Jumat sore saya menghadiri gathering yang diadakan oleh komunitas Internet Sehat. Acaranya sendiri berupa talkshow ringan dengan host Bapak Onno W. Purbo. Awalnya, setengah ragu juga untuk datang sendirian ke acara seperti ini. Tapi, rasa ingin tahu mengalahkan segalanya :) . Akhirnya, sampailah saya di warung daun resto setengah jam lebih awal. Prediksi waktu di Jakarta ini memang sulit diramalkan. Jadi, daripada terlambat saya memilih berangkat lebih awal. Sendirian, sampai lebih pagi dari jadwal yang ditentukan, tidak membawa bacaan (karena terburu-buru), dan tidak mengenal seorang pun di sana rasanya cukup menyiksa juga ;-) . Namun, ini lah kelebihan dari budaya web 2.0, saya pun menyibukkan diri dengan berselanjar di internet melalui handphone dan terbukti lumayan membunuh waktu :) .

Dan, ternyata kedatangan saya ke sini tidak sia-sia. Saya berkenalan dengan seorang dosen UNJ. Sambil menunggu acara dimulai kami asyik berdiskusi, tepatnya saya mendapatkan banyak informasi sehubungan dengan dunia pendidikan. Salah satunya akan saya coba bagikan di sini. Dengan ijin Beliau, maka untuk rekan-rekan guru ada beberapa hal yang harus diluruskan sehubungan dengan simpang siur nya berita mengenai AKTA.

Selama ini banyak rekan-rekan calon guru atau yang sudah guru namun belum mempunyai AKTA, bertanya-tanya bagaimana keberadaan AKTA ini sesungguhnya. Nah, rekan, seperti telah kita ketahui bersama, UNJ sebagai institusi pendidikan yang mencetak calon guru telah menutup program AKTA ini.
Penutupan ini tentu menjadi pertanyaan bagi banyak orang, mengapa ketika permintaan untuk program AKTA ini meningkat UNJ justru meniadakan. Sebaliknya, universitas swasta melihat ini sebagai peluang.  Mereka membuka program AKTA untuk guru-guru yang berharap dengan memiliki sertifikat mengajar ini maka status mereka sebagai guru akan lebih diakui. Maka, yang terjadi adalah guru yang belum memiliki AKTA atau calon guru beramai-ramai menyerbu program AKTA di universitas-universitas swasta yang membuka program tersebut.

Rekan-rekan, berikut ini adalah saran yang diberikan oleh Bapak Ridwan. Beliau adalah dosen dan juga asesor serta pengembang dari program profesionalisme guru.

Ada 3 jalur untuk mendapatkan sertifikat mengajar yang diakui.

  1. Portofolio. Portofolio ini ditujukan untuk guru-guru dalam jabatan. Yang dimaksud dengan guru dalam jabatan adalah mereka yang sudah menjadi guru selama kurang lebih 5 tahun. Mereka dapat diajukan oleh kepala sekolah ke DIKNAS untuk mendapatkan sertifikasi.
  2. Jika langkah pertama gagal, dalam artian untuk yang tidak lulus sertifikasi, maka mereka diharuskan mengikuti pelatihan selama 90 jam. Atau yang dikenal dengan PLPG (Pendidikan Latihan Profesi Guru). Setelah mengikuti pelatihan ini mereka akan mendapatkan sertifikasi.
  3. Yang terakhir, adalah guru-guru bukan dalam jabatan. Guru-guru bukan dalam jabatan adalah mereka yang berstatus calon guru atau yang ingin menjadi guru namun berasal dari bidang studi ilmu murni. Pak Ridwan, menyarankan kepada guru-guru dengan status guru bukan dalam jabatan ini untuk mengikuti PPG. Beliau mengatakan bahwa regulasi untuk PPG ini akan dibuka sebentar lagi. Jadi, kalau boleh saya sarankan, untuk rekan-rekan yang belum mempunyai AKTA, jangan khawatir. Anda dapat mengikuti PPG ini yang rencananya akan diberikan selama 2 semester. Dan, jangan kemrusung atau terburu-buru memutuskan memilih AKTA yang dibuka oleh beberapa universitas swasta. Kata Beliau sih, program AKTA yang ramai dibuka sekarang ini tidak memberikan poin apapun untuk status Anda sebagai guru di sekolah.

Rekan-rekan, mudah-mudahan informasi yang saya berikan cukup membantu. Jika ada kesalahan dari pemberitaan ini tolong dikoreksi. Untuk kebaikan bersama ada baiknya kita saling melengkapi data dan mengecek kembali untuk meluruskan kebenarannya.

Kembali ke acara inti, Pak Onno memulai talkshow nya dengan bertanya, siapakah yang belum pernah mendengar tentang internet sehat. Yup, saya dan Rama menunjuk tangan. Oya, Rama adalah satu blogger yang mendapat blog award sesi pertama dari Internet Sehat. Wah, kok malah jadi peserta pertama yang diminta menjawab pertanyaan Pak Onno :) . Pertanyaannya: Apa bayangan Anda tentang Internet Sehat? Hmm, Internet Sehat buat saya internet yang bisa memberikan manfaat (content maksudnya) dan terutama agar murid-murid bisa mengunduh materi-materi pembelajaran. Rama bilang, internet yang nggak banyak spammernya. Selanjutnya, bergiliran secara acak peserta menjawab pertanyaan pak Onno. Pada intinya, semua orang setuju bahwa internet sehat adalah internet yang banyak konten positifnya, tidak banyak spammer, memberikan manfaat, dan dapat melindungi anak-anak dari konten negatif dan pornografi. Bincang-bincang ringan ini berlangsung selama kurang lebih 2.5-3 jam. Setelahnya, kami semua menyantap hidangan dengan menu masakan sunda yang tidak asing lagi, ayam bakar, ikan saos asam manis, cah kangkung, cah tauge serta ayam goreng dan gepuk (hmm, ada yang tertinggal disebut nggak ya? ;-) . Oya, juice sirsak dan air mineral.

Senang tentu saja. Selain mendapatkan kawan-kawan baru , saya juga mendapatkan ilmu yang sangat bermanfaat. Buku internet sehat akan saya jadikan pegangan ketika mengajar nanti. Terima kasih banyak untuk tim ICTwatch dan rekan-rekan semua.

Oya, pamer dikit ah :) , ini goodie bag dari acara internet sehat community gathering kemarin ;-)

ictwatch1

Dan ini adalah foto-foto ketika acara berlangsung.

image00171 image00201

image00231 image00211