Definisi Sukses

Obrolan 9 Comments »

Hari ini saya meminta murid-murid mendefinisikan kata sukses dan menuangkannya dalam sebuah tulisan di program pembuat halaman web. Pada pertemuan sebelumnya, sebagian besar siswa menuliskan kata sukses pada karangan mengenai mimpi dan harapan mereka. ‘Saya ingin menjadi orang yang sukses’, adalah kalimat yang dipilih kebanyakan siswa.

Nah, merujuk dari pernyataan di atas, saya ingin anak-anak ini belajar mengungkapkan perasaan dan pandangan mereka masing-masing. Tentu semua orang ingin sukses, bukan? Dan ukuran kesuksesan atau keberhasilan setiap orang mempunyai parameter yang berbeda pula. Ingin tahu bagaimana anak-anak memandang sebuah kesuksesan untuk diri mereka sendiri? Tadi sempat mengintip ketikan salah satu siswa. Tulisannya seperti ini “Sukses menurut aku kalau aku mempunyai uang yang banyak.” Hmm, apa definisi sukses menurut Anda? :)

Oya, insya Allah akan saya susulkan kutipan dari mereka. Tadi file-nya belum sempat tersimpan nih :).

Televisi dan Pendidikan

Obrolan 18 Comments »

Menurut Anda, seperti apakah tayangan televisi kita sekarang?

Pada era 80-an kita hanya memiliki satu stasiun televisi. TV nya pun masih hitam putih. Tapi saya merasakan beberapa acara televisi pada saat itu cukup bagus. Saya masih ingat cerita anak-anak ACI (Aku Cinta Indonesia), Rumah Masa Depan, Si Unyil, dan Little House On The Prairie. Film kartun yang menarik adalah cerita petualangan kum-kum. Sempat juga ditayangkan film lima sekawan nya Enid Blyton. Dan beberapa film lainnya.  Unyil dan Little House adalah film yang paling saya dan adik-adik tunggu. (Ah ya,saya juga punya buku little house ini :) ). Walaupun pilihan acaranya terbilang tidak banyak, tapi rasanya masih jauh lebih mendidik dibanding acara-acara pada masa ini.

Maaf sebelumnya, tapi saya sangat tidak menyukai sinetron-sinetron di televisi sekarang. Beberapa mungkin ada yang bagus. Saya juga memaklumi kalau sebagian orang menyukai acara-acara seperti ini. Yah, hiburan. Saya tak perduli juga jika yang melihat sinetron yang penuh dengan teriakan dan makian itu orang-orang yang sudah dewasa. Dengan asumsi mereka bisa memilah dan membedakan yang nyata dan khayalan (walau nggak janji juga sih :)). Kenapa? Saya pikir lama-lama pikiran kita juga bisa tercemar sih kalau keseringan melihat hal-hal yang tidak baik. Tanpa sadar otak kita di-intimidasi.

Hampir semua sinetron itu isi ceritanya sama, (tidak hanya para artis nya yang itu-itu saja). Pasti ada orang kaya, orang miskin yang teraniaya, dan seterusnya. Atau cerita seorang profesional muda, lulusan luar (tentu dengan kualitas pendidikan nomor satu).Tapi coba lihat, sikap dan tindak tanduknya tidak sekalipun mencerminkan sebagai orang yang berpendidikan. Oya, saya pernah membahas tentang definisi orang yang berpendidikan dan tidak berpendidikan di sini.

Jadi, apa yang kira-kira bisa ditangkap dari sebagian saja gambaran di atas oleh masyarakat kita? Mungkin ini: Ternyata orang pintar sikap dan tingkah lakunya tidak ada bedanya dengan mereka, yang sering dianggap lebih rendah. Lantas apa istimewanya? Hmmm, lebih baik kamu punya uang banyak. jadi orang kaya. Dengan begitu, kamu bisa berkuasa.

Jadi, darimana anak-anak kita mendapatkan pemikiran bahwa yang penting adalah uang? Anda sudah tahu jawabannya.

Itu baru satu. Perhatikan lagi dampak lainnya. Lambat laun masyarakat kita semakin bodoh. Dan jika kebodohan ini dibiarkan berlangsung terus pada generasi yang akan datang, maka kita tinggal menunggu kehancuran. Kehancuran tidak saja untuk diri sendiri, tapi juga untuk negeri ini.

Heran, apakah atas nama kebebasan berekspresi maka tayangan-tayangan sinetron dan film layar lebar yang tidak layak itu dibiarkan?

