The Soloist
Posted by Enggar on 7th August and posted in Goresan
The Soloist adalah salah satu film yang menurut saya layak untuk dimasukkan ke dalam daftar film pendidikan yang pernah saya tulis di sini.
Berkisah tentang seorang tuna wisma, Nathaniel Anthony Ayers. Suatu hari Steve Lopez, seorang jurnalis dari LA Times sedang beristirahat di sebuah taman. Steve yang saat itu sedang kebingungan mencari berita untuk artikel tulisannya tertarik mendengar alunan suara indah pemain biola dari Nathaniel. Kepiawaian Nathaniel memainkan biola hanya dengan dua senar memancing rasa ingin tahu Steve. Nathaniel yang berbakat dan jenius ini kemudian menjadi cerita di kolom tulisan Steve di LA Times. Tulisan Steve mengenai Nathaniel mengundang banyak simpati dari masyarakat dan menaikkan angka penjualan di surat kabar tersebut.
Persahabatan Steve dan Nathaniel ternyata tidak mudah karena Nathaniel mengidap skizofrenia. Menurut KBBI, skizofrenia adalah penyakit jiwa yang ditandai oleh ketidakacuhan, halusinasi, waham (KBBI: keyakinan atau pikiran yang salah karena bertentangan dengan dunia nyata serta dibangun atas unsur yang tidak berdasarkan logika; sangka; curiga) untuk menghukum, dan merasa berkuasa, tetapi daya pikir tidak berkurang. Penyakit inilah yang membuat Nathaniel tidak dapat menyelesaikan pendidikannya di sekolah musik terkemuka. Ia tidak dapat berkonsentrasi, suka berhalusinasi, yang akhirnya membuat ia tidak dapat bersosialisasi dengan orang lain.
Melihat kehidupan Nathaniel serta bakat dan kejeniusannya membuat Steve bertekad untuk membantu Nathaniel. Ia mencarikan apartemen dan tempat di mana Nathaniel bisa bermain musik. Ia juga bercita-cita agar Nathaniel dapat bermain dalam sebuah orkestra. Namun semua upayanya ditentang Natahniel. Nathaniel lebih suka tidur di jalan, bermain musik di terowongan atau taman kota. Ruang tertutup menakutkan bagi Nathaniel karena ia kerap mendengar bisikan-bisikan. Nathaniel sebaliknya dapat berkonsentrasi dan bermain musik di tempat yang bising.
Steve putus asa. Semua orang menyarankan agar ia menjauhi Nathaniel. Namun sebuah nasihat bagus datang dari mantan istrinya.
“Kau tak dapat mengubahnya. Jadilah teman untuknya dan temani ia”.
Di dunia ini ada orang-orang yang hidup dengan dunia mereka sendiri. Tidak terusik oleh keadaan sekitarnya. Kita tidak pernah bisa menuntut mereka untuk berubah. Yang bisa kita lakukan adalah mendampingi mereka sebagai teman.
Mengutip kalimat di film tersebut:
“Menjadi temannya pun bisa mengubah kerja otak dan memperbaiki kehidupannya.”
Saya ingat masa-masa ketika saya mengajar. Ada kalanya harapan saya terhadap anak-anak itu terlalu tinggi. Sampai kemudian saya merasa putus asa. Saat itulah saya menyadari bahwa saya tidak bisa menuntut mereka menjadi seperti yang saya inginkan. Tugas saya adalah mendampingi mereka, menjadi teman yang dapat mereka percayai.















Bisa copy filmnya?