Dana Minim Bukan Halangan untuk Belajar Komputer
Pendidikan September 12th, 2009Pertengahan tahun 2006 saya diajak seorang rekan untuk bergabung di sebuah sekolah menengah pertama (SMP) terbuka di Bandung. Saat itu rekan saya, Ibu Ida, menyatakan keinginannya untuk mempersiapkan anak-anak dengan berbagai ketrampilan sebagai bekal mereka menghidupi diri sendiri. Harapan ini didasarkan kenyataan bahwa tidak semua dari anak-anak itu akan melanjutkan sekolah.
Impian Ibu Ida adalah cita-cita semua guru di sekolah ini. Maka dimulailah rencana besar kami ke depan. Berbagai ketrampilan seperti menjahit, menyulam, memasak, serta desain komputer masuk dalam daftar kegiatan. Mimpi? Bolehlah dikatakan seperti itu. Untuk sebuah sekolah tanpa gedung dan biaya yang memadai, harapan di atas seperti sebuah angan-angan kosong. Mengajar anak-anak itu sendiri sudah merupakan kesulitan yang nyata. Seringkali anak-anak meninggalkan bangku sekolah karena terpaksa membantu orang tua untuk bisa bertahan hidup.
Tidaklah mudah mewujudkan sebuah mimpi yang terlihat sederhana sekalipun. Itu juga yang saya rasakan ketika pertama kali diminta membantu mengajar mata pelajaran komputer. Bersama dengan rekan guru komputer lainnya, kami memutuskan mengajar bergantian dengan membawa laptop pribadi.
Memang tidak optimal karena anak-anak harus bergantian menggunakan komputer. Namun demikian antusiasme yang mereka perlihatkan membuat kami bertekad untuk mempunyai komputer sendiri. Dengan bantuan donatur terkumpul dana yang kami perkirakan cukup untuk membeli 2 atau 3 komputer dengan spesifikasi yang tidak terlalu tinggi. Keinginan untuk segera membeli komputer itu kami urungkan sejenak karena kami harus berhitung dengan sangat hemat. Pertimbangan lainnya adalah beban aplikasi program, yang tentunya membutuhkan sumber daya yang besar dan nantinya berimbas pada harga. Saat itu saya ingat sebuah artikel mengenai open source. Saya ceritakan kepada partner mengenai kondisi yang ada dan solusi open source tersebut. Partner yang sedikit banyak tahu mengenai sistem ini meyakinkan saya bahwa pilihan open source itu sangat tepat untuk kami gunakan. Bersama rekan guru lainnya kami kemudian mendiskusikan kemungkinan ini. Melalui partner kami kemudian menghubungi seorang kawan, mas Harry Sufehmi. Atas bantuan mas Harry, kami kemudian dipertemukan dengan personil dari Klub Linux Bandung (KLuB).
Bersama teman-teman dari Klub Linux Bandung kami berhasil menset up enam komputer dengan sistem thin client (LTSP). LTSP memungkinkan komputer pentium 1-2 tanpa hardisk digunakan bersama dengan 1 komputer sebagai server. Dengan demikian maka dapat diperoleh jumlah komputer yang lebih banyak untuk satu lab.
Distro yang digunakan adalah Edubuntu. Sekarang, anak-anak ini sudah bisa belajar menggunakan komputer sendiri. Beberapa program aplikasi yang kami berikan adalah pengolah gambar dengan Tux Paint, dan paket OpenOffice. Ke depannya kami juga ingin mengajarkan program desain grafis dengan The Gimp. Di waktu senggang anak-anak bereksplorasi dengan berbagai macam aplikasi seperti berhitung, belajar bahasa inggris, pengetahuan alam, dan berbagai aplikasi program edukasi yang menghibur dan menyenangkan untuk anak-anak. Dan semua program aplikasi ini legal dan gratis tentu saja.
Ternyata belajar linux itu tidak susah. Anak-anak dengan mudah beradaptasi. Dan satu kebanggaan juga kami berhasil merebut gelar juara di lomba cerdas cermat se Jawa Barat. Memang tidak khusus untuk lomba TIK tapi anak-anak mampu menjawab dengan sangat baik untuk pertanyaan-pertanyaan seputar TIK.



September 18th, 2009 at 13:21
terima kasih buk sudah berbagi pengalaman. aku yakin pengalamannya itu pasti tak terlupakan. BTW ku juga pengen nyobak linux neh….hehe perbedaan mendasar windows ma linux apa seh?(selain open source nya!)
September 18th, 2009 at 16:40
Dari sekolah yang tidak memiliki gedung bisa muncul juara-juara lomba cerdas cermat yak.. salut
September 19th, 2009 at 00:40
@Abduh: sama-sama. hmm.. apa ya? antara lain: linux lebih stabil, lebih tahan virus, legal, dan lainnya liat di atas
@Dhodie: terima kasih. gedung sekolahnya numpang di sebuah TK dan pondok baca.
September 19th, 2009 at 01:15
Met Idul Fitri, Bu.
Mohon maaf atas segala khilaf.
September 19th, 2009 at 10:45
@Mursyid: Met lebaran Pak. Mohon maaf lahir bathin ya. Mudik nggk Pak?
September 22nd, 2009 at 20:59
saya juga mau mengucapkan met lebaran… maaf lahir batin ya bu
September 30th, 2009 at 08:34
saya setuju dengan pendapat anda kalau guru saat ini sudah banyak, memang ada beberapa guru yang menyalahgunakan jabatannya sebagai seorang guru dengan menjual pena…..ngomong2 kenalan donk…soalnya saya punya temen yang namanya bu enggar guru TK.
October 2nd, 2009 at 09:26
hebat!
Salut buat guru-gurunya, termasuk ibu.
October 5th, 2009 at 12:51
Alhamdulillah, semakin banyak kebaikan ada di muka bumi ini.
October 5th, 2009 at 12:59
@Wyd: Sama-sama. Maaf lahir bathin juga Bu.
@Sri Rahayu: Boleh Bu
@Mustamar: Anak-anak itu yang hebat. Terima kasih Pak.
@Paramita: Semoga. Amin.
October 8th, 2009 at 12:36
Cieee, kerennn, yang menang Lomba Blog Open Source Angingmamiri. Selamat ya. Lebih sering menulis lagi, dan lebih banyak mencerahkan dunia
October 10th, 2009 at 14:14
Terima kasih mas
October 12th, 2009 at 11:56
Mengharukan, bangetttt….
Apalagi menang Lomba Blog dari Rangkaian Acara ILC 2009.
Selamat Ya…..
Kegiatan yang semacam ini mungkin bisa ditiru dari teman2 yang lainnya.