<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Buku murah</title>
	<atom:link href="http://enggar.net/2008/08/19/daftar-pertanyaan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://enggar.net/2008/08/19/daftar-pertanyaan/</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Feb 2012 12:53:26 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
	<item>
		<title>By: Enggar</title>
		<link>http://enggar.net/2008/08/19/daftar-pertanyaan/#comment-895</link>
		<dc:creator>Enggar</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 24 Aug 2008 15:49:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://enggar.net/2008/08/19/daftar-pertanyaan/#comment-895</guid>
		<description>Subsidi silang sepertinya ok. Btw, banyak orang mengaku &#039;tidak mampu&#039; agar anaknya bisa sekolah dengan gratis. Tapi ketika diadakan kunjungan ke rumah, kondisi nya tidak layak dikategorikan miskin. Fenomena apa sih? Orang kita lebih suka pamer materi kemana-mana dibanding memberikan pendidikan yang terbaik untuk anaknya. Karena apa? Mungkin benar kata Adham, di Indonesia orang lebih menghargai harta daripada ilmu. Jadi, cara apapun yang instan untuk mendapatkan uang banyak akan dikejar. Pendidikan dan buku? Ah, untuk apa?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Subsidi silang sepertinya ok. Btw, banyak orang mengaku &#8216;tidak mampu&#8217; agar anaknya bisa sekolah dengan gratis. Tapi ketika diadakan kunjungan ke rumah, kondisi nya tidak layak dikategorikan miskin. Fenomena apa sih? Orang kita lebih suka pamer materi kemana-mana dibanding memberikan pendidikan yang terbaik untuk anaknya. Karena apa? Mungkin benar kata Adham, di Indonesia orang lebih menghargai harta daripada ilmu. Jadi, cara apapun yang instan untuk mendapatkan uang banyak akan dikejar. Pendidikan dan buku? Ah, untuk apa?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Hery Azwan</title>
		<link>http://enggar.net/2008/08/19/daftar-pertanyaan/#comment-894</link>
		<dc:creator>Hery Azwan</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 23 Aug 2008 03:08:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://enggar.net/2008/08/19/daftar-pertanyaan/#comment-894</guid>
		<description>Dengan buku murah, Pak Menteri berharap penerbit bisa mendapatkan pesaing sehingga menurunkan harganya. Terus katanya toko buku akan senang dengan buku murah. Di sisi lain, harga eceran tertinggi sudah ditetapkan dan yang melanggar akan dihukum. Pertanyaannya, dari mana toko buku menutup biaya operasionalnya? Selama ini diskon dari penerbit sekitar 30% dinikmati oleh toko buku. Jika diskon ini dihilangkan, mana ada toko buku yang mau? Ada-ada aja Pak Menteri ini. Intinya sih, kalau semua pihak mau berbagi diskon dengan konsumen, harga buku bisa sedikit lebih murah. Tapi, mungkin bukan itu masalahnya. Subsidi silang barangkali lebih baik. Yang kaya tidak masalah membeli buku yang mahal, sebaliknya yang miskin diberi subsidi untuk membeli buku, sama seperti pemda DKI menyubsidi Busway. Memang aneh orang Indonesia, mobil ganti2 terus hingga jalanan macet. Hand phone tiap tahun ganti. Rokok sehari habis sebungkus. Kalau setahun sudah berapa duit tuh? Tapi, untuk beli buku, katanya mahal.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dengan buku murah, Pak Menteri berharap penerbit bisa mendapatkan pesaing sehingga menurunkan harganya. Terus katanya toko buku akan senang dengan buku murah. Di sisi lain, harga eceran tertinggi sudah ditetapkan dan yang melanggar akan dihukum. Pertanyaannya, dari mana toko buku menutup biaya operasionalnya? Selama ini diskon dari penerbit sekitar 30% dinikmati oleh toko buku. Jika diskon ini dihilangkan, mana ada toko buku yang mau? Ada-ada aja Pak Menteri ini. Intinya sih, kalau semua pihak mau berbagi diskon dengan konsumen, harga buku bisa sedikit lebih murah. Tapi, mungkin bukan itu masalahnya. Subsidi silang barangkali lebih baik. Yang kaya tidak masalah membeli buku yang mahal, sebaliknya yang miskin diberi subsidi untuk membeli buku, sama seperti pemda DKI menyubsidi Busway. Memang aneh orang Indonesia, mobil ganti2 terus hingga jalanan macet. Hand phone tiap tahun ganti. Rokok sehari habis sebungkus. Kalau setahun sudah berapa duit tuh? Tapi, untuk beli buku, katanya mahal.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Joko Sutrisno</title>
