Akses Internet

Obrolan 13 Comments »

Akhir tahun ajaran lalu saya, Yudha, dan Bu Nur pernah mengajukan proposal untuk akses internet gratis di sekolah terbuka di daerah Arcamanik. Keputusan diambil karena tahun ajaran ini materi pelajaran kelas 9 adalah pengenalan internet. Namun sampai hari ini kami belum mendapatkan kabar. Tentu mereka sangat sibuk, kami memakluminya. Guru yang mengajar tentu harus menyiasati kondisi ini dengan berbagai cara. Walaupun saya sudah tidak lagi mengajar di sana namun saya dengan rekan-rekan yang mengajar di sana masih sering berhubungan. Bertukar kabar dan saling bertukar pengetahuan :). Novi, rekan saya melakukan instalasi blog secara offline dan menugaskan setiap anak untuk membuat tulisan mereka diblog masing-masing. Ide yang sangat menarik. Saya ingin juga menirunya nanti :). Namun demikian sejatinya anak-anak itu juga mengenal internet. Novi mengabarkan kepada saya bahwa dia akan mengajak anak-anak ini ke warnet. Hmm, tentu mereka sangat excited ya. Saya masih ingat ekspresi anak-anak ini ketika pertama kali saya mengajar komputer. Duh, saya kangen mereka semua.

Kalau tidak salah saya pernah membaca ada akses internet 100000 unlimited? Kira-kira berapa total biaya untuk modem dan instalasinya ya? Atau ada alternatif lain? Mungkin kalau memang ‘harus’, sekolah terbuka bisa menyisihkan anggaran 100.000 setiap bulan untuk akses internet. Atau ada pilihan lain?

Kisah Yang Berulang

Obrolan 5 Comments »

Hari ini A kembali tidak muncul di sekolah. Tanpa kabar. Tak ada satupun kawan-kawan yang mengetahui keberadaannya. Ibu Guru yang juga wali kelas memutuskan untuk mengadakan kunjungan ke rumah orang tua anak tersebut. Di sekolah ini sudah biasa guru menelepon orang tua atau berkunjung ke rumah orang tua yang anaknya bermasalah. A duduk di kelas 9. Itu artinya tak lama lagi A harus mengikuti ujian kelulusan. Pada tingkatan ini maka guru akan berusaha seoptimal mungkin untuk mengembalikan anak didiknya ke bangku sekolah. Sering terjadi pada periode ini siswa terancam putus sekolah. Bukan oleh peraturan dari sekolah, sebaliknya keputusan itu berasal dari lingkungan keluarga si anak.

Untuk meminimalisir tingkat putus sekolah maka guru bersama BP melakukan tugas yang sebenarnya tidak mudah. Seperti kasus nya si A. Anak ini ternyata kedua orang tuanya sudah bercerai. Si ibu sepertinya mengalami depresi.  Anak ini tinggal bersama ibu, nenek, dan beberapa saudaranya. Si ibu tidak bekerja. Selama ini kebutuhan A dan keluarganya ditopang oleh kakak ibu si A, sebut saja X. Ketika ditanyakan perihal ketidakhadiran A di sekolah si ibu hanya berujar bahwa selama ini A selalu pergi ke sekolah. Komunikasi antara guru dan si ibu ternyata tidak berjalan seperti yang diharapkan. Permasalahan ini diakui oleh X, saudara si ibu A. Guru akhirnya mengkomunikasikan kasus ini kepada X. Akhir kisahnya bagaimana? Saya sendiri belum tahu. Apakah A akhirnya kembali ke sekolah?

Kisah di atas adalah cerita yang selalu berulang, dengan format yang berbeda. Ada yang kembali ke sekolah namun banyak juga yang terlepas. Satu hal saya sungguh mengagumi rekan-rekan senior saya. Saya bukan tidak pernah menghadapi anak-anak yang seperti itu, tapi selama saya mengajar, bahkan di sekolah sebelumnya, kami tidak pernah melakukan kunjungan ke rumah atau bahkan ke pasar hanya untuk menemui orang tua atau saudara mereka. Dulu, anak yang bermasalah cukup dipanggil dan kemudian orang tua nya diminta datang. Di sini, bahkan untuk datang ke sekolah pun orang tua mereka lebih memilih untuk bekerja agar dapur mereka bisa tetap mengepul. Selebihnya banyak dari mereka yang menyerahkan sepenuhnya kepada kebijaksanaan sekolah dan guru. Padahal, itu tidak bisa. Karena bagaimanapun orang tua memegang peranan yang paling vital bagi perkembangan anak-anak itu kelak.

