Sisi menarik dari sebuah pemasaran adalah berlakunya diskon. Dan, buku ini adalah salah satu dari 4 buku lainnya yang berhasil berpindah tempat, dari Gramedia Grand Indonesia ke.. tempat saya, tentu saja ;-) . 4 buku lainnya adalah: George’s Secret Key To The Universe-Lucy & Stephen Hawking, Hamlet-William Shakespare, Sang Raja Jin-Irving Karchmar, dan Haji Murat-Tolstoy.

Yup, kita mulai dari Pramoedya, karena memang baru buku ini yang selesai dibaca. Bercerita tentang gejolak hati seorang pemuda, mantan tentara muda revolusi yang idealis. Keluar dari penjara dan memaksanya pulang kampung karena ayahanda sakit keras.

Ditengah kekhawatiran akan kondisi sang ayah dan keterbatasan finansial, memaksa si tokoh ‘aku’ ini mencari pinjaman uang untuk menengok ayahnya di kampung. Sebuah kekesalan terhadap diri sendiri diungkapkan dalam kritikan terhadap bentuk pemerintahan, yang tampak di awal tulisan. Isinya kira-kira seperti ini.

…. kemenangan demokrasi adalah ketika engkau bisa menjadi apa saja, mempunyai hak yang sama dengan orang lain, tak perlu menyembah dan menundukkan kepala kepada presiden atau menteri-menterinya. Berbuat sekehendak hati namun masih berada dalam batas hukum, Tapi… kalau engkau tak punya uang, engkau akan lumpuh tak bisa bergerak.

Hmm. Terlihat masih relevan kah dengan kondisi saat ini? Ya, saya dan Anda mungkin sudah tahu jawabannya.

Jadi ini kah sebab kenapa dulu sekali, buku-buku Pramoedya dilarang? ;-)

Kembali ke awal. Melalui tulisan sederhana ini yang dilakonkan oleh si ‘aku’ ini mengritik kekerdilan diri sendiri dan juga menggugat para pembesar negeri, yang setelah kemerdekaan hanya mementingkan dan memperkaya diri mereka sendiri.

Namun, dalam hiruk pikuknya dunia, manusia sesungguhnya tak luput dari kegelisahan memaknai sebuah kematian.

“Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang… seperti dunia dalam pasar malam. Seorang-seorang mereka datang… dan pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana.” (Pramoedya Ananta Toer).