg k-erla.jpg

Keterangan gambar:

  1. Rumah dinas bupati Sragen
  2. Tempat saya menginap (Sejuk, karena kiri kanan hotel dikelilingi oleh hamparan sawah yang luas)
  3. Kantor Erlangga Sragen

Pagi-pagi saya sudah dijemput oleh Pak Nandar, asmen erla sragen. Menuju tempat pertemuan perasaan saya nggak karuan, campur aduk dengan badan yang rasanya melayang, karena kurang tidur. Peserta terdiri dari Bapak dan Ibu guru serta kepala sekolah sejumlah 100 orang. Setelah beberapa kata sambutan, akhirnya tibalah saat saya harus memberikan presentasi. Hm, apa yang saya presentasikan? Saya memperlihatkan beberapa skenario pembelajaran serta pendekatan erlangga dalam pembelajaran TIK untuk anak sekolah dasar. Ada juga contoh-contoh beberapa proyek ketrampilan dan hasil karya dari beberapa anak didik saya. Selebihnya cerita mengalir seputar pengalaman mengajar TIK untuk anak-anak.

Ada kejadian yang lucu juga, yaitu ketika sebelumnya saya menanyakan kepada mereka apa yang dilakukan guru komputer jika listrik mati. Sebagian besar dari mereka memberikan teori. Nah, apa yang saya lakukan jika listrik mati? Jawaban saya adalah membuat permainan, bernyanyi, atau mengajak anak membuat kreasi,misalnya dengan origami. Well, tahukah apa yang terjadi selanjutnya? Tak berapa lama listrik padam. Saya sudah menduga apa yang terjadi berikutnya. Benar saja, tak lama ramailah mereka menagih teori saya tadi. Saya mengiyakan permintaan untuk memberikan permainan. Dan jadilah, saat itu ruangan ramai. Ternyata, anak-anak dan orang tua sama antusiasnya kalau disuruh main ya :D.

Jam 13.00 acara selesai. Karena adanya permintaan langsung dari sebuah sekolah, maka saya bersama tim erlangga datang berkunjung ke sekolah tersebut. Kepala sekolah ingin saya mensimulasikan pembelajaran TIK dengan murid-murid mereka. Dan selanjutnya bersosialisasi dengan rekan-rekan pengajar di sana. Kira-kira setengah jam saya mengajar TIK. Entah bagaimana, ya kok bisa ada kejadian salah satu anak di kelas itu menangis karena diganggu kawannya. Jadilah, saya berganti peran dulu untuk menenangkan peristiwa itu. Tanpa saya sadari, saya sudah larut dalam suasana mengajar beneran dan sedikit lupa kalau di ruangan itu ada kepsek, guru, dan tim erlangga yang menyaksikan kejadian tersebut :). Setelahnya, kami bersama-sama share pengalaman mengajar selama ini. Kalau dipikir-pikir dari pelatihan hari itu pertanyaannya lebih banyak mengarah kepada metode pengajaran TIK. Wah, saya bukan konsultan metode pengajaran lho hanya berbagi pengalaman mengajar saja. Jam 15.30 acara berakhir. Saya sudah niatkan bobo begitu sampai di hotel.

Yang terjadi adalah, setelah mandi dan leyeh-leyeh sebentar saya putuskan jalan-jalan, ceritanya mau cari sandal karena sepatu jebol dan mau berfoto-foto juga :). Nndilallah :), belum lama jalan hujan pun mengguyur kota kecil yang bersih ini. Sambil menuju jalan pulang, saya bersama bapak yang becaknya aku tumpangi sebentar-sebentar berhenti untuk mengabadikan kota yang rapih dan bersih dari sampah itu. Heran aku, kemana sampah-sampah itu dibuang ya? Jalanannya pun mulus. Ada lagi, setiap ada sekolah maka di trotoar diberi warna yang menyatakan wilayah itu adalah zona aman untuk anak-anak, maka diharapkan berhati-hati. Kalau kata rekan di erla, misalkan terjadi kecelakaan di area itu maka denda dan hukumannya bisa dua kali lipat. Kalau di Jakarta dan Bandung senangnya dibikin polisi tidur tapi ngebut ya tetap aja.

Hari kedua, praktik komputer di dua tempat. Jadilah saya bergantian di dua tempat itu. Untunglah sebelum pingsan ;-), diputuskan agar saya kembali memberikan pelatihan untuk guru-guru sedangkan untuk kepala sekolah ditangani oleh tim Erlangga sendiri.

Ini adalah pengalaman pertama saya mengikuti road show dari erlangga. Senang rasanya bisa bertemu dan saling berbagi dengan rekan-rekan guru di Sragen. Saya juga senang mempunyai teman dan sahabat-sahabat baru di erlangga sragen yang sangat mensupport saya selama di sana. Terima kasih buat semua perhatiannya. Mudah-mudahan saya tidak mengecewakan kawan-kawan semua. Dan mudah-mudahan penjualan bukunya juga sukses, Amin.

erla-sragen.jpg erla-sragen2.jpg imgp5303.jpg

Bersama tim Erlangga Sragen (Bapak Nandar, pak Nana, Mbak Ning, Mas Nanu, Mas Ahmad, Mas Selamet,  Bapak Harry, Mas Rosyid, Pak Jojo).

Road Show Pertama

Erlangga 5 Comments »

Sragen, sebuah kabupaten di provinsi Jawa Tengah. Ada apa dengan Sragen? Hm, minggu lalu koordinator editor dari penerbit mengabari saya untuk menjadi nara sumber untuk pembelajaran TIK di kota yang terletak di jalur utama Solo-Surabaya ini. Insya Allah, besok sore saya berangkat dengan penerbangan Lion Air ke Solo. Rencananya dari sana saya dijemput oleh staf erlangga cabang semarang untuk kemudian bersama-sama menuju sragen. Acaranya sendiri dari tanggal 13 dan 14 di dua tempat yang berbeda walaupun masih satu kabupaten.

Doakan saya ya teman-teman.

WP Theme & Icons by N.Design Studio
Entries RSS Comments RSS Log in