Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

Pendidikan 9 Comments »

Melanjutkan bahasan dari buku standar isi:

Arah Pengembangan

Standar kompetensi dan kompetensi dasar menjadi arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Dalam merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian perlu memperhatikan Standar Proses dan Standar Penilaian.

Yup, saya beneran lieur. Tapi mau tidak mau ini harus dipelajari. Jadi, saya bertanya dengan para senior yang ada di sekolah. Dan kira-kira seperti inilah pemahaman saya. Tolong dikoreksi kalau salah ya.

catatan: SK tidak boleh diubah (sesuai kurikulum). Namun boleh ditambah kalau tidak ada. Penulisannya pun disesuaikan dengan peraturan yang ada (kalau tidak salah ada lembar penggunaan kalimat operasional yang berupa kata kerja untuk pembuatan SK dan KD)

Standar Kompetensi (SK) adalah tujuan pembelajaran secara umum. Misalkan, semester ini saya ingin mengajarkan Corel Draw sebagai program perangkat lunak pengolah grafis. Apa yang saya harapkan dari siswa setelah mereka mempelajari program pengolah grafis ini? Tentu harapannya adalah agar siswa dapat menggunakan program Corel ini. Maka, Standar Kompetensi nya adalah: Menggunakan perangkat lunak pengolah grafis.

Selanjutnya, Kompetensi Dasar(KD). Kompetensi dasar ini berupa penjabaran dari standar kompetensi.

Contoh: Untuk dapat menggunakan program Corel Draw apa yang ingin Anda berikan kepada siswa terlebih dahulu? Menjelaskan aplikasi lain untuk program grafis? Perbedaan program grafis berbasis bitmap dan vektor? Contoh grafis berbasis vektor dan bitmap? Nah, kesemuanya dapat Anda rangkum di dalam kompetensi dasar. Jadi, kompetensi dasar nya adalah Mengenal Corel Draw sebagai program pengolah grafis. Sedangkan urutan materi yang ingin diberikan tadi dapat dimasukkan dalam kolom materi pokok.

Berikutnya, Kegiatan Pembelajaran. Kegiatan pembelajaran ini adalah aktivitas yang dilakukan oleh siswa bersama guru di kelas. Bisa berupa demonstrasi, tanya jawab, diskusi, game, praktikum, dll.

Indikator , mengacu kepada materi pokok. Kalau materi pokoknya adalah pengertian grafis berbasis vektor dan bitmap, maka indikatornya adalah: mampu menjelaskan pengertian grafis berbasis vektor dan bitmap. dstnya.

Penilaian: bisa tes lisan, tertulis, kinerja saat praktikum, hasil karya (portofolio).

Alokasi waktu: waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pembelajaran pada setiap KD.

Sumber/Bahan ajar/Alat: Buku paket, modul (halaman berapa), dll.

Ppfuuh, melihat ini saya langsung memeriksa silabus yang sudah saya buat sebelumnya. Arghh, kayanya musti diulang nih. Dan akhirnya, satu hari ini saya coba selesaikan silabus yang sudah saya buat sebelumnya dengan susah payah. Dan contoh di atas adalah salah satunya. Saya memang harus lebih banyak belajar. Terima kasih ya teman-teman yang sudah sangat berbaik hati mengajarkan saya :). Jika ada masukan, kritik ataupun saran sehubungan dengan pembuatan silabus ini jangan segan-segan mengirimkannya ya.

Jika ada yang berminat mengunduh hasil pembuatan silabus ini akan saya letakkan di halaman file di blog yang sama. Tunggu ya

Rangkuman Standar Isi

Pendidikan, Materi TIK 3 Comments »

Dipinjami rekan buku standar isi yang musti dibaca oleh guru :). Bukunya tebal banget dan saya belum selesai juga bacanya. Lieur euy. Sebagai bahan pengingat untuk saya, kayanya enakkan ditulis di sini.

catatan: saya ringkas untuk mata pelajaran TIK tingkat SMP.

