<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Belajar Tiada Henti &#187; Pendidikan</title>
	<atom:link href="http://enggar.net/category/pendidikan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://enggar.net</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 08 May 2012 09:40:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Guru Mengajar dan Mendidik</title>
		<link>http://enggar.net/2012/05/06/guru-mengajar-dan-mendidik/</link>
		<comments>http://enggar.net/2012/05/06/guru-mengajar-dan-mendidik/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 May 2012 16:19:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enggar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enggar.net/?p=4661</guid>
		<description><![CDATA[Guru dalam kamus Besar Bahasa Indonesia adalah mereka yang profesinya mengajar. Sedangkan mengajar, yang berasal dari kata ajar berarti petunjuk yg diberikan kepada orang supaya diketahui. Mengajar sendiri artinya memberi pelajaran. Menteri Pendidikan Daoed Jusuf dahulu pernah mengatakan bahwa ada tiga tugas utama seorang guru, yaitu tugas profesional, tugas manusiawi, dan tugas kemasyarakatan. Tugas profesional [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Guru dalam kamus Besar Bahasa Indonesia adalah mereka yang profesinya mengajar. Sedangkan mengajar, yang  berasal dari kata ajar berarti petunjuk yg diberikan kepada orang supaya diketahui. Mengajar sendiri artinya memberi pelajaran.</p>
<p>Menteri Pendidikan Daoed Jusuf dahulu pernah mengatakan bahwa ada tiga tugas utama seorang guru, yaitu tugas profesional, tugas manusiawi, dan tugas kemasyarakatan. </p>
<p>Tugas profesional berkaitan dengan mentransfer ilmu atau membagi ilmu pengetahuan yang dimilikinya kepada orang lain.  Tugas manusiawi dan kemasyarakatan berhubungan dengan interaksi sosial di dalam masyarakat, etika, dan sopan santun.</p>
<p>Artinya guru tidak sekedar mengajar tapi yang utama ia juga mendidik. Mendidik yang asal katanya didik, dalam KBBI mempunya arti memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.</p>
<p>Seorang guru harus mampu melaksanakan ketiga tugas itu secara bersama-sama. Selain mengajar ia harus mampu menjadi tauladan yang baik, membangun semangat serta senantiasa memberikan dorongan, selaras dengan ungkapan Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, KI Hajar Dewantara, berikut ini:</p>
<p>&#8220;ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani&#8221;. </p>
<p>Artinya: di depan (guru) memberi contoh, di tengah (guru) memberi semangat, di belakang (guru) memberikan dorongan.</p>
<p>1. Guru mengajar<br />
Guru bertugas untuk membagi ilmu pengetahuan yang dimilikinya kepada orang lain. Seorang guru yang baik adalah mereka yang dapat menjelaskan sesuatu hal yang rumit dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami oleh orang lain. Seorang guru juga dituntut untuk terus belajar sepanjang hayat. </p>
<p>2. Guru sebagai tauladan<br />
Seorang anak belajar dari apa yang ia lihat, dengar, dan baca. Ingat film Pay it Forward? Pesan dalam film itu sangat sederhana, bahwa kebaikan yang kita lakukan kepada orang lain akan menular, demikian juga dengan keburukan. Di dalam masyarakat perilaku baik seseorang akan memberi pengaruh kepada orang-orang di sekitarnya, menginspirasi orang lain juga untuk berbuat kebaikan. Dalam hal ini guru mempunyai pengaruh yang sangat besar untuk anak didiknya. Apa yang dilakukan, dikatakan seorang guru akan menjadi cermin bagi si anak untuk berkaca. </p>
<p>Ada cerita bagus dari buku &#8220;Tak Sengaja Menjadi Guru&#8221;, ialah ketika seorang guru mengetahui muridnya melakukan plagiarisme. Ted Fitts nama guru itu menunjukkan bahwa dia tidak bersedia mengadakan kompromi-etika di hadapan ayah murid itu yang seorang pengacara. Baginya, saat masalah moral penting terlibat, maka seorang guru harus teguh dengan apa yang harus dilakukan. </p>
<p>Seorang guru adalah mereka yang dapat bersikap lembut, hangat sekaligus tegas.</p>
<p>2. Guru sebagai motivator dan dinamisator<br />
Masih dalam buku yang sama &#8220;Anak-anak perlu bantuan dalam membaca dan matematika, tetapi mereka juga lebih membutuhkan bantuan dalam kehidupan mereka. Mereka membutuhkan imajinasi dan kepercayaan diri.&#8221;</p>
<p>Setiap hari anak-anak berada di sekolah bersama guru mereka. Guru yang menemani ketika mereka belajar. Guru adalah orang yang paling tahu perkembangan anak didik mereka dari hari ke hari. Sebuah proses belajar lebih berharga dari sekedar pencapaian akhir. Ada sebuah cerita bagus dari seorang siswa bernama Sonny di <a href="http://buku.enggar.net/2012/04/22/tak-sengaja-menjadi-guru/">sini</a>. Kisah ini menggambarkan bahwa menyuntikkan semangat belajar dalam diri siswa bukanlah hal yang remeh. Kita mungkin tidak pernah menyadari bahwa hal sederhana yang kita berikan kepada murid-murid dapat membuat perubahan untuk kehidupan mereka kelak. </p>
<p>Semoga kelak, harapan kita di atas dapat terwujud dalam sebuah sistem pendidikan yang berjalan lebih baik. Pendidikan yang tidak sekedar meng-agungkan angka sebagai barometer keberhasilan. Pintar saja tidak cukup tanpa dibekali dengan nilai-nilai moral dan etika yang baik. Dan sekali lagi, saya tak bosannya mengutip kalimat Hellen Keller <a href="http://buku.enggar.net/2011/07/20/the-story-of-my-life/">ini</a>.</p>
