Belajar Tiada Henti

Belajar Berpikir Kritis dan Algoritma dari Film The Martian

The Martian adalah salah satu film kegemaran saya. Film ini sering saya ceritakan kepada murid-murid ketika memberi contoh makna cerdas, berpikir kritis dan menggunakan algoritma di dalam kehidupan sehari-hari.

The Martian bercerita tentang seorang astronaut yang berjuang untuk bertahan hidup di Mars. Si tokoh, Watney, adalah seorang ahli botani yang turut dalam program NASA yang dinamai dengan Ares. Ketika sedang melakukan operasi permukaan, Mars diterjang badai pasir. Watney terlempar dan terpisah dari teman-temannya. Ia kemudian diduga tewas dan hilang di Mars. Namun sesungguhnya, Watney masih hidup. Sendirian berada di tempat yang ekstrim dan kemungkinan untuk bertahan hidup tinggal menghitung hari adalah kenyataan yang tak mudah untuk dihadapi. Tetapi astronaut kita ini bukanlah orang yang mudah putus asa. Watney mulai membuat daftar yang berisi urutan langkah-langkah kegiatan yang harus ia lakukan untuk misi penyelamatan dirinya.

Untuk hidup manusia membutuhkan makan. Watney mulai memeriksa semua persediaan pangan yang ia miliki. Ia menghitung dengan cermat pasokan pangan yang ada. Selanjutnya, bagaimana jika persediaan makanan yang ia miliki habis? Ia tidak bisa bergantung kepada bekal makanan yang dibawanya dari bumi. Maka, Watney harus bercocok tanam untuk mempersiapkan kebutuhan pangan. Jangan lupa Watney adalah seorang ahli botani. Ia tahu bahwa untuk bertanam diperlukan tanah yang subur dan benih serta air untuk menghidupi tumbuhan tersebut. Tanah di Mars tidak memungkinkan untuk ditanami. Watney ingat bahwa di pesawatnya terdapat kantong pup milik ia dan kawan-kawan. Ia lalu mengolah pup dan tanah di Mars untuk menghasilkan tanah yang subur. Bagaimana memperoleh benih tanaman pangan? Watney dibekali banyak kentang sebagai menu makanan para astronaut. Ia akan memotong sedikit bagian dari kentang untuk dijadikan benih tanaman. Oke, tanah sudah ada, demikian juga benih. Air. Bagaimana dengan air? Watney ingat ekor pesawat mengandung hidrogen. Melalui proses kimia maka ia menyulap hidrogen menjadi air. Permasalahan untuk persediaan pangan untuk sementara bisa diatasi.

Bagaimana selanjutnya? Watney tak mungkin berdiam diri saja, bukan? Ia harus memberitahu kawan-kawannya di bumi bahwa ia selamat. Dengan demikian maka kawan-kawannya dapat melakukan misi menyelamatkan dirinya dan membawa ia kembali ke bumi. Peralatan komunikasi yang ada tidak berfungsi. Watney mencari cara untuk berhubungan dengan mereka menggunakan bahasa mesin 0 dan 1 atau yang disebut dengan bilangan biner memanfaatkan satelit panel surya. Sinyal yang diberikan Watney ternyata terlacak oleh seorang crew di bumi. Singkat cerita, Watney selamat dan kembali ke bumi berkumpul bersama keluarga dan kawan-kawannya :).

Mari kita amati pelajaran-pelajaran dan pesan moral dari film ini.
Tidak diragukan Watney adalah tokoh yang tidak sekedar pintar namun juga cerdas. Apa itu cerdas? Watney menggunakan semua ilmu pengetahuan yang ia miliki untuk memecahkan masalah yang ia hadapi. Ia juga selalu memikirkan dan mempertanyakan setiap tindakan yang akan ia lakukan. Nah, ini contoh berpikir kritis. Seseorang yang terbiasa berpikir kritis akan mempertimbangkan setiap tindakan yang akan ia ambil dengan tanpa merugikan orang lain. Dan tentu saja algoritma. Watney membuat urutan langkah-langkah yang akan ia lakukan untuk bertahan hidup dan dapat kembali ke bumi. Selain itu, alih-alih merasa putus asa kecewa dan depresi yang bisa berakibat turunnya kekebalan tubuh, Watney memilih untuk bahagia. Ia menonton film-film lucu, mengobrol dengan dirinya sendiri di depan cermin dan melakukan hal-hal yang menyenangkan :). Terbukti, ia mampu bertahan dan kembali ke bumi dengan selamat.

Walaupun hanya film, tapi pembelajaran yang ada pada film ini bisa berlaku di banyak situasi loh.
Dari film ini kita belajar bahwa tidak ada pelajaran yang sia-sia. Seseorang yang cerdas dapat menggunakan semua ilmu pengetahuan yang ia miliki untuk membantunya memecahkan masalah. Jadi, jangan pernah meremehkan pelajaran apapun.

Jangan pula merasa cukup dengan pintar. Karena pintar saja tidak cukup. Kita perlu cerdas dan terkadang juga perlu “lucu” (memiliki sisi humoris) agar kehidupan kita menjadi lebih baik dan seimbang.

Untuk review buku The Martian, saya pernah menuliskannya di sini.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.