Jakarta, Kami Datang
Pendidikan 4 Comments »Kabar lanjutan dari lomba cerdas cermat tingkat provinsi. Hari jumat murid-murid sekolah terbuka yang diwakili oleh kelompok juara pertama (Erni, Cyndi dan Fajar) mulai berlomba kembali. Selama 3 hari, dari tanggal 4 sampai dengan 6 Juli mereka menginap di puri khatulistiwa bersama wakil-wakil juara dari kota-kota jawa barat lainnya. Setelah lolos di babak penyisihan dan semi final, tim ini akhirnya memastikan diri mereka berhasil mengusung piala dan tiket ke tingkat nasional. Itu artinya, mereka akan ke Jakarta. Wow, hadiah yang sangat manis dan membanggakan. Ada rasa haru dan kebahagiaan yang tak terbayarkan oleh apapun. Terima kasih rekan untuk semua doa dan support-nya. Insya Allah, lomba motivasi belajar mandiri tingkat nasional ini akan berlangsung dari tanggal 14 sampai 18 Agustus, di Jakarta. Doakan kami ya.
Buku Sekolah Elektronik
Pendidikan 23 Comments »Request from my chief editor
Departemen Pendidikan Nasional meluncurkan buku sekolah elektronik yang dapat diakses melalui situsnya di sini. Buku ajar ini telah dibeli hak ciptanya oleh Depdiknas. Dari surat kabar harian Kompas, dikabarkan pemerintah telah menargetkan 295 judul buku sekolah elektronik pada Agustus 2008. Dan saat ini telah terdapat 49 judul buku digital yang dapat diunduh masyarakat lewat internet secara gratis. Dengan adanya buku sekolah elektronik maka siapapun berhak untuk mengunduh, mencetak, memperbanyak dan menjualnya dengan ketepan harga yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
Saya sudah melihat situsnya. Buku-buku yang ada di sini masih terbatas. Buku-buku yang termasuk ke dalam UN sepertinya lebih diutamakan. Saya juga mencoba mengunduh satu buku. Filenya lumayan besar.
Terobosan pemerintah untuk meluncurkan program bse ini memang layak kita dukung. Beberapa komentar baik kritik dan saran diberikan. Nah, apa saran dan kritikan Anda? Walaupun sudah banyak orang yang menuliskan dan memberi komentar mengenai bse ini, ndak pa-pa kan?
Saya lebih ingin tahu, kira-kira bagaimana dengan industri perbukuan di Indonesia? (Termasuk penulis dan penerbitnya, tentu).
Komentar saya? Hmm.. hmm.. nanti aja deh ![]()
Veni Vidi Vici
Obrolan 10 Comments »Alhamdulillah, Sekolah Terbuka Firdaus memenangkan lomba cerdas cermat yang berlangsung hari Senin, tanggal 23 Juni kemarin. Laporan lengkapnya bisa dilihat di sini. Selanjutnya, mereka harus menyiapkan diri untuk lomojari ke tingkat provinsi tanggal 4 Juli. Kami punya waktu sekitar 2 minggu. Teman, terima kasih doa dan supportnya. Terus doakan kami ya.
Keterangan gambar: (dari kiri ke kanan)
- Suasana lomba di babak pertama.
- Sang juara pertama (Fajar, Erni, dan Cyndi)
- Juara ketiga (Imam, Nina, dan Yuli)
- Bersama Bapak dan Ibu guru
Do Not Covet Your Ideas
Obrolan 12 Comments »Give away everything you know and more will come back to you. Kalimat serupa pernah diucapkan Ibu saya ketika pertama kali saya memutuskan untuk menjadi guru. Tepatnya, seperti ini ‘yang perlu kamu ingat ketika memutuskan untuk menjadi guru, jangan pelit dengan ilmu yang kamu punya. Jangan takut ilmu mu habis karena tuhan pasti akan memberinya lebih banyak lagi’.
Kalimat awal saya kutip dari bukunya Paul Arden, yang berjudul ‘It’s Not How Good You Are, It’s How Good You Want To Be. Saya ambil salah satu isi dari bab Do Not Covet Your Ideas.
Kita tentu ingat ketika murid-murid di sekolah menutupi jawaban soal mereka dengan menelungkupkan lengan mengelilingi kertas untuk menghindari contekan teman. Situasi yang sama terjadi di tempat kerja. Orang akan merahasiakan ide-ide mereka. Buku ini menyatakan jika kita menyimpan ilmu hanya untuk diri sendiri maka kita hidup dengan ilmu itu saja (baca: puas dan tidak berkembang alias macet). Sebaliknya, dengan memberikan ilmu yang kita punya kepada orang lain maka diri kita akan selalu mencari pengetahuan lain untuk menggantikan ilmu yang telah kita berikan. Mengutip kembali tulisan dari bab ini ‘Somehow the more you give away the more comes back to you’.
Ide atau gagasan adalah pengetahuan yang terbuka. Jangan pernah mengakuinya sebagai milikmu sendiri. Gagasan itu bukanlah kepunyaanmu. Mereka milik orang lain. Ide-ide itu bertebaran dimana-mana. Diri kita hanyalah mengambil satu bagian daripadanya.