<p><strong>&#8220;Memiliki pengetahuan berarti mengerti tujuan yang benar dan salah, mengerti hal-hal yang mulia dan yang hina.” (Helen Keller).&#8221;</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enggar.net/2012/05/06/guru-mengajar-dan-mendidik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selalu Menyenangkan Menjadi Guru</title>
		<link>http://enggar.net/2012/04/19/selalu-menyenangkan-menjadi-guru/</link>
		<comments>http://enggar.net/2012/04/19/selalu-menyenangkan-menjadi-guru/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Apr 2012 09:12:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enggar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enggar.net/?p=4642</guid>
		<description><![CDATA[Menjadi guru adalah impian saya sejak kecil. Membayangkan berdiri di depan kelas, bermain dan berbincang bersama mereka sepertinya sesuatu yang menggembirakan. Dan, cukup menakjubkan bahwa angan-angan itu tercapai. Dahulu saya tidak berani berbicara apalagi di depan orang banyak. Itu saja sebenarnya cukup menutup peluang untuk menjadi guru. Saya memulai profesi ini dengan mengajar privat. Berawal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menjadi guru adalah impian saya sejak kecil. Membayangkan berdiri di depan kelas, bermain dan berbincang bersama mereka sepertinya sesuatu yang menggembirakan. Dan, cukup menakjubkan bahwa angan-angan itu tercapai. Dahulu saya tidak berani berbicara apalagi di depan orang banyak. Itu saja sebenarnya cukup menutup peluang untuk menjadi guru. Saya memulai profesi ini dengan mengajar privat. Berawal dari satu anak, dua anak, kemudian kelompok berlanjut satu kelas dengan jumlah murid terbesar sebanyak 45 siswa. Bermula dari anak-anak usia 3 tahun sampai kemudian karyawan. </p>
<p>Menjadi guru adalah pembelajaran yang sangat baik untuk saya. Saya belajar bertanggung jawab, disiplin, sekaligus ketegasan. Menjadi guru membuat saya belajar untuk mendengarkan, memperhatikan dan memaafkan. Tentu, sampai saat ini pun saya masih belajar untuk semua hal di atas.</p>
<p>Pearl Rock Cane, seorang Professor Pendidikan di Teachers College, Columbia University pernah mengatakan bahwa tidak seperti jenis pekerjaan lainnya, pegawai baru diberi tugas terbatas untuk tahun pertama ia bekerja sebelum kemudian ia dianggap cukup berpengalaman untuk memikul tanggung jawab yang lebih tinggi atau membuat keputusan mandiri, maka seorang guru harus melakukan itu semua sejak hari pertama ia mengajar. Dan seringkali guru baru justru mendapatkan kelas yang paling sulit. Wow, ini betul sekali. </p>
<p>Menjadi guru kemudian menyadarkan bahwa tugas saya tidak hanya mengajar tapi seringkali saya pun terserap ke dalam kehidupan pribadi mereka. </p>
<p>Kelembutan, kasih sayang dan ketegasan adalah hal yang berbeda. Namun kita seringkali terjebak di dalamnya. Dengan alasan sayang kita membolehkan mereka mencontek, atas nama ketegasan kita melakukan hukuman fisik kepada anak, dan lain-lain. </p>
<p>Saya cukup tegas untuk masalah yang berkaitan dengan moral. Memang itu jadi dilema tersendiri. Tapi saya berusaha memegang teguh keyakinan saya. Saya tidak sampai sih merobek ulangan anak yang mencontek. Saya pun terkadang kasihan melihat anak-anak kesulitan menjawab soal ulangan atau tes. Tapi saya akan lebih merasa bersalah lagi jika saya membiarkan mereka berbuat kecurangan. Saya tidak ingin anak-anak itu hancur ketika nanti mereka menghadapi dunia yang sesungguhnya. </p>
<p>Salah satu kebaikan yang saya pelajari selama menjadi guru adalah betapa anak-anak mempunyai toleransi yang tinggi terhadap sebuah kesalahan. Mereka sungguh pemaaf. Kane bilang &#8220;Ruang kelas menawarkan potensi untuk perubahan dan pertumbuhan bagi siswa dan guru.&#8221;<br />
Guru dan siswa belajar bersama untuk menjadi lebih baik. </p>
<p>Saya ingat ketika saya gagal menyampaikan pembelajaran di sebuah kelas, ketika anak-anak memusuhi saya. Saya mungkin akan meninggalkan pekerjaan ini selamanya seandainya saat itu mereka tidak memberikan saya kesempatan. Saya begitu kagum dengan ketulusan mereka. Di tengah anak-anak itu saya selalu merasa belajar hal-hal baru yang menakjubkan, yang kadang tak mampu kita lihat sebagai orang dewasa. </p>
<p>Hari-hari di sekolah terasa mengasyikkan. Pikiran saya dipenuhi oleh keinginan untuk menciptakan pembelajaran yang menarik dan memudahkan bagi mereka. Kepuasan saya adalah ketika mereka menikmati pengajaran yang saya berikan. Apalagi jika itu bisa memotivasi mereka. Salah satunya kisah ini. Adalah mengharukan ketika suatu hari seorang anak berkata kepada saya &#8220;Ibu Enggar, saya sekarang kuliah di jurusan komputer. Saya juga mengajar design, seperti yang pernah Ibu ajarkan ke saya. Terima kasih ya, Bu.&#8221;  Wah, mau nangis rasanya.. hehehe. Tentu saja anak itu berlebihan, saya hanya mengajari ia sedikit. Ada juga yang mengatakan bahwa ia tertarik bidang IT karena terinspirasi oleh saya. Huahaha, ini tulisan asli narsis banget sih. Tak apa, memang sengaja kok, agar banyak anak-anak muda pintar dan berbakat di negeri ini untuk bercita- cita menjadi guru. Negeri ini membutuhkan guru-guru berkualitas untuk menjawab tantangan dalam mendidik generasi baru. </p>
<p>Dan jika Anda ingin membuat perubahan, kecil atau besar dalam kehidupan orang lain, menjadi guru adalah salah satu pilihan terbaik. Percaya deh <img src='http://enggar.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enggar.net/2012/04/19/selalu-menyenangkan-menjadi-guru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membaca</title>
		<link>http://enggar.net/2012/04/08/membaca/</link>
