Menurut Anda, seperti apakah tayangan televisi kita sekarang?

Pada era 80-an kita hanya memiliki satu stasiun televisi. TV nya pun masih hitam putih. Tapi saya merasakan beberapa acara televisi pada saat itu cukup bagus. Saya masih ingat cerita anak-anak ACI (Aku Cinta Indonesia), Rumah Masa Depan, Si Unyil, dan Little House On The Prairie. Film kartun yang menarik adalah cerita petualangan kum-kum. Sempat juga ditayangkan film lima sekawan nya Enid Blyton. Dan beberapa film lainnya.  Unyil dan Little House adalah film yang paling saya dan adik-adik tunggu. (Ah ya,saya juga punya buku little house ini :) ). Walaupun pilihan acaranya terbilang tidak banyak, tapi rasanya masih jauh lebih mendidik dibanding acara-acara pada masa ini.

Maaf sebelumnya, tapi saya sangat tidak menyukai sinetron-sinetron di televisi sekarang. Beberapa mungkin ada yang bagus. Saya juga memaklumi kalau sebagian orang menyukai acara-acara seperti ini. Yah, hiburan. Saya tak perduli juga jika yang melihat sinetron yang penuh dengan teriakan dan makian itu orang-orang yang sudah dewasa. Dengan asumsi mereka bisa memilah dan membedakan yang nyata dan khayalan (walau nggak janji juga sih :)). Kenapa? Saya pikir lama-lama pikiran kita juga bisa tercemar sih kalau keseringan melihat hal-hal yang tidak baik. Tanpa sadar otak kita di-intimidasi.

Hampir semua sinetron itu isi ceritanya sama, (tidak hanya para artis nya yang itu-itu saja). Pasti ada orang kaya, orang miskin yang teraniaya, dan seterusnya. Atau cerita seorang profesional muda, lulusan luar (tentu dengan kualitas pendidikan nomor satu).Tapi coba lihat, sikap dan tindak tanduknya tidak sekalipun mencerminkan sebagai orang yang berpendidikan. Oya, saya pernah membahas tentang definisi orang yang berpendidikan dan tidak berpendidikan di sini.

Jadi, apa yang kira-kira bisa ditangkap dari sebagian saja gambaran di atas oleh masyarakat kita? Mungkin ini: Ternyata orang pintar sikap dan tingkah lakunya tidak ada bedanya dengan mereka, yang sering dianggap lebih rendah. Lantas apa istimewanya? Hmmm, lebih baik kamu punya uang banyak. jadi orang kaya. Dengan begitu, kamu bisa berkuasa.

Jadi, darimana anak-anak kita mendapatkan pemikiran bahwa yang penting adalah uang? Anda sudah tahu jawabannya.

Itu baru satu. Perhatikan lagi dampak lainnya. Lambat laun masyarakat kita semakin bodoh. Dan jika kebodohan ini dibiarkan berlangsung terus pada generasi yang akan datang, maka kita tinggal menunggu kehancuran. Kehancuran tidak saja untuk diri sendiri, tapi juga untuk negeri ini.

Heran, apakah atas nama kebebasan berekspresi maka tayangan-tayangan sinetron dan film layar lebar yang tidak layak itu dibiarkan?