Any Idea?
Obrolan, Pendidikan August 27th, 2008Kelas 9 tahun ajaran ini termasuk kelas yang sulit. Bahkan kondisi nya lebih parah dari tahun sebelumnya. Tidak hanya dalam intelegensia tapi juga tingkah laku. Saya percaya setiap anak cerdas. Kalaupun mereka lambat menerima pelajaran saya kira karena selama ini mereka belum terbiasa menggunakannya secara optimal. Untuk urusan ini rasanya saya masih bisa bertoleransi. Saya mencoba meng-evaluasi kepada cara saya mengajar kembali. Yang membuat kesal adalah tingkah polah anak-anak ini. Saya harus memendam kejengkelan dalam hati. Menahan diri untuk tidak berkata kasar (dan berharap semoga saya tidak pernah melakukan itu). Kadang rasanya kok ingin nangis ya? Rekan guru bilang, ini memang berat tapi juga tantangan. Akan menjadi pengalaman berharga jika kita bisa mengatasi nya. Tapi, bener deh saya lagi kehilangan asa mengatasi anak-anak ini. Saya sedang memikirkan untuk memberikan permainan yang berkaitan dengan budi pekerti. Tapi, dengan durasi waktu 2 jam dan jumlah murid 40, permainan apa yang sekiranya bisa diterapkan ya? Adakah rekan yang bersedia memberikan masukan?
Seandainya saja mereka tahu..


August 29th, 2008 at 4:15 pm
menghadapi siswa didik yang nakal dan sering melakukan penyimpangan memang membuatk hati jengkel, bu enggar. tapi, jengekl saja tidak cukup utk menjadikan mereka generasi yang cerdas. mungkin ada baiknya membuat kontrak sosial antara guru dan siswa, bu. bikin peraturan bersama. kalau ada yang melanggar, mereka sendiri yang akan memberikan sanksinya. hal ini sering saya terapkan ketika menjelang awal semester. mudah2an saja, mereka bisa berubah. selamat meyambut bulan suci, bu, mohon maaf lahir batin.
August 29th, 2008 at 5:08 pm
Maaf lahir bathin juga Pak. Kontrak bersama siswa sebenarnya sudah saya lakukan. Dan sanksi juga berjalan jika terjadi pelanggaran. Tapi kok ya acuh saja ya? Seperti nya memang tidak niat sekolah.
Yang membuat sedih sebenarnya, ketika orang tua dari anak yang bermasalah datang. Dan kebanyakan yang mempunyai masalah adalah anak-anak dari kalangan minoritas. Kasihan orang tua mereka sebenarnya. Duh, anak-anak ini tidak tahukah perjuangan orang tua mereka?
August 31st, 2008 at 3:00 am
Ya kadang 2 mereka tidak berpikiran kesana,mereka hanya memikirkan diri sendiri,tetapi setelah tahu kejadian yang sebenarnya mereka menyesal,telah menyusahkan orang tuanya. Untuk diingatkan sebelum ada penyesalan tolong semua permasalan dipikirkan terlebih dahulu buruk baiknya, baru di putuskan, sehingga tidak salah dalam berbuat , tidak ada penyesalan dikemudian hari.ok
September 1st, 2008 at 12:47 pm
Mbak Enggar, sudah menonton film berjudul freedom writers?
September 2nd, 2008 at 12:03 am
Setiap awal tahun ajaran, guru harus menyesuaikan diri dengan anak-anak baru. Di kelas berapapun adanya adalah anak baru. Setelah berjalan satu semester, barulah guru mampu menyesuaikan diri dengan gaya belajar anak-anak. Di akhir tahun ajaran, guru merasa kehilangan jika tidak mengajar mereka lagi. Semua akan berubah seiring pergesekan waktu. Seperti mesin, in reyen dulu.
September 2nd, 2008 at 1:56 am
Lestia:
Wah, Bu Tia benar. Saya sudah nonton film ini. Thanks sudah mengingatkan ya.
Willy:
Terima kasih, Pak.
September 17th, 2008 at 6:19 am
Mohon maaf, ikut kenalan dan promosi.
Perkenalkan kami dari PT. Software Farmer Indonesia yang bergerak di bidang Pemasaran dan Implementasi untuk Produk dan Jasa Software berbasis Data Capturing & Document Management System.
Salah satu produk kami adalah smartmarkreader (SMR), software untuk desain dan koreksi LJK. Sudah terbukti untuk UAN, UASBN Jatim dan ujian yang lain.
Salam kami,
Arif Darmawan
Customer Service Manager
PT. Software Farmer Indonesia
http://new.smartmarkreader.com
email:newrocknese@yahoo.com