Me and my student

Aneka 6 Comments »

Beberapa minggu belakangan ini saya disibukkan dengan berbagai keluhan dan curhatan dari murid-murid. Dari yang menangis karena dilabrak kakak kelas sampai yang diam-diam tak berani melapor karena dipalak oleh kakak kelas. Hmm… ada apakah kakak kelas? Kenapa kalian kok jadi menakali adik kelasmu sendiri ya?

Baru saja membuka kotak makan sudah ada murid yang masuk dan melaporkan temannya menangis. Ada juga yang menghadang saya di pintu ketika saya akan pulang. Dan dengan senyum serta kepolosannya berujar “Bu, saya mau curhat.” Oalah nak..

Hp saya pun seringkali berbunyi, dan tertera pesan yang serupa “Bu, saya boleh cerita nggak?

Sebenarnya kami punya guru BP, tapi entah juga ya mengapa anak-anak memilih guru lain untuk mereka bercerita. Anak-anak seumur mereka memang ada dalam masa labil. Masa di mana mereka ingin diperhatikan. Persoalan kecil pun bisa jadi sangat besar buat mereka. Namun sangatlah tidak adil jika saya bersikap seolah-olah masalah mereka itu tidak berarti. Walau kadang membuat saya menahan senyum dalam hati ;-) .

Kadang mereka bertanya “Kenapa cobaan saya berat banget ya Bu? Masih kecil aja udah kaya gini, gimana kalau saya udah besar?”.

Hmm.. saya jadi ingat komentar beberapa teman masa sekolah ketika mereka mengetahui saya menjadi guru. Keheranan mereka adalah karena saya sangat pendiam. Dan menjadi guru? Kejutan besar buat sebagian orang. Saya jadi berpikir juga, bayangan guru seperti apa ya yang ada dalam benak mereka? Guru yang suka memberi nasihat panjang lebar di waktu jam pelajarannya? Atau guru yang suka marah-marah sepanjang hari? :) .
Saya tidak tahu saya ada di posisi mana, tapi kalau boleh memilih saya memang tidak terbiasa menghabiskan jam pelajaran dengan ceramah atau marah-marah panjang lebar. Tapi jangan salah saya sangat tegas. Namun saya bukan orang yang cukup ekspresif untuk menyatakan rasa sayang dan perhatian saya pada mereka. Saya tidak mudah untuk berbasa-basi. Bisa dibilang saya ada di tengah-tengah deh, galak nggak terlalu baik juga nggak :) . Saya bersyukur sampai saat ini saya bisa menjalin hubungan yang cukup dekat dengan mereka.

Saya juga beruntung dengan adanya facebook (karena hampir semua murid punya akun di sini dan meng-add saya). Facebooklah media saya untuk berkomunikasi dengan mereka. Dalam arti, status yang saya update hampir sebagian besar saya tujukan untuk murid-murid saya. Anggaplah itu sebagai bagian dari tugas saya mendidik mereka. Mengingatkan, mengarahkan serta merangsang mereka untuk bersikap kritis, kreatif dan inovatif (hehehe, maunya.. :) ). Soalnya saya malas banget kalau harus memberi nasihat panjang lebar di depan kelas. Udah capek, merekanya cuek, kitanya sakit hati, belum lagi kalau mereka malah membenci kita, karena dianggap cerewet.. huhuhu, sedih kan? Padahal semua guru kalau marah itu bukan karena benci pada muridnya, tapi justru karena sayang dan karena ingin mereka lebih baik.

Nah, tiap jumat biasanya saya luangkan waktu untuk anak-anak. Karena hari itu saya ada di sekolah sampai sore untuk memberikan pelatihan guru dan karyawan. Sambil menunggu waktu pelatihan dimulai, saya bisa ngobrol dan bercanda dengan murid-murid tercinta saya ;-)

Berikan kail bukan ikannya

Aneka, Pendidikan 13 Comments »

Kita pasti seringkali mendengar ungkapan di atas. Apa makna dibalik kalimat tersebut?

Ini lah langkah nyata dari mutiara kata di atas.

Bangladesh. Apa yang terbayang dalam benak kita mendengar nama negara ini? Sebuah negara dengan bayangan kemiskinan, langganan banjir dan kumuh? Ya, nyatanya Bangladesh merupakan salah satu negara miskin di Asia. Namun perlahan tapi pasti negara ini sedang menaiki roda perekonomian yang lebih baik. Melalui pemikiran brilian seorang profesor dan bankir dari Bangladesh, Muhammad Yunus, menjalankan gerakan yang diberi nama kredit mikro. Kredit mikro adalah praktik memberikan bantuan pinjaman tanpa agunan kepada orang miskin. Pinjaman itu digunakan untuk membangun sebuah usaha, seperti warung, bengkel kerajinan- yang dapat mengangkat mereka sekeluarga keluar dari kemiskinan.

Dan seperti dikutip dalam buku ‘Menciptakan Dunia Tanpa Kemiskinan” – “Akses ke modal, sekecil apapun, punya pengaruh transformatif pada kehidupan manusia.”

Gerakan global kredit mikro itu kemudian dikenal dengan nama Bank Gramen. Apa yang membedakan bank Gramen dengan bank umum lainnya? Secara ringkas, bank Gramen melakukan kebijakan yang terbalik dengan yang dilakukan bank umum. Kebijakan itu antara lain: meniadakan agunan, tidak ada surat atau dokumen-dokumen untuk melakukan peminjaman. semuanya dijalankan dengan modal kepercayaan. Pembinaan dan pelatihan kepada para pengusaha kecil ini melalui teman-temannya yang telah berhasil. Contoh di atas adalah sebagian kecil dari kebijakan bank gramen lainnya yang sangat menarik dan diluar kebiasaan.

Sedangkan untuk karyawan bank gramen sendiri ada sebuah keunikan kinerja kerja yang mengingatkan saya pada murid-murid saya di sekolah dasar dahulu. Stiker atau bintang yang diberikan oleh guru kepada murid-murid yang mengikuti pelajaran dengan baik di hari mereka belajar.

Bank Gramen memiliki sistem evaluasi dan insentif lima jenis bintang untuk staf dan cabang-cabang bank Gramen. Jika seorang staf dapat mencapai rekor pengembalian pinjaman 100% untuk seluruh nasabahnya (biasanya 600 nasabah) dia mendapatkan bingtang hijau. Jika dia dapat menghasilkan keuntungan dari pekerjaannya, dia mendapatkan bintang yang lain-bintang warna biru. Jika dia dapat memobilisasi tabungan lebih banyak ketimbang pinjaman yang berjalan, dia mendapatkan bintang ketiga-bintang ungu. Bila dia bisa memastikan seluruh nasabahnya bersekolah, dia mendapatkan bintang cokelat. Akhirnya, bila seluruh nasabahnya bisa keluar dari kemiskinan, dia mendapatkan bintang merah. Staf ini boleh mengenakan bintang-bintangnya itu di dadanya. Mereka sangat bangga akan prestasi itu.”

Seringkali kita tidak menyadari bahwa penghargaan atas sebuah prestasi tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk materi (nominal). Tetapi sebuah ketulusan dan kesungguhan dalam menghargai pekerjaan orang lain memberi kesan yang jauh lebih berarti.

WP Theme & Icons by N.Design Studio
Entries RSS Comments RSS Log in