Catatan Harian
Pendidikan October 10th, 2008Sambil menunggu seorang rekan melaksanakan shalat jumat, saya luangkan waktu membaca jurnal murid kelas 9. Bulan puasa lalu saya minta anak-anak ini menuliskan harapan dan impian mereka di selembar kertas. Serta upaya apa yang telah mereka lakukan sejauh ini untuk meraih impian tersebut. Langkah ini saya ambil dengan tujuan untuk mengenal mereka lebih dekat. Di sini, saya dan rekan bergantian mengajar setiap 2.5 – 3 bulan. Kalau di awal semester saya kebagian tugas mengajar kelas 8 maka minggu depan insya Allah kelas 9 adalah tanggung jawab saya.
Membaca tulisan beberapa dari mereka, mengingatkan saya akan murid-murid saya di SMP Terbuka. Ada satu kesamaan dari semua alasan pilihan hidup mereka, yaitu materi. Profesi artis sinetron, pemain bola, penyanyi, penari dan sejenisnya merupakan pilihan favorit. Mereka beranggapan itulah profesi yang bisa mendatangkan banyak uang.
Gaung ‘ayo, sekolah’ sekedar syarat yang tak terlalu penting dalam benak mereka. Toh, banyak orang sukses yang sekolahnya tidak selesai. Dan banyak orang sekolah tinggi namun akhirnya jadi pengangguran. Kalimat ini biasanya jadi semacam alasan bagi orang tua untuk mengeluarkan anak mereka dari sekolah. Pernah ada seorang Ibu yang sudah tak tahan juga melihat tingkah polah putrinya, sehingga ketika kami memanggil Beliau, dia mengatakan bahwa dirinya tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Dia bahkan pernah meminta anaknya untuk keluar sekolah saja. Dia mengatakan bahwa dirinya bisa hidup tanpa harus sekolah. Yang penting kerja, cari uang yang banyak. Saya yang mendengar hanya bisa terdiam. Kembali saya tersadarkan beratnya tugas dan tanggung jawab yang dipikul oleh rekan-rekan guru.
Lantas, untuk dan dengan tujuan apa sesungguhnya saya meminta mereka menulis? Hmm, saya sendiri tidak tahu. Selain untuk alasan di atas dan membiasakan mereka menulis sementara ini saya hanya menyimpan catatan harian tersebut. Berharap, saya bisa lebih memahami dan membantu mereka dalam kapasitas saya sebagai guru. Sudahkah saya lakukan? Belum. Sepenuhnya saya belum melakukan apa-apa.
“Jadi, untuk apa sebenarnya kita sekolah,Bu?.”


October 11th, 2008 at 01:59
untuk apa yah kita sekolah? kalo boleh jujur, sebenerny ngak ada gunany sekolah. tapi yang berguna dalam hidup adalah belajar, bukan sekolah. dan belajar pun bisa dilakukan dimana pun dan kapan pun tanpa harus merunut pada institusi yang bernama sekolah.
malah terkadang, sekolah sering dianggap sebagai institusi yang mengekang daya kreatifitas siswa lantaran kurikulumny yang seringkali memaksakan sesuatu yang bukan bakat siswa.
tapi yang jadi masalah, kesadaran untuk belajar orang masih sangat rendah. mereka melihat hanya dari sisi pragmatis semata. bukan dari nilai yang terkandung dalam kehidupan. mungkin inilah yang perlu dirubah di masyarakat, kesadaran untuk mereka belajar dan melakukan sesuatu bukan hanya untuk tujuan yang pragmatis dan mati.
October 11th, 2008 at 03:09
Belakangan saya suka denger ipar2 saya meminta anak2 atau keponakan2 saya untuk belajar yang bener, bukan lagi belajar mencucui, mengurus rumah dll. Katanya sih anak, khususnya perempuan, sebaiknya belajar aja yang bener supaya kelak bisa hire orang untuk ngurusin kerjaan rumah tangga, ga usah repot sendiri.
Jadi ujung orientasi nya memang selalu uang, dan uang. Makanya ga aneh, profesi yang banyak dipilih adalah profesi yang (dianggap) banyak menghasilkan uang. Hmm, ketenaran juga kayaknya dianggap penting buat anak2 itu ya?
btw, seorang guru seperti mbak Enggar lebih mengharap jawaban apa sih, dari murid2nya?
October 11th, 2008 at 10:34
Sasya:
Hmm, apa ya? Tidak mengharapkan jawaban apa-apa sih. Karena setiap orang mempunyai tujuan yang berbeda akan pentingnya sekolah. Saya kira tujuan sekolah itu untuk mendidik diri sendiri. Saya jadi teringat cerita pak Arif Rahman. Murid Beliau pernah berkeluh kesah, mengapa dia harus belajar mata pelajaran tertentu. Toh, ilmu itu tak digunakan jika nanti dia bekerja. Pak Arif dengan bijak mengatakan “Nak, kamu tentu punya tujuan hidup. Nah, tujuan hidup itu ada dua. Tujuan hidup jangka pendek dan jangka panjang. Sebagai pelajar, tujuan jangka pendek mu adalah lulus ujian agar kamu dapat mencapai cita-citamu. Untuk lulus maka mau tidak mau nilai mu tidak ada yang boleh merah. Walaupun nilai mata pelajaran yang lain bagus namun ada satu nilai merah di rapor, maka kamu tidak akan lulus. Nah, mana yang kamu akan pilih?.”
Cerita itu sederhana namun hikmah yang dikandungnya sangat dalam. Cerita itu saya dengar 8 tahun yang lalu, tapi entah mengapa saya selalu teringat kata-kata Beliau.
October 11th, 2008 at 10:45
Maka Rano Karno seharusnya diprotes oleh anak – anak seusia kita, karena slogan terkenalnya “Ayo sekolah” itu amat meragukan. Harusnya Ayo Belajar”. Sekolah sendiri nama penyamarataan ilmu.
October 11th, 2008 at 13:59
Dalam kegiatan pengajian di sekolah tempat saya kerja pada suatu hari, sang ustadz pernah bertanya gini pada ortu murid: Kenapa sih anda mengirim anak anda ke sekolah?
Ortu murid kebanyakan bengong tau-tau ditanya gitu. Tau gak apa kata Ustadznya gini: Karena kalian semua ndablek matematika, bahasa indonesia, IPA dll.. Kalian semua gak sanggup ngajarin itu semua sama anak-anak kalian kan? Makanya kalian membayar suatu lembaga yang namanya sekolah ini. Buat menggodok anak-anak kalian biar jadi orang pintar ilmu pengetahuan dan memiliki kepribadian yang luhur. Kalian gak punya waktu buat mengajar dan membangun anak-anak kalian sendiri!
Jangankan ortu, para guru aja bengong ngedenger ustadz itu hehe…
Tapi bu Enggar, sewaktu saya KKN, disana anak-anak kelas 5 SD belum pada bisa baca. Tau gak, ulangan umum mereka kebanyakan dikerjakan oleh guru bu.. Curang? Ya… Kata para guru disana, itu terpaksa. Sebab jika tidak dikerjakan oleh guru, anak-anak ini pasti gak akan naik kelas. Kalau anak gak naik kelas, mereka gak akan sekolah lagi. Orangtua mereka pasti langsung mengambil mereka untuk bantuin jadi buruh tani atau dikirim ke jakarta buat kerja di warung indomie rebus. Itulah kenapa guru-guru berusaha sekuat tenaga, bahkan sampai curang, demi anak-anak bisa mendapatkan pendidikan selama enam tahun. Kata guru-guru, mungkin pendidikan yang mereka dapatkan gak akan merubah nasib mereka jadi pelayan warung indomie rebus di jakarta atau di kota-kota lain di pinggir jalan, paling tidak mereka memberi waktu 6 tahun kepada anak-anak ini untuk menikmati masa anak-anaknya dan bisa merasakan bermain dan belajar.
Sedih ya bu.. Gak usah jauh-jauh ke Belitung, di kabupaten Sumedang itu bu.. Tahun 2004.
October 14th, 2008 at 23:16
Assalamu’alaikum Bu.
Minal Aidzin wal Faidzin. maap kalo udah kelamaan.
Kalo menurut saya, konsep sekolah kita kurang tepat bu. Karena anak-anak terutama di Pendidikan Dasar di fokuskan pada menghapal semua pelajaran, bukan untuk mengerti atau setidaknya mencintai.
Dampaknya, mereka malas sekolah, malas buka buku, bahkan nyontek saat ulangan.
October 15th, 2008 at 02:52
[...] a comment » Ini gara-gara saya baca tulisan bu Enggar di blognya. Beliau membuat saya teringat mengenai kisah memilukan yang saya dengar saat KKN beberapa waktu yang [...]
October 15th, 2008 at 04:39
Hmm, mungkin kalau dulu (sampai usia SMA) aku ditanya: “jadi, untuk apa kita sekolah?” aku akan jawab: “untuk bisa lulus dengan nilai maksimal, terus biar bisa masuk PTN favorit, gampang dapet kerja deh.”
Kalau sekarang? jadi bingung mau jawab apa
Teorinya, sekolah hanya salah satu sarana pendidikan formal, pendidikan seharusnya bisa berjalan di mana saja: komunitas masyarakat, keluarga, dll. Yang paling penting adalah bagaimana mendidik bangsa ini dari semua segi (a.l moral dan intelektual). Sekolah bukanlah pabrik penyedia tenaga kerja. Yup, ini tanggung jawab kita semua untuk mengembalikan makna pendidikan yg sebenarnya.