Catatan Harian

Pendidikan 15 Comments »

Sambil menunggu seorang rekan melaksanakan shalat jumat, saya luangkan waktu membaca jurnal murid kelas 9. Bulan puasa lalu saya minta anak-anak ini menuliskan harapan dan impian mereka di selembar kertas. Serta upaya apa yang telah mereka lakukan sejauh ini untuk meraih impian tersebut. Langkah ini saya ambil dengan tujuan untuk mengenal mereka lebih dekat. Di sini, saya dan rekan bergantian mengajar setiap 2.5 - 3 bulan. Kalau di awal semester saya kebagian tugas mengajar kelas 8 maka minggu depan insya Allah kelas 9 adalah tanggung jawab saya.

Membaca tulisan beberapa dari mereka, mengingatkan saya akan murid-murid saya di SMP Terbuka. Ada satu kesamaan dari semua alasan pilihan hidup mereka, yaitu materi. Profesi artis sinetron, pemain bola, penyanyi, penari dan sejenisnya merupakan pilihan favorit. Mereka beranggapan itulah profesi yang bisa mendatangkan banyak uang.

Gaung ‘ayo, sekolah’ sekedar syarat yang tak terlalu penting dalam benak mereka. Toh, banyak orang sukses yang sekolahnya tidak selesai. Dan banyak orang sekolah tinggi namun akhirnya jadi pengangguran. Kalimat ini biasanya jadi semacam alasan bagi orang tua untuk mengeluarkan anak mereka dari sekolah. Pernah ada seorang Ibu yang sudah tak tahan juga melihat tingkah polah putrinya, sehingga ketika kami memanggil Beliau, dia mengatakan bahwa dirinya tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Dia bahkan pernah meminta anaknya untuk keluar sekolah saja. Dia mengatakan bahwa dirinya bisa hidup tanpa harus sekolah. Yang penting kerja, cari uang yang banyak. Saya yang mendengar hanya bisa terdiam. Kembali saya tersadarkan beratnya tugas dan tanggung jawab yang dipikul oleh rekan-rekan guru.

Lantas, untuk dan dengan tujuan apa sesungguhnya saya meminta mereka menulis? Hmm,  saya sendiri tidak tahu. Selain untuk alasan di atas dan membiasakan mereka menulis sementara ini saya hanya menyimpan catatan harian tersebut. Berharap, saya bisa lebih memahami dan membantu mereka dalam kapasitas saya sebagai guru. Sudahkah saya lakukan? Belum. Sepenuhnya saya belum melakukan apa-apa.

“Jadi, untuk apa sebenarnya kita sekolah,Bu?.”

Perangkat Pembelajaran

Materi TIK, Pendidikan 11 Comments »

Setengah semester sudah berlalu. Minggu depan Insya Allah kegiatan belajar  mulai berjalan normal kembali. Tiga bulan ke depan saya mengajar kelas 9. Untuk materi TIK nya sendiri adalah membuat halaman web sederhana dengan menggunakan MS Frontpage. Duh, maafkan kalau terpaksa lagi-lagi mengajarkan program bajakan. Tim guru TIK di sini sebenarnya berniat mengenalkan sistim operasi open source. Saat ini kami berusaha menjajaki kemungkinan itu.

Untuk rencana pengajaran materi ini belum saya kerjakan. Mustinya sih sudah selesai di awal-awal KBM dimulai, disatukan dengan perangkat pembelajaran. Ssst, di sekolah saya, jika ada guru yang belum mengumpulkan perangkat pembelajaran ini maka namanya akan ditempel di papan pengumuman :).

Perangkat pembelajaran ini adalah pedoman yang harus disiapkan oleh guru dalam menghadapi kegiatan belajar di kelas. Adapun perangkat pembelajaran itu adalah sebagai berikut:

  1. PROTA (Program Tahunan)
  2. PROMES (Program semester)
  3. Rencana Alokasi Waktu
  4.  Pemetaan
  5. Silabus
  6. RPP

