Sekilas Tentang UN

Aneka 20 Comments »

Hmm, setelah menimbang beberapa lama dan sangat lama, baiklah saya memutuskan untuk menuliskan pengalaman pertama saya mengawas UN.

UN SMP berakhir besok. Seharusnya saya mengawas selama 4 hari. Namun di hari ke-2 saya mengundurkan diri untuk tidak meneruskan tugas yang katanya ‘mengemban tugas negara.’ Keputusan kontroversial yang saya ambil ini tentu merepotkan banyak orang. Dan saya sendiri pun memerlukan waktu lama untuk memikirkan langkah tepat menyikapi keadaan ini. Pertama, saya yakin dengan keputusan bahwa saya tidak akan datang kembali esok hari. Di lain sisi, saya membawa nama sekolah. Saya tidak bisa mangkir begitu saja.

Biarlah orang menilai saya apapun. Biarlah kalau saya dianggap gila dan tak waras. Yang terekam dalam benak saya adalah ekspresi 15 anak yang kaget dan tersenyum (entah senyum apa, tapi saya menafsirkan senyum itu sebagai sebuah kegagalan terhadap profesi saya sebagai guru) ketika menerima kunci jawaban dari guru mereka. Yang saya ingat, setelahnya saya bahkan tak mempunyai keberanian untuk mengangkat kepala saya dan menatap mereka. Saya tak ingin meneruskan sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani saya, that’s all.

Artikel bagus dari seorang rekan. Thanks.

Being Different is not all bad

Aneka 6 Comments »

Kutipan bagus dari novel Dead Poets Society.

Do not just do what others are doing just because they are doing it. Step back and make sure what you are doing makes you feel whole.

“Two roads diverged in the wood and I, I took the one less traveled by, and that has made all the difference.”

Satu lagi kutipan menarik yang mengajak kita untuk mengambil jalan yang kita rasa benar dan baik untuk kita, tak perduli banyak orang yang mengatakan itu sebagai suatu kesia-siaan belaka.

“… carpe diem, seize the day boys, make your lives extraordinary.”

Do not be afraid to pursue your passion. Take control of every single day and bend it to your will.

Thanks to my books for remind me, always.

Akeelah and The Bee

Buku 4 Comments »

Mencuri waktu untuk bisa membaca buku adalah hal yang sangat teristimewa saat ini. Tapi, saya berhasil menyelesaikan satu buku bagus di tengah rutinitas yang padat. Ya, walaupun hingar bingar film dan novel ini sudah jauh berlalu, namun pesan dan kesan yang disampaikan tidak pernah lekang oleh waktu, bukan?

Kita mulai saja. Akeelah berkisah tentang seorang gadis kecil keturunan Afrika-Amerika. Berasal dari sebuah lingkungan di mana kebanyakan orang kulit hitam di Los Angeles Selatan tinggal. Daerah yang berbahaya, di mana kekerasan dan narkoba menjadi bagian yang tak terlepaskan. Belajar di sebuah sekolah, yang seadanya, merupakan siksaan bagi Akeelah, yang sesungguhnya cerdas dan gemar belajar. Teman-teman yang memusuhi karena dia pintar membuat gadis kecil ini mati-matian menutupi kecerdasannya. Jangan menonjol karena pintar adalah sebuah simbol yang melekat pada sebagian besar anak-anak dalam lingkungan sekolah tersebut.

Namun kesukaannya pada kata, membawa perubahan yang besar tidak saja pada gadis ini tapi juga pada lingkungan sekitarnya. Buku ini mengisahkan perjalanan Akeelah meraih mimpinya. Perjuangan berat yang dilalui Akeelah, gadis kecil dari sebuah keluarga dan lingkungan miskin untuk mengikuti dan menjuarai sebuah lomba yang sangat bergengsi. Bersaing dengan para peserta yang tidak saja bersekolah di tempat yang bagus juga mayoritas berasal dari keluarga yang sangat berkecukupan.

Pada akhirnya, Akeelah membuktikan, walaupun berasal dari keluarga yang pas-pasan dengan lingkungan sosial yang penuh bahaya dan bersekolah di tempat yang tidak termasuk kategori baik, dengan dukungan dan kasih sayang orang-orang sekitarnya mampu memperlihatkan kemampuan luar biasa yang tak terduga.

