abg
Aneka 9 Comments »Banyak orang bilang jadi guru itu awet muda, karena bergaulnya dengan anak-anak terus. Hmm… iya ya?
.
Pernah membayangkan apa rasanya ketika seorang anak memelototi kita? Yang tatapannya seolah berkata “Mau apa lo Bu? Gue nggak takut?”, Ini rasanya, lutut gemetaran dan nderedeg bukan main. Takut. Itu pengalaman pertama menjadi guru. Emosi bisa naik turun antara ingin nangis dan marah. Hari-hari berikutnya saya belajar bagaimana menghadapi anak-anak dengan karakter seperti ini. Apalagi kemudian saya mengajar anak-anak dengan usia tanggung, usia di mana mereka mencari jati diri.
Tetap bukan hal yang mudah tapi saya sepenuh hati belajar untuk memasuki dunia mereka. Berlapang dada ketika mereka sedang dalam cuaca hati yang amburadul. Mengenyampingkan beban kurikulum yang harus saya berikan ketika mereka terengah-engah mengikuti, dan berusaha meluangkan waktu ketika mereka membutuhkan. Apakah itu semua cukup? Belum. Ada saja yang kurang. Apakah karena itu saya marah? Inginnya, terkadang
. Dan sungguh, kekuatan mental dan jiwa saya benar-benar dilatih di sini. Kalau sudah jenuh saya memilih untuk bersikap tak peduli. Dalam artian berdamai dengan diri sendiri. Menyadari bahwa memang ada hal-hal yang di luar wewenang saya. Walaupun kadang sedikit menimbulkan miris di hati.
Terkadang saya mencoba menjauh dari kehidupan mereka, memilih untuk mengajar saja dan melupakan lainnya. Namun di satu titik saya tidak bisa melepaskan pandangan dari anak-anak itu. Dari sekian banyak masalah mereka juga mewarnai hari-hari saya dengan sejuta senyuman manis dan perhatian. Jadi rasanya benar juga, kalau banyak teman-teman saya mengatakan bahwa jadi guru itu bisa awet muda, isn’t that right?
Dan mau tahu kebahagiaan seorang guru? Cuma satu dan sederhana kok: melihat anak didiknya bisa tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang berperilaku mulia. Seperti apa berperilaku mulia? Santun, bertanggung jawab, tidak mudah menyerah dan nilai-nilai sosial lainnya. O’ itu banyak ya? hehehe. Bagaimana dengan sukses? Sukses itu relatif nak, sama halnya dengan pintar. Kalau kamu merasa biasa saja, tapi kamu sangat berminat terhadap sesuatu, maka yang tampak biasa itu akan menjadi pintar seketika, bahkan mungkin akan lebih berkilau. Kuncinya hanya satu: minat dan ketekunan.


Recent Comments