Maka, tak heran lah kalau banyak rekan guru di awal tahun ajaran (bahkan mungkin di pertengahan semester) sibuk mengedit, membuat dan merancang perangkat pembelajaran. Untuk silabus dan RPP bisa didapat dengan mengunduh dari internet atau bertukar dengan rekan satu profesi. Selebihnya, Anda tinggal mengedit dan menyesuaikan dengan kebutuhan sekolah dan murid Anda. Nah, masalahnya untuk TIK, selain mengajarkan materi sesuai KTSP, kami juga mengajarkan program lain, yang acapkali panduannya agak sulit ditemukan di belantara maya ini. Jadi, ketika membuat silabus dan RPP untuk program lain, selain mengacu pada kurikulum KTSP di tingkat lanjutan atas, saya juga membuat dan menambahkan sendiri. Dengan mencoba tidak menyimpang dari ketentuan standar isi. Namun kami tetap berfokus pada kurikulum KTSP. Lainnya sebagai skill tambahan untuk mereka. Karena bagaimanapun pelajaran TIK di tingkat lanjutan (SMP/SMA) termasuk ke dalam pelajaran wajib. Berbeda dengan level sekolah dasar, TIK masuk ke dalam muatan lokal. Yang notabene nya adalah sah-sah saja mau dibuat seperti apa.

Ingin melihat contoh perangkat pembelajaran yang sudah kami (rekan guru TIK) buat? Klik saja di sini. Diletakkan di blog ini dengan tujuan mudah diakses oleh saya atau siapapun yang mungkin membutuhkan :).

Buku dalam Kehidupan

Obrolan 5 Comments »

Tergelitik membaca tulisan Novi di sini, saya jadi teringat masa kecil dulu. Seringkali saya bersyukur bahwa saya dilahirkan pada masa-masa dimana siaran TV dan segala pernak-pernik hiburan belum segencar saat ini. Karenanya, buku adalah suatu kemewahan dan hiburan yang paling mengasyikkan.

Awal-awal sekolah dasar adalah perkenalan saya dengan buku-buku karya Enid Blyton. Hampir semua koleksi Blyton saya punya, dari Lima Sekawan, Sapta Siaga, Mallory Towers, dan Pasukan Mau Tahu. Lainnya komik lima benua dan seri penemu. Hmm, bisa dibilang ketertarikan saya pada alam dan petualangan adalah hasil didikan Blyton dan terutama buku Lord Baden Powell. Buku terakhir ini sangat mempengaruhi kehidupan saya. Kecintaan saya pada kegiatan kepramukaan sangat dipengaruhi Bapak Pandu Sedunia ini. Senang rasanya mengalami jurit malam, berkemah, belajar tali temali, semaphore, menyelusuri hutan dan kegiatan alam lainnya. Pokoknya excited banget deh, serasa petualang beneran walaupun sebenarnya saya penakut :). Saya juga pernah bercita-cita menjadi penemu, terinspirasi oleh cerita-cerita yang ada di seri penemu. Ingin bisa seperti James Watt, Edison, Wright Bersaudara dan Curie. Hehehe. Namanya juga anak-anak, boleh donk berkhayal :). Lain hari saya ingin jadi perawat seperti Florence Nightingale.

Memasuki masa sekolah menengah pertama buku bacaan saya beralih pada karya Agatha Christie (masih tetap cerita detektif juga :)). Dan buku sastra karya N.H.Dini, Ajip Rosidi, Buya Hamka, Kahlil Gibran, dan lain-lain. Waktu itu sih saya tidak tahu kalau itu karya sastra. Berhubung di rumah koleksi buku orang tua dan kakak saya banyak, maka buku apapun saya baca (Ini sih memang karena tidak ada hiburan lain maka membaca jadi semacam rutinitas yang memabukkan ;-) ).  Termasuk buku Anne Frank dan catatan harian Soe Hok Gie.

Memasuki awal sekolah menengah atas, ada kejadian yang tiba-tiba membuat saya ngetop mendadak *halah*. Saat itu guru bahasa Indonesia mewajibkan setiap anak membaca buku karya sastra dan kemudian membuat resensi nya. Beberapa buku yang Beliau sarankan terdengar familiar untuk saya. Tentu saja, karena saya sudah pernah membacanya. Mendadak buku-buku tersebut stok nya abis di perpustakaan. Beberapa teman yang mengetahui saya mempunyai koleksi buku di rumah langsung meminjam. Omongan dari mulut ke mulut menyebar ke kelas-kelas lain. Tiba-tiba saja banyak teman baru yang mencari saya. Hmm, mungkin seperti ini rasanya jadi seleb ya? ;-)