		<comments>http://enggar.net/2012/04/08/membaca/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Apr 2012 13:40:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enggar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enggar.net/?p=4619</guid>
		<description><![CDATA[Ayat pertama yang diturunkan Allah swt di dalam Al-Qur-an kepada Nabi Muhammad saw adalah Iqra. Inilah perintah pertama Allah: Iqra bismi rabbika, bacalah demi karena Tuhanmu. Quraish Shihab dalam bukunya Dia Di mana-mana memaparkan makna ayat di atas. Membaca membawa pada ketenangan baik jasmani dan ruhani. Karena dengan membaca kita memperoleh pengetahuan dan kehidupan. Membaca [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ayat pertama yang diturunkan Allah swt di dalam Al-Qur-an kepada Nabi Muhammad saw adalah Iqra. Inilah perintah pertama Allah: Iqra bismi rabbika, bacalah demi karena Tuhanmu. </p>
<p>Quraish Shihab dalam bukunya Dia Di mana-mana memaparkan makna ayat di atas. Membaca membawa pada ketenangan baik jasmani dan ruhani. Karena dengan membaca kita memperoleh pengetahuan dan kehidupan. Membaca kita lakukan agar kita tahu. </p>
<p>Kata pertama dalam ayat itu yang berbunyi &#8216;iqra&#8217; merujuk pada objek apapun. Artinya, kita dituntut untuk membaca apa saja, yang tertulis atau yang terhampar, yang buruk pun boleh dibaca selama motivasinya adalah Bismi Rabbika. Mengapa? Seorang arif menulis &#8220;Aku berusaha tahu yang buruk, bukan untuk melakukannya, tetapi untuk menghindarinya, siapa yang tak mengenal keburukan, maka dia dapat terjerumus ke dalamnya.&#8221;</p>
<p>Membacalah juga dengan berpikir. Mari terus membaca dengan mensyukuri anugerah-Nya serta mengamalkan tuntunan-Nya. <em>Bacalah dengan nama Tuhan atau demi nama Tuhanmu</em>. </p>
<p>Seorang mantan pemimpin tertinggi Al-Azhar Mesir mendefiniskan kegiatan membaca seperti ini:<br />
&#8220;Membaca di sini adalah lambang dari segala apa yang dilakukan oleh manusia, baik yang sifatnya aktif maupun pasif. Kalimat tersebut dalam pengertian dan jiwanya ingin menyatakan &#8220;Bacalah demi Tuhanmu, bergeraklah demi Tuhanmu, bekerjalah demi Tuhanmu.&#8221; Demikian pula, apabila Anda berhenti bergerak atau berhenti melakukan sesuatu aktivitas, maka hendaklah hal tersebut didasarkan juga pada Bismi Rabbika, yakni: &#8220;Jangan lakukan itu, demi karena Tuhanmu! Berhentilah melakukan keburukan demi karena Tuhanmu, dan seterusnya, sehingga pada akhirnya ayat tersebut berarti &#8220;Jadikanlah seluruh kehidupanmu, wujudmu, dalam cara dan tujuannya, kesemuanya demi karena Allah.&#8221;</p>
<p>~Dia Di mana-mana, M. Quraish Shihab. Penerbit Lentera Hati.~</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enggar.net/2012/04/08/membaca/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terus Bertanya</title>
		<link>http://enggar.net/2012/04/08/terus-bertanya/</link>
		<comments>http://enggar.net/2012/04/08/terus-bertanya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Apr 2012 08:07:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enggar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enggar.net/?p=4610</guid>
		<description><![CDATA[Mengapa orang menghambur-hamburkan uang untuk meneliti ruang angkasa? Mengapa tidak untuk hal lebih baik yang bisa kita lakukan di sini, di bumi? Nah, ini jawabnya: &#8220;hampir seperti Eropa sebelum 1492. Saat itu orang berpikir cuma menghambur-hamburkan uang saja mengirim Christopher Columbus mencari sesuatu yang tidak jelas. Tapi kemudian ia menemukan Amerika dan itu membuat perbedaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mengapa orang menghambur-hamburkan uang untuk meneliti ruang angkasa? Mengapa tidak untuk hal lebih baik yang bisa kita lakukan di sini, di bumi? Nah, ini jawabnya: &#8220;hampir seperti Eropa sebelum 1492. Saat itu orang berpikir cuma menghambur-hamburkan uang saja mengirim Christopher Columbus mencari sesuatu yang tidak jelas. Tapi kemudian ia menemukan Amerika dan itu membuat perbedaan yang sangat besar.&#8221; (George Berburu Harta Kosmis-Lucy &#038; Stephen Hawking)</p>
<p>Abad ke-18 adalah abad pencerahan (Renaissance) bagi bangsa-bangsa Eropa. Pada masa itu mereka mulai menyadari pentingnya diskusi dan pemikiran-pemikiran ilmiah. Segala hal yang mendasar pada kepercayaan-kepercayaan tradisional mulai ditinjau ulang. Singkatnya, mereka tidak lagi take it for granted (apa kata lainnya ya? Menerima begitu saja, mungkin?) untuk memahami segala sesuatu. Benih abad pencerahan ini bermula dari ditemukannya teleskop di abad ke-17. </p>
<p>Renaissance atau yang artinya kelahiran kembali. Bagi bangsa Eropa hal itu ditandai oleh bangkitnya ilmu pengetahuan, seni, dan kesusastraan. Orang tidak lagi takut bertanya dan mengemukakan gagasan ilmiahnya. Hal ini kemudian memicu tumbuhnya gagasan dan pemikiran-pemikiran baru dalam ilmu pengetahuan. </p>
<p>Kadang kita bersikap sinis menanggapi penemuan-penemuan baru, mengganggap apa yang orang lain lakukan tidak ada manfaatnya, dan lain-lain. Kemudian memilih untuk membiarkan segala sesuatunya ada begitu saja tanpa perlu dipertanyakan lagi. Tanpa keingintahuan tidakkah hidup terasa membosankan? Sedangkan alam semesta dan isinya menawarkan persahabatan abadi untuk kita menjalani kehidupan?</p>
<p>Janganlah berhenti untuk bertanya, &#8220;Mengapa?&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enggar.net/2012/04/08/terus-bertanya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemutakhiran NUPTK</title>
		<link>http://enggar.net/2012/03/19/pemutakhiran-nuptk/</link>
