Menyambung Pertanyaan

Pendidikan 1 Comment »

Menyambung pertanyaan yang belum terjawab.

Bagaimana strategi mengajar komputer kepada anak dengan jumlah komputer yang terbatas. Cerita lengkapnya seperti ini.
Bapak guru ini di sekolahnya mempunyai 8 komputer dengan 40 siswa. Jadi, ketika pelajaran komputer, siswa dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama, praktik, dan yang lainnya teori. Namun kendalanya adalah ketika Beliau mengajarkan praktik maka anak-anak yang mengerjakan teori ribut. Pun sebaliknya.

Ada beberapa alternatif yang bisa diterapkan. Pertama, coba lakukan koordinasi dengan rekan guru bidang studi lain apakah memungkinkan untuk bekerjasama. Saya pernah melihat sekolah dengan situasi yang seperti Bapak alami. Jadi, jam pertama ketika sebagian anak masuk ke lab komputer sebagian lainnya belajar art & creativity. Atau pelajaran lainnya. Memang pada akhirnya anak-anak hanya mendapatkan 1 jam pelajaran komputer. Namun itu lebih baik menurut saya.

Kedua, apakah ketika Bapak mengajar, Bapak tidak didampingi oleh seorang asisten, misalnya? Jika Bapak mengajar sendirian memang agak repot dengan situasi yang demikian. Hm, bagaimana jika kelompok anak-anak yang diberi teori diminta untuk menuliskan atau menggambarkan sebuah proyek yang akan mereka buat di komputer nanti. Jadi, semacam sketsa dasar saja. Sehingga ketika di depan komputer mereka sudah tau apa yang harus dilakukan. Untuk anak yang praktik, tak apa dilakukan secara spontanitas. Untuk melatih kreativitas mereka juga. Sebisa mungkin, baik kelompok yang praktik terlebih dahulu atau yang mendapatkan teori, dibuat bergantian masuknya setiap minggu.

Yang lainnya mungkin Bapak bisa menyiapkan semacam bingo atau bahan latihan yang berupa permainan sekaligus bahan evaluasi untuk mereka. Bisa berupa gambar-gambar perangkat komputer yang harus diberi nama. Dan lain sebagainya.

Apalagi ya, Pak? Sementara ini baru itu yang terlintas oleh saya. Insya Allah, kalau ada yang lainnya saya tulis di sini kelak. Oh ya, dua yang di atas itu sudah terjawab kemarin ya? :) Semoga sukses, Pak.

Mengenai permintaan silabus dan RPP TIK SD. Silabus bisa diunduh dari site ini juga di halaman erlangga. Untuk RPP maaf saya belum sempat mengerjakannya. KBK dan KTSP bisa dibaca dari beberapa tulisan saya sebelumnya yang membahas mengenai hal ini.

Setiap Anak Cerdas

Pendidikan No Comments »

“Berapa banyak pemikir dan jiwa kreatif yang disia-siakan, berapa banyak kekuatan otak yang terbuang percuma karena pandangan kuno dan picik kita tentang otak dan pendidikan” - Jeans Houston, The Possible Human.

Itulah kutipan awal dari buku “Setiap Anak Cerdas” karangan Thomas Armstrong.

Dulu, orang selalu melihat kecerdasan sebagai sesuatu yang dibawa sejak lahir dan tidak pernah berubah sepanjang kehidupan seseorang. Sehingga, ketika seorang anak mendapatkan nilai jelek atau pun hasil IQ yang biasa saja maka sejak saat itulah label “tidak mampu” menempel pada diri anak tersebut. Beruntunglah anggapan yang keliru itu tidak berlarut-larut. Howard Gardner, seorang psikolog Harvard, menemukan model kecerdasan baru yang telah diakui oleh dunia. Dengan Teori multiple intelligence-nya, Gardner memberikan landasan yang kuat untuk delapan jenis kecerdasan di dalam diri setiap anak.

Kecerdasan itu sendiri menurut gardner dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk memecahkan masalah dan menciptakan produk yang mempunyai nilai budaya.

Delapan kecerdasan itu sendiri adalah linguistik, logis-matematis, spasial, kinestetik-jasmani, musikal, antarpribadi, intrapribadi, dan naturalis. Untuk penjelasannya saya yakin sudah banyak sumber yang menuliskan tentang multiple intelligence.

Menurut Anda sudahkah metode pengajaran kita di sekolah dapat menampung delapan kecerdasan di atas? Ataukah selama ini saya atau Anda ketika mengajar hanya untuk mengejar sebuah nilai? Nilai yang harus dipenuhi anak agar mereka lulus. Sehingga keberhasilan mereka pun dapat mengangkat nama institusi pendidikan dimana mereka belajar? Hanya sampai itukah?

Menulis ini karena sedang lieur melihat nilai teori anak-anak yang anjlok, walaupun secara praktik saya bisa mengukur kemajuan yang mereka dapat. Setidaknya itu cukup menghibur hati. Dan karena saya yakin mereka pun sama cerdasnya dengan anak-anak lain. Sayangnya, kepercayaan diri mereka telah lebih dahulu hancur oleh karena status sekolah yang terlanjur melekat. Kenapa sih harus ada sistem ranking?

WP Theme & Icons by N.Design Studio
Entries RSS Comments RSS Login