Suatu ketika saya sedang membaca di jam istirahat (Oya, kalau anak-anak lain kabur ke kantin pas jam istirahat saya tetap anteng di kelas, membuka bekal roti yang telah disiapkan oleh Ibu dan mulai asyik membaca. Kalau sekarang pasti dikomentarin ‘nggak banget’ kali ya? hehehe), seorang teman menyeletuk seperti ini ‘Ada gambarnya nggak?’ Saya yang nggak mudeng dengan pertanyaannya saat itu cuma diam saja sampai akhirnya dia mengulangi pertanyaannya ‘Ada gambarnya nggak di buku itu? Kok tebel banget’. Oalah, mungkin dia kira ini buku komik kali ya? Waktu itu kalau tidak salah saya baca buku Opera Jakarta yang tebalnya ampun-ampunan. Kaget lagi dia waktu saya baca buku penjara Alcatrax. Entah apa yang ada di pikirannya saat itu, diantara puluhan anak perempuan mungkin saya jadi makhluk aneh kali ya? :)

Tapi, kenangan bersama buku-buku itu senantiasa lekat. Lembaran-lembaran pada setiap halamannya terkadang masih melintas dalam ingatan. Pesan moral pada setiap buku adalah pelajaran bagi saya bagaimana menjalani kehidupan ini dengan terus bersyukur setiap waktu.

Berbagi Kisah

Obrolan 8 Comments »

Sukakah saya menjadi guru? Jawabnya, Iya. Saya sangat menikmati peran saya sebagai guru. Namun bukan berarti semuanya berjalan mulus tanpa hambatan. Bergaul dengan banyak anak dari berbagai tingkatan umur dan lapisan sosial memberi warna-warni dalam kehidupan saya. Kritikan dan pujian, silih berganti. Senang rasanya melihat semangat dan ketekunan mereka. Kami saling belajar dan berbagi.

Namun, saat ini saya merasa gamang. Sudah setahun ini saya mengajar di sekolah negeri. Berada pada lapisan minoritas, dimana dan entah mengapa kebanyakan siswa ke sekolah tanpa semangat dan keinginan untuk belajar.

Mengajar anak dengan kemampuan intelegensia yang rendah namun tekun dan haus akan ilmu pengetahuan jauh lebih baik dibandingkan mengajar anak yang tidak mempunyai antusiasme untuk belajar. Duh, saya sebal melihat ini.

Mungkin terdengar klise atau mengada-ada, tapi saya mempunyai harapan yang tinggi akan keberadaan film laskar pelangi. Karena, tidak semua masyarakat kita suka membaca, maka mudah-mudahan dengan adanya film ini tidak saja anak-anak muda akan terbukakan wawasannya, namun juga para orang tua. Harapannya film ini bisa menyentuh semua lapisan masyarakat dan terutama mereka dari kalangan marginal.

Karena, pendidikan adalah tiket bagi semua orang untuk mendapatkan kesempatan dan pilihan hidup yang lebih baik.

Membayar Hutang

Materi TIK 5 Comments »

Beberapa hari yang lalu dalam suasana chatting, saya menjanjikan akan menuliskan beberapa KBM untuk materi Internet tanpa akses internet.  Hari ini saya coba memaparkannya, sebagian dengan merujuk pada pengalaman mengajar yang pernah saya terapkan. Untuk mengenalkan chatting pada siswa saya membuka program chatting yang berjalan pada sistem jaringan server. Untuk browsing, saya mendemonstrasikan beberapa alamat situs yang sudah di-save sebelumnya beserta beberapa link ke halaman lain. Bisa juga diajarkan cara menyimpan gambar ke harddisk, menyalin gambar ke pengolah kata, dan menyimpan halaman web. Bisa dilakukan secara offline. Untuk kegiatan lanjutan, siswa diminta menyalin gambar dari situs yang sudah disimpan tadi kemudian membuat cerita yang berkaitan dengan gambar.

Berikutnya, saya mengenalkan cara membuat web dengan menggunakan program editor HTML, baik menggunakan program editor Notepad atau yang berbasis What You See Is What You Get (WYSIWYG).

Memang sulit mengajarkan materi Internet tanpa akses Internet itu sendiri. Langkah yang dilakukan oleh rekan saya di sekolah terbuka lebih menarik lagi, yaitu membuat blog secara offline. Untuk hal yang satu ini saya penasaran juga. Bisakah langkah itu diterapkan untuk sistem operasi Windows?