Persiapan Lomba
Obrolan 4 Comments »Hari ini saya dihubungi oleh SMPT untuk memberikan pendalaman materi untuk beberapa siswa. Mereka rencananya akan mengikuti lomba cerdas cermat, yang diikuti oleh seluruh sekolah terbuka yang ada di wilayah Bandung. Acara ini akan diadakan hari senin tanggal 23 Juni 2008. Karena waktu yang cukup sempit mungkin akan diteruskan esok hari. Sebenarnya tidak mendesak juga namun karena jadwal yang saling bertubrukan, saya sendiri harus mengajar di jakarta dan anak-anak juga persiapan UAS, maka baru hari ini disempatkan. Tadi mendapat laporan dari Ibu Galuh bahwa anak-anak tidak bisa menjawab pertanyaan TIK. Saya minta beberapa contoh soal yang pernah diuji tandingkan.
Murid-murid yang belajar hari ini tidak hanya berasal dari SMPT Firdaus, ada 3 anak yang berasal dari sekolah di daerah cisaranten (Saya agak lupa nama sekolahnya). SMPT Firdaus dan sekolah Cisaranten ini berasal dari sekolah induk yang sama, yaitu SMPN 8, jadi memang tidak masalah jika anak-anak dari kedua sekolah itu digabungkan. Dari SMPT Firdaus diwakili oleh Imam dan Yuli (kelas 7) serta Erni (kelas 8). Dari sekolah Cisaranten ada Fajar, Nina, dan Cyndi. Hari ini saya mencoba membahas latihan soal yang ada. Ternyata, anak-anak bisa menjawab beberapa pertanyaan yang saya berikan. Sebenarnya, saya pun yakin anak-anak ini bisa menjawab pertanyaan soal-soal tersebut. Tapi, memang ada satu masalah yang menurut saya cukup mengganggu, yaitu rasa percaya diri. Dan itu adalah pemandangan umum yang terjadi pada murid-murid saya di sini. Tidak hanya di SMPT Firdaus tapi juga anak-anak dari sekolah terbuka cisaranten serta murid-murid saya di Jakarta.
Ibu galuh pun mengatakan hal yang sama kepada saya. Beliau juga menanyakan bagaimana membangkitkan kepercayaan diri kepada anak-anak itu. Hmm. Saya yakin guru-guru lain telah menerapkan pendekatan belajar kepada mereka. Dan upaya itu tentulah tidak langsung terlihat. There is no instant solution. Butuh waktu tentu saja. Dan seperti yang saya katakan kepada mereka tadi, menang atau kalah itu tidak penting. Yang penting adalah mereka berani dan mau mencoba.
Oya, Bu Galuh sempat menceritakan murid-murid kita jatuh ketika menyadari suporter lawan sangat banyak. Nah, untuk rekan-rekan yang membantu mengajar di PBA, jika ingin datang memberikan semangat untuk murid-murid Anda bisa datang ke SMPN 51 di daerah Ciwastra. Acaranya jam 8. Insya Allah, saya berangkat dari sekolah untuk mendampingi mereka.
Karya Tulis dari seorang Siswa
Obrolan 3 Comments »Ups, sudah tanggal 12. Itu artinya saya sudah boleh mempromosikan sebuah karya tulis dari seorang siswa eh siswi, tepatnya. Namanya Dian, alamat blog nya ada di blogroll saya, bisa diintip di sebelah :). Karya tulis ini menurut Dian disusun dalam rangka mengikuti lomba karya tulis ilmiah POLITEKNIK TELKOM 2008. Dan diberi judul ‘Blog Guru sebagai media “ruang di luar ruang”bagi proses belajar siswa’. Saya sendiri sudah membaca karya tulis ini, dikirimi langsung dari yang bersangkutan. Terima kasih, Dian. Oya, saya juga tidak menyangka tulisan di salah satu blog ini bisa masuk ke dalam karya tulis seorang siswa ;-). Rasanya, itu tulisan yang amat sangat biasa saja. Dan sebenarnya, saya juga tidak membantu apa-apa sih. Seperti janji saya, saya boleh mempromosikan karya tulis ini setelah tanggal 5 Juni. Dan, hei, sekarang sudah lewat dari tanggal itu ‘kan? :). Selamat ya sudah masuk ke tingkat propinsi (ini lomba untuk olimpiade sains nasional, itu ya?). Semoga semuanya lancar. Jangan lupa cerita-ceritanya ya :).
Sekolah Negeri
Pendidikan 4 Comments »Jaman saya kecil dulu, sekolah negeri itu jadi rebutan. Jaman sekarang, tidak jarang saya temui orang tua yang anti menyekolahkan anaknya di sekolah negeri. Belum ditambah dengan kalimat-kalimat yang menohok perasaan. Duh, sampai seperti itukah? Saya kok masih percaya bahwa ditempat yang sepertinya brengsek sekalipun masih ada orang-orang yang berhati tulus. Atau mungkin saya yang terlalu naif?
update:
Komentar untuk tulisan ini saya letakkan di sini aja ya.