		<comments>http://enggar.net/2012/03/19/pemutakhiran-nuptk/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Mar 2012 15:11:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enggar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enggar.net/?p=4517</guid>
		<description><![CDATA[NUPTK atau Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan adalah nomor identitas yang bersifat nasional untuk seluruh PTK (Pendidik dan Tenaga Kependidikan). NUPTK terdiri dari 16 angka yang bersifat tetap karena NUPTK yang dimiliki seorang PTK tidak akan berubah mesikupun yang bersangkutan telah berpindah tempat mengajar atau terjadi perubahan data periwayatan. NUPTK diberikan kepada seluruh PTK [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>NUPTK atau Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan adalah nomor identitas yang bersifat nasional untuk seluruh PTK (Pendidik dan Tenaga Kependidikan). NUPTK terdiri dari 16 angka yang bersifat tetap karena NUPTK yang dimiliki seorang PTK tidak akan berubah mesikupun yang bersangkutan telah berpindah tempat mengajar atau terjadi perubahan data periwayatan.</p>
<p>NUPTK diberikan kepada seluruh PTK baik PNS maupun Non-PNS sebagai Nomor Identitas yang resmi untuk keperluan identifikasi dalam berbagai pelaksanaan program dan kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan dalam rangka peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. (Sumber: http://psdmp.kemdiknas.go.id/index.php/nuptk)</p>
<p>Pada tahun 2012 ini BPSDMP (Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan) dan PMP (Penjaminan Mutu Pendidikan) akan melakukan program pemutakhiran data NUPTK. Maka, bagi Anda yang telah memiliki NUPTK dan masih aktif mengajar diharapkan segera melakukan registrasi ulang yang dapat dilakukan di tingkat Kabupaten, Kecamatan, maupun sekolah mulai bulan Mei 2012. Jika Anda tidak melakukan pemutakhiran data NUPTK yang telah dimiliki akan dinyatakan tidak aktif.<br />
Untuk mengecek status data NUPTK Anda, silahkan klik di <a href="http://nuptk.kemdikbud.go.id/index.php?id=1&#038;id2=0a">sini</a> atau masuk ke URL: http://nuptk.kemdikbud.go.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enggar.net/2012/03/19/pemutakhiran-nuptk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Finally</title>
		<link>http://enggar.net/2012/03/07/finally/</link>
		<comments>http://enggar.net/2012/03/07/finally/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Mar 2012 14:12:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enggar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enggar.net/?p=4479</guid>
		<description><![CDATA[Akhirnya, urusan LB dengan pajak selesai. Awalnya, saya sempat kesal, bahkan mungkin meragukan niat baik mereka. Sebenarnya saya tidak ingin bersikap seperti itu, tapi cerita dan pengalaman orang lain bersinggungan dengan masalah pajak membuat kepercayaan saya luntur. Saya lupa bahwa semustinya saya berpikir positif, sama hari, sama orang, dan lain-lain. Entah mengapa, saat itu berurusan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Akhirnya, urusan LB dengan pajak selesai. Awalnya, saya sempat kesal, bahkan mungkin meragukan niat baik mereka. Sebenarnya saya tidak ingin bersikap seperti itu, tapi cerita dan pengalaman orang lain bersinggungan dengan masalah pajak membuat kepercayaan saya luntur. </p>
<p>Saya lupa bahwa semustinya saya berpikir positif, sama hari, sama orang, dan lain-lain. Entah mengapa, saat itu berurusan dengan pajak, menyebalkan sekali. Saya diminta mengurus ini itu dan beberapa kali bolak balik ke kantor mereka. Saya capek dan rasanya seperti dimata-matai. Kadang sakit hati karena saya bekerja sungguh-sungguh, dan merasa  bahwa saya dipermainkan. Namun akhirnya saya harus mengakui walau memang merepotkan tapi itulah aturan. Tidak mudah memang mengurus uang orang banyak, bukan? </p>
<p>Saya beruntung, karena punya pemeriksa yang sabar meladeni sifat keras kepala saya. Mungkin sebenarnya dia mangkel luar biasa. Saya bertanya kepada teman, mengumpulkan dan mencari informasi serta banyak bertanya kepada pemeriksa berkaitan dengan masalah pajak saya ini. Walaupun belum sepenuhnya memercayai perlahan wawasan saya terbuka. Sedikit demi sedikit saya belajar. </p>
<p>Cerita ini saya tuliskan dengan sebuah maksud. Sudah sering saya meyakinkan diri bahwa membuat generalisasi adalah sebuah kesalahan. Itu terbukti benar. Mungkin memang ada sebagian orang pajak yang menyalahi peraturan. Mungkin juga ada guru yang suka meminta uang dari murid-muridnya. Atau ada beberapa polisi yang bermain dengan uang tilang. Juru parkir yang menerima uang parkir tanpa memberikan karcis, dan sebagainya. Hal-hal seperti di atas adalah <strong>penyimpangan</strong> dan bukan sebuah mainstream (arus utama). Tidak semua orang melakukan itu. </p>
<p>Korupsi bisa dilakukan oleh tingkatan apapun, dari bawah sampai atas. Bekali saja diri kita dengan iman. Sebesar apapun godaan dunia semoga Tuhan meluruskan jalan kita. Doa saya yang tidak berubah, semoga  Allah mempertemukan saya dengan orang-orang dan lingkungan yang menuntun saya agar tetap berada di jalan-Nya. Amin yra.</p>
<p>Untuk mas Ajie, KPP Pratama Matraman. Terima kasih banyak buat kesabaran dan keikhlasannya. Maafkan saya ya. Semoga kita bisa tetap berteman. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enggar.net/2012/03/07/finally/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Permainan</title>
		<link>http://enggar.net/2012/03/06/permainan-2/</link>
