Sang Pemberontak, Albert Camus

Buku, Filsafat 7 Comments »

Sambil membaca Catatan Pinggir 7-Goenawan Mohamad, diselingi dengan menuntaskan The Outsider (Sang Pemberontak), Albert Camus.

Camus, si pengarang The Outsider adalah filsuf yang mengenalkan filsafat absurditas. Absurdisme sendiri adalah paham atau aliran yang didasarkan pada kepercayaan bahwa manusia secara umum tidak berarti dan tidak masuk akal (absurd). Kesadaran para pengikut aliran itu terhadap tata tertib sering berbenturan dengan kepentingan masyarakat umum.

Novel sastra ini bercerita tentang seorang laki-laki yang rela mati demi kebenaran. Tokoh kita ini dikenal sebagai orang yang pendiam, baik dan mengasihi orang yang membutuhkan pertolongan. Awal cerita bermula dari kematian ibu sang tokoh yang dititipkan di panti wreda. Pada saat mengunjungi jenasah sebelum proses pemakaman, si tokoh tidak menunjukkan ekspresi seorang anak yang kehilangan Ibu (Parameter yang berlaku di masyarakat umum). Reaksi yang dimunculkan si tokoh mengundang gugatan dan pertanyaan.

Sehari setelah kematian Ibu, laki-laki ini pergi berenang dan bertemu dengan wanita yang kemudian menjadi kekasihnya. Dan mereka pergi nonton film komedi malam harinya.

Laki-laki ini juga berkenalan dengan tetangganya yang bernama Raymond. Raymond menghidupi dirinya dari para wanita. Raymond menyebutnya sebagai ‘Penjaga Gudang.’ Ada juga seorang tua dengan anjingnya.

Suatu saat Raymond bermasalah dengan seorang perempuan. Sang tokoh membantu Raymond. Raymond bebas namun kakak dan teman gadis ini tampaknya tak suka.

Pada suatu hari, Raymond mengajak tokoh dan kekasihnya berlibur ke pantai, di rumah sahabat Raymond. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan para lelaki teman wanita Raymond. Mereka sampai di rumah sahabat Raymond. Ketika Raymond, tokoh dan sahabatnya ini tengah berjalan-jalan di pantai, para lelaki musuh Raymond muncul. Pertikaian pertama menyebabkan luka di wajah sahabat Raymond. Perkelahian usai.

Menit berikutnya sang tokoh sedang menyusuri pantai ketika ia melihat salah satu musuhnya berbaring di pantai. Sang tokoh meneruskan berjalan tapi kemudian sebuah benda tajam menyentuh pelipisnya. Rasa asin dan bau darah menerpa penciumannya. Dalam siraman cahaya matahari yang menyilaukan dan luka yang dialiri bulir-bulir air berwarna merah sehingga mengaburkan pandangannya, sang tokoh mengeluarkan senapan yang dipinjamkan sahabat Raymond. Dilepaskannya tembakan sebanyak empat kali.

Singkat cerita, sang tokoh menjadi tawanan dalam penjara. Ia kemudian di hukum mati.

Tokoh kita ini dalam perenungannya tak habis mengerti mengapa bukti bersalah yang memberatkan hukumannya adalah berkaitan dengan sifat-sifat dalam dirinya. Para hakim, jaksa menggugat perilakunya yang tidak menangisi kematian Ibunya. Mereka beranggapan sang tokoh adalah monster yang harus dibasmi.

Reaksi sang tokoh yang biasa saja menanggapi hukuman juga menjadi hal yang mengherankan. Ditampiknya pendeta yang ingin bertemu untuk melakukan ritual sebelum eksekusi dijalankan, seperti pengakuan dosa dan menerima penyesalan (tobat) korban. Pendeta mengira sang tokoh dalam keputusasaan sehingga berperilaku seperti itu. Dan laki-laki itu menjelaskan bahwa ia tak sedang putus asa. “Aku cuma takut yang menurutku wajar,” kata laki-laki itu.

Sifat keras kepala laki-laki ini yang tak mau mengakui dosanya membuat pendeta jengkel. Tampak pada cukilan kalimat berikut ini.

“Kujelaskan bahwa keadilan itulah yang memvonisku hukuman mati. Pendeta bilang, hukuman itu tak menghapuskan dosaku sama sekali. Kubilang aku tak tahu apa dosaku. Aku hanya diputuskan bersalah. Aku bersalah dan harus membayarnya. Jadi, tak ada lagi yang bisa diminta dariku.”

