Keluar dari perpustakaan sekolah dan bertemu dengan murid yang sudah lulus tahun kemarin.

Murid: Bu Enggar…

Saya: Hei, loh kalian tidak sekolah?

Murid 1: Saya kerja Bu…

Saya: Kerja? (Kata-kata ini meluncur begitu saja, tanpa saya sempat memikirkannya)… Kamu tidak meneruskan sekolah? Kenapa? (Sesaat saya menyesali kalimat yang keluar dari mulut saya sendiri).

Murid 1: Nggak ada uangnya Bu.

Saya: Tidak ada sekolah yang gratis?

Murid 1 dan 2: Kalo SMA/SMK harus bayar Bu. Nggak ada yang gratis.

Saya: Hmm? (Saya lupa, wajib belajar itu 9 tahun. Berarti yang gratis hanya dari SD sampai SMP).

Saya: Sekarang kamu kerja di mana?

Murid 1: Di asuransi motor

Saya: Kamu juga? (saya menunjuk temannya)

Murid 1: Nggak Bu, saya di perhotelan. Sekolah di SMK.

Saya: oo… ya sudah, tak apa. Kerja dan uangnya ditabung ya.  Nanti kamu lanjutkan sekolahmu. Jangan tidak meneruskan ya.

Murid 1: Iya Bu, maksud saya juga begitu (sambil menyunggingkan senyum dan suara yang terdengar penuh keyakinan)

Saya: Betul ya? Janji ya?  (sambil dalam hati… Amin.. amin nak).

Murid:  Iya Bu.

Saya: Oke, Ibu duluan ya.

Sebenarnya saya tak terlalu dekat dengan murid-murid. Bukan karena tak sayang tapi karena sifat saya yang cenderung tertutup, kalau diam sih sedikit mungkin.  Dan itu cukup menyulitkan, terutama ketika saya harus berhadapan dengan anak-anak. Tapi anak-anak mudah memaafkan dan beradaptasi. Mungkin juga sebenarnya mereka merasakan bahwa gurunya yang galak ini sesungguhnya sangat menyayangi mereka.. hehehe. Dan lucunya, mereka pun bisa memarahi saya :) . Seperti saat ini, sambil membuat tulisan ini saya sedang chatting dengan seorang anak. Dan komentarnya.. “bukannya tidur malah nulis” (hehehe nak, kamu yang mustinya jangan bobo malam-malam :) ).

Melihat anak-anak itu seperti melihat diri saya berpuluh tahun lalu. Kadang saya bertanya kembali, apa yang ada dalam pikiran saya saat itu? Apa harapan guru-guru pada saya dan teman-teman lainnya? … Saya bisa memahami sekarang, kemarahan dan kecerewetan guru semata-mata adalah karena mereka menyayangi kami dan ingin kami berhasil kelak.

Saya pun mempunyai harapan yang sama terhadap murid-murid saya.  Saya ingin mereka menjadi pribadi yang tidak mudah putus asa dan berperilaku mulia. Bisa mendidik diri mereka dengan baik sehingga tidak mudah dibodoh-bodohi.

Jangan pernah nak.. jangan berhenti tengah jalan. Hidup itu memang tidak mudah. Tapi impian, ketekunan, doa dan kekuatan hati untuk meraih sesuatu akan menjadi penawarnya.