		<comments>http://enggar.net/2012/03/06/permainan-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Mar 2012 17:33:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enggar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enggar.net/?p=4472</guid>
		<description><![CDATA[Senin kemarin saya mendapat panggilan interview dari sebuah sekolah alam di daerah Pondok Gede. Tepatnya Bekasi, Jawa Barat. Di tengah perjalanan saya sudah mulai ragu. Tapi, saya sudah setengah jalan. Untuk menuntaskan rasa penasaran sebaiknya saya teruskan saja. Sambil menunggu interview saya mengobrol. Interview mulur sampai satu jam. Selanjutnya kami diajak berkeliling. Interview? Belum. Setelah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Senin kemarin saya mendapat panggilan interview dari sebuah sekolah alam di daerah Pondok Gede. Tepatnya Bekasi, Jawa Barat. Di tengah perjalanan saya sudah mulai ragu. Tapi, saya sudah setengah jalan. Untuk menuntaskan rasa penasaran sebaiknya saya teruskan saja. </p>
<p>Sambil menunggu interview saya mengobrol. Interview mulur sampai satu jam. Selanjutnya kami diajak berkeliling. Interview? Belum. Setelah orientasi lapangan kami diberi latihan fisik berupa permainan. Atau bisa kita kenal dengan istilah ice breaker.</p>
<p>Nah, ini yang ingin saya ceritakan. Jadi, hari itu kami melakukan berbagai permainan. Selanjutnya mengikuti beberapa tes: membaca al-qur,an; interview, dll. Namun saya tidak mengikuti tes-tes itu. Saya memutuskan untuk mengundurkan diri. Waktu yang ditempuh dari rumah ke sekolah ini dalam kondisi lalu lintas tergolong lancar adalah 2 jam lebih. Saya tidak bisa membayangkan lalu lintas itu pada saat jam sibuk, apalagi saya melalui daerah yang rawan kemacetan, belum lagi beberapa pasar yang harus dilewati. Bisa jadi saya membutuhkan waktu sekitar 3 jam untuk menuju ke sekolah ini. Wow, saya harus realistis, bukan? </p>
<p>Kembali ke permainan. Beberapa games yang kemarin diperkenalkan dapat diberikan kepada murid. Permainan dapat diberikan kepada siswa dengan berbagai tujuan. Pertama, sebagai pencair suasana, sehingga anak dapat menerima pelajaran dengan rasa senang tanpa diliputi oleh ketakutan. Kedua, menumbuhkan pendidikan karakter kepada anak, karena melalui permainan mereka belajar untuk bekerjasama, bertoleransi, dan sifat-sifat sosial lainnya. Ketiga, melatih fisik dan ketahanan mental. Permainan juga dapat dijadikan cara untuk membangkitkan semangat atau mengusir kebosanan di tengah-tengah seminar atau pembelajaran. Atau sebaliknya sebagai langkah untuk menarik perhatian pembelajar. </p>
<p>Permainan-permainan sederhana seperti bertepuk tangan dengan berbagai variasi adalah salah satu cara yang sering digunakan guru (instruktur) untuk menarik perhatian siswa didik. Guru berteriak di depan kelas tentu bukan jamannya lagi. Memanfaatkan seluruh jalur yang digunakan si anak untuk menangkap informasi, seperti: pendengaran, penglihatan, dan gerakan, adalah langkah yang paling efektif. Berbagai gerakan bisa kita ciptakan sendiri. Seperti ini misalnya.</p>
<p>1. Meminta Perhatian<br />
Guru bertanya kepada siswa &#8220;Are you ready?&#8221;<br />
Siswa membalasnya dengan meragakan gerakan menekuk tangan kiri dan menariknya ke belakang sambil meneriakkan kata &#8220;Yes&#8221;. Dan gerakan yang sama untuk tangan kanan. Berikutnya, melompat setinggi mungkin sambil berteriak &#8220;I&#8217;m ready&#8221;</p>
<p>2. Bermain dalam Lingkaran<br />
Siswa membentuk lingkaran. Siswa berjalan mengelilingi lingkaran sambil menyanyikan sebuah lagu. Jika guru memberi aba-aba, 4 kelompok. Maka setiap siswa harus segera mencari teman sampai terkumpul 4 orang. Yang tidak mendapatkan kelompok (kurang atau lebih) dapat diberi konsekuensi, berupa menyanyi, menari, berpuisi, dan lain-lain. Permainan dilanjutkan dengan perintah yang berbeda-beda, bisa 3, 2, 6 kelompok, dan seterusnya.</p>
<p>3. Hitam dan Hijau<br />
Siswa dibagi menjadi 2 baris. Beri nama untuk masing-masing baris. Misalnya satu baris bernama Hitam, lainnya Hijau. Anak-anak berdiri berhadapan dengan lawan mereka. Minta mereka mengingat nama teman yang ada di hadapannya. Jika guru menyebut baris Hitam, maka anak yang berada di dalam barisan hitam harus berlari dan sebaliknya anak yang berada di dalam barisan hijau harus mengejar teman yang ada di depannya tadi. Berikutnya, jika guru meniupkan bunyi pluit 3 kali maka semua anak harus diam menjadi patung. Pluit berbunyi satu kali maka semua anak dapat melanjutkan berlari. Dan pluit panjang semua anak harus kembali ke barisan mereka masing-masing. Kelompok yang menang adalah yang berhasil menangkap kawannya. Untuk menangkap kawan cukup ditepuk saja. Untuk kelompok yang kalah seperti biasa ada konsekuensinya. </p>
<p>4. Rubah, Pemburu, dan Banjir<br />
Bagi setiap siswa ke dalam 3 kelompok. 3 kelompok itu terdiri dari 2 anak menjadi pohon dan satu anak menjadi rubah. Minta 2 anak yang menjadi pohon untuk meletakkan tangan mereka di bahu masing-masing kawannya sehingga kedua tangan sejajar dan bertemu. Anak yang menjadi rubah berjongkok di bawah tangan yang berfungsi sebagai pohon. </p>
<p>Jika guru memberi perintah &#8220;Pemburu&#8221; maka setiap anak yang menjadi rubah harus berlari dan mencari pohon lain. Pohon tetap diam di tempat. </p>
<p>Pohon harus bergeser dan mencari rubah yang baru jika guru memberi perintah &#8220;banjir&#8221;. Rubah tetap diam di tempat. </p>
<p>Yang ketiga, jika guru memerintahkan kata &#8220;Rubah&#8221; maka salah satu anak yang menjadi pohon di setiap kelompok hars berganti posisi dengan rubah. </p>
