Sambil menunggu seorang rekan melaksanakan shalat jumat, saya luangkan waktu membaca jurnal murid kelas 9. Bulan puasa lalu saya minta anak-anak ini menuliskan harapan dan impian mereka di selembar kertas. Serta upaya apa yang telah mereka lakukan sejauh ini untuk meraih impian tersebut. Langkah ini saya ambil dengan tujuan untuk mengenal mereka lebih dekat. Di sini, saya dan rekan bergantian mengajar setiap 2.5 – 3 bulan. Kalau di awal semester saya kebagian tugas mengajar kelas 8 maka minggu depan insya Allah kelas 9 adalah tanggung jawab saya.

Membaca tulisan beberapa dari mereka, mengingatkan saya akan murid-murid saya di SMP Terbuka. Ada satu kesamaan dari semua alasan pilihan hidup mereka, yaitu materi. Profesi artis sinetron, pemain bola, penyanyi, penari dan sejenisnya merupakan pilihan favorit. Mereka beranggapan itulah profesi yang bisa mendatangkan banyak uang.

Gaung ‘ayo, sekolah’ sekedar syarat yang tak terlalu penting dalam benak mereka. Toh, banyak orang sukses yang sekolahnya tidak selesai. Dan banyak orang sekolah tinggi namun akhirnya jadi pengangguran. Kalimat ini biasanya jadi semacam alasan bagi orang tua untuk mengeluarkan anak mereka dari sekolah. Pernah ada seorang Ibu yang sudah tak tahan juga melihat tingkah polah putrinya, sehingga ketika kami memanggil Beliau, dia mengatakan bahwa dirinya tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Dia bahkan pernah meminta anaknya untuk keluar sekolah saja. Dia mengatakan bahwa dirinya bisa hidup tanpa harus sekolah. Yang penting kerja, cari uang yang banyak. Saya yang mendengar hanya bisa terdiam. Kembali saya tersadarkan beratnya tugas dan tanggung jawab yang dipikul oleh rekan-rekan guru.

Lantas, untuk dan dengan tujuan apa sesungguhnya saya meminta mereka menulis? Hmm,  saya sendiri tidak tahu. Selain untuk alasan di atas dan membiasakan mereka menulis sementara ini saya hanya menyimpan catatan harian tersebut. Berharap, saya bisa lebih memahami dan membantu mereka dalam kapasitas saya sebagai guru. Sudahkah saya lakukan? Belum. Sepenuhnya saya belum melakukan apa-apa.

“Jadi, untuk apa sebenarnya kita sekolah,Bu?.”