CSR

Pendidikan 4 Comments »

Corporate Social Responsibilty atau disingkat CSR adalah sebuah program yang berupa tanggung jawab sosial sebuah perusahaan kepada masyarakat luas. Bentuknya bermacam-macam. Dalam bidang pendidikan, yang paling sering dilakukan adalah pemberian beasiswa atau bantuan terhadap sekolah. Seperti kita ketahui bersama, pendidikan adalah roda pembangunan sebuah bangsa.

Kita tentu masih ingat kutipan Pasal 31 UUD 1945 (yang juga dicantumkan pada akhir tayangan film laskar pelangi), yang berbunyi:

Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan.

Ya, seharusnya tidak ada perbedaan. Tidak perduli Anda kaya atau miskin, terbelakang atau maju, apapun itu. Setiap kita berhak mendapatkan pendidikan yang baik, bukan? Betul juga bahwa tugas pemerintah untuk memenuhi tanggung jawabnya terhadap masyarakat. Namun sampai kapan menunggu pemerintah menuntaskan kewajiban tersebut? Saya kira ini adalah tanggung jawab kita bersama. Bersyukurlah, bahwa saat ini banyak perusahaan-perusahaan besar mempunyai program CSR, sebagai bentuk tanggung jawab sosial mereka terhadap masyarakat. Banyak diantaranya yang bergerak di sektor pendidikan, seperti Sampoerna Foundation dan Telkom.

Dari Sampoerna, siswa-siswa kami memperoleh beasiswa. Catatan permintaan untuk perusahaan-perusahaan besar. Boleh tidak kami minta dana bantuan untuk perpustakaan sekolah kami? Kepala sekolah beberapa kali pernah mengajukan proposal untuk dana perpustakaan ini. Tapi sampai saat ini kami belum memperoleh hasilnya. Ada yang berminat membantu? :).

Definisi Sukses

Obrolan 9 Comments »

Hari ini saya meminta murid-murid mendefinisikan kata sukses dan menuangkannya dalam sebuah tulisan di program pembuat halaman web. Pada pertemuan sebelumnya, sebagian besar siswa menuliskan kata sukses pada karangan mengenai mimpi dan harapan mereka. ‘Saya ingin menjadi orang yang sukses’, adalah kalimat yang dipilih kebanyakan siswa.

Nah, merujuk dari pernyataan di atas, saya ingin anak-anak ini belajar mengungkapkan perasaan dan pandangan mereka masing-masing. Tentu semua orang ingin sukses, bukan? Dan ukuran kesuksesan atau keberhasilan setiap orang mempunyai parameter yang berbeda pula. Ingin tahu bagaimana anak-anak memandang sebuah kesuksesan untuk diri mereka sendiri? Tadi sempat mengintip ketikan salah satu siswa. Tulisannya seperti ini “Sukses menurut aku kalau aku mempunyai uang yang banyak.” Hmm, apa definisi sukses menurut Anda? :)

Oya, insya Allah akan saya susulkan kutipan dari mereka. Tadi file-nya belum sempat tersimpan nih :).

Televisi dan Pendidikan

Obrolan 18 Comments »

Menurut Anda, seperti apakah tayangan televisi kita sekarang?

Pada era 80-an kita hanya memiliki satu stasiun televisi. TV nya pun masih hitam putih. Tapi saya merasakan beberapa acara televisi pada saat itu cukup bagus. Saya masih ingat cerita anak-anak ACI (Aku Cinta Indonesia), Rumah Masa Depan, Si Unyil, dan Little House On The Prairie. Film kartun yang menarik adalah cerita petualangan kum-kum. Sempat juga ditayangkan film lima sekawan nya Enid Blyton. Dan beberapa film lainnya.  Unyil dan Little House adalah film yang paling saya dan adik-adik tunggu. (Ah ya,saya juga punya buku little house ini :) ). Walaupun pilihan acaranya terbilang tidak banyak, tapi rasanya masih jauh lebih mendidik dibanding acara-acara pada masa ini.