<p>5. Sumo<br />
Bagi siswa menjadi 2 baris. Anak-anak berada dalam posisi kuda-kuda dengan kedua kaki ditekuk. Jika pluit berbunyi satu kali minta anak-anak melangkahkan kaki kanan ke depan dengan bergaya seperti sumo ketika hendak bergulat sambil meneriakkan kata &#8220;Ha&#8221;. Pluit kedua berbunyi melangkahkan kaki kiri ke muka dengan meneriakkan &#8220;Tji&#8221;. Terakhir tarik tangan kanan ke hadapan kuda-kuda sampai menyentuh lantai dan teriakan &#8220;Ki&#8221;. Terakhir, minta anak-anak maju dan saling memegang bahu kanan kawannya. Sebelumnya beritahu mereka bahwa mereka boleh mendorong kawannya sampai di batas akhir baris. Namun sebelumnya peringatkan kepada mereka bahwa mereka tidak boleh melukai kawannya. Latihan ini hanya dimaksudkan untuk melihat bagaimana setiap anak merespon dirinya dalam sebuah situasi.<br />
(Sebaiknya diberikan untuk anak-anak di usia yang lebih besar)</p>
<p>Latihan dan permainan di atas adalah beberapa yang saya ingat. Bapak Ibu guru dapat menerapkan dan memilah permainan yang dirasa cocok untuk diterapkan pada siswa didik Anda. </p>
<p>Saya pun yakin Sekolah Alam di Bekasi ini pasti tidak keberatan saya menuliskan permainan-permainan yang mereka berikan kepada kami kemarin. Seperti yang bapak Imam bilang saat itu, bahwa hidup kita akan lebih bermakna jika kita mau berbagi kepada orang lain. Maka, sedikit cerita dan pengalaman di atas semoga bisa memberi manfaat kepada kita semua. Amin.</p>
<p>Omong-omong, rasanya badan saya ringsek seharian itu setelah berlarian ke sana kemari.. hehe. Terima kasih untuk rekan-rekan di Sekolah Alam Natur Islam yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk mencoba peluang ini. Semoga sukses untuk Anda semua. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enggar.net/2012/03/06/permainan-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membuat Dunia Lebih Baik</title>
		<link>http://enggar.net/2012/03/06/membuat-dunia-lebih-baik/</link>
		<comments>http://enggar.net/2012/03/06/membuat-dunia-lebih-baik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Mar 2012 06:33:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enggar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enggar.net/?p=4468</guid>
		<description><![CDATA[Membuat dunia lebih baik tentu bukan hanya omong kosong. Kita semua bisa melakukannya. Mungkinkah? Di novel One Day, tokoh Emma menyatakan keinginannya untuk mengubah dunia. Ketika kawan bicaranya tak menanggapi serius kalimat itu, Emma menambahkan bahwa dunia yang ia maksud adalah dimulai dengan mengubah hal-hal kecil di sekitar hidupnya. Mengubah hal-hal kecil di sekitar kita, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Membuat dunia lebih baik tentu bukan hanya omong kosong. Kita semua bisa melakukannya. Mungkinkah? </p>
<p>Di novel <a href="http://www.erlangga.co.id/artikel/resensi/7203.html">One Day</a>, tokoh Emma menyatakan keinginannya untuk mengubah dunia. Ketika kawan bicaranya tak menanggapi serius kalimat itu, Emma menambahkan bahwa dunia yang ia maksud adalah dimulai dengan mengubah hal-hal kecil di sekitar hidupnya.</p>
<p>Mengubah hal-hal kecil di sekitar kita, seperti apa? Bagaimana caranya?</p>
<p>Mengubah sebuah kebiasaan buruk yang mendarah daging tentulah sulit. Seperti: membuang sampah sembarangan. Jika lingkungan mengajarkan membuang sampah di mana saja itu tidak apa-apa, maka sulit bagi kita memahami bahwa membuang sampah mustinya pada tempat yang telah disediakan. Begitu juga: korupsi, ketidakpedulian pada orang lain, mementingkan diri sendiri, dan sebagainya.</p>
<p>Kita menyepelekan hal-hal di atas. Kita tidak menyadari bahwa ada generasi penerus, yaitu: anak-anak kita, siswa didik yang kelak kepada mereka tongkat kepemimpinan negeri ini akan diberikan. Bayangkanlah seperti apa calon pemimpin negeri ini kelak.</p>
<p>Lalu, kita harus bagaimana? Mengubah diri sendiri dahulu, tentu. Belajar untuk membuang sampah pada tempatnya, menanamkan kepekaan dan sifat empati, menolong sesama makhluk hidup, mendahulukan kepentingan orang banyak. Dan itu semua diberikan dengan contoh. Anak akan mencontoh apa yang dilakukan oleh orang dewasa.</p>
<p>&#8220;Jika kita berbuat baik maka orang-orang di sekitar kita pun akan belajar untuk berbuat kebaikan.&#8221;</p>
<p>Ada video bagus, dan rasanya semua yang ingin saya ungkapkan sudah tergambar jelas di sini.</p>
<p><iframe width="560" height="315" src="http://www.youtube.com/embed/znzXNnGs3Gk" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enggar.net/2012/03/06/membuat-dunia-lebih-baik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teori Belajar dan Kecerdasan</title>
		<link>http://enggar.net/2011/12/22/teori-belajar-dan-kecerdasan/</link>
		<comments>http://enggar.net/2011/12/22/teori-belajar-dan-kecerdasan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Dec 2011 07:54:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enggar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enggar.net/?p=4326</guid>