Standar Isi (Sumber: Badan Standar Nasional Pendidikan)

Standar Isi adalah salah satu dari delapan standar nasional pendidikan sebagaimana tertuang dalam Bab II pasal 2 (1) Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, meliputi standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan satndar penilaian pendidikan.

Kerangka Dasar Kurikulum untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi tingkat SMP/MTs/SMPLB dimaksudkan untuk memperoleh kompetensi dasar ilmu pengetahuan dan teknologi serta membudayakan berpikir ilmiah secara kritis, kreatif dan mandiri.

Struktur kurikulum SMP/MTs

Alokasi waktu satu jam pembelajaran adalah 40 menit.

Minggu efektif dalam satu tahun pelajaran (dua semester) adalah 34-38 minggu.

Alokasi waktu untuk Keterampilan/Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk kelas 7,8, dan 9 adalah 2

Kegiatan tatap muka adalah kegiatan pembelajaran yang berupa proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik.

Beban belajar kegiatan tatap muka per jam pembelajaran pada tingkat SMP/MTs/SMPLB adalah 40 menit.

Beban belajar kegiatan tatap muka per minggu untuk SMP/MTs/SMPLB adalah 34 jam pelajaran (untuk minggu efektif per tahun ajaran). Jumlah jam pembelajaran per minggu adalah 32.

Waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur bagi peserta didik pada SMP/MTs/SMPLB  maksimum 50% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan.

Penugasan terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pelajaran oleh peserta didik yang didesain oleh pendidik untuk menunjang pencapaian tingkat kompetensi atau kemampuan lainnya pada kegiatan tatap muka. Waktu penyelesaian penugasan terstruktur ditentukan oleh pendidik. Penugasan terstruktur termasuk kegiatan perbaikan, pengayaan, dan percepatan.

Kegiatan mandiri tidak terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang didesain oleh pendidik  untuk menunjang pencapaian tingkat kompetensi mata pelajaran atau lintas mata pelajaran atau kemampuan lainnya yang waktu penyelesaiannya diatur sendiri oleh peserta didik.

Bahasan untuk standar kompetensi dan kompetensi dasar menyusul ya.. :)

Sekilas Pandang

Pendidikan 5 Comments »

Pernahkah sekali waktu kita mencoba memahami mereka yang harus berjuang memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak didiknya dengan situasi dan kondisi yang sama sekali tidak ideal untuk suatu proses pembelajaran? Lepas dari sosok yang memberikan itu guru ideal atau bukan (Persyaratan apakah agar disebut guru ideal itu?).Dari pergaulan saya dengan rekan-rekan guru yang saya temui saya yakin mereka sangat ingin memberikan suatu proses pembelajaran yang menarik untuk anak didiknya. Kendala tentu saja banyak, tapi itu tidak pernah menyurutkan langkah mereka untuk belajar. Dan kalau kemudian muncul suatu pengkotakan, yang ditujukan untuk guru, rasanya tidak adil. Bukankah sesuatu dianggap adil bukan karena satu sama dengan satu? Tapi satu bisa jadi dua, tiga, tergantung pada banyak hal. Tidakkah seharusnya kita lebih menghargai mereka yang mau berusaha dan terus ingin berkembang dibanding mereka yang cukup berpuas diri dengan menyandang status institusional yang mereka bawa?

Saya sesungguhnya kagum dengan guru-guru yang mengajar di sekolah negeri atau swasta kecil yang ada di pelosok. Antusiasme mereka untuk belajar sangat tinggi. Mungkin itu yang membuat orang-orang dari kota kecil selalu menang di ajang lomba macam-macam (jadi ingat ketika Pak Rommy menulis bahwa banyak peserta lomba multimedia yang diadakan untuk guru itu berasal dari kota-kota kecil). Mungkin seharusnya kami-kami yang berada di kota besar ini belajar banyak dari mereka.

