Kisah Yang Berulang

Aneka 5 Comments »

Hari ini A kembali tidak muncul di sekolah. Tanpa kabar. Tak ada satupun kawan-kawan yang mengetahui keberadaannya. Ibu Guru yang juga wali kelas memutuskan untuk mengadakan kunjungan ke rumah orang tua anak tersebut. Di sekolah ini sudah biasa guru menelepon orang tua atau berkunjung ke rumah orang tua yang anaknya bermasalah. A duduk di kelas 9. Itu artinya tak lama lagi A harus mengikuti ujian kelulusan. Pada tingkatan ini maka guru akan berusaha seoptimal mungkin untuk mengembalikan anak didiknya ke bangku sekolah. Sering terjadi pada periode ini siswa terancam putus sekolah. Bukan oleh peraturan dari sekolah, sebaliknya keputusan itu berasal dari lingkungan keluarga si anak.

Untuk meminimalisir tingkat putus sekolah maka guru bersama BP melakukan tugas yang sebenarnya tidak mudah. Seperti kasus nya si A. Anak ini ternyata kedua orang tuanya sudah bercerai. Si ibu sepertinya mengalami depresi.  Anak ini tinggal bersama ibu, nenek, dan beberapa saudaranya. Si ibu tidak bekerja. Selama ini kebutuhan A dan keluarganya ditopang oleh kakak ibu si A, sebut saja X. Ketika ditanyakan perihal ketidakhadiran A di sekolah si ibu hanya berujar bahwa selama ini A selalu pergi ke sekolah. Komunikasi antara guru dan si ibu ternyata tidak berjalan seperti yang diharapkan. Permasalahan ini diakui oleh X, saudara si ibu A. Guru akhirnya mengkomunikasikan kasus ini kepada X. Akhir kisahnya bagaimana? Saya sendiri belum tahu. Apakah A akhirnya kembali ke sekolah?

Kisah di atas adalah cerita yang selalu berulang, dengan format yang berbeda. Ada yang kembali ke sekolah namun banyak juga yang terlepas. Satu hal saya sungguh mengagumi rekan-rekan senior saya. Saya bukan tidak pernah menghadapi anak-anak yang seperti itu, tapi selama saya mengajar, bahkan di sekolah sebelumnya, kami tidak pernah melakukan kunjungan ke rumah atau bahkan ke pasar hanya untuk menemui orang tua atau saudara mereka. Dulu, anak yang bermasalah cukup dipanggil dan kemudian orang tua nya diminta datang. Di sini, bahkan untuk datang ke sekolah pun orang tua mereka lebih memilih untuk bekerja agar dapur mereka bisa tetap mengepul. Selebihnya banyak dari mereka yang menyerahkan sepenuhnya kepada kebijaksanaan sekolah dan guru. Padahal, itu tidak bisa. Karena bagaimanapun orang tua memegang peranan yang paling vital bagi perkembangan anak-anak itu kelak.

CSR

Pendidikan 4 Comments »

Corporate Social Responsibilty atau disingkat CSR adalah sebuah program yang berupa tanggung jawab sosial sebuah perusahaan kepada masyarakat luas. Bentuknya bermacam-macam. Dalam bidang pendidikan, yang paling sering dilakukan adalah pemberian beasiswa atau bantuan terhadap sekolah. Seperti kita ketahui bersama, pendidikan adalah roda pembangunan sebuah bangsa.

Kita tentu masih ingat kutipan Pasal 31 UUD 1945 (yang juga dicantumkan pada akhir tayangan film laskar pelangi), yang berbunyi:

Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan.

Ya, seharusnya tidak ada perbedaan. Tidak perduli Anda kaya atau miskin, terbelakang atau maju, apapun itu. Setiap kita berhak mendapatkan pendidikan yang baik, bukan? Betul juga bahwa tugas pemerintah untuk memenuhi tanggung jawabnya terhadap masyarakat. Namun sampai kapan menunggu pemerintah menuntaskan kewajiban tersebut? Saya kira ini adalah tanggung jawab kita bersama. Bersyukurlah, bahwa saat ini banyak perusahaan-perusahaan besar mempunyai program CSR, sebagai bentuk tanggung jawab sosial mereka terhadap masyarakat. Banyak diantaranya yang bergerak di sektor pendidikan, seperti Sampoerna Foundation dan Telkom.

Dari Sampoerna, siswa-siswa kami memperoleh beasiswa. Catatan permintaan untuk perusahaan-perusahaan besar. Boleh tidak kami minta dana bantuan untuk perpustakaan sekolah kami? Kepala sekolah beberapa kali pernah mengajukan proposal untuk dana perpustakaan ini. Tapi sampai saat ini kami belum memperoleh hasilnya. Ada yang berminat membantu? :) .

Definisi Sukses

Aneka 9 Comments »

Hari ini saya meminta murid-murid mendefinisikan kata sukses dan menuangkannya dalam sebuah tulisan di program pembuat halaman web. Pada pertemuan sebelumnya, sebagian besar siswa menuliskan kata sukses pada karangan mengenai mimpi dan harapan mereka. ‘Saya ingin menjadi orang yang sukses’, adalah kalimat yang dipilih kebanyakan siswa.

Nah, merujuk dari pernyataan di atas, saya ingin anak-anak ini belajar mengungkapkan perasaan dan pandangan mereka masing-masing. Tentu semua orang ingin sukses, bukan? Dan ukuran kesuksesan atau keberhasilan setiap orang mempunyai parameter yang berbeda pula. Ingin tahu bagaimana anak-anak memandang sebuah kesuksesan untuk diri mereka sendiri? Tadi sempat mengintip ketikan salah satu siswa. Tulisannya seperti ini “Sukses menurut aku kalau aku mempunyai uang yang banyak.” Hmm, apa definisi sukses menurut Anda? :)

Oya, insya Allah akan saya susulkan kutipan dari mereka. Tadi file-nya belum sempat tersimpan nih :) .

WP Theme & Icons by N.Design Studio
Entries RSS Comments RSS Log in