		<description><![CDATA[Dahulu bahkan saat ini masih banyak kita temui mereka yang terpaku pada hasil tes IQ seseorang. Kecerdasan seseorang dinilai sebagai sesuatu yang dimiliknya sejak lahir dan yang tidak akan berubah sepanjang hidupnya. Pandangan seperti ini tidaklah benar. Howard Gardner dan rekan-rekannya di Universitas Harvard telah mematahkan anggapan ini. Melalui sebuah penelitian mereka menemukan bahwa ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dahulu bahkan saat ini masih banyak kita temui mereka yang terpaku pada hasil tes IQ seseorang. Kecerdasan seseorang dinilai sebagai sesuatu yang dimiliknya sejak lahir dan yang tidak akan berubah sepanjang hidupnya. Pandangan seperti ini tidaklah benar. Howard Gardner dan rekan-rekannya di Universitas Harvard telah mematahkan anggapan ini. Melalui sebuah penelitian mereka menemukan bahwa ada banyak jenis kecerdasan yang tidak bisa diukur oleh tes IQ standar.</p>
<p>Menurut Gardner kecerdasan adalah: kemampuan untuk memecahkan masalah dan menciptakan berbagai produk yang penting bagi perkembangan budaya.  Menurutnya, mengamati cara seorang montir menyelesaikan masalah busi, atau cara seorang akuntan menyelesaikan sebuah dilema finansial, memberikan contoh yang lebih baik mengenai cara kerja kecerdasan daripada hasil tes apapun.</p>
<p>Howard Gardner memberi delapan tipe kecerdasan pada manusia, yaitu:</p>
<p>1. Kecerdasan Linguistik: Word Smart</p>
<p>ini adalah kemampuan menggunakan kata-kata secara efektf (kemampuan berbicara). Dalam kehidupan sehari-hari, kecerdasan linguistik bermanfaat untuk berbicara, mendengarkan, membaca apa pun mulai dari rambu lalu lintas sampai novel klasik, dan menulis apa pun mulai dari pesan dan surat E-mail sampai puisi dan laporan kantor.</p>
<p>2. Kecerdasan Logis-matematis: Number Smart</p>
<p>Ketrampilan mengolah angka dan atau kemahiran menggunakan logika atau akal sehat.Ini adalah kecerdasan yang digunakan ilmuwan ketika menciptakan hipotesis dan dengan tekun mengujinya dengan data eksperimental. Ini juga kecerdasan yang digunakan akuntan pajak, pemrogram komputer atau ahli matematika. Dalam kehidupan sehari-hari kita memerlukan kecerdasan ini untuk menghitung saldo buku cek, memahami perhitungan utang nasional, atau mencerna laporan surat kabar terbaru mengenai penelitian genetika.</p>
<p>3. Kecerdasan Spasial: Picture Smart</p>
<p>Kecerdasan gambar dan visualisasi. Kemampuan untuk memvisualisasikan gambar di dalam kepala seseorang atau menciptakannya dalam bentuk dua atau tiga dimensi. Senimana atau pemahat memiliki kecerdasan ini dalam tingkat yang tinggi, demikian juga dengan seorang penemu yang bisa memvisualisasikan penemuan baru sebelum menggambarkannya di atas kertas. Dalam kehidupan sehari-hari kita menggunakan kecerdasan ini untuk menghias rumah, membaca laporan keuangan kantor atau menikmati sebuah karya seni.</p>
<p>4. Kecerdasan Kinestetik</p>
<p>Kecerdasan seluruh tubuh (atlet, penari, seniman, pantomim, aktor), dan juga kecerdasan tangan (montir, penjahit, tukang kayu, ahli bedah). Tentu saja yang kesemuanya diimbangi dengan kecerdasan lainnya. Dalam kehidupan sehari-hari kita menggunakan cerdas tubuh dalam segala hal, mulai dari membuka tutup botol mayones dan memperbaikimesin mobil sampai melakukan olah raga.</p>
<p>5. Kecerdasan Musikal: Musical Smart</p>
<p>Kemampuan menyanyikan sebuah lagu, mengingat melodi musik, mempunyai kepekaan akan irama, atau sekedar menikmati musik. Dalam bentuknya yang lebih canggih, kecerdasan ini mencakup para diva dan virtuoso piano dari dunia seni dan budaya. Disk jockey, teknisi suara, tukang stem piao, wiraniaga produk elektronik dan terapis musik adalah karir praktis untuk kecerdasan ini.</p>
<p>Dalam kehidupan sehari-hari kita menggunakan kecerdasan ini ketika kita menyanyi dalam paduan suara, memainkan alat musik, atau menikmati musik di TV, radio, atau CD.</p>
<p>6. Kecerdasan Antarpribadi: People Smart</p>
<p>Kemampuan untuk memahami dan bekerja dengan orang lain. Termasuk juga: kemampuan berempati pada orang lain (seperti konselor), sampai kemampuan memanipulasi sekelompok besar orang menuju pencapaian suatu tujuan bersama. Kecerdasan antarpribadi mencakup kemampuan &#8216;membaca orang&#8217;.</p>
<p>Begitu banyaknya spek kehidupan yang melibatkan interaksi dengan orang lain, maka kecerdasan antarpribadi ini mungkin sebenarnya lebih penting bagi keberhasilan dalam hidup daripada kemampuan membaca buku atau memecahkan problem matematika.</p>
<p>7. Kecerdasan Intrapribadi: Self Smart</p>
<p>Kecerdasan memahami diri sendiri, kecerdasan mengetahui siapa diri Anda sebenarnya, dan mengetahu kekuatan serta kelemahan Anda. Kecerdasan intrapribadi termasuk kecerdasan yang paling sulit dimengerti.</p>
<p>Ini juga kecerdasan untuk bisa merenungkan tujuan hidup sendiri dan untuk mempercayai diri sendiri.</p>
<p>Terapis, konselor, dan profesional lain yang bekerja dengan emosi serta motivasi pribadi menggunakan kecerdasan ini untuk membantu orang lain mengembangkan perasaan positif terhadap diri sendiri.</p>
<p>8. Kecerdasan Naturalis: Nature Smart</p>
<p>Kemampuan mengenali bentuk-bentuk alam di sekitar kita. Ini juga mencakup kepekaan terhadap bentuk-bentuk alam lain. Ahli biologi, penjaga hutan, dokter hewan dan hortikulturis menggunakan kecerdasan ini untuk profesi mereka. Dalam kehidupan sehari-hari kita menggunakan kecerdasan ini ketika berkebun, berkemah dengan teman-teman atau keluarga, atau mendukung proyek ekologi lokal.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Setiap manusia mempunyai dan menggunakan kedelapan kecerdasan ini dengan kombinasi yang berlainan. Mereka juga menggunakan kedelapan kecerdasan ini dengan caranya masing-masing. Kebanyakan dari kita berada di tengah-tengah, yaitu: kita mempunyai satu atau lebih kecerdasan yang mudah untuk kita ungkapkan dan beberapa sedang-sedang saja serta satu atau lebih terasa sulit.</p>