Leaving Microsoft To Change The World

Obrolan, Pendidikan 7 Comments »

leavemicrosoft4.jpgBuku bagus, memoar dari seorang mantan eksekutif di microsoft. John Wood melepaskan karir bagusnya di microsoft dan memilih untuk mendirikan lembaga nirlaba yang menyediakan dana untuk pendidikan anak-anak di negara berkembang. Berawal dari kedatangan John ke sebuah tempat di ketinggian Himalaya di dataran tinggi Nepal, di sebuah desa terpencil yang dihuni oleh orang-orang buta huruf dan kebanyakan anak-anak putus sekolah.

Menyadari bahwa kesempatan yang dia miliki sekarang adalah berkah dari sebuah pendidikan yang baik, maka John ingin memberikan peluang yang sama kepada anak-anak yang kurang beruntung. Langkah pertama yang ditempuhnya adalah memberikan bantuan banyak buku ke sekolah yang membutuhkan di Nepal. Mengirimkan dana untuk membangun sekolah, lab komputer dan lab bahasa. Lembaga ini diberi nama Room to read. Pada proyek sosial pertamanya John menggunakan kas pribadi. Berikutnya, dibantu donasi dari para donatur. Lembaga ini kemudian melebarkan bantuannya ke negara-negara berkembang lain, seperti vietnam, kamboja, india. Serta memberikan beasiswa kepada anak-anak perempuan yang diberi nama room to grow.

Mengutip kalimat bijak dari seorang rekan John ‘Ketika Anda mendidik seorang anak laki-laki, Anda mendidik hanya seorang anak laki-laki. Tetapi ketika Anda mendidik seorang anak perempuan, Anda mendidik seluruh keluarga, dan generasi berikutnya’.

John dan timnya meyakini untuk menciptakan perubahan sosial yang abadi di negara-negara berkembang adalah memasukkan anak-anak perempuan sejak dini ke sekolah dan menjaga agar mereka tidak putus sekolah setidaknya sampai akhir sekolah lanjutan. Kelak mereka akan lebih percaya diri dan terberdayakan serta mandiri secara finansial.

Buku dari penerbit bentang ini sungguh menginspirasi. Membuat saya bertanya-tanya tidakkah negeri ini belajar bagaimana negara-negara lain menghargai sebuah pendidikan? Karena pendidikan akan menghantarkan kita kepada banyak pilihan hidup dan kesempatan, tidak sekedar alternatif punya uang atau tidak.

Raker

Pendidikan 5 Comments »

Selama 2 hari dari tanggal 9 dan 10 saya mengikuti raker yang diadakan di sekolah. Hari pertama acara dibuka dengan laporan ketua panitia dan beberapa kata sambutan. Berikutnya membahas program kurikulum, yang terdiri dari kalendar akademik, program pembelajaran, pembagian tugas tambahan, dan pembagian tugas kepanitiaan. Saya mendapat jatah untuk persiapan UAS semester ganjil dan PSB (Penerimaan Siswa Baru) 2009/2010. Dilanjutkan dengan kesiswaan dan program sekolah.

Agenda hari kedua adalah KTSP dan analisis KKM. Tidak ada pembuatan RPP dan silabus raker kali ini. Mengulang ucapan dari kepala sekolah, bahwa pembuatan RPP dan silabus tidak akan dibahas karena itu adalah tugas guru sehari-hari. ;-). Hari ini harusnya saya ikut training tapi karena agak kurang sehat saya memilih di rumah saja. Minggu depan sekolah akan dimulai. Kembali mengajar.

Oya, ternyata hari belajar efektif smester ganjil ini sangat sedikit karena banyaknya libur. Bukan berarti gurunya senang tapi justru khawatir, karena lieur mengatur beban materi yang harus tersampaikan dengan waktu yang minim. Bisakah?