Keyakinan sang tokoh begitu besar dan tampak pada paragraf ini.
“Aku mungkin dungu tapi aku yakin atas diri sendiri, yakin akan semuanya, yakin atas hidupku dan kematian yang mendatangiku. Ya, itulah yang kumiliki. Tapi setidaknya itu kebenaran yang kupegang sebagaimana kebenaran itu memegangku. Aku telah hidup dengan cara tertentu, aku juga bisa hidup baik dengan cara lain. Telah kulakukan ini dan tak kulakukan itu. Aku tak melakukan satu hal, sebaliknya kulakukan yang lainnya. Lantas kenapa?”

“Tak ada, tak ada sama sekali yang berhak menangisinya. Aku juga merasa siap menjalani hidupku lagi. Seolah-olah ledakan besar kemarahan ini telah menyingkirkan semua sakitku, membunuh seluruh harapanku, kupandang ke atas ke gugusan tanda dan bintang di langit malam dan membiarkan diri terbuka untuk pertama kali terhadap pengabaian dunia yang ramah. Kutemukan sangat mirip diriku sendiri, faktanya begitu memiliki rasa persaudaraan, kusadari bahwa aku bahagia dan tetap bahagia.”

Bagi sang tokoh, hidup bukanlah sesuatu yang harus dipertahankan hanya supaya jangan mati. Hidup akan berharga jika ia mempunyai makna. Karena itu walaupun sang tokoh tahu bahwa kematian membayanginya, ia memilih untuk menghadapinya dengan tegar.

“Dari kedalaman masa depanku, sepanjang seluruh hidupku yang absurd yang kujalani, aku merasakan tiupan samar-samar berhembus ke arahku selama bertahun-tahun yang masih akan berhembus.”

Sang tokoh menyadari bahwa dirinya lebih besar dari absurditas hidup itu sendiri.

Cecilia dan Malaikat Ariel

Buku, Filsafat 1 Comment »

Karya lain dari penulis dunia Sophie, Jostein Gaarder. Buku aslinya berjudul Through a Glass, Darkly.

Malaikat melihat dengan mata hati.

Malaikat berbicara dengan saling mendengarkan pikiran.

Manusia melihat segala sesuatu dalam cermin, samar-samar. Dan seluruh semesta adalah cermin dan seluruh jagat raya adalah misteri.

Cecilia adalah seorang gadis kecil yang sedang sakit keras. Cecilia marah kepada tuhan dan mengganggap Dia tak adil. Namun keajaiban terjadi di malam natal tahun itu, seorang malaikat – Ariel namanya- mengunjungi Cecilia. Mereka kemudian bersahabat dan membuat sebuah perjanjian. Malaikat meminta Cecilia memberitahukan seperti apa rasanya menjadi manusia, dan malaikat Ariel akan memberitahukannya seperti apa surga itu.

Tuhan

Setiap mata adalah sekeping kecil misteri Ilahi.

Ariel, si malaikat Tuhan percaya bahwa setiap mata yang memandang ciptaan Tuhan adalah mata Tuhan itu sendiri. Tuhan memiliki miliaran mata sehingga Ia bisa melihat apa yang telah Ia ciptakan dari miliaran sudut pandang yang berbeda. Tuhan memberikan mata kepada ikan-ikan karena manusia tidak bisa menyelam ribuan meter di bawah laut.  Manusia juga tidak bisa terbang, maka setiap waktu ada burung-burung melayang di angkasa dan mata mereka mengawasi dari atas. Dan kadang ada manusia mengarahkan pandangannya ke atas, ke asal surgawinya, sehingga seolah-olah Tuhan melihat diri-Nya dalam cermin, seperti langit dan laut. Langit becermin pada laut. Seperti itulah Tuhan bisa becermin pada sepasang mata manusia karena mata adalah cerminan ruh, dan Tuhan bisa becermin pada ruh manusia.

Surga

Ruh dan surga mempunyai jalan yang berdekatan. Ruh bersifat ilahiah. Meskipun manusia terbentuk dari atom-atom dan molekul-molekul, tetapi ruh manusia mungkin saja terpancar langsung dari pikiran Tuhan. Ruh manusia melompat-lompat di dalam sebuah otak yang dibentuk dari sejumlah partikel debu yang dahulu kala datang dari bintang-bintang di ruang angkasa (Hei, kita sudah pernah membahas, bahwa manusia berasal dari sebuah bintang, bukan?).  Pikiran dan perasaan manusia berputar terus menerus pada debu bintang yang tertata apik, yang di dalamnya semua ‘kabel’ syaraf dapat terhubung dengan cara-cara yang selalu baru.

