Menyikapi Kritik
Posted by Enggar on 7th September and posted in Uncategorized
Waktu pertama kali buku saya terbit di tahun 2005 tentu saja rasanya senang sekali. Kemudian disusul dengan buku teks pelajaran di tahun 2006. Pada buku-buku teks ini saya belajar bagaimana menerima kritik, seperti ketika di sebuah acara road show untuk promosi buku ada yang mengatakan bahwa buku saya materinya terlalu rendah. Sejujurnya saya tidak keberatan dikritik pada saat itu. Tapi anehnya saya bisa merasa kesal ketika beberapa tulisan saya di blog yang berkaitan dengan materi yang saya sajikan di buku atau metode pembelajaran yang saya sarankan dikritik orang lain. Hehe, yup, saya pernah muda dan tentu saja ketika itu rasa ego sangat tinggi sekali. Saya akan mencari pembelaan dan .. yah, seperti darah muda lainnya tentu juga tidak mau kalah (wah, jelek sekali saya ya? Jangan ditiru). Walau kemudian setelah perdebatan itu usai saya merasa sungguh menyesal.
Kemudian perjalanan hidup dan bertambahnya umur mengubah cara saya memandang banyak hal. Penyesalan dari berakhirnya perdebatan juga mengajarkan kepada saya bahwa (yang kita kira) kemenangan dari melukai orang lain itu tidak berdampak apa-apa selain menambah permusuhan dan kebencian orang lain pada diri kita sendiri.
Maka, saya mulai membuka diri terhadap berbagai macam kritik dan saran. Saya belajar bahwa ternyata banyak mutiara yang bisa digali dari sebuah kritikan. Ketika ada yang mengatakan bahwa buku saya materinya rendah untuk siswa mereka, saya membaca sebuah peluang yang bernama kreativitas. Mungkin iya materinya rendah tapi isi buku harus menarik. Bagaimana caranya? Nah, itu tantangan, bukan? Atau sebaliknya ketika ada yang mengatakan bahwa buku saya terlalu tinggi materinya, artinya saya dituntut untuk menyederhanakan materi pembelajaran tanpa siswa harus kehilangan minat belajar. Atau ketika ada yang mengatakan bahwa buku saya manual, semua orang bisa bikin buku seperti itu dan nggak ada nilai tambahnya. Semua itu adalah kritik membangun untuk diri saya. Saya bertekad bahwa saya harus membuat buku yang lebih baik lagi. Alhamdulillah semua kritikan itu tidak lagi terasa mengganggu. Belakangan saya malah berharap ada yang mengkritik buku-buku terbitan terbaru. Mengapa? Karena itu akan saya jadikan pekerjaan rumah yang sangat berharga untuk perbaikan buku berikutnya (Jika Allah memperkenankan, insya Allah dan penerbit masih memercayakan saya untuk menulis buku mereka, tentunya ^-^ ).
Apakah saya akan tersinggung jika ada yang memilih untuk tidak menggunakan buku-buku yang saya tulis? Dan memutus pertemanan dengan mereka? Insya Allah tidak lah. Buku memiliki berbagai macam kategori. Ada klasik, sastra, filsafat, teen lit, dan sebagainya. Ada yang suka membaca cerita klasik, ada yang lebih memilih teen/chick lit, ada yang suka buku-buku berlatar filsafat atau sains, dan seterusnya. Apakah mereka yang membaca buku sastra atau klasik lebih baik dari mereka yang memilih teen lit atau buku-buku romance? Tidak, bukan? Itu hanya masalah minat dan ketertarikan. Jika ada orang yang tidak suka buku teen lit, bukan berarti ia membenci tulisanmu atau tulisanmu jelek. Kembali lagi ke soal selera. Seperti halnya makanan saja. Suka gado-gado nggak bisa donk dipaksa menyantap pizza, gitu loh. Tidak ada yang lebih baik, karena masing-masing genre buku memiliki kelebihan. Pada cerita romance kita belajar mengasah kepekaan, pada buku-buku filsafat kita belajar mengenal diri lebih jauh, dan seterusnya. Kesemuanya saling berkontribusi memberikan asupan gizi pada otak kita.
Dan walau kritik memang terasa pahit (itu sudah pasti), belajar menerima perbedaan pandangan orang lain dengan lapang dada mungkin adalah salah satu cara mendewasakan diri kita juga. Sampai saat ini saya berusaha berpikir bahwa sebenarnya mereka yang mengkritik kita adalah mereka yang ingin melihat kita lebih baik. Tentu juga sih, baik yang dikritik ataupun yang mengkritik sebaiknya saling belajar untuk menghargai
Yang pasti sih, sikap rendah hati dan tidak merasa diri paling hebat adalah lebih baik bahkan dari sebuah karya yang besar.














