Blessing In Disguise

Seperti dipaparkan pada tulisan sebelumnya perjalanan kami tempo hari tidak lepas dari peranan blogger Imam Brotoseno dan maskapai penerbangan AirAsia. Kami mendapatkan tiket gratis pulang pergi Jakarta-London. Untuk route penerbangan ke UK kami harus transit terlebih dahulu di Malaysia. Rencana perjalanan kami sempat tertunda karena adanya gunung meletus di Irlandia. Pada saat kejadian itu kami sudah berada di Malaysia, bahkan kami sudah berada di dalam pesawat. Tak lama pilot mengabarkan bahwa keberangkatan ke London ditunda dikarenakan meletusnya gunung Eyjafjallajokull dan menyebabkan bandara Stanted ditutup. Kami semua keluar dari pesawat dan kembali ke ruang pemberangkatan. Selang menunggu, pihak AirAsia memberi snack dan menu makan kepada penumpang.  Menunggu tanpa kepastian tentulah sangat tak nyaman.

Menjelang sore kemudian dikabarkan bahwa penerbangan ke London tidak akan mungkin diberangkatkan, dan kami semua diminta untuk mencari tempat menginap. Dan karena penundaan ini terjadi disebabkan bencana alam dan bukan karena kesalahan dari pihak AirAsia maka biaya penginapan ditanggung pribadi. Pihak AirAsia menjanjikan untuk mengabarkan berita kepada para penumpang jika ada kabar terbaru. Praktis malam itu semua hotel yang dekat bandara penuh. Beruntung kami dan beberapa penumpang lain mendapat hotel transit yang tak terlalu jauh dari bandara.

Menjelang pagi hari kami di sms dari AirAsia mengenai kemungkinan penerbangan ke London akan diberangkatkan pagi ini. Berangkat ke bandara bersama rombongan penumpang lainnya kami berusaha meyakinkan diri bahwa isu ini benar. Sampai di bandara, ternyata kami belum mendapatkan kepastian mengenai berita keberangkatan. Pihak AirAsia masih menunggu laporan dari Stanted. Kami berusaha mencari kabar mengenai kondisi abu dari meletusnya gunung Eyjafjallajokull. Namun akses internet di bandara Malaysia ini ternyata sulit sekali. Ada satu premium lounge yang hari itu juga dipenuhi orang yang mempunyai tujuan yang sama dengan kami. Akses wifi di beberapa tempatpun ternyata dibatasi IP addressnya, sehingga lebih sering gagal dibanding berhasil. Rasanya seperti berada di pengasingan, tak tahu informasi apapun. Untunglah staf-staf AirAsia di bandara Malaysia cukup kooperatif. Walaupun mereka sendiri dalam kebingungan yang sama mereka berusaha melayani dengan baik keluhan dan pertanyaan-pertanyaan dari para penumpang.

Hari itu kami memutuskan untuk tidak berdiam diri di bandara. Setelah menimbang situasi yang ada dan obrolan dari pihak AirAsia kami memutuskan untuk pergi ke kota Kualalumpur dengan harapan bisa menemukan ruang internet, sekaligus menghibur diri :). Koper telah kami titipkan di counter. Ini sebetulnya tidak sengaja, karena kami datang pagi hari dan langsung cek-in (karena isunya memang akan diberangkatkan pagi itu, maka beberapa orang memang sempat cek-in terlebih dahulu). Namun koper memang masih disimpan di counter menunggu kepastian pemberangkatan. Sore hari kami mendapat pemberitahuan bahwa pihak AirAsia tidak dapat memberangkatkan penerbangan ke Stanted. Kami kembali ke bandara, bertanya mengenai beberapa opsi yang ditawarkan pihak AirAsia kepada para penumpang. Staf AirAsia masih melayani kami dengan ramah walaupun hari menjelang malam dan pasti mereka capek bukan main menjawab pertanyaan yang sama dari penumpang lainnya. Malam itu kami mencari penginapan yang letaknya memang lebih jauh dari bandara namun lebih murah.

Beruntung hotel ini memiliki akses wifi walaupun kami hanya bisa mengaksesnya di lobi hotel. Besok pagi kami memutuskan untuk menjadwalkan kembali tanggal kepulangan ke Jakarta. Kami memilih untuk kembali ke Jakarta setelah menimbang beberapa situasi terbaru yang kami peroleh dari BBC.

Suasana bandara terlihat berbeda, tepatnya di dekat counter khusus untuk penumpang tujuan Stanted (London). Kami temui teman-teman kami banyak yang menginap di bandara. Pastilah mereka tak akan tidur di sana jika mereka masih mempunyai bekal. Awalnya sih mencoba untuk mengalihkan pikiran itu karena kami kira lebih aman buat mereka berada di sana sambil menunggu kabar. Sampai, kami melihat sebuah kejadian yang membuat hati kami miris. Seorang turis berusaha menawarkan voucher yang diperolehnya kepada pembeli di sebuah restoran untuk diganti dengan uang. Kami sempat juga melihat beberapa staf AirAsia mendatangi mereka serta memberikan beberapa air minum serta bungkusan makanan. Dan tanpa sengaja kami bertemu dengan dua orang dari mereka dan sempat mengobrol. Dari mereka kami mengetahui bahwa pihak AirAsia memberikan voucher kepada mereka yang dapat diganti dengan makanan dan minuman. Namun memang jumlahnya tidak sebanyak orang yang menginap di bandara. Bagaimanapun melihat kejadian ini membuat saya dan partner menghargai upaya yang dilakukan pihak AirAsia sebagai tanggungjawab mereka kepada sesama.

Dan untuk semua staf AirAsia yang telah melayani kami dengan baik, terutama untuk seorang mas (yang sayangnya saya tak sempat menanyakan namanya), kami sangat berterima kasih karena telah banyak membantu kami sehingga memudahkan kami untuk mengurus jadwal ulang perjalanan kami kembali ke Jakarta. Hei, kita ketemu lagi kemarin di Malaysia ya, dan dia masih ingat dan menyapa kembali dengan ramah.

Saya dan partner kembali ke jakarta dan merancang ulang perjalanan kami, sambil terus mencari tahu berita mengenai abu gunung Eyjafjallajokull. Berdoa semoga teman-teman kami yang terdampar dimanapun karena bencana abu ini segera dapat diberangkatkan dan selamat sampai tujuan.

Tak lupa terima kasih untuk AirAsia dan mas Imam Brotoseno, yang memberi kepercayaan dan kesempatan kepada kami sehingga kami dapat mewujudkan jalan-jalan ke negeri dongeng yang indah ini. Tak menolak kalau kapan-kapan kami ditawari tiket gratis lagi :).  And above all, thanks God.

ps:

Untuk beberapa teman yang kebetulan waktu itu bertanya mengenai AirAsia, silakan membuka webnya di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *