Televisi dan Pendidikan
Aneka, Pendidikan October 15th, 2008Menurut Anda, seperti apakah tayangan televisi kita sekarang?
Pada era 80-an kita hanya memiliki satu stasiun televisi. TV nya pun masih hitam putih. Tapi saya merasakan beberapa acara televisi pada saat itu cukup bagus. Saya masih ingat cerita anak-anak ACI (Aku Cinta Indonesia), Rumah Masa Depan, Si Unyil, dan Little House On The Prairie. Film kartun yang menarik adalah cerita petualangan kum-kum. Sempat juga ditayangkan film lima sekawan nya Enid Blyton. Dan beberapa film lainnya. Unyil dan Little House adalah film yang paling saya dan adik-adik tunggu. (Ah ya,saya juga punya buku little house ini
). Walaupun pilihan acaranya terbilang tidak banyak, tapi rasanya masih jauh lebih mendidik dibanding acara-acara pada masa ini.
Maaf sebelumnya, tapi saya sangat tidak menyukai sinetron-sinetron di televisi sekarang. Beberapa mungkin ada yang bagus. Saya juga memaklumi kalau sebagian orang menyukai acara-acara seperti ini. Yah, hiburan. Saya tak perduli juga jika yang melihat sinetron yang penuh dengan teriakan dan makian itu orang-orang yang sudah dewasa. Dengan asumsi mereka bisa memilah dan membedakan yang nyata dan khayalan (walau nggak janji juga sih
). Kenapa? Saya pikir lama-lama pikiran kita juga bisa tercemar sih kalau keseringan melihat hal-hal yang tidak baik. Tanpa sadar otak kita di-intimidasi.
Hampir semua sinetron itu isi ceritanya sama, (tidak hanya para artis nya yang itu-itu saja). Pasti ada orang kaya, orang miskin yang teraniaya, dan seterusnya. Atau cerita seorang profesional muda, lulusan luar (tentu dengan kualitas pendidikan nomor satu).Tapi coba lihat, sikap dan tindak tanduknya tidak sekalipun mencerminkan sebagai orang yang berpendidikan. Oya, saya pernah membahas tentang definisi orang yang berpendidikan dan tidak berpendidikan di sini.
Jadi, apa yang kira-kira bisa ditangkap dari sebagian saja gambaran di atas oleh masyarakat kita? Mungkin ini: Ternyata orang pintar sikap dan tingkah lakunya tidak ada bedanya dengan mereka, yang sering dianggap lebih rendah. Lantas apa istimewanya? Hmmm, lebih baik kamu punya uang banyak. jadi orang kaya. Dengan begitu, kamu bisa berkuasa.
Jadi, darimana anak-anak kita mendapatkan pemikiran bahwa yang penting adalah uang? Anda sudah tahu jawabannya.
Itu baru satu. Perhatikan lagi dampak lainnya. Lambat laun masyarakat kita semakin bodoh. Dan jika kebodohan ini dibiarkan berlangsung terus pada generasi yang akan datang, maka kita tinggal menunggu kehancuran. Kehancuran tidak saja untuk diri sendiri, tapi juga untuk negeri ini.
Heran, apakah atas nama kebebasan berekspresi maka tayangan-tayangan sinetron dan film layar lebar yang tidak layak itu dibiarkan?


October 15th, 2008 at 23:29
yup, betul sekali. acara tv sekarang emang ngga oke banget, akhirnya cuma nonton siaran langsung bola aja
October 16th, 2008 at 00:17
Rumah Masa Depan itu ada filmnya? Saya cuma tau bukunya soalnya waktu kecil saya gak punya TV. Bagus ya… Saya langganan bukunya, sayang entah pada kemana tu hilang tercecer pas pindah rumah.
October 16th, 2008 at 00:20
Seorang anak SMP kawan-blogger (nah bener gak ya istilahnya), Ghamdan, bilang bahwa dia resah dengan sinetron. Sebab itu mencerminkan masyarakat Indonesia. khawatir lagi kalau orang luar nonton sinetron, nanti disangkanya masyarakat Indonesia seperti itu. Tapi dia lebih khawatir lagi kalo masyarakat Indonesia memang seperti itu
October 16th, 2008 at 03:22
Nggak ada lagi yang bisa dibanggakan dari tayangan TV nasional belakangan ini. Ga hanya buat anak kecil, suguhan sinteron juga membodohi orang dewasa pada umumnya.
Buat sebagian orang, layanan TV macam Indovision dll tentunya bisa jadi pilihan, apalagi yang punya anak kecil seperti kami.
Namun pada umumnya, alangkah baik bila hiburan di rumah tidak dipatok pada televisi saja. Beberapa hari sekali, saya suka juga mematikan TV sepanjang hari supaya interaksi kita ngga hanya sama TV aja.
Well one say, if you can’t deal with it, then just leave it
Mendingan baca buku kan Mbak Enggar ?
October 16th, 2008 at 03:36
Saya pernah lihat sebuah Toyota Alphard (kaya pastinya) dengan seseorang berdasi didalamnya (sepertinya pintar). Tapi buang sampah sembarang dijalan (Bodoh sekali rupanya, karena mengangap jalanan adalah tempat sampah terpanjang).
Akibatnya “penglhatan” saya itu terukir amat dalam di benak saya.
Mungkin pengaruh sinetron?