Manusia mempunyai ingatan-ingatan yang berlompatan, yang terkadang terlupakan tapi kemudian sewaktu-waktu muncul kembali. Ada ‘sesuatu’ yang memunculkan kembali, entah apa. Pikiran yang tak dikehendaki seperti itu diarahkan oleh sesuatu yang bukan kesadaran manusia. Kesadaran pastilah mirip dengan sebuah teater. Dan kita sama sekali tak tahu lakon apa yang akan dimainkan pada pementasan berikutnya.

Ruh seperti sebuah teater dan aktor-aktor di atas panggung adalah berbagai pikiran yang terus menerus muncul dan memainkan beragam peran. Dan banyak ruang di teater kesadaran dengan banyak pula panggung di sana.

Dalam pikiran, manusia dapat melakukan semua hal yang bisa dilakukan malaikat dengan tubuh mereka. Seperti ketika manusia bermimpi. Manusia bisa terbang, bisa menembus pintu dan apapun yang kita mau. Dan saat manusia bermimpi, tak ada yang bisa menyakiti mereka. Manusia akan sama amannya dengan malaikat di surga. Semua yang dialami hanyalah kesadaran dan tak menggunakan pancaindra. Bukankah itu keabadian? Artinya ruh manusia juga abadi seabadi malaikat-malaikat di surga.

Takdir

Manusia yang hidup di bumi seperti memainkan peran sandiwara tanpa akhir. manusia datang dan pergi, sampai mantra KELUAR terucap.

Apakah manusia bisa menolak takdir untuk dirinya sendiri? Aku ingin mengutip kalimat dari Ariel ketika Cecilia memberikannya sebuah pertanyaan.

Cecilia: “Kalau kau, mana yang kau pilih: hidup beberapa tahun sebagai manusia atau hidup selamanya sebagai malaikat?”

Malaikat Ariel: “Baik aku maupun kamu tak bisa memilih, jadi tak ada gunanya membicarakannya. Lagipula, pastilah lebih baik mendapat satu kesempatan menyaksikan alam semesta ini ketimbang tak mengalami apa pun. Segala sesuatu yang belum diciptakan tak punya hak menuntut untuk diciptakan.”

Kita semua tak bisa melepaskan diri dari takdir yang mengikat. Kita sekedar menjalankan apa yang harus kita jalani dalam hidup. Terima dan jalani dengan keceriaan. Seperti malaikat Ariel membantu cecilia untuk belajar  menerima takdirnya.

Hidup

Manusia melihat segala sesuatu dalam cermin, samar-samar. Kadang-kadang, pandangan manusia bisa menembus kaca dan melihat sekilas apa yang ada di balik cermin. Jika kita menggosok cermin itu sebersih-bersihnya, kita akan melihat lebih banyak lagi. Tapi saat itu, kita tak bisa lagi melihat diri kita sendiri.

–Buku yang sangat menyentuh. Kita hanya bisa merasakan kedalamannya ketika membacanya sampai tuntas.

(sumber: Cecilia dan malaikat Ariel, Jostein Gaarder)

Aku, kita manusia mungkin tanpa sadar lebih sering membiarkan diri kita dikendalikan oleh perasaan dibanding kita yang mengendalikan perasaan. Mungkin itu juga yang terjadi pada cecilia. Dan malaikat Ariel membantunya agar cecilia mau belajar berdamai dengan dirinya sendiri, yaitu ketika ia belajar menerima takdirnya.

Socrates

Filsafat 3 Comments »

Di bukunya Dunia Sophie, diceritakan ada seorang penduduk Athena yang bertanya kepada peramal, siapakah manusia yang paling bijaksana di Athena. Sang peramal menjawab bahwa Socrates adalah orang yang paling bijaksana.

Hmm, siapakah Socrates? Socrates adalah seorang filosof yang mempunyai pengaruh paling besar terhadap pemikiran Eropa.

Beliau hidup pada masa yang sama dengan kaum Sophis. Kata ‘Sophis’ berarti seseorang yang bijaksana dan berpengetahuan. Mereka adalah para guru dan filosof keliling yang mengajar warga dengan imbalan uang. Kaum sophis ini bersikap kritis terhadap mitologi tradisional, namun di lain sisi mereka menolak dengan apa yang mereka sebut sebagai spekulasi filsafat yang tak berguna. Menurut mereka, meskipun ada jawaban untuk pertanyaan filosofis, manusia tidak dapat mengetahui kebenaran teka-teki alam dan jagad raya. Kaum ini berpandangan skeptis terhadap kekuatan alam. Mereka memilih untuk menyibukkan diri dengan manusia dan kedudukannya dalam masyarakat.