Jakarta, Kami Datang

Pendidikan 4 Comments »

Kabar lanjutan dari lomba cerdas cermat tingkat provinsi. Hari jumat murid-murid sekolah terbuka yang diwakili oleh kelompok juara pertama (Erni, Cyndi dan Fajar) mulai berlomba kembali. Selama 3 hari, dari tanggal 4 sampai dengan 6 Juli mereka menginap di puri khatulistiwa bersama wakil-wakil juara dari kota-kota jawa barat lainnya. Setelah lolos di babak penyisihan dan semi final, tim ini akhirnya memastikan diri mereka berhasil mengusung piala dan tiket ke tingkat nasional. Itu artinya, mereka akan ke Jakarta. Wow, hadiah yang sangat manis dan membanggakan. Ada rasa haru dan kebahagiaan yang tak terbayarkan oleh apapun. Terima kasih rekan untuk semua doa dan support-nya. Insya Allah, lomba motivasi belajar mandiri tingkat nasional ini akan berlangsung dari tanggal 14 sampai 18 Agustus, di Jakarta. Doakan kami ya.

image006.jpg juara11.jpg

Buku Sekolah Elektronik

Pendidikan 23 Comments »

Request from my chief editor :)

Departemen Pendidikan Nasional meluncurkan buku sekolah elektronik yang dapat diakses melalui situsnya di sini. Buku ajar ini telah dibeli hak ciptanya oleh Depdiknas. Dari surat kabar harian Kompas, dikabarkan pemerintah telah menargetkan 295 judul buku sekolah elektronik pada Agustus 2008. Dan saat ini  telah terdapat 49 judul buku  digital yang dapat diunduh masyarakat lewat internet secara gratis. Dengan adanya buku sekolah elektronik maka siapapun berhak untuk mengunduh, mencetak, memperbanyak dan menjualnya dengan ketepan harga yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Saya sudah melihat situsnya.  Buku-buku yang ada di sini masih terbatas. Buku-buku yang termasuk ke dalam UN sepertinya lebih diutamakan.  Saya juga mencoba mengunduh satu buku. Filenya lumayan besar.

Terobosan pemerintah untuk meluncurkan program bse ini memang layak kita dukung. Beberapa komentar baik kritik dan saran diberikan. Nah, apa saran dan kritikan Anda? Walaupun sudah banyak orang yang menuliskan dan memberi komentar mengenai bse ini, ndak pa-pa kan? :)

Saya lebih ingin tahu, kira-kira bagaimana dengan industri perbukuan di Indonesia? (Termasuk penulis dan penerbitnya, tentu).

Komentar saya? Hmm.. hmm.. nanti aja deh ;-)

Sekolah Negeri

Pendidikan 4 Comments »

Jaman saya kecil dulu, sekolah negeri itu jadi rebutan. Jaman sekarang, tidak jarang saya temui orang tua yang anti menyekolahkan anaknya di sekolah negeri. Belum ditambah dengan kalimat-kalimat yang menohok perasaan. Duh, sampai seperti itukah? Saya kok masih percaya bahwa ditempat yang sepertinya brengsek sekalipun masih ada orang-orang yang berhati tulus. Atau mungkin saya yang terlalu naif?

update:

Komentar untuk tulisan ini saya letakkan di sini aja ya.

Memang kondisinya seperti itu ya? Saya memang tidak pernah terjun murni mengajar di sekolah. Selama ini saya mengajar di sekolah karena adanya kerjasama dari lembaga tempat saya bekerja. Di sekolah saya sekarang memang mendapatkan dana bos dan sekolah dilarang memungut dana dari siswa. Pihak sekolah sedang berusaha agar sekolah ini bisa mendapatkan status SSN. Rekan guru bilang jika sekolah mendapat status SNN maka sekolah akan mendapatkan dana bantuan selama 3 tahun. Dana ini akan dialokasikan untuk pengembangan SDM di sekolah. Sebagian sisanya untuk infrastruktur. Dan sekolah boleh menarik dana dari siswa. Tahun ke-3 jika sekolah berhak mendapatkan SSN maka dana bantuan akan terus dialirkan. Sebaliknya, jika gagal maka diputus.