October 16th, 2008 at 04:26
iya..bener bgt, acara TV sekarang itu udah minim akan acara pembelajaran
October 16th, 2008 at 07:02
Menurut saya, gak bisa dipukul rata juga bahwa gak ada lagi yang bisa dibanggakan. Kalau saya lihat-lihat, yang masih norak minta ampun itu SCTV, TPI dan Indosiar. Di dominasi sinetron. Trans TV dan Trans 7 sudah mulai banyak tayangan yang bagus. Misalnya laptop si unyil, Surat Sahabat, Cita-citaku, Si Bolang. Belum lagi jejak petualang dan lain-lain.
Ayo kita apresiasi mereka. Jangan sampai mereka-mereka yang masih memiliki idealisme ini patah semangat karena tiap hari mendengar cemoohan kepada acara TV.
October 16th, 2008 at 07:34
Memang tidak semua. Tulisan di atas lebih menyoroti tayangan sinetron yang hampir sebagian besar memakan jam tayang televisi. Tapi mau tidak mau tayangan yang tidak mendidik itulah yang lebih banyak peminatnya. Acara yang bagus biasanya pun hanya diakses oleh kalangan tertentu. Tapi masyarakat Indonesia secara keseluruhan adalah mereka yang hidup pada garis kemiskinan. Bisakah dibayangkan, miskin dan dibodoh-bodohi lagi oleh tayangan yang hanya menjual mimpi?
Dulu, Bung Hatta pernah mengatakan bahwa pemerintah mempunyai kewajiban untuk mendidik rakyatnya.
Dan Alifia benar, ayo kita dukung acara-acara televisi yang bagus.
October 16th, 2008 at 09:23
To be honest, aku justru tak punya waktu lagi buat nonton TV Mbak. Kadang memaksakan diri saja untuk nonton berita di TV. Hanya saja, tayangan TV itu mengikuti market demi menciptakan rupiah (baca:tujuan komersial), karena dari situlah mereka hidup. Jadi yang perlu digerakkan sekarang adalah rambu-rambunya (baca:sensor), jangan sampe demi tujuan komersial generasi muda dirugikan.
October 16th, 2008 at 15:00
Sengsara membawa nikmat …
ah, lama nian tak menyaksikan aksi si midun, desi ratnasari masih abege
sekarang, secara keseluruhan sih masih dalam tahap menyedihkan … ternyata bukan hanya pemerintah saja yang tidak cukup peduli dengan pendidikan, televisi pun sama, padahal televisi adalah salah satu alat yang paling potensial untuk mengubah paradigma bangsa ini.
October 17th, 2008 at 02:47
iya bu…penelitian mengungkapkan 60 persen tayangan TV tidak ramah anak, mengandung unsur pornografi, kekerasan, mistis, dll…capek dehhh kasihan anak-anak kita.
October 20th, 2008 at 11:54
[ALL]
cobal lihat TvOne sama metroTV deh……. di sana masih ada yang bagus. walaupun kapasitasnya masih dalam domain mahasiswa, experts, dan orang-orang dewasa. tapi harapan itu masih ada kok….. karena sudah ada yang memulainya…
walaupun di sisi lain Republik Mimpi sekarang garingnya Naudzubillah sih…..
October 21st, 2008 at 20:45
Saya setuju. Menurut saya seperti apa diri kita bisa dilihat dari tontonan apa yang kita lihat. Kalau terlalu banyak masyarakat kita yang menggemari sinetron, barangkali memang itulah profil bangsa ini yang sesungguhnya: serba hedonis, gemar hal-hal yang instan, lebih mengutamakan penampilan, jauh dari realita yang sesungguhnya.
October 22nd, 2008 at 00:26
ya saya tidak punya televisi bu di rumah karena membosankan.
October 23rd, 2008 at 09:55
Barusan dari TB Gramedia dan membaca salah satu buku tentang dunia media. Pada kata pengantarnya ada seorang blogger yang masih bujangan mengatakan kalau keadaan pertelevisian kita masih begini2 aja, setelah nikah dia mau tinggal di pedalaman agar ‘aman’ dari serangan media yang makin membodohi. Hiks!
Saya pun jarang nonton TV, begitu pula dengan anak2 saya yang kalau terpaksa hanya nonton film kartun. Lebih baik menyediakan film yang bermutu dan tinggal setel di komputer atawa player.
October 24th, 2008 at 02:01
menurut saya,,
acara d tv kurang mendidik bagi para penikmatnya,terutama bagi para pelajar .
apalagi sinetron yang banyak menayangkan kekerasan… sekarang sudah dicontoh oleh para pelajar yang belum bisa menentukan mana yang baik mana yang buruk,,
sehingga kami mrasa serba salah apakah kami harus menonton tv atau tidak??
karena seperti yang kita ketahui banyak informasi yang kita dapat dari menonton televisi !!!
October 24th, 2008 at 02:03
bner bnget twugh ,,
acara tv skarang itu cman sinetron & sinetron doang .
yg critanya jga engga berkualitas banget bwat di lyat orang apa lgi kalou di tonton sma anak-anak entar bangsa indonesia mau jdi apa dung ??
mendingan jga acara tv tuwh diisi sma hal-hal yg positiv yg bsa mmbangun diri anak bangsa ini .
..mkasih..
October 24th, 2008 at 05:56
Iya bener, sekarang acara di tv kebanyakan ga baik buat ditonton karena mnurut saiah pribadi ga mutu T_T