		<link>http://enggar.net/2008/08/19/daftar-pertanyaan/#comment-893</link>
		<dc:creator>Joko Sutrisno</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 Aug 2008 04:23:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://enggar.net/2008/08/19/daftar-pertanyaan/#comment-893</guid>
		<description>Ikutan comment ya Bu. Harga buku menjadi &quot;mahal&quot; karena harga kertas yang mahal (70%-80% harga buku ditentukan oleh harga kertas dan biaya cetak). Benar tuh kata Bapaknya Dian. Trus...biaya distribusi juga mahal. Toko buku dan &quot;sekolah&quot; mendapatkan diskon sekitar 35% dari harga jual dari penerbit (bahkan ada yang sampai 50% lho). Coba kalau diskon itu sebagian diberikan ke konsumen...tentu harga buku berkurang cukup signifikan. Tapi kalau saya sih, mau murah atau mahal...kalau memang masyarakat kita senang membaca, pasti industri buku akan berkembang dengan baik. Yang saya takutkan, sudah bukunya dimurahin....tetap saja pasar buku Indonesia sepi. Tadi saya baca di harian investor...penjualan Mobil di Indonesia bulan Juli mencapai 61 ribu unit, naik sekitar 10 ribu unit dari bulan Juni, dan naik 100% dibanding bulan Januari. Hebat ya....orang Indonesia kaya-kaya. Kalau mobil, berapa pun harganya...akan dibeli, tapi kalau buku....hm...tunggu dulu! Mahal! Saya yang &quot;orang buku&quot; sudah hafal betul dgn kebijakan negeri ini mengenai buku...sukanya memojokkan penerbit swasta. Simak komentar pak Mentri beberapa waktu lalu: &quot;Sekarang penerbit-penerbit besar punya pesaing berat...yaitu Pemerintah&quot;. Nah lho?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ikutan comment ya Bu. Harga buku menjadi &#8220;mahal&#8221; karena harga kertas yang mahal (70%-80% harga buku ditentukan oleh harga kertas dan biaya cetak). Benar tuh kata Bapaknya Dian. Trus&#8230;biaya distribusi juga mahal. Toko buku dan &#8220;sekolah&#8221; mendapatkan diskon sekitar 35% dari harga jual dari penerbit (bahkan ada yang sampai 50% lho). Coba kalau diskon itu sebagian diberikan ke konsumen&#8230;tentu harga buku berkurang cukup signifikan. Tapi kalau saya sih, mau murah atau mahal&#8230;kalau memang masyarakat kita senang membaca, pasti industri buku akan berkembang dengan baik. Yang saya takutkan, sudah bukunya dimurahin&#8230;.tetap saja pasar buku Indonesia sepi. Tadi saya baca di harian investor&#8230;penjualan Mobil di Indonesia bulan Juli mencapai 61 ribu unit, naik sekitar 10 ribu unit dari bulan Juni, dan naik 100% dibanding bulan Januari. Hebat ya&#8230;.orang Indonesia kaya-kaya. Kalau mobil, berapa pun harganya&#8230;akan dibeli, tapi kalau buku&#8230;.hm&#8230;tunggu dulu! Mahal! Saya yang &#8220;orang buku&#8221; sudah hafal betul dgn kebijakan negeri ini mengenai buku&#8230;sukanya memojokkan penerbit swasta. Simak komentar pak Mentri beberapa waktu lalu: &#8220;Sekarang penerbit-penerbit besar punya pesaing berat&#8230;yaitu Pemerintah&#8221;. Nah lho?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Yudha P Sunandar</title>
		<link>http://enggar.net/2008/08/19/daftar-pertanyaan/#comment-892</link>
		<dc:creator>Yudha P Sunandar</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 20 Aug 2008 17:33:12 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://enggar.net/2008/08/19/daftar-pertanyaan/#comment-892</guid>
