A Beautiful Mind
Buku 11 Comments »Pernah ada yang menuliskan bahwa batas kejeniusan dan ketidakwarasan itu berbeda tipis. Nah, cerita dalam buku ini mungkin bisa mewakili kiasan di atas. Kisah nyata seorang genius penerima nobel yang menderita sakit jiwa. Buku yang pernah difilmkan dengan judul yang sama ini bercerita tentang seorang genius matematika Amerika Serikat yang menemukan prinsip matematika, yang disebut dengan kesetimbangan Nash-yang sangat penting untuk teori permainan atau game theory.
Buku dengan 625 halaman dan ukuran huruf yang lumayan kecil, sempat membuat saya skeptis untuk membacanya. Namun karena pernah melihat filmnya dan didorong oleh rasa penasaran, maka membaca lembar demi lembar tulisan di buku tersebut justru menimbulkan rasa iba dan takjub sekaligus.
Pada usia 20-an Nash adalah seorang mahasiswa pasca sarjana yang cemerlang sekaligus eksentrik di Universitas Princeton. Di usia ini Nash menemukan prinsip matematika yang menjadi dasar teori permainan. Karir cemerlang nya hancur ketika ia didiagnosis penyakit skizofrenia di usia 31 tahun. Kesehatannya semakin merosot di usia 60 tahun dan keberadaannya nyaris terlupakan. Namun pada saat yang bersamaan keajaiban terjadi – kesembuhan yang tak disangka-sangka dan keputusan panitia nobel untuk memberikan penghargaan atas prestasi yang gemilang di masa lampau.
Sensasi yang saya rasakan berbeda ketika membaca dan melihat filmnya. Saya lebih menikmati membaca buku ini. Belajar memahami kesepian dan keterasingan yang dirasakan sang tokoh. Dan belajar memahami bahwa orang-orang yang kerapkali dianggap sulit dan aneh tetaplah punya hati
.
Membaca kisah beberapa tokoh-tokoh genius membuat saya bertanya ‘Kenapa mereka yang dilahirkan dengan otak yang cemerlang rentan terhadap penyakit kejiwaan?’ Ops, tentu ini bukan bermaksud meng-generalisasi. Mungkin kebetulan saja yang terekspos adalah mereka dengan IQ tinggi. Pada tulisan di buku tersebut disebutkan bahwa kebanyakan mereka yang terkena skizofrenia adalah salah satunya, orang-orang yang mempunyai IQ tinggi.
Jawaban dari partner, ketika saya iseng menanyakan hal ini (jangan dianggap serius ya). Mungkin itulah cara mereka mengalihkan konsentrasi. Misal, saya sedang menulis seperti saat ini. Tiba-tiba tukang batagor lewat, maka perhatian saya ikut teralih. Kok jadi ingin mencicipi batagor ya? Itu kalau saya
. Berbeda dengan mereka yang dianugerahi otak cemerlang, konsentrasinya tidak mudah pecah. Dan tidak terganggu oleh pikiran-pikiran orang lain di luar minat mereka.
Kesan saya tentang buku ini: Bagus, dan mengingatkan bahwa dalam hidup perlu adanya keseimbangan. Serius dan bersenang-senang mempunyai porsinya sendiri-sendiri.


Recent Comments