abg
Obrolan October 30th, 2009Banyak orang bilang jadi guru itu awet muda, karena bergaulnya dengan anak-anak terus. Hmm… iya ya?
.
Pernah membayangkan apa rasanya ketika seorang anak memelototi kita? Yang tatapannya seolah berkata “Mau apa lo Bu? Gue nggak takut?”, Ini rasanya, lutut gemetaran dan nderedeg bukan main. Takut. Itu pengalaman pertama menjadi guru. Emosi bisa naik turun antara ingin nangis dan marah. Hari-hari berikutnya saya belajar bagaimana menghadapi anak-anak dengan karakter seperti ini. Apalagi kemudian saya mengajar anak-anak dengan usia tanggung, usia di mana mereka mencari jati diri.
Tetap bukan hal yang mudah tapi saya sepenuh hati belajar untuk memasuki dunia mereka. Berlapang dada ketika mereka sedang dalam cuaca hati yang amburadul. Mengenyampingkan beban kurikulum yang harus saya berikan ketika mereka terengah-engah mengikuti, dan berusaha meluangkan waktu ketika mereka membutuhkan. Apakah itu semua cukup? Belum. Ada saja yang kurang. Apakah karena itu saya marah? Inginnya, terkadang
. Dan sungguh, kekuatan mental dan jiwa saya benar-benar dilatih di sini. Kalau sudah jenuh saya memilih untuk bersikap tak peduli. Dalam artian berdamai dengan diri sendiri. Menyadari bahwa memang ada hal-hal yang di luar wewenang saya. Walaupun kadang sedikit menimbulkan miris di hati.
Terkadang saya mencoba menjauh dari kehidupan mereka, memilih untuk mengajar saja dan melupakan lainnya. Namun di satu titik saya tidak bisa melepaskan pandangan dari anak-anak itu. Dari sekian banyak masalah mereka juga mewarnai hari-hari saya dengan sejuta senyuman manis dan perhatian. Jadi rasanya benar juga, kalau banyak teman-teman saya mengatakan bahwa jadi guru itu bisa awet muda, isn’t that right?
Dan mau tahu kebahagiaan seorang guru? Cuma satu dan sederhana kok: melihat anak didiknya bisa tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang berperilaku mulia. Seperti apa berperilaku mulia? Santun, bertanggung jawab, tidak mudah menyerah dan nilai-nilai sosial lainnya. O’ itu banyak ya? hehehe. Bagaimana dengan sukses? Sukses itu relatif nak, sama halnya dengan pintar. Kalau kamu merasa biasa saja, tapi kamu sangat berminat terhadap sesuatu, maka yang tampak biasa itu akan menjadi pintar seketika, bahkan mungkin akan lebih berkilau. Kuncinya hanya satu: minat dan ketekunan.


October 30th, 2009 at 21:04
Awet muda pikirannya, ya, Bu Enggar.
Kalo cuma ngajar doang, nanti gak menarik lagi dong, ya, gak? Apa indahnya dunia perguruan, heheh..
Setuju Bu Enggar. Saya pernah ngobrol dengan salah satu anak yang dua kali ikut lomba IPA, dua kalinya gagal. Dia bilang, ‘Bu, kalo aku bisa menang, pasti ibu bangga sekali, ya..’
Saya bilang, tentu saja. Tapi bukan menang lomba yang saya harapkan.
Mereka tanya. Saya jawab, saya ingin melihat mereka jadi orang yang baik.
Heran dunk. Cuma itu aja, Bu?
Gak tau aja kalo itu beratnya gak ketulungan, heheh..
Tapi, saya bener-bener salut dengan guru SMP. Gak kebayang, bu.. Ngadepin segambreng anak puber.
October 31st, 2009 at 15:50
awet muda atau awet tua,ya? hehe. karena aku lihat guru-guruku memang tetep aja segituu….tapi kalau aku tampaknya memang awet muda (narsis mode on, hehe), karena di sini ada teman lama yang bilang: dian, kamu kok makin terlihat muda sih? *gubrak! dia yang harus ganti kaca mata atau aku memang jadi kayak anak kecil* (sekarang bingung mode on)
btw, mengajar memang selalu membuat kita belajar
October 31st, 2009 at 23:14
@Al: Iya, berusaha jadi baik itu susahnya setengah mati. Terima kasih Al, akupun bangga padamu
. Di jenjang apapun ada kisahnya sendiri, baik kesulitan, kesenangan dan kemudahan, setuju bu guru? 
. Dirimu memang jadi anak kecil sekarang kan masih kuliah
.
@Dian: halo Ibu calon doktor
November 7th, 2009 at 12:04
aih aih udah lama sekali nggak mampir kesini…
aku kagum Mbak, sama panggilannya jadi guru. Ni aku ngajarin adik bikin PR aja bawaaannya emosi melulu
dan iya, awet muda lho!
November 13th, 2009 at 12:38
jelas dong guru awet muda,apalagi guru SD he he,tapi jangan jadi kekanak-kanakan meskipun bergaul dengan anak-anak.
Tolong tautkan link saya ya.
November 15th, 2009 at 01:27
jaman sekarang ini kita memang dituntut untuk bisa menjadi seorang tenaga pendidik yang bisa memastikan anak didik kita menyukai dan mengerti plus bisa mengaplikasikan apa yang kita berikan melalui kbm.
bukan hanya anak didik saja yang diuji kemampuannya dalam ujian, namun tenaga pendidik pun diuji dalam penyampaian materi/prakteknya, apakah si murid bisa menegrti apa yang kita sampaikan ato tidak? dan kalo ternyata tidak, maka introspeksi diri adalah jalan pertama (tata cara kita mengajar misalnya) sebelum kita melangkah untuk lebih menyalahkan peserta didik akabat mereka tak mengerti apa yang kita sampaikan
#ternyata jadi guru itu susah juga yah
November 15th, 2009 at 01:28
komen saya yang tadi kira-kira ke save nggak yah (thinking)
November 15th, 2009 at 01:29
jaman sekarang ini kita memang dituntut untuk bisa menjadi seorang tenaga pendidik yang bisa memastikan anak didik kita menyukai dan mengerti plus bisa mengaplikasikan apa yang kita berikan melalui kbm.
bukan hanya anak didik saja yang diuji kemampuannya dalam ujian, namun tenaga pendidik pun diuji dalam penyampaian materi/prakteknya, apakah si murid bisa menegrti apa yang kita sampaikan ato tidak? dan kalo ternyata tidak, maka introspeksi diri adalah jalan pertama (tata cara kita mengajar misalnya) sebelum kita melangkah untuk lebih menyalahkan peserta didik akabat mereka tak mengerti apa yang kita sampaikan
#ternyata jadi guru itu susah juga yah
*ternyata nggak ke save, untungnya masih ada ketika di back
November 19th, 2009 at 00:36
@Shasya: Thanks neng geulis. Blogmu ganti tema nih?
@Dadan: makasih Pak. Sudah saya taut blognya.
@Adhie: Setuju banget. Jadi guru susah? Menurut saya sih iya. Tapi juga menyenangkan