Maaf sebelumnya, tapi saya sangat tidak menyukai sinetron-sinetron di televisi sekarang. Beberapa mungkin ada yang bagus. Saya juga memaklumi kalau sebagian orang menyukai acara-acara seperti ini. Yah, hiburan. Saya tak perduli juga jika yang melihat sinetron yang penuh dengan teriakan dan makian itu orang-orang yang sudah dewasa. Dengan asumsi mereka bisa memilah dan membedakan yang nyata dan khayalan (walau nggak janji juga sih :)). Kenapa? Saya pikir lama-lama pikiran kita juga bisa tercemar sih kalau keseringan melihat hal-hal yang tidak baik. Tanpa sadar otak kita di-intimidasi.

Hampir semua sinetron itu isi ceritanya sama, (tidak hanya para artis nya yang itu-itu saja). Pasti ada orang kaya, orang miskin yang teraniaya, dan seterusnya. Atau cerita seorang profesional muda, lulusan luar (tentu dengan kualitas pendidikan nomor satu).Tapi coba lihat, sikap dan tindak tanduknya tidak sekalipun mencerminkan sebagai orang yang berpendidikan. Oya, saya pernah membahas tentang definisi orang yang berpendidikan dan tidak berpendidikan di sini.

Jadi, apa yang kira-kira bisa ditangkap dari sebagian saja gambaran di atas oleh masyarakat kita? Mungkin ini: Ternyata orang pintar sikap dan tingkah lakunya tidak ada bedanya dengan mereka, yang sering dianggap lebih rendah. Lantas apa istimewanya? Hmmm, lebih baik kamu punya uang banyak. jadi orang kaya. Dengan begitu, kamu bisa berkuasa.

Jadi, darimana anak-anak kita mendapatkan pemikiran bahwa yang penting adalah uang? Anda sudah tahu jawabannya.

Itu baru satu. Perhatikan lagi dampak lainnya. Lambat laun masyarakat kita semakin bodoh. Dan jika kebodohan ini dibiarkan berlangsung terus pada generasi yang akan datang, maka kita tinggal menunggu kehancuran. Kehancuran tidak saja untuk diri sendiri, tapi juga untuk negeri ini.

Heran, apakah atas nama kebebasan berekspresi maka tayangan-tayangan sinetron dan film layar lebar yang tidak layak itu dibiarkan?

Catatan Harian

Pendidikan 15 Comments »

Sambil menunggu seorang rekan melaksanakan shalat jumat, saya luangkan waktu membaca jurnal murid kelas 9. Bulan puasa lalu saya minta anak-anak ini menuliskan harapan dan impian mereka di selembar kertas. Serta upaya apa yang telah mereka lakukan sejauh ini untuk meraih impian tersebut. Langkah ini saya ambil dengan tujuan untuk mengenal mereka lebih dekat. Di sini, saya dan rekan bergantian mengajar setiap 2.5 - 3 bulan. Kalau di awal semester saya kebagian tugas mengajar kelas 8 maka minggu depan insya Allah kelas 9 adalah tanggung jawab saya.

Membaca tulisan beberapa dari mereka, mengingatkan saya akan murid-murid saya di SMP Terbuka. Ada satu kesamaan dari semua alasan pilihan hidup mereka, yaitu materi. Profesi artis sinetron, pemain bola, penyanyi, penari dan sejenisnya merupakan pilihan favorit. Mereka beranggapan itulah profesi yang bisa mendatangkan banyak uang.

