Beberapa minggu belakangan ini saya disibukkan dengan berbagai keluhan dan curhatan dari murid-murid. Dari yang menangis karena dilabrak kakak kelas sampai yang diam-diam tak berani melapor karena dipalak oleh kakak kelas. Hmm… ada apakah kakak kelas? Kenapa kalian kok jadi menakali adik kelasmu sendiri ya?

Baru saja membuka kotak makan sudah ada murid yang masuk dan melaporkan temannya menangis. Ada juga yang menghadang saya di pintu ketika saya akan pulang. Dan dengan senyum serta kepolosannya berujar “Bu, saya mau curhat.” Oalah nak..

Hp saya pun seringkali berbunyi, dan tertera pesan yang serupa “Bu, saya boleh cerita nggak?

Sebenarnya kami punya guru BP, tapi entah juga ya mengapa anak-anak memilih guru lain untuk mereka bercerita. Anak-anak seumur mereka memang ada dalam masa labil. Masa di mana mereka ingin diperhatikan. Persoalan kecil pun bisa jadi sangat besar buat mereka. Namun sangatlah tidak adil jika saya bersikap seolah-olah masalah mereka itu tidak berarti. Walau kadang membuat saya menahan senyum dalam hati ;-) .

Kadang mereka bertanya “Kenapa cobaan saya berat banget ya Bu? Masih kecil aja udah kaya gini, gimana kalau saya udah besar?”.

Hmm.. saya jadi ingat komentar beberapa teman masa sekolah ketika mereka mengetahui saya menjadi guru. Keheranan mereka adalah karena saya sangat pendiam. Dan menjadi guru? Kejutan besar buat sebagian orang. Saya jadi berpikir juga, bayangan guru seperti apa ya yang ada dalam benak mereka? Guru yang suka memberi nasihat panjang lebar di waktu jam pelajarannya? Atau guru yang suka marah-marah sepanjang hari? :) .
Saya tidak tahu saya ada di posisi mana, tapi kalau boleh memilih saya memang tidak terbiasa menghabiskan jam pelajaran dengan ceramah atau marah-marah panjang lebar. Tapi jangan salah saya sangat tegas. Namun saya bukan orang yang cukup ekspresif untuk menyatakan rasa sayang dan perhatian saya pada mereka. Saya tidak mudah untuk berbasa-basi. Bisa dibilang saya ada di tengah-tengah deh, galak nggak terlalu baik juga nggak :) . Saya bersyukur sampai saat ini saya bisa menjalin hubungan yang cukup dekat dengan mereka.

Saya juga beruntung dengan adanya facebook (karena hampir semua murid punya akun di sini dan meng-add saya). Facebooklah media saya untuk berkomunikasi dengan mereka. Dalam arti, status yang saya update hampir sebagian besar saya tujukan untuk murid-murid saya. Anggaplah itu sebagai bagian dari tugas saya mendidik mereka. Mengingatkan, mengarahkan serta merangsang mereka untuk bersikap kritis, kreatif dan inovatif (hehehe, maunya.. :) ). Soalnya saya malas banget kalau harus memberi nasihat panjang lebar di depan kelas. Udah capek, merekanya cuek, kitanya sakit hati, belum lagi kalau mereka malah membenci kita, karena dianggap cerewet.. huhuhu, sedih kan? Padahal semua guru kalau marah itu bukan karena benci pada muridnya, tapi justru karena sayang dan karena ingin mereka lebih baik.

Nah, tiap jumat biasanya saya luangkan waktu untuk anak-anak. Karena hari itu saya ada di sekolah sampai sore untuk memberikan pelatihan guru dan karyawan. Sambil menunggu waktu pelatihan dimulai, saya bisa ngobrol dan bercanda dengan murid-murid tercinta saya ;-)