Tapi, terus saya jadi kepikiran. Kalau sekolah boleh memungut dana dari siswa bisa dipastikan anak-anak yang bersekolah di sana berasal dari kalangan menengah ke atas. Lantas, anak-anak yang tidak ada di golongan ini kemana? Akhirnya, balik lagi ke sekolah yang memberikan pendidikan gratis. Dan benar kata Pak Joko, gratis yang seadanya. Bukan gratis sesuai kebutuhan. Bagi kalangan mampu bisa memilih sekolah yang lebih baik, tapi yang tidak? Ah, pendidikan gratis yang memadai mungkin cuma mimpi buat mereka. Pada akhirnya, motivasi belajar pada anak-anak ini pun hanya sekadarnya saja. Bertambah parah jika guru yang diharapkan bisa menumbuhkan semangat justru melakukan sebaliknya. Di sini terjadi lingkaran setan. Guru di sekolah merasa kualitasnya kalah dibandingkan dengan guru swasta atau guru di sekolah negeri yang berstatus SNN dan seperti itulah. Perasaan seperti ini juga dipicu oleh sikap masyarakat sekitarnya. Kekecewaan guru tadi ditimpakan kepada anak didik. Sulit memang ya.

Menurut saya, paradigma guru yang harus diubah. Gratis atau tidak, seharusnya tidak jadi masalah untuk memberikan yang terbaik. Buktinya, ibu gurunya Andrea Hirata, di Laskar Pelangi. Di sana saya melihat peranan beliau tidak saja sebagai pengajar tapi juga seorang pendidik yang baik. Atau mimpi kali ya, kalau kita mengharapkan ada banyak ibu Muslimah? Saya kok terobsesi sangat dengan dedikasi beliau ini ya? :). Inginnya bisa seperti itu tapi nyatanya, oh, sungguh sangat-sangat berat :(.

Sekolah Unggulan

Pendidikan 4 Comments »

Apa definisi sekolah unggulan? Ada berbagai pernyataan yang berkaitan dengan sebutan sekolah unggulan, sekolah modern, sekolah berstandar internasional, dan lain-lain. Nah, seperti apa sih definisi sekolah unggulan itu? Penasaran nih.

Persoalan Dasar Putus Sekolah

Pendidikan 3 Comments »

Hari ini saya teringat ucapan kepala sekolah yang menyatakan tingginya angka putus sekolah di tempat kami. Kembali juga saya terkenang usaha rekan guru untuk mengembalikan anak-anak itu ke sekolah. Bukan upaya yang mudah memang. Saya sendiri menyadari betapa sulitnya merangkul anak-anak itu.

Persoalan putus sekolah tidak hanya dialami sekolah ini. Di sekolah terbuka di Bandung kejadiannya pun sama. Di tengah-tengah KBM ada saja siswa yang berhenti. Setelah usaha guru membujuk, ada kalanya beberapa dari mereka kembali namun ada juga yang berhenti. Persoalan yang paling mendasar adalah ekonomi. Dengan alasan membantu orang tua. Ah, semester ini saya kehilangan dua siswa. Nyaris saja menjadi tiga. Alhamduilillah, ibu Ida tidak lelahnya mengunjungi dan berbicara dengan orang tua anak ini. Namanya Imam. Pendiam, namun termasuk yang paling pintar di kelas. Oya, dia akan mewakili sekolah kami untuk lomba cerdas cermat pertengahan bulan ini. Tidak penting menang atau kalah, tapi keberanian sekolah ini untuk tampil bersaing dengan sekolah umum adalah sesuatu yang luar biasa, bukan?

Kedua sekolah di atas sesungguhnya tidak jauh berbeda. Namun keberuntungan masih lebih banyak dimiliki sekolah di Jakarta ini. Mempunyai gedung, walaupun seadanya. Gratis juga. Tidak gratis penuh sih. Dari berbagai macam kalangan, tidak semuanya berada di lapisan bawah. Walaupun mungkin mayoritas adalah kelompok marjinal. Tapi, kenapa ya, tingkat putus sekolah sangat tinggi. Apa kira-kira penyebab dan bagaimana solusinya?

WP Theme & Icons by N.Design Studio
Entries RSS Comments RSS Login