Pertengahan tahun 2006 saya diajak seorang rekan untuk bergabung di sebuah sekolah menengah pertama (SMP) terbuka di Bandung. Saat itu rekan saya, Ibu Ida, menyatakan keinginannya untuk mempersiapkan anak-anak dengan berbagai ketrampilan sebagai bekal mereka menghidupi diri sendiri. Harapan ini didasarkan kenyataan bahwa tidak semua dari anak-anak itu akan melanjutkan sekolah.

Impian Ibu Ida adalah cita-cita semua guru di sekolah ini. Maka dimulailah rencana besar kami ke depan. Berbagai ketrampilan seperti menjahit, menyulam, memasak, serta desain komputer masuk dalam daftar kegiatan. Mimpi? Bolehlah dikatakan seperti itu. Untuk sebuah sekolah tanpa gedung dan biaya yang memadai, harapan di atas seperti sebuah angan-angan kosong. Mengajar anak-anak itu sendiri sudah merupakan kesulitan yang nyata. Seringkali anak-anak meninggalkan bangku sekolah karena terpaksa membantu orang tua untuk bisa bertahan hidup.

Tidaklah mudah mewujudkan sebuah mimpi yang terlihat sederhana sekalipun. Itu juga yang saya rasakan ketika pertama kali diminta membantu mengajar mata pelajaran komputer. Bersama dengan rekan guru komputer lainnya, kami memutuskan mengajar bergantian dengan membawa laptop pribadi.

Memang tidak optimal karena anak-anak harus bergantian menggunakan komputer. Namun demikian antusiasme yang mereka perlihatkan membuat kami bertekad untuk mempunyai komputer sendiri. Dengan bantuan donatur terkumpul dana yang kami perkirakan cukup untuk membeli 2 atau 3 komputer dengan spesifikasi yang tidak terlalu tinggi. Keinginan untuk segera membeli komputer itu kami urungkan sejenak karena kami harus berhitung dengan sangat hemat. Pertimbangan lainnya adalah beban aplikasi program, yang tentunya membutuhkan sumber daya yang besar dan nantinya berimbas pada harga. Saat itu saya ingat sebuah artikel mengenai open source. Saya ceritakan kepada partner mengenai kondisi yang ada dan solusi open source tersebut. Partner yang sedikit banyak tahu mengenai sistem ini meyakinkan saya bahwa pilihan open source itu sangat tepat untuk kami gunakan. Bersama rekan guru lainnya kami kemudian mendiskusikan kemungkinan ini. Melalui partner kami kemudian menghubungi seorang kawan, mas Harry Sufehmi. Atas bantuan mas Harry, kami kemudian dipertemukan dengan personil dari Klub Linux Bandung (KLuB).

Bersama teman-teman dari Klub Linux Bandung kami berhasil menset up enam komputer dengan sistem thin client (LTSP). LTSP memungkinkan komputer pentium 1-2 tanpa hardisk digunakan bersama dengan 1 komputer sebagai server. Dengan demikian maka dapat diperoleh jumlah komputer yang lebih banyak untuk satu lab.

Distro yang digunakan adalah Edubuntu. Sekarang, anak-anak ini sudah bisa belajar menggunakan komputer sendiri. Beberapa program aplikasi yang kami berikan adalah pengolah gambar dengan Tux Paint, dan paket OpenOffice. Ke depannya kami juga ingin mengajarkan program desain grafis dengan The Gimp. Di waktu senggang anak-anak bereksplorasi dengan berbagai macam aplikasi seperti berhitung, belajar bahasa inggris, pengetahuan alam, dan berbagai aplikasi program edukasi yang menghibur dan menyenangkan untuk anak-anak. Dan semua program aplikasi ini legal dan gratis tentu saja.

Ternyata belajar linux itu tidak susah. Anak-anak dengan mudah beradaptasi. Dan satu kebanggaan juga kami berhasil merebut gelar juara di lomba cerdas cermat se Jawa Barat. Memang tidak khusus untuk lomba TIK tapi anak-anak mampu menjawab dengan sangat baik untuk pertanyaan-pertanyaan seputar TIK.

smpt copy smpt2 copy