Pembelajaran Kreatif dengan ICT

Sabtu kemarin saya mengikuti workshop yang diadakan oleh Lembaga, tempat saya mengajar.  Saya cukup surprise mengetahui yang menjadi nara sumber adalah kawan blogger saya, Pak Agus Sampurno. Dan saya tahu, Beliau adalah orang yang sangat mumpuni di bidangnya. Jadi, tentu saja saya berusaha datang ke workshop ini.

Sebelum memulai pelatihan yang dihadiri oleh rekan-rekan guru, Pak Agus menerapkan metode tepuk tangan dan yel-yel yang akan digunakan setiap kali Pak Agus meminta perhatian kepada peserta workshop. Bisa dimaklumi, walaupun profesi sehari-hari mereka adalah guru, tetap saja jiwa kanak-kanak dan bandel merajalela. Kadang ngobrol dan asyik dengan pekerjaannya sendiri. Duh, maaf ya Pak, memang bukan main terlalu kreatif-nya guru-guru ini ;-).

Sesi pertama diisi oleh permainan yang disebut dengan Buddy Hunting. Nah, menarik nih. Di permainan ini, setiap orang ditempeli sebuah kertas di punggungnya. Selanjutnya, setiap orang harus menuliskan sifat atau karakter teman yang bersangkutan. Jadilah, kami berputar dan berkeliling untuk meminta setiap rekan menuliskan kesan mereka terhadap kita. Fun? Yup, tentu saja. Karena berikutnya, kami semua dapat membaca kesan orang lain terhadap kita. Memang sih, karena gurunya bandel-bandel, ada saja yang komentarnya aneh-aneh.  Tapi intinya kita belajar untuk mengenali diri dan memahami bagaimana orang lain memandang kita.

Kedua, setiap kelompok diminta untuk berdiskusi tentang Apa gunanya Belajar.  Dari kelompok saya merumuskan bahwa pelajaran yang dahulu kita peroleh di sekolah membantu kita untuk: belajar budi pekerti dan nilai-nilai moral seperti perbedaan. Bagaimana kita menghargai sebuah perbedaan dalam bermasyarakat. Belajar juga membantu kita untuk membuka wawasan sehingga memunculkan keinginan untuk terus belajar.  Dan terakhir, belajar membantu kita dalam menjalani berbagai masalah dalam kehidupan. Misalnya, untuk mencegah banjir, kita tahu bahwa kita harus membuang sampah pada tempatnya, dan lain-lain. Kelompok lain pun diminta untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya.

Sayang saya tidak membuat catatan urutan workshop karena terfokus pada isi workshop itu sendiri jadi saya tidak bisa menuliskannya dengan runut. Namun  akan saya coba tuliskan dengan mengandalkan ingatan.

Berikutnya, setiap kelompok diminta untuk menggambar sosok guru yang ceria, semangat dan penuh optimis. Kami juga harus menuliskan karakter guru tersebut. Gambar kemudian ditempel di papan. Masing-masing dari kami harus memberikan komentar pada gambar-gambar yang ada.

Selanjutnya, kami diberi permainan Y (Duh, lupa namanya). Masing-masing mewakili gambar hati, mata, dan telinga. Simbol-simbol itu sebenarnya mempunyai arti. Kelompok saya misalnya, mengartikan bahwa seorang guru dapat mengajar dengan baik jika perasaannya: nyaman, ceria, optimis, semangat. Dan mata mewakili penglihatan. Kegiatan Belajar Mengajar akan optimal jika: ruangan bersih, sirkulasi udara cukup, tata letak yang baik, penerangan memadai, dan lain-lain. Dan telinga mewakili pendengaran. Belajar akan nyaman jika ruangan tidak terdistorsi oleh suara-suara dari luar dan suara pengajar tidak monoton. Kemudian kertas-kertas itu ditempel di papan. Dan setiap kelompok dipersilakan untuk membaca pendapat dari kelompok lainnya.

Ada juga tayangan video yang berisi beberapa metode dalam pembelajaran. Di antaranya metode sign language, bahasa tubuh yang dapat digunakan guru dan anak di kelas. Ini dicontohkan juga dalam permainan ketika Pak Agus meminta kami semua harus berbaris secara urut dari tanggal 1 januari sampai 31 desember. Kami tidak boleh menggunakan suara tapi cukup menggunakan bahasa tubuh untuk mencari tahu informasi teman yang bersangkutan. yang kedua metode handshake language, berjabat tangan. Di video diperlihatkan seorang guru yang menjabat tangan muridnya dan memberikan pertanyaan kepada setiap anak yang akan masuk ke dalam kelas. Jika anak tersebut tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan maka si anak akan mundur kembali ke barisan. Ketiga, metode berhitung. Guru akan melakukan hitungan untuk mendiamkan kelas. Contoh, guru akan menghitung 1 sampai 10. Di antara hitungan, jika ada anak yang masih ribut maka ia akan menyebut anak itu dalm hitungannya, misal: 3, arif, itu dimaksudkan untuk mengingatkan si anak. keempat, ada metode fish bowl.

Terakhir kami diminta membuat aturan kelas. Aturan kelas ini dibuat berdasarkan kesepakatan antara guru dan murid. Oya, saya ingin mengutip kesepakatan yang dibuat satu sekolah Sherida Hills.

“Think safety, Be respectful of ourselves and others, Be respectful of everything around us, and always do our best.”

Pelajaran singkat yang saya peroleh dari pelatihan ini adalah: bahwa untuk menjadi seorang guru yang baik, Anda harus senantiasa terbuka terhadap ide-ide baru. Belajar sepanjang hayat dan tidak lupa, memberikan apa yang siswa kita butuhkan untuk kehidupan mereka yang akan datang.

Terima kasih untuk Pak Agus yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk berbagi ilmu kepada kami. Sangat berguna dan bermanfaat. Semoga kami dapat menerapkan ilmu yang telah Bapak berikan di sekolah kami masing-masing. Sampai jumpa di pertemuan berikutnya Pak :), Insya Allah.

5 thoughts on “Pembelajaran Kreatif dengan ICT

  1. tanks info nya, membuat saya lebih semangat dan termovivasi dalam memperaktekan model-model pembelajaran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *