Orang dewasa bilang, ada tuhan di sana. Tuhan yang menciptakan dirinya, ayah, ibu dan saudara-saudaranya serta semua makhluk hidup di dunia. Tuhan yang membuat alam semesta dan seluruh isinya ini menjadi ada. Tuhan yang bisa melihat jika dirinya nakal dan mendengar tangisannya jika dia merasa sedih. Namun, di manakah Tuhan berada? Mengapa Tuhan tak pernah datang untuk menemaninya bercerita? Padahal begitu banyak pertanyaan yang ingin disampaikannya.

Kemarin dia membaca sebuah buku cerita bergambar, tentang seorang makhluk kecil. Benar-benar kecil ukuran tubuhnya. Mereka menyebutnya liliput. Sekelompok liliput ini tinggal di bawah tanah. Benarkah? Digalinya tanah di pekarangan rumah. Untunglah, saat itu musim hujan sehingga penggalian tanah tidak terlalu menyulitkan bagi tubuh gadis kecil itu. Sampai lelah dan dalam galian tanah, tak muncul liliput yang diharapkannya. Sempat berhalusinasi bahwa ia melihat sesuatu. Tapi tentu saja, cacing tanah yang muncul di hadapannya. Menyerah dengan terpaksa karena perbuatannya merepotkan orang dewasa dan membuat dirinya dihukum karena membuat becek halaman sekitar.

Namun keyakinan bahwa liliput itu ada dan tersembunyi di dalam tanah tak membuatnya goyah. Dia kira dengan menyemprotkan air ke dalam tanah maka para liliput itu sedang menari karena mendapat hujan. Maka disemprotkannya air ke segala arah. Dipayunginya tanah ketika cuaca sangat terik, supaya liliput di dalam sana tidak merasakan panas yang menyengat. Ditanaminya pohon agar akarnya sampai ke dunia para liliput tinggal. Agar mereka suatu waktu bisa memanjat pohon itu dan masuk ke rumah gadis kecil itu tinggal (khayalannya bersambung dengan cerita Tom dan kacang polongnya). Ditajamkan pendengarannya seolah-olah ia dapat mendengar keluhan para liliput. Bertindak seolah-olah ia adalah tuhan bagi para liliput itu.

Dunia khayalnya tentang liliput berakhir sampai di sana. Karena ternyata tak pernah didapatinya satupun liliput memanjat cabang batang pohon yang telah ditanamnya. Dan dirinya bukan tuhan, seperti yang dikatakan guru ngajinya. Orang dewasa pun meyakinkan bahwa tak ada makhluk lain yang seperti dirinya tinggal di dalam tanah. Dunia seperti yang kita tinggali ini hanya ada di sini, di bumi. Saat itu, dan mungkin saat ini. Tapi adakah yang bisa menyangkal bahwa mungkin saja, di antara ribuan gugus galaksi lain ada sebuah planet yang dihuni oleh makhluk hidup? Entah bagaimana wujud mereka? Serta bagaimana mereka berada di sana? Seperti juga kehadiran kita di bumi ini?

Satu hal yang pasti, tak ada yang sia-sia dalam penciptaan-Nya. Alam semesta ada dengan mempunyai tujuan, pun keberadaan kita di dunia ini.

Mungkin Plato benar, jiwa mengalami “kerinduan untuk kembali pada asal usulnya yang sejati.” Dan agama serta ilmu pengetahuan adalah jendela yang dapat memperluas wawasan dan kearifan bersikap. Seperti Einstein bilang “ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh.”