Thanks Mbak, sudah memberiku inspirasi melalui tulisan ini. Jadi pengin ngasih tugas menulis harapan dan impian ke kelas 9 di sini
October 15th, 2008 at 14:04
iya yah…pertanyaan yang mendasar, dan kayaknya setiap guru mesti menguatkan fondasi untuk menjawab pertanyaan itu bu… sanbgat substansi dan penting….
October 15th, 2008 at 14:05
iya yah…pertanyaan yang mendasar, dan kayaknya setiap guru mesti menguatkan fondasi untuk menjawab pertanyaan itu bu… sanbgat substansi dan penting….salam kenal bu saya salut dengan ibu
October 15th, 2008 at 16:24
Salam Ketemu lagi Bu Enggar…
Ada yang pernah menuliskan, Guru yang terbaik buat seorang anak adalah Ibu dan sekolah yang terbaik adalah Alam. Jadi seharusnya, Ibulah yang harus jadi guru pertama buat seorang anak dan anak-anak harus dekat dengan alam. Tapi kenyataanya, anak-anak sekarang, waktu kecil dikasih ama pembantu, gedean dikit masuk playgroup, maklum bapak ibunya sibuk cari duit .. ironisnya .. duitnya untuk menyediakan pendidikan yang baik bagi si anak. Ketika di rumah, bukan disuruh bermain di alam, tapi lebih banyak nonton TV dan main playstation.
Saya kira, anak-anak memang harus belajar nilai-nilai hidup dari orang tua. Sekolah hanya bisa memberikan mengasah kemampuan-kemampuan teknis (menghitung, bahasa dll).
Sekarang kita seringkali terjebak menyalahkan sekolah dan kurikulum yang tidak benar .. padahal tidak semua orang yang dididik di kurikulum dan sekolah yang tidak benar itu yang tidak sukses. Ada banyak juga yang bisa sukses. Jadi kalau anaknya tidak sukses, nah sekarang yang salah siapa…. anaknya atau kurikulumnya.
Kalau menurut saya, kalau seorang anak sudah dibekali dengan nilai-nilai yang baik, dan sikap mental yang baik dari keluarga, maka peluangnya akan lebih besar untuk jadi orang sukses dibanding dengan anak-anak yang kurang dapat pendidikan di rumah. Jadi cari sekolah yang baik, penting tapi pendidikan rumah yang lebih penting.
Sekarang situasinya malah makin runyam, dirumah anak-anak bukan diajar memiliki mental yang baik. Seorang ayah tidak merasa bersalah berkata pada anaknya:” kamu jadi pegawai negeri saja, memang gajinya dikit, tapi kan sampingannya (baca: korupsinya) kan lebih banyak. Anak malah dididik jadi koruptor. Kalau begini tidak heran kan … kalau anak-anak kita jadi materialistis dan korupsi merajalela.
October 16th, 2008 at 09:52
tik49:
. Betul, Pak. Pendidikan terbaik adalah orang tua dan lingkungan terdekat. Anak yang sukses adalah mereka yang kelak berani menghadapi kehidupan yang memang tidak mudah. Dan landasaan dasar nya ada pada pembentukan akhlak.
Maaf lahir bathin juga. Fenomena nya seperti itu ya, Pak?
Novi:
Sama-sama. Thanks juga.
Imoe:
Salam kenal juga. Saya suka tag di halaman ‘Siapa Imoe’nya.
Henry:
Salam juga Pak Henry. Kok bisa nyasar ke sini?
October 24th, 2008 at 01:39
[...] Ini gara-gara saya baca tulisan bu Enggar di blog [...]
October 29th, 2008 at 21:31
Haaa… orang-orang memang kebanyakan sudah salah kaprah. Banyak sekali salah kaprah orang Indonesia yang harus diluruskan oleh orang-orang yang masih belum ‘tercemar’, atau malah sudah tercerahkan. Salah satunya lewat blog ini. Tidak hanya mengenai pendidikan anak, tapi juga salah kaprah lainnya.
Bagi yang punya anak, harus sadar bahwa anak adalah hal utama yang akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat nanti.
Menurut saya pendidikan yang penting bagi anak adalah membentuk karakter yang kuat dari segi emosional dan spiritual, berikutnya keahlian untuk survival di alam, sisanya itu pasti ikut di belakang seiring pertumbuhannya … sehingga kita tidak usah khawatir di masa depan anak bisa nyari sendiri rizki dan ilmunya dengan tuntunan-Nya.
October 30th, 2008 at 08:16
[...] Mengikuti jejak Mbak Enggar di sini, dua pekan yang lalu saya pun menugaskan siswa kelas 9 untuk menuliskan cita-cita mereka di blog. [...]