Sama seperti kaum Sophis, Socrates pun memiliki minat yang sama terhadap manusia. Bedanya adalah, Socrates tidak menganggap dirinya adalah seorang yang pintar dan bijaksana. Socrates menempatkan dirinya sebagai filosof sejati, sesuai dengan arti kata itu sendiri, yang berarti ‘orang yang mencintai kebijaksanaan.’ Dia mengajar tidak untuk mendapatkan uang dan memilih untuk berdiskusi dibanding menggurui orang lain. Melalui diskusi itulah Socrates membantu orang lain melahirkan wawasan yang benar. Dia percaya bahwa pemahaman yang sejati harus timbul dari dalam diri sendiri.

Socrates mengakui bahwa dia tidak mengetahui apa-apa tentang dunia dan kehidupan, karena itulah dia terus belajar untuk meraih pengetahuan yang sejati.

Socrates juga percaya bahwa kemampuan untuk membedakan benar dan salah terletak pada akal manusia, bukan masyarakat. Menurut Socrates tidak mungkin seseorang bisa bahagia jika mereka bertindak menentang penilaian mereka yang lebih baik. Gardner, penulis Dunia Sophie, menyederhanakannya seperti ini: Dapatkah kita menjalani kehidupan yang bahagia jika kita terus melakukan hal-hal yang jauh di lubuk hati kita tahu salah?

Ini Filsafat?

Filsafat 5 Comments »

Waktu kecil dulu, saya suka sekali melihat awan. Memandangi langit dan bertanya-tanya siapakah saya? Mengapa saya ada di dunia? Siapakah Tuhan? Ada di mana Tuhan itu? Mengapa manusia mati? Adakah kehidupan setelah kematian? Ah, itu memang pertanyaan anak kecil pada umumnya, bukan?

Beranjak dewasa, pertanyaan seperti itu tak pernah hilang dalam pikiran saya. Kegamangan dan kegelisahan akan makna dan tujuan hidup membuat saya berusaha mencari tahu jawaban-jawaban itu melalui buku. Kenapa buku? Buku lah satu-satunya sahabat setia saya. Pada masa sekolah saya tak punya banyak kawan, saya lebih sering ‘sendiri’, sebenarnya tidak benar sendiri karena selalu ada buku yang saya baca. Jadi, tidak mati gaya sendirian :) . Ok, balik ke topik awal. Filsafat. Hmm, saya juga tidak tahu definisi filsafat itu apa. Tapi kata sebuah buku, sebagian pertanyaan-pertanyaan dasar di atas tadi, telah mendekatkan diri kita pada filsafat. Dan adakah jawaban yang pasti? Dan apakah cukup dengan hanya satu jawaban yang sama untuk pertanyaan yang serupa?

Kita adalah individu-individu, yang lahir dan besar dari lingkungan dan pengalaman hidup yang berbeda. Pengalaman orang lain dapat menjadi cermin bagi kita untuk menentukan sudut pandang kehidupan kita sendiri. Sesuatu yang benar di mata orang lain belum tentu sama dengan yang kita pikirkan. Pun sebaliknya. Mungkin itulah indah dan misteriusnya filsafat. Bisa dipandang dari kaca mata manapun. Begitu kah? :)

Dunia Sophie

Filsafat 11 Comments »

Pernahkah bertanya siapa diri kita dan untuk apa kita ada di dunia? Bagaimana dunia diciptakan dan pertanyaan filosofis lainnya?  Saya yakin pertanyaan di atas setidaknya pernah melintas di benak setiap orang. Apakah pada saatnya nanti kita semua dapat menemukan jawaban-jawaban dari pertanyaan di atas? Darimana? Dari internet kah, majalah, buku, atau media lainnya?  Atau bahkan kejadian-kejadian yang dialami oleh individu itu sendiri?

Kita tahu bahwa kehidupan adalah sebuah misteri yang sangat besar. Kita terkadang mempertanyakannya tapi kemudian melupakannya. Tepatnya, menghilangkan dalam pikiran karena disibukkan dengan rutinitas sehari-hari. Menganggap bahwa semua, alam raya dan kehidupannya telah ada sebagaimana seharusnya.  Seperti halnya keberadaan kita di bumi ini. Benarkah seperti itu?

Nah, kalau penasaran baca aja buku Dunia Sophie ini. Oya, kalau Anda merasa menjadi orang yang cukup peka (dalam hal apapun), itu tanda-tanda Anda berbakat jadi filsuf lho :) . Nggak percaya? Hmm… ;-)

WP Theme & Icons by N.Design Studio
Entries RSS Comments RSS Log in