Gaung ‘ayo, sekolah’ sekedar syarat yang tak terlalu penting dalam benak mereka. Toh, banyak orang sukses yang sekolahnya tidak selesai. Dan banyak orang sekolah tinggi namun akhirnya jadi pengangguran. Kalimat ini biasanya jadi semacam alasan bagi orang tua untuk mengeluarkan anak mereka dari sekolah. Pernah ada seorang Ibu yang sudah tak tahan juga melihat tingkah polah putrinya, sehingga ketika kami memanggil Beliau, dia mengatakan bahwa dirinya tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Dia bahkan pernah meminta anaknya untuk keluar sekolah saja. Dia mengatakan bahwa dirinya bisa hidup tanpa harus sekolah. Yang penting kerja, cari uang yang banyak. Saya yang mendengar hanya bisa terdiam. Kembali saya tersadarkan beratnya tugas dan tanggung jawab yang dipikul oleh rekan-rekan guru.

Lantas, untuk dan dengan tujuan apa sesungguhnya saya meminta mereka menulis? Hmm,  saya sendiri tidak tahu. Selain untuk alasan di atas dan membiasakan mereka menulis sementara ini saya hanya menyimpan catatan harian tersebut. Berharap, saya bisa lebih memahami dan membantu mereka dalam kapasitas saya sebagai guru. Sudahkah saya lakukan? Belum. Sepenuhnya saya belum melakukan apa-apa.

“Jadi, untuk apa sebenarnya kita sekolah,Bu?.”

Perangkat Pembelajaran

Materi TIK, Pendidikan 11 Comments »

Setengah semester sudah berlalu. Minggu depan Insya Allah kegiatan belajar  mulai berjalan normal kembali. Tiga bulan ke depan saya mengajar kelas 9. Untuk materi TIK nya sendiri adalah membuat halaman web sederhana dengan menggunakan MS Frontpage. Duh, maafkan kalau terpaksa lagi-lagi mengajarkan program bajakan. Tim guru TIK di sini sebenarnya berniat mengenalkan sistim operasi open source. Saat ini kami berusaha menjajaki kemungkinan itu.

Untuk rencana pengajaran materi ini belum saya kerjakan. Mustinya sih sudah selesai di awal-awal KBM dimulai, disatukan dengan perangkat pembelajaran. Ssst, di sekolah saya, jika ada guru yang belum mengumpulkan perangkat pembelajaran ini maka namanya akan ditempel di papan pengumuman :).

Perangkat pembelajaran ini adalah pedoman yang harus disiapkan oleh guru dalam menghadapi kegiatan belajar di kelas. Adapun perangkat pembelajaran itu adalah sebagai berikut:

  1. PROTA (Program Tahunan)
  2. PROMES (Program semester)
  3. Rencana Alokasi Waktu
  4.  Pemetaan
  5. Silabus
  6. RPP

Maka, tak heran lah kalau banyak rekan guru di awal tahun ajaran (bahkan mungkin di pertengahan semester) sibuk mengedit, membuat dan merancang perangkat pembelajaran. Untuk silabus dan RPP bisa didapat dengan mengunduh dari internet atau bertukar dengan rekan satu profesi. Selebihnya, Anda tinggal mengedit dan menyesuaikan dengan kebutuhan sekolah dan murid Anda. Nah, masalahnya untuk TIK, selain mengajarkan materi sesuai KTSP, kami juga mengajarkan program lain, yang acapkali panduannya agak sulit ditemukan di belantara maya ini. Jadi, ketika membuat silabus dan RPP untuk program lain, selain mengacu pada kurikulum KTSP di tingkat lanjutan atas, saya juga membuat dan menambahkan sendiri. Dengan mencoba tidak menyimpang dari ketentuan standar isi. Namun kami tetap berfokus pada kurikulum KTSP. Lainnya sebagai skill tambahan untuk mereka. Karena bagaimanapun pelajaran TIK di tingkat lanjutan (SMP/SMA) termasuk ke dalam pelajaran wajib. Berbeda dengan level sekolah dasar, TIK masuk ke dalam muatan lokal. Yang notabene nya adalah sah-sah saja mau dibuat seperti apa.

Ingin melihat contoh perangkat pembelajaran yang sudah kami (rekan guru TIK) buat? Klik saja di sini. Diletakkan di blog ini dengan tujuan mudah diakses oleh saya atau siapapun yang mungkin membutuhkan :).

WP Theme & Icons by N.Design Studio
Entries RSS Comments RSS Log in