Buku murah
Obrolan August 19th, 2008Tak sengaja malam ini saya melihat tayangan metrotv dengan special dialogue-nya. Nara sumber kali ini adalah Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo, dengan tema buku murah. Beberapa bagian yang sempat saya tangkap adalah sebagai berikut:
Bse adalah projek jangka panjang depdiknas. Dan buku murah adalah projek jangka pendek yang akan segera direalisasikan. Menurut rencana esok hari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono turun langsung untuk me-launching buku murah tersebut. Kalau saya tidak salah dengar, Bapak menteri mengatakan bahwa het sebuah buku tidak lebih dari 20 ribu. Kalaupun berbeda, lebihnya sedikit saja. Nantinya, diharapkan program buku murah ini populer sehingga penerbit yang menjual buku mahal akan mempunyai saingan, yaitu pemerintah. Btw, buku-buku murah ini apakah hak ciptanya juga dibeli pemerintah atau bagimana ya? ( berhubung saya tidak melihat dari awal, informasinya jadi rancu juga).
keluar dari topik di atas.
Seringkali kita berpikir sesuatu itu mahal karena kita menghitungnya untuk saat ini. Tapi kita bisa dengan mudahnya mengeluarkan beratus-ratus ribu untuk sebuah kenikmatan sesaat. Tidak ada larangan, sah-sah saja.
Bukan berarti saya tidak mendukung buku murah dan bse. Saya sangat mendukung. Saya salut dengan India, yang mungkin kondisi negaranya masih kalah dengan negara kita. Tapi masyarakatnya sadar akan pentingnya pendidikan. Dan industri buku di sana bisa menjual buku dengan harga murah sehingga terjangkau oleh masyarakat.
Di sini, seringkali saya melihat diskon buku sudah besar-besaran tapi yang berminat membeli bisa dihitung dengan jari. Mungkin yang paling utama adalah kesadaran bahwa pendidikan itu penting dan buku adalah investasi yang sangat berharga. Dan persoalan pendidikan bukan hanya buku semata.
artikel lain mengenai buku murah bisa di lihat di sini.



August 20th, 2008 at 11:32 am
hmm, mengenai buku murah, saya inget waktu kemaren jadi volunter distribusi buku gratis untuk Pendidikan Luar Sekolah di Sebuah Kabupaten, kok justru costnya lebih besar dan merepotkan kedua belah pihak, ahhh program pemerintah suka aneh emang
August 20th, 2008 at 3:49 pm
Sambut dengan baik aja dulu. Kita bersyukur, pemerintah (depdiknas) mulai siuman. Pemikiran para petinggi India itu jauh lebih maju, ya kita berharap saja. Mana tahu ntar lebih hebat. Amin.
August 20th, 2008 at 4:08 pm
Saya kok agak ragu bisa sampai ke pelosok seperti yang diujarkan pak mentri. tapi yaa…kita lihat saja. mencoba tidak ada salahnya, niatnya bagus (walaupun agak “maksa”, menurut saya), mudah-mudahan pelaksanaannya juga “lurus”. Oh ya, saran dari Bapak saya yang berkutat di bidang percetakan sejak dahulu kala: turunkan harga kertas, dan buku akan murah
August 20th, 2008 at 5:33 pm
hm… permasalahannya ada pada budaya bangsa indonesia yang pada males baca. semurah apapun bukunya, tetep aja kalo emang budayanya males baca, nggak akan efektif. sepertinya, sudah seharusnya pemerintah indonesia berpikiran untuk merubah kurikulum pendidikan indonesia dari berorientasi pada teori dan ilmu2 yang ngawang2 dan ngak jelas pengaplikasiannya dalam kehidupan nyata masyarakat, ke kurikulum pendidikan yang berorientasi pada budaya membaca dan menulis.
August 21st, 2008 at 4:23 am
Ikutan comment ya Bu. Harga buku menjadi “mahal” karena harga kertas yang mahal (70%-80% harga buku ditentukan oleh harga kertas dan biaya cetak). Benar tuh kata Bapaknya Dian. Trus…biaya distribusi juga mahal. Toko buku dan “sekolah” mendapatkan diskon sekitar 35% dari harga jual dari penerbit (bahkan ada yang sampai 50% lho). Coba kalau diskon itu sebagian diberikan ke konsumen…tentu harga buku berkurang cukup signifikan. Tapi kalau saya sih, mau murah atau mahal…kalau memang masyarakat kita senang membaca, pasti industri buku akan berkembang dengan baik. Yang saya takutkan, sudah bukunya dimurahin….tetap saja pasar buku Indonesia sepi. Tadi saya baca di harian investor…penjualan Mobil di Indonesia bulan Juli mencapai 61 ribu unit, naik sekitar 10 ribu unit dari bulan Juni, dan naik 100% dibanding bulan Januari. Hebat ya….orang Indonesia kaya-kaya. Kalau mobil, berapa pun harganya…akan dibeli, tapi kalau buku….hm…tunggu dulu! Mahal! Saya yang “orang buku” sudah hafal betul dgn kebijakan negeri ini mengenai buku…sukanya memojokkan penerbit swasta. Simak komentar pak Mentri beberapa waktu lalu: “Sekarang penerbit-penerbit besar punya pesaing berat…yaitu Pemerintah”. Nah lho?
August 23rd, 2008 at 3:08 am
Dengan buku murah, Pak Menteri berharap penerbit bisa mendapatkan pesaing sehingga menurunkan harganya. Terus katanya toko buku akan senang dengan buku murah. Di sisi lain, harga eceran tertinggi sudah ditetapkan dan yang melanggar akan dihukum. Pertanyaannya, dari mana toko buku menutup biaya operasionalnya? Selama ini diskon dari penerbit sekitar 30% dinikmati oleh toko buku. Jika diskon ini dihilangkan, mana ada toko buku yang mau? Ada-ada aja Pak Menteri ini. Intinya sih, kalau semua pihak mau berbagi diskon dengan konsumen, harga buku bisa sedikit lebih murah. Tapi, mungkin bukan itu masalahnya. Subsidi silang barangkali lebih baik. Yang kaya tidak masalah membeli buku yang mahal, sebaliknya yang miskin diberi subsidi untuk membeli buku, sama seperti pemda DKI menyubsidi Busway. Memang aneh orang Indonesia, mobil ganti2 terus hingga jalanan macet. Hand phone tiap tahun ganti. Rokok sehari habis sebungkus. Kalau setahun sudah berapa duit tuh? Tapi, untuk beli buku, katanya mahal.
August 24th, 2008 at 3:49 pm
Subsidi silang sepertinya ok. Btw, banyak orang mengaku ‘tidak mampu’ agar anaknya bisa sekolah dengan gratis. Tapi ketika diadakan kunjungan ke rumah, kondisi nya tidak layak dikategorikan miskin. Fenomena apa sih? Orang kita lebih suka pamer materi kemana-mana dibanding memberikan pendidikan yang terbaik untuk anaknya. Karena apa? Mungkin benar kata Adham, di Indonesia orang lebih menghargai harta daripada ilmu. Jadi, cara apapun yang instan untuk mendapatkan uang banyak akan dikejar. Pendidikan dan buku? Ah, untuk apa?