Me and my student
Aneka November 21st, 2009Beberapa minggu belakangan ini saya disibukkan dengan berbagai keluhan dan curhatan dari murid-murid. Dari yang menangis karena dilabrak kakak kelas sampai yang diam-diam tak berani melapor karena dipalak oleh kakak kelas. Hmm… ada apakah kakak kelas? Kenapa kalian kok jadi menakali adik kelasmu sendiri ya?
Baru saja membuka kotak makan sudah ada murid yang masuk dan melaporkan temannya menangis. Ada juga yang menghadang saya di pintu ketika saya akan pulang. Dan dengan senyum serta kepolosannya berujar “Bu, saya mau curhat.” Oalah nak..
Hp saya pun seringkali berbunyi, dan tertera pesan yang serupa “Bu, saya boleh cerita nggak?
Sebenarnya kami punya guru BP, tapi entah juga ya mengapa anak-anak memilih guru lain untuk mereka bercerita. Anak-anak seumur mereka memang ada dalam masa labil. Masa di mana mereka ingin diperhatikan. Persoalan kecil pun bisa jadi sangat besar buat mereka. Namun sangatlah tidak adil jika saya bersikap seolah-olah masalah mereka itu tidak berarti. Walau kadang membuat saya menahan senyum dalam hati
.
Kadang mereka bertanya “Kenapa cobaan saya berat banget ya Bu? Masih kecil aja udah kaya gini, gimana kalau saya udah besar?”.
Hmm.. saya jadi ingat komentar beberapa teman masa sekolah ketika mereka mengetahui saya menjadi guru. Keheranan mereka adalah karena saya sangat pendiam. Dan menjadi guru? Kejutan besar buat sebagian orang. Saya jadi berpikir juga, bayangan guru seperti apa ya yang ada dalam benak mereka? Guru yang suka memberi nasihat panjang lebar di waktu jam pelajarannya? Atau guru yang suka marah-marah sepanjang hari?
.
Saya tidak tahu saya ada di posisi mana, tapi kalau boleh memilih saya memang tidak terbiasa menghabiskan jam pelajaran dengan ceramah atau marah-marah panjang lebar. Tapi jangan salah saya sangat tegas. Namun saya bukan orang yang cukup ekspresif untuk menyatakan rasa sayang dan perhatian saya pada mereka. Saya tidak mudah untuk berbasa-basi. Bisa dibilang saya ada di tengah-tengah deh, galak nggak terlalu baik juga nggak
. Saya bersyukur sampai saat ini saya bisa menjalin hubungan yang cukup dekat dengan mereka.
Saya juga beruntung dengan adanya facebook (karena hampir semua murid punya akun di sini dan meng-add saya). Facebooklah media saya untuk berkomunikasi dengan mereka. Dalam arti, status yang saya update hampir sebagian besar saya tujukan untuk murid-murid saya. Anggaplah itu sebagai bagian dari tugas saya mendidik mereka. Mengingatkan, mengarahkan serta merangsang mereka untuk bersikap kritis, kreatif dan inovatif (hehehe, maunya..
). Soalnya saya malas banget kalau harus memberi nasihat panjang lebar di depan kelas. Udah capek, merekanya cuek, kitanya sakit hati, belum lagi kalau mereka malah membenci kita, karena dianggap cerewet.. huhuhu, sedih kan? Padahal semua guru kalau marah itu bukan karena benci pada muridnya, tapi justru karena sayang dan karena ingin mereka lebih baik.
Nah, tiap jumat biasanya saya luangkan waktu untuk anak-anak. Karena hari itu saya ada di sekolah sampai sore untuk memberikan pelatihan guru dan karyawan. Sambil menunggu waktu pelatihan dimulai, saya bisa ngobrol dan bercanda dengan murid-murid tercinta saya


November 21st, 2009 at 15:52
hehehe, mahasiswaku saja masih suka begitu, mbak. apalagi anak kecil ya. padahal banyak yang bilang aku ini jutek, tapi yang dekat ternyata banyak juga. eh, belakangan aku malah suka juga curhat sama mereka, hehe. dan responnya kadang di luar dugaan. ah, tapi mengajar dan menjadi pengajar memang membahagiakan. guru? hmm…aku belum sampai tahap sana
November 22nd, 2009 at 21:45
TOP BGT Bu Enggar, lah…
November 23rd, 2009 at 22:18
Itulah seninya menjadi guru.
