Goethe dan Islam
Aneka, Komunitas 6 Comments »“Alangkah pandir menganggap diri istimewa.
Mengira keyakinan sendiri benar belaka.
Bila makna Islam pada Tuhan berserah diri.
Maka dalam Islam semua kita hidup dan mati.
(Nukilan, West-Oestlicher Divan tarjamah oleh Damshauser dan Sarjono)
Kalimat di atas adalah pembuka untuk kuliah ramadhan Goethe dan Islam di Komunitas Salihara, yang diadakan tanggal 28 Agustus. Pembicara untuk kuliah hari ini adalah Ibu Dewi Candraningrum.
Makalah rincinya bisa diunduh di sini. Saya hanya ingin merangkum sebagian dari kuliah malam ini.
Perkenalan Goethe dengan Islam bermula ketika dia sakit keras. Dalam masa penyembuhan inilah Ibunya memperkenalkan Goethe pada mistisisme, yang kemudian menghantarkannya pada mistik oriental seperti sufisme. Mengenal peradaban timur, yang dirasanya kaya, tidak gersang dan kering seperti barat. Goethe kemudian mempelajari karya-karya Rumi, Hafiz, tafsir quran, kamus bahasa Arab-Turki dan naskah-naskah berbahasa Arab lainnya. Ada satu yang memberikan pengaruh penting dalam hidup dan karya Goethe lainnya, yaitu karya Hafiz. Dia sangat mengagumi karya-karya Hafiz.
Goethe sangat kritis dengan ajaran agamanya, Kristen (beberapa literatur menyebut Goethe Kristen namun ada juga yang menyebut dia agnostik). Saat itu Goethe, yang juga bekerja di bidang hukum, jenuh dengan hukum yang berlaku di Eropa pada abad pertengahan itu, yang landasan dasarnya diangkat dari gereja. Bagi Goethe yang terutama adalah ia berbuat baik. Goethe sendiri adalah seorang yang penyayang dan mengasihi orang miskin. Melalui sufisme Goethe berkenalan dengan Islam dalam sisi yang terindah.
Goethe menyebut tiga kata kunci secara penuh takjub dan cinta, yaitu: Islam, Quran, Muhammad.
Pada abad ke 18/19 itu adalah tabu bagi Eropa menyebut dengan kekaguman 3 kata kunci di atas. Namun Goethe sebaliknya, ia menentang arus. Dia mengagumi makna keesaan Ilahi. Goethe adalah pembangun jembatan dunia, yang memperkenalkan pentingnya Islam pada dunia, kata Mommsen, profesor emeritus di Standford University. Di tahun 1826 dalam Faust, Goethe menulis “He who knows himself and others will also agree: Orient and Okzident divided no more can be. Menurut Goethe, Perlintasan Barat dan Timur itu tidak ada bedanya. Apa yang ada di barat, telah ada dalam Islam. Apa yang ada dalam Islam, telah ada di Barat. Mereka saling meninggalkan jejak satu sama lain.
Goethe tak sungkan menegaskan dirinya tak menolak disebut sebagai muslim. Baginya label tidak begitu penting. Baginya, apa yang berumah dalam dirinya, merupakan hal yang dia sebut sebagai Islam.
“Apakah Al Quran abadi?
Itu tak kupertanyakan!
Apakah Al Quran ciptaan?
Itu tak kutahu!
Bahwa ia kitab segala kitab
Sebagai muslim wajib kupercaya.
Tapi, bahwa anggur sungguh abadi,
Tiada lah kusangsi
Bahwa ia dicipta sebelum malaikat
Mungkin juga bukan cuma puisi
Sang peminum, bagaimanapun juga,
Memandang wajah-Nya lebih segar belia
(Kitab Kedai Minuman, WOD tarjamah oleh Damshauser dan Sarjono)
Sumber: Makalah Narasi Islam pada Tubuh Goethe dalam West-Oestlichers Divan (1814-1819). Oleh: Dewi Candraningrum di Salihara, Sabtu 28 Agustus 2010.
Last but no least: Happy birthday, Goethe.
(Goethe lahir tanggal 28 Agustus 1749)






Recent Comments