RSS Feed

Bahasa Indonesia vs Bahasa Inggris

Posted by Enggar on 30th October and posted in Pendidikan

Rencana Kemendikbud untuk menghapus mata pelajaran Bahasa Inggris di jenjang sekolah dasar mengundang kontra. Seperti dilansir di situs Kompas.com, penghapusan mata pelajaran Bahasa Inggris dimaksudkan untuk memberi waktu kepada para siswa dalam memperkuat kemampuan bahasa Indonesia sebelum mempelajari bahasa asing. Alasan ini salah satunya disebabkan oleh tingginya angka kegagalan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia pada beberapa kali penyelenggaraan UN.

Apakah tepat kiranya menghapus mata pelajaran Bahasa Inggris di jenjang sekolah dasar? Saya ingat pengalaman beberapa tahun silam, ketika kami berkenalan tidak sengaja dengan seorang bapak di sebuah kota kecil di bagian Eropa, Cardiff. Ia adalah seorang pengusaha yang dalam rangka pekerjaannya sering mengunjungi negara Singapur, Malaysia, dan Indonesia. Ada sebuah kalimatnya yang membuat saya sedikit meringis. Dia bilang tidak seperti Malaysia dan Singapur, di Indonesia ia sering kesulitan berkomunikasi. Tidak banyak orang Indonesia yang bisa berbahasa Inggris, tidak seperti di Malaysia dan Singapur yang bahkan anak-anak kecilnya pun sudah mampu berbahasa inggris dengan baik. Nah, bukankah bagus jika saat ini banyak kita temui anak-anak yang mampu berbahasa Inggris?

Seandainya Bahasa Inggris ditiadakan dari kurikulum apakah tujuan yang ingin dicapai berupa penguasaan Bahasa Indonesia dapat diwujudkan? Saya tidak yakin. Kalaupun mata pelajaran Bahasa Inggris dihapus, maka para orang tua yang memiliki dana berlebih tentu akan memasukkan anak-anak mereka ke dalam kursus. Lantas bagaimana dengan anak lainnya? Bukankah ini memunculkan kesenjangan baru dalam sistim pendidikan kita? (baca di sini).

Yang mungkin perlu kita cari tahu adalah mengapa anak-anak lebih menyukai mempelajari Bahasa asing dibanding bahasa Indonesia? Apakah Bahasa Indonesia itu tidak keren? Apa yang salah?

Coba amati, pembelajaran Bahasa Inggris di tempat-tempat kursus. Guru-guru di sana mempunyai banyak cara untuk menarik minat siswa mereka memahami bahasa asing. Bahasa hadir dalam bentuknya yang dinamis di dalam story telling, lirik lagu, dan lain-lain. Belum lagi sumber media yang banyak seperti CD, buku dan permainan. Sesuatu yang tampak sederhana tapi membangkitkan gairah.

Bagaimana dengan pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah? Mungkin ada baiknya kita bercermin dan belajar agar penguasaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar dapat diteladani oleh semua anak Indonesia. Saya ingat, dulu sekali ketika saya bersekolah, guru bahasa saya pernah meminta semua siswanya untuk membaca buku karya sastrawan Indonesia. Untuk kemudian membuat resensinya dan terkadang membahasnya di depan kelas. Saya selalu antusias setiap kali guru saya menceritakan kisah-kisah yang ada di dalam setiap buku sastra itu. Seperti mendengar dongeng ^-^.

Saya tak tahu apakah anak-anak remaja saat ini mendapat pembelajaran seperti yang saya rasakan dahulu. Saya pernah bercita-cita, seandainya saya menjadi guru bahasa, maka akan saya kenalkan murid-murid saya pada larik-larik puisi yang dibuat oleh penyair-penyair negeri ini, setiap hari cukuplah satu atau dua baris. Kami akan membahasnya bersama. Mencari keindahan dan pesan dalam setiap barisnya. Kemudian akan saya minta setiap murid menggunakan satu kosa kata baru yang telah mereka pelajari. Akan kami diskusikan dan berdebat (kalau dibolehkan.. hehe) satu buku sastra. Mereka sejak dini akan mengenal Marah Rusli, Sutan Takdir Alisjahbana, N.H.Dini, dan sastrawan Indonesia dari masa ke masa. Oya, saya pernah kaget ketika suatu hari saya meminta tolong seorang karyawan toko buku mencarikan sebuah buku sastra. Ketika saya menyebut nama pengarangnya dia tampak tidak familiar dan berulang kali salah menuliskan nama Beliau. Saya sedikit heran apakah di waktu ia sekolah dulu ia tidak pernah sekalipun mendengar nama penulis itu? Mungkin saya berlebihan tapi menurut saya karena ia bekerja berhubungan dengan buku, apalagi itu nama sastrawan Indonesia yang cukup terkenal, buat saya agak sedikit mengganggu.

Bagi saya pribadi, puisi dan karya sastra adalah tempat ideal bagi seorang anak belajar memahami bahwa Bahasa Indonesia sangatlah indah dan puitis.

Dan bahasa asing, tentulah tidak boleh diabaikan. Keduanya dapat berjalan beriringan tanpa harus mengabaikan yang lainnya.

6 Comments

  1. Pada dasarnya anak SD adalah anak kecil yg polos dan anak yg penurut dan mudah utk belajar….hanya guru dan orang tua bisa mendidik atau tidak….
    terima kasih

  2. Enggar

    @Hyden07: terima kasih :)

  3. Saya setuju, perlu ada daya tarik kembali agar generasi baru mencintai bahasa Indonesia. Saya selalu berusaha, meski tidak jago dalam tata bahasa Indonesia, tetapi saat ngeblog saya tidak menggunakan bahasa alay, saya perhatikan EYD semampu mungkin.

    Begitu juga dengan bahasa Inggris, tetap penting tanpa mengabaikan bahasa sendiri, sebab bahasa itu adalah kunci dunia. Buku adalah jendela dunia dan bahasa adalah kuncinya. Semakin banyak bahasa yang kita kuasai akan semakin banyak ilmu yang bisa kita buka.

  4. Enggar

    @Rakhmat: Terima kasih, Pak :)

  5. daneya

    bahasa inggris memang penting tapi saya tidak setuju dengan 1 contoh yg diberikan diatas. Jgn pernah membandingkan bhs inggris dgn Malaysia / Singapura. Malaysia adl negara kolonial Inggris yg SEJAK DULU sdah memakai bhs ing sejak intensif. Sedangkan Singapura, penduduknya sedikit sehingga untuk penerapan kebijakan apapun mudah, lah kita? ada kota, kabupaten, desa, hingga pelosok yg gak tau lagi deh. Kalo pun ada orang asing yg menghina ga bsa pake bhs ing, coba pergi aja ke negara asia maju lain kayak jepang, korea atau cina. Emang semua orang disana bisa pake bhs ing apa? gak laku dong translator??

  6. okan

    menghapus b.ing dri SD alamat mundurnya pend di negeri ini,,kurikulum baru hanyalah sebuah proyek N percobaan pencitraan.!!,apa kelemahan KTSP sehingga hrus di ganti

Leave a Reply

Powered By Wordpress || Designed By @ridgey28

Social Widgets powered by AB-WebLog.com.