Oke Novi, rasanya baru gagasan itu saja yang melintas di kepala saya. Mungkin rekan-rekan lain bisa memberi masukan di sini. Oya,  niat Novi untuk membawa anak-anak itu ke warnet boleh juga. Mungkin agar tidak riweh, Novi bisa membagi mereka ke dalam kelompok. Kemudian secara bergantian Novi bisa mendemo kan cara membuat email, dan menggunakan search engine. Atau, Novi pasti sudah mendapatkan langkah yang lebih jitu, kan? ;-)

Good luck dan tetap semangat ya.

Laskar Pelangi The Movie

Obrolan 13 Comments »

Penasaran ingin tahu kabar terbaru film laskar pelangi? Coba tengok situs satu ini. Rencananya film laskar pelangi akan ditayangkan tanggal 25 september. Laskar Pelangi sendiri adalah novel memoar tentang kisah kehidupan 10 anak dari keluarga miskin yang bersekolah di sekolah muhammadiyah di pulau Belitong. Andrea Hirata aka Ikal, si penulis cerita ini adalah salah satu dari kesepuluh anak tersebut. Kisah selanjutnya saya yakin Anda semua sudah mengetahuinya :).

Mengajarkan akhlak melalui permainan

Pendidikan 6 Comments »

Akhlak menurut kamus besar bahasa indonesia ialah budi pekerti, tingkah laku. Setiap agama mengajarkan bagaimana seorang hamba bertingkah laku yang luhur. Ber-akhlak mulia kepada Tuhan,  kepada sesama manusia, dan terhadap makhluk hidup lainnya.

Ramadhan ini saya kebagian tugas untuk mengisi acara pesantren kilat di sekolah. Tema yang saya pilih adalah akhlak kepada sesama manusia. Berbekal buku dan artikel yang saya peroleh dari internet, saya ingin mengemas materi ini melalui sebuah permainan. Sepertinya asyik, tapi saya malah bingung memilah jenis permainan apa yang akan saya berikan kepada mereka. Pertimbangannya sederhana, permainan tidak boleh terlalu menguras fisik, dan bisa dimainkan oleh semua anak.

Ada satu permainan yang sedang saya pertimbangkan. Saya dapatkan dari buku Teknik-Teknik yang Berpengaruh di Ruang Kelas. Nama permainannya Daftar Keunggulan. Langkah permainannya sebagai berikut:

Guru meminta setiap siswa menuliskan nama lengkapnya pada selembar kertas kosong di bagian atas kertas. Setelah itu siswa menuliskan salah satu kelebihan dirinya di bawah tulisan nama. Siswa kemudian mengumpulkan kertas tadi kepada guru. Guru membagikan kertas kembali kepada siswa secara acak, sehingga setiap siswa akan mendapakan kertas milik temannya. Selanjutnya siswa harus menuliskan satu kelebihan temannya (si pemilik kertas yang dipegangnya) kemudian memberikannya kepada teman di sebelahnya, demikian seterusnya. Pada akhir sesi, siswa diminta membaca dalam hati daftar kelebihan dirinya masing-masing. Teknik ini dapat memberi pengaruh yang besar pada diri siswa karena mereka menyadari bahwa temannya dapat menerima diri mereka dengan baik dan terutama karena setiap anak dapat melihat kelebihan diri masing-masing. Tujuan permainan ini diharapkan berkembangnya sikap ramah tamah, saling menolong dan kerja sama. (Memang tidak cukup sekali dilakukan, tapi mudah-mudahan ini dapat dijadikan langkah awal untuk memperkuat ikatan dalam kelas).

Kira-kira permainan di atas sudah cukup mewakili tema di atas belum ya? Adakah ide permainan lain yang bisa saya berikan? Thanks sebelumnya.

Grafis

Materi TIK 4 Comments »

Semester ganjil tahun ajaran 2008/2009 siswa kelas 8 belajar menggunakan program pengolah grafis. Materi ini diberikan selama 2.5-3 bulan. Apa saja yang mereka pelajari selama kurang lebih 9 kali pertemuan tersebut? Inilah beberapa karya siswa belajar menggunakan pengolah grafis berbasis vektor, dengan Corel Draw.

(RPP dan silabus untuk pengolah grafis dapat di unduh di sini). Tapi belum selesai semua, flash disknya kena virus nih :(. Mudah-mudahan file di dalamnya terselamatkan.

arfian-kelas-8-4-lat-1.jpg  fitriani-83-lat-1.jpg

fitriani_83_uh1.jpg    elis-84-uh1.jpg

WP Theme & Icons by N.Design Studio
Entries RSS Comments RSS Log in