<p>Nah, kegagalan yang sering kita lihat dalam bermasyarakat adalah ketika kita memberi penilaian yang lebih dengan hanya memusatkan pada satu atau dua saja dari kedelapan kecerdasan yang ada di atas. Seperti kita lebih menghargai mereka yang menonjol dalam kecerdasan linguistik dan kecerdasan matematis, misalnya. Kecenderungan ini kemudian menular ke dalam ruang-ruang kelas. Anak-anak dengan dua kecerdasan ini kemudian lebih dihargai kemampuannya. Akibatnya, anak-anak dengan kecerdasan lainnya seringkali diabaikan dan pada akhirnya tampak lebih sering gagal, walau sebenarnya mereka mungkin sangat berbakat dalam kecerdasan lainnya.</p>
<p>Teori Multiple Intelligence kemudian memberi kita cara melihat sebuah gambaran lengkap potensi seorang pelajar sehingga berbagai kemampuan mereka yang tadinya terabaikan dapat muncul sehingga dapat dihargai dan dikembangkan.</p>
<p>Bagaimana menemukan Multiple Intelligence pada siswa didik kita? Thomas Armstrong dalam bukunya Setiap Anak Cerdas memaparkan langkah-langkah yang dapat kita tempuh dalam proses belajar siswa didik untuk melihat setiap keunikan dan keistimewaan yang ada pada diri mereka dan bagaimana mengembangkan kecerdasan yang mereka miliki.</p>
<p>Pada pokoknya, setiap anak memiliki kedelapan kecerdasan di atas. Yang membedakan adalah proporsi-nya.</p>
<p>sumber: Setiap Anak Cerdas, Thomas Armstrong.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enggar.net/2011/12/22/teori-belajar-dan-kecerdasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Storytelling dalam KBM</title>
		<link>http://enggar.net/2011/12/07/storytelling-dalam-kbm/</link>
		<comments>http://enggar.net/2011/12/07/storytelling-dalam-kbm/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Dec 2011 04:48:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enggar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enggar.net/?p=4223</guid>
		<description><![CDATA[Ada yang membanggakan melihat anak-anak Indonesia saat ini, itulah ketika saya mengantarkan keponakan untuk mengikuti lomba storytelling tingkat Sekolah Dasar dan Menengah di LIA, tanggal 3 Desember lalu. Lomba storytelling ini memberikan tiga kriteria cerita, yaitu: cerita hewan, cerita rakyat, dan (satu lagi saya lupa). Begitu memasuki kampus ini, suasana meriah menyambut saya. Beberapa anak-anak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada yang membanggakan melihat anak-anak Indonesia saat ini, itulah ketika saya mengantarkan keponakan untuk mengikuti lomba storytelling tingkat Sekolah Dasar dan Menengah di LIA, tanggal 3 Desember lalu. Lomba storytelling ini memberikan tiga kriteria cerita, yaitu: cerita hewan, cerita rakyat, dan (satu lagi saya lupa). </p>
<p>Begitu memasuki kampus ini, suasana meriah menyambut saya. Beberapa anak-anak sekolah dasar dan menengah tampil dengan busana tradisional. Ada juga yang mengenakan kostum binatang. Yang lebih menakjubkan lagi adalah media dan perangkat yang mereka bawa untuk melengkapi lomba storytelling ini. Saya seperti melihat kesibukan guru mempersiapkan bahan ajar untuk murid-muridnya (smile).<br />
<a href="http://enggar.net/wp-content/uploads/2011/12/photo391.jpg"><img src="http://enggar.net/wp-content/uploads/2011/12/photo391-225x300.jpg" alt="" title="photo(39)" width="225" height="300" /></a><br />
Pemandangan yang sungguh memesona melihat anak-anak kecil begitu fasih berbahasa inggris, tampil percaya diri bercerita di depan khalayak umum. Saya seperti mendapatkan suntikan semangat melihat antusiasme anak-anak itu. Sebenarnya apa sih storytelling itu?<br />
<a href="http://enggar.net/wp-content/uploads/2011/12/photo40.jpg"><img src="http://enggar.net/wp-content/uploads/2011/12/photo40-225x300.jpg" alt="" title="photo(40)" width="225" height="300" /></a>  <a href="http://enggar.net/wp-content/uploads/2011/12/photo42.jpg"><img src="http://enggar.net/wp-content/uploads/2011/12/photo42-225x300.jpg" alt="" title="photo(42)" width="225" height="300" /></a><br />
Storytelling adalah aktivitas bercerita dengan menggunakan berbagai media. Media tersebut bisa berupa boneka, ekspresi wajah dan gerakan tubuh, buku, dan lain-lain. Banyak manfaat yang bisa kita peroleh dari aktivitas storytelling ini, di antaranya adalah:<br />
1. Materi pelajaran akan lebih mudah diserap.<br />
2. Mengembangkan imajinasi anak.<br />
3. Dapat disisipkan nilai-nilai moral.</p>
<p>Model storytelling ini saya yakin sudah banyak dilakukan di sekolah-sekolah. Selain manfaat yang dapat diperoleh seperti di atas, kegiatan belajar mengajar juga lebih menyenangkan. Guru dan murid dapat saling berinteraksi.<br />
<a href="http://enggar.net/wp-content/uploads/2011/12/photo41.jpg"><img src="http://enggar.net/wp-content/uploads/2011/12/photo41-300x225.jpg" alt="" title="photo(41)" width="300" height="225" /></a><br />
Selain manfaat seperti yang telah diuraikan di atas, ada juga kekurangan dari storytelling ini, salah satunya adalah kadang materi yang diberikan bisa melebar kemana-mana. Untuk itu guru atau sang pencerita harus memfokuskan diri pada materi yang akan diberikan. </p>
<p>Kebaikan dan kekurangan pada sebuah model kegiatan belajar tentu tidaklah seharusnya menjadi penghalang. Semakin banyak mencoba dan menerapkan kepada anak didik, kita akan semakin luwes dan memahami metode apa yang cocok untuk mereka.</p>
<p>Selamat bercerita Bapak/Ibu guru.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enggar.net/2011/12/07/storytelling-dalam-kbm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