November 25th, 2009 at 09:43
Suka senyum-senyum sendiri kalo ngeliat komunikasi Teh Enggar sama murid2nya di Facebook… Great approachment
December 7th, 2009 at 08:47
mmm…memang sepertinya senioritas masih berlaku di sekolah manapun, dan itu kita ketahui atau tidak. Dan sungguh disayangkan ketika senioritas itu dikonotasikan negatif (ato memang senioritas itu selalu negatif) padahal bisa saja mungkin senioritas itu bermakna positif ketika kaka2 kelas bisa menjadi salah satu agen di tubuh para siswa dalam membimbing adik2nya.
banyaknya murid yang datang dan lebih suka curhat kepada ibu mungkin salah satunya adalah dari sikap ibu sendiri kepada murid2 ibu, dan memang sebenarnya tiap2 sekolah mempunyai BP/BK yang berfungsi sebagai tempat konsultasi bagi para siswa dalam segala persoalan. namun kenyataannya BP/BK malah menjadi momok yang menakutkan atau harus dihindari oleh para murid, karena kita semua tahu dari kebanyakan murid yang dipanggil oleh BP/BK adalah siswa2 yang bermasalah sehingga dalam perjalanannya pun BP/BK mempunyai citra yang buruk dimata para siswa, dan itu adalah suatu paradigma yang buruk bagi kita semua dan harus ada langkah konkrit dan segera dari pihak penyelengggara pendidikan untuk bsia mengembalikkan citra positif dan fungsi sesungguhnya daripada BP/BK tersebut (dan itu bukanlah tugas yang gampang).
Namun ada satu hal yang membanggakan bagi saya dari tulisan di atas (terlebih kepada para murid ibu) yaitu, masih adanya kemauan dari para murid untuk berkonsultasi kepada gurunya dan itu menjadi satu hal penting bagi kita semua untuk lebih bisa mengerti dan memahami para murid. berbeda sekali dengan yang saya alami disini, dimana para murid sangat enggan sekali untuk berkonsultasi kepada para guru baik dalam hal pelajaran maupun hal pribadinya. dan itu menjadi suatu yang membingungkan bagi kita untuk mengetahui dan memahami apa sih hal yang diinginkan (hal yang tidak dimengerti) oleh para murid atau hal apa sih yang menjadi kekurangan dari kita dalam mendidik mereka (doh) bahkan jejaring sosial macam fesbuk pun yang salah satunya saya khususkan untuk menjadi suatu media informasi dan komunikasi untuk berinteraksi dengan para anak didik masih belum bisa berjalan dan atau tidak mencapai suatu target dari tujuan yang saya harapkan
December 9th, 2009 at 23:02
@Dian: kangen momen2 itu ya Dian?

. Lieur deh. Sikap saya ke mereka sebenarnya biasa aja sih. Saya lebih melihatnya ini karena pengaruh efek domino
. Satu anak curhat maka anak2 lain akan melihat bahwa mereka bisa curhat ke saya.. hehehe. Tapi mudah-mudahan itu karena mereka memang merasa nyaman cerita ke saya ya? Amin. Betul, BP/BK itu seperti momok menakutkan. Saya juga nggak tahu salahnya dimana. Tapi anak-anak seperti trauma kalau disuruh ke BP.
.
@Dhodie: hehehe, bandel2 ya?
@Adhie: Kadang ada yang positif tapi banyak juga negatifnya
Saya memulai itu juga sulit kok. Awalnya mana ada murid yang mau curhat. Saya sendiri orangnya diam, susah banget disuruh basa-basi. Dekat dengan satu anak, lama-lama temannya ikut dekat. Sapaan-sapaan kecil berlanjut cerita, lama2 jadi curhat dan seterusnya. Bertambah baik komunikasi saya dengan mereka melalui facebook. Itu semua perlu waktu. Tidak bisa dipaksakan dan tidak bisa ditargetkan. Buat saya mengalir aja dengan sendirinya. Saya hanya mengarahkan dan melepaskan diri dari segala keinginan pribadi saya terhadap mereka