RSS Feed

Berikan kail bukan ikannya

Posted by Enggar on 1st November and posted in Pendidikan

Kita pasti seringkali mendengar ungkapan di atas. Apa makna dibalik kalimat tersebut?

Ini lah langkah nyata dari mutiara kata di atas.

Bangladesh. Apa yang terbayang dalam benak kita mendengar nama negara ini? Sebuah negara dengan bayangan kemiskinan dan kekumuhan? Tidak salah. Bangladesh merupakan salah satu negara miskin di Asia. Namun perlahan negara ini memperbaiki perekonomian yang lebih baik. Melalui pemikiran brilian seorang profesor dan bankir dari Bangladesh, Muhammad Yunus, menjalankan gerakan yang diberi nama kredit mikro. Kredit mikro adalah praktik memberikan bantuan pinjaman tanpa agunan kepada orang miskin. Pinjaman itu digunakan untuk membangun sebuah usaha, seperti warung, bengkel kerajinan- yang dapat mengangkat mereka sekeluarga keluar dari kemiskinan.

Dan seperti dikutip dalam buku ‘Menciptakan Dunia Tanpa Kemiskinan” – “Akses ke modal, sekecil apapun, punya pengaruh transformatif pada kehidupan manusia.”

Gerakan global kredit mikro itu kemudian dikenal dengan nama Bank Gramen. Apa yang membedakan bank Gramen dengan bank umum lainnya? Secara ringkas, Bank Gramen melakukan kebijakan yang terbalik dengan yang dilakukan bank umum. Kebijakan itu antara lain: meniadakan agunan, tidak ada surat atau dokumen-dokumen untuk melakukan peminjaman. semuanya dijalankan dengan modal kepercayaan. Pembinaan dan pelatihan kepada para pengusaha kecil ini melalui teman-temannya yang telah berhasil. Contoh di atas adalah sebagian kecil dari kebijakan bank gramen lainnya yang sangat menarik dan diluar kebiasaan.

Sedangkan untuk karyawan bank gramen sendiri ada sebuah keunikan kinerja kerja yang mengingatkan saya pada murid-murid saya di sekolah dasar dahulu. Stiker atau bintang yang diberikan oleh guru kepada murid-murid yang mengikuti pelajaran dengan baik di hari mereka belajar.

Bank Gramen memiliki sistem evaluasi dan insentif lima jenis bintang untuk staf dan cabang-cabang bank Gramen. Jika seorang staf dapat mencapai rekor pengembalian pinjaman 100% untuk seluruh nasabahnya (biasanya 600 nasabah) dia mendapatkan bingtang hijau. Jika dia dapat menghasilkan keuntungan dari pekerjaannya, dia mendapatkan bintang yang lain-bintang warna biru. Jika dia dapat memobilisasi tabungan lebih banyak ketimbang pinjaman yang berjalan, dia mendapatkan bintang ketiga-bintang ungu. Bila dia bisa memastikan seluruh nasabahnya bersekolah, dia mendapatkan bintang cokelat. Akhirnya, bila seluruh nasabahnya bisa keluar dari kemiskinan, dia mendapatkan bintang merah. Staf ini boleh mengenakan bintang-bintangnya itu di dadanya. Mereka sangat bangga akan prestasi itu.”

Seringkali kita tidak menyadari bahwa penghargaan atas sebuah prestasi tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk materi (nominal). Tetapi sebuah ketulusan dan kesungguhan dalam menghargai pekerjaan orang lain memberi kesan yang jauh lebih berarti.

13 Comments

  1. Setuju sekali, Mbak.
    “…penghargaan atas sebuah prestasi tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk materi (nominal). Tetapi sebuah ketulusan dan kesungguhan dalam menghargai pekerjaan orang lain memberi kesan yang jauh lebih berarti.”

  2. Jika dikaitkan dengan BMT? itu sebuah pemberian kail atau ikan?kayaknya tergantung bagaimana yg menerima, sebab tak jarang saya dengan mata kepala sendiri menjumpai uang dari BMT itu langsung habis setelah diterima dari Pos, habis krn langsung ke pasar membeli pakaian, beras, dll. Ada jg yg habis tp dibelikan barang2 utk dijual kembali di tokonya. Salam kenal

  3. ya semoga tidak menular pada negara kita,betul ndak…

    boleh tukar link sob…ditunggu ya thanks

  4. Kalau tidak salah Muh.Yunus menerima nobel atas usahanya ini ya?

    *bermimpi Indonesia punya ekonom sekaliber beliau*

  5. Enggar

    @Wongjalur: Visi dan misi berbeda :)
    @Dhodie: Iya, betul. Yunus menerima nobel perdamaian. *iya, bermimpi juga, tapi kali saja diri kita sendiripun bisa menirunya? :) *

  6. Kelihatannya yang kurang dari kita hanya visi yang jernih, murni untuk membantu rakyat saja yang masih kurang..

    Mungkin para guru bisa menjadi sumber inspirasi untuk murid-murid belajar memberi dengan tulus, sehingga masa depan kita lebih baik daripada sekarang.. :)

  7. Nice post!

  8. adakah di negeri ini bank semacam itu?

  9. Setuju bu Enggar, dahulukan memuji siswamu daripada cepat memarahinya, itu juga termasuk memberi kail bukan?
    -
    Boleh dong blogku di tumpangke kene. :lol: Matur nyuwun. :D Blogke TOP.

  10. Blognya bu Enggar bener-bener mencerminkan blog guru TIK yang bajus dah. Salam kenyal ya bu. :lol:

  11. Blognya bagus sekali bu Enggar, boleh dong aku ditumpangke. Matur nyuwun. :lol:
    Salam dari wandisukoharjo.com

  12. asrofi

    sungguh menggugah…
    boleh dicopy kah?
    biar lebih banyak lagi yang tergugah akan keterpurukan Bangsa kita.. (masih banyaknya kemiskinan)

  13. Enggar

    @Nena: Setuju Bu. Terima kasih sudah mampir ke blog ini :)
    @Mursyid: Thanks Pak.
    @Adhie: Entah :)
    @Wandi: Betul Pak. Terima kasih.
    @Asrofi: Silakan Pak.

Leave a Reply

Powered By Wordpress || Designed By @ridgey28

Social Widgets powered by AB-WebLog.com.