Memang kondisinya seperti itu ya? Saya memang tidak pernah terjun murni mengajar di sekolah. Selama ini saya mengajar di sekolah karena adanya kerjasama dari lembaga tempat saya bekerja. Di sekolah saya sekarang memang mendapatkan dana bos dan sekolah dilarang memungut dana dari siswa. Pihak sekolah sedang berusaha agar sekolah ini bisa mendapatkan status SSN. Rekan guru bilang jika sekolah mendapat status SNN maka sekolah akan mendapatkan dana bantuan selama 3 tahun. Dana ini akan dialokasikan untuk pengembangan SDM di sekolah. Sebagian sisanya untuk infrastruktur. Dan sekolah boleh menarik dana dari siswa. Tahun ke-3 jika sekolah berhak mendapatkan SSN maka dana bantuan akan terus dialirkan. Sebaliknya, jika gagal maka diputus.
Tapi, terus saya jadi kepikiran. Kalau sekolah boleh memungut dana dari siswa bisa dipastikan anak-anak yang bersekolah di sana berasal dari kalangan menengah ke atas. Lantas, anak-anak yang tidak ada di golongan ini kemana? Akhirnya, balik lagi ke sekolah yang memberikan pendidikan gratis. Dan benar kata Pak Joko, gratis yang seadanya. Bukan gratis sesuai kebutuhan. Bagi kalangan mampu bisa memilih sekolah yang lebih baik, tapi yang tidak? Ah, pendidikan gratis yang memadai mungkin cuma mimpi buat mereka. Pada akhirnya, motivasi belajar pada anak-anak ini pun hanya sekadarnya saja. Bertambah parah jika guru yang diharapkan bisa menumbuhkan semangat justru melakukan sebaliknya. Di sini terjadi lingkaran setan. Guru di sekolah merasa kualitasnya kalah dibandingkan dengan guru swasta atau guru di sekolah negeri yang berstatus SNN dan seperti itulah. Perasaan seperti ini juga dipicu oleh sikap masyarakat sekitarnya. Kekecewaan guru tadi ditimpakan kepada anak didik. Sulit memang ya.
Menurut saya, paradigma guru yang harus diubah. Gratis atau tidak, seharusnya tidak jadi masalah untuk memberikan yang terbaik. Buktinya, ibu gurunya Andrea Hirata, di Laskar Pelangi. Di sana saya melihat peranan beliau tidak saja sebagai pengajar tapi juga seorang pendidik yang baik. Atau mimpi kali ya, kalau kita mengharapkan ada banyak ibu Muslimah? Saya kok terobsesi sangat dengan dedikasi beliau ini ya? :). Inginnya bisa seperti itu tapi nyatanya, oh, sungguh sangat-sangat berat :(.
Sekolah Unggulan
Pendidikan 4 Comments »Apa definisi sekolah unggulan? Ada berbagai pernyataan yang berkaitan dengan sebutan sekolah unggulan, sekolah modern, sekolah berstandar internasional, dan lain-lain. Nah, seperti apa sih definisi sekolah unggulan itu? Penasaran nih.
Persoalan Dasar Putus Sekolah
Pendidikan 3 Comments »Hari ini saya teringat ucapan kepala sekolah yang menyatakan tingginya angka putus sekolah di tempat kami. Kembali juga saya terkenang usaha rekan guru untuk mengembalikan anak-anak itu ke sekolah. Bukan upaya yang mudah memang. Saya sendiri menyadari betapa sulitnya merangkul anak-anak itu.
Persoalan putus sekolah tidak hanya dialami sekolah ini. Di sekolah terbuka di Bandung kejadiannya pun sama. Di tengah-tengah KBM ada saja siswa yang berhenti. Setelah usaha guru membujuk, ada kalanya beberapa dari mereka kembali namun ada juga yang berhenti. Persoalan yang paling mendasar adalah ekonomi. Dengan alasan membantu orang tua. Ah, semester ini saya kehilangan dua siswa. Nyaris saja menjadi tiga. Alhamduilillah, ibu Ida tidak lelahnya mengunjungi dan berbicara dengan orang tua anak ini. Namanya Imam. Pendiam, namun termasuk yang paling pintar di kelas. Oya, dia akan mewakili sekolah kami untuk lomba cerdas cermat pertengahan bulan ini. Tidak penting menang atau kalah, tapi keberanian sekolah ini untuk tampil bersaing dengan sekolah umum adalah sesuatu yang luar biasa, bukan?
Kedua sekolah di atas sesungguhnya tidak jauh berbeda. Namun keberuntungan masih lebih banyak dimiliki sekolah di Jakarta ini. Mempunyai gedung, walaupun seadanya. Gratis juga. Tidak gratis penuh sih. Dari berbagai macam kalangan, tidak semuanya berada di lapisan bawah. Walaupun mungkin mayoritas adalah kelompok marjinal. Tapi, kenapa ya, tingkat putus sekolah sangat tinggi. Apa kira-kira penyebab dan bagaimana solusinya?
Recent Comments