		<description>hm... permasalahannya ada pada budaya bangsa indonesia yang pada males baca. semurah apapun bukunya, tetep aja kalo emang budayanya males baca, nggak akan efektif. sepertinya, sudah seharusnya pemerintah indonesia berpikiran untuk merubah kurikulum pendidikan indonesia dari berorientasi pada teori dan ilmu2 yang ngawang2 dan ngak jelas pengaplikasiannya dalam kehidupan nyata masyarakat, ke kurikulum pendidikan yang berorientasi pada budaya membaca dan menulis.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>hm&#8230; permasalahannya ada pada budaya bangsa indonesia yang pada males baca. semurah apapun bukunya, tetep aja kalo emang budayanya males baca, nggak akan efektif. sepertinya, sudah seharusnya pemerintah indonesia berpikiran untuk merubah kurikulum pendidikan indonesia dari berorientasi pada teori dan ilmu2 yang ngawang2 dan ngak jelas pengaplikasiannya dalam kehidupan nyata masyarakat, ke kurikulum pendidikan yang berorientasi pada budaya membaca dan menulis.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Dian</title>
		<link>http://enggar.net/2008/08/19/daftar-pertanyaan/#comment-891</link>
		<dc:creator>Dian</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 20 Aug 2008 16:08:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://enggar.net/2008/08/19/daftar-pertanyaan/#comment-891</guid>
		<description>Saya kok agak ragu bisa sampai ke pelosok seperti yang diujarkan pak mentri. tapi yaa...kita lihat saja. mencoba tidak ada salahnya, niatnya bagus (walaupun agak &quot;maksa&quot;, menurut saya), mudah-mudahan pelaksanaannya juga &quot;lurus&quot;. Oh ya, saran dari Bapak saya yang berkutat di bidang percetakan sejak dahulu kala: turunkan harga kertas, dan buku akan murah :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya kok agak ragu bisa sampai ke pelosok seperti yang diujarkan pak mentri. tapi yaa&#8230;kita lihat saja. mencoba tidak ada salahnya, niatnya bagus (walaupun agak &#8220;maksa&#8221;, menurut saya), mudah-mudahan pelaksanaannya juga &#8220;lurus&#8221;. Oh ya, saran dari Bapak saya yang berkutat di bidang percetakan sejak dahulu kala: turunkan harga kertas, dan buku akan murah <img src='http://enggar.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ersis Warmansyah Abbas</title>
		<link>http://enggar.net/2008/08/19/daftar-pertanyaan/#comment-890</link>
		<dc:creator>Ersis Warmansyah Abbas</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 20 Aug 2008 15:49:57 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://enggar.net/2008/08/19/daftar-pertanyaan/#comment-890</guid>
		<description>Sambut dengan baik aja dulu. Kita bersyukur, pemerintah (depdiknas) mulai siuman. Pemikiran para petinggi India itu jauh lebih maju, ya kita berharap saja. Mana tahu ntar lebih hebat. Amin.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sambut dengan baik aja dulu. Kita bersyukur, pemerintah (depdiknas) mulai siuman. Pemikiran para petinggi India itu jauh lebih maju, ya kita berharap saja. Mana tahu ntar lebih hebat. Amin.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: kang gery</title>
		<link>http://enggar.net/2008/08/19/daftar-pertanyaan/#comment-889</link>
		<dc:creator>kang gery</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 20 Aug 2008 11:32:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://enggar.net/2008/08/19/daftar-pertanyaan/#comment-889</guid>
		<description>hmm, mengenai buku murah, saya inget waktu kemaren jadi volunter distribusi buku gratis untuk Pendidikan Luar Sekolah di Sebuah Kabupaten, kok justru costnya lebih besar dan merepotkan kedua belah pihak, ahhh program pemerintah suka aneh emang</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>hmm, mengenai buku murah, saya inget waktu kemaren jadi volunter distribusi buku gratis untuk Pendidikan Luar Sekolah di Sebuah Kabupaten, kok justru costnya lebih besar dan merepotkan kedua belah pihak, ahhh program pemerintah suka aneh emang</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