Pesan yang ingin disampaikan dalam buku ini adalah bahwasanya pendidikan sangat penting. Pendidikan akan membawa kita ke dalam kehidupan yang lebih baik. Tidak saja secara materi namun yang utama adalah cara memandang dan mengatasi berbagai persoalan kehidupan yang tidak akan pernah selesai selama manusia hidup.

Teringat pertanyaan murid saya, ‘Kenapa punya pacar malah banyak masalah ya, Bu?,’ Saya ingin menjawabnya dengan ini ‘Nak, selama manusia hidup, maka permasalahan senantiasa ada. Masalah ada untuk membuat kita semakin baik setiap harinya dan semakin bijaksana menjalani kehidupan.’

Lakon

Aneka 5 Comments »

‘Untuk teman, sahabat, dan ibu guruku,’ Itu adalah ucapan kenang-kenangan dari seorang murid beberapa tahun silam yang tak pernah bisa saya lupakan. Sekarang, mungkin dia sudah mulai bekerja. Kontak kami terakhir sekitar tahun 2005, saat itu dia kuliah tingkat 2 di sebuah universitas. Pertemanan kami dimulai dari awal yang sederhana. Anak laki-laki menjelang remaja yang cukup sulit, tertutup, sedikit pemberontak dan labil. Tapi mempunyai hati yang peka dan penyayang. Kedua orang tua nya bercerai dan ibunya mengalami depresi yang cukup berat. Adik si Ibu sementara mengambil alih tanggung jawab untuk menjaga anak-anak sang kakak.

Tanpa saya sadari pertemanan kami menjadi akrab. Di akhir tahun ajaran, di perpisahan sekolah, dia tak pernah jauh dari saya. Beberapa guru pernah menyatakan keheranan mereka kenapa anak itu bisa dekat dengan saya. Saya pun tak tahu jawabannya. Karena memang tak ada hal istimewa yang saya lakukan untuk dia. Sekedar menemani anak itu belajar berbagai program komputer, mendengarkan dia cerita, memberi semangat. Hal-hal umum dan biasa yang saya lakukan juga untuk anak yang lain. Akhir acara itu dia mencium tangan dan pipi saya. Saya sungguh kaget. Saya pandangi wajah anak itu. Tiba-tiba ada rasa sedih dan kehilangan yang menyeruak dari dalam hati. Ada sedikit air mata yang dipaksanya untuk tidak turun. Dan saya memaksa diri untuk tersenyum dan meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Setelah itu dia masih suka menghubungi saya. Bercerita tentang sekolah, teman, dan pacar nya :) . Mengikuti lomba cover boy dan menang dan menyediakan tiket untuk saya hadir di final pemilihan lomba tersebut. Memusuhi saya karena saya tidak bisa hadir di acara tersebut. Berbaikan kembali dan bercerita kembali. Sama seperti dahulu, ketika dia masih menjadi murid saya.

Saya kadang teringat dengan anak-anak yang pernah datang dan pergi dalam kehidupan saya.Tapi saya kira mereka tidak benar-benar pergi. Seperti saya yang tidak pernah melupakan mereka.

Saya bukanlah guru yang baik dan sempurna, karena kita tidak pernah bisa menjadi sempurna. Kegagalan kita ketika menjalin hubungan dengan anak-anak adalah pelajaran yang selalu bisa dipetik. Dengan demikian kita selalu belajar menjadi baik dan lebih baik. Saya belajar dari murid-murid saya bagaimana memaafkan kesalahan orang lain. Sekali waktu saya pernah marah dan mereka pun pernah memusuhi saya. Tapi kami akan kembali berbaikan dan saling memaafkan. Karena saya dan mereka tahu, bahwa kami saling menyayangi.

Kunci atau apapun lah namanya, mungkin metode pembelajaran yang paling sempurna adalah memberikan hati kita kepada mereka. Hanya dengan cara itulah kita dapat mendekati mereka dan membuat proses pembelajaran dapat berjalan baik. Semua teori mengenai metode pembelajaran, sekeren dan sesempurna apapun tidak akan berarti apa-apa jika kita tidak menyertakan hati kita ikut bersama di dalamnya.

WP Theme & Icons by N.Design Studio
Entries RSS Comments RSS Log in