Leaving Microsoft To Change The World
Buku, Pendidikan July 11th, 2008
Buku bagus, memoar dari seorang mantan eksekutif di microsoft. John Wood melepaskan karir bagusnya di microsoft dan memilih untuk mendirikan lembaga nirlaba yang menyediakan dana untuk pendidikan anak-anak di negara berkembang. Berawal dari kedatangan John ke sebuah tempat di ketinggian Himalaya di dataran tinggi Nepal, di sebuah desa terpencil yang dihuni oleh orang-orang buta huruf dan kebanyakan anak-anak putus sekolah.
Menyadari bahwa kesempatan yang dia miliki sekarang adalah berkah dari sebuah pendidikan yang baik, maka John ingin memberikan peluang yang sama kepada anak-anak yang kurang beruntung. Langkah pertama yang ditempuhnya adalah memberikan bantuan banyak buku ke sekolah yang membutuhkan di Nepal. Mengirimkan dana untuk membangun sekolah, lab komputer dan lab bahasa. Lembaga ini diberi nama Room to read. Pada proyek sosial pertamanya John menggunakan kas pribadi. Berikutnya, dibantu donasi dari para donatur. Lembaga ini kemudian melebarkan bantuannya ke negara-negara berkembang lain, seperti vietnam, kamboja, india. Serta memberikan beasiswa kepada anak-anak perempuan yang diberi nama room to grow.
Mengutip kalimat bijak dari seorang rekan John ‘Ketika Anda mendidik seorang anak laki-laki, Anda mendidik hanya seorang anak laki-laki. Tetapi ketika Anda mendidik seorang anak perempuan, Anda mendidik seluruh keluarga, dan generasi berikutnya’.
John dan timnya meyakini untuk menciptakan perubahan sosial yang abadi di negara-negara berkembang adalah memasukkan anak-anak perempuan sejak dini ke sekolah dan menjaga agar mereka tidak putus sekolah setidaknya sampai akhir sekolah lanjutan. Kelak mereka akan lebih percaya diri dan terberdayakan serta mandiri secara finansial.
Buku dari penerbit bentang ini sungguh menginspirasi. Membuat saya bertanya-tanya tidakkah negeri ini belajar bagaimana negara-negara lain menghargai sebuah pendidikan? Karena pendidikan akan menghantarkan kita kepada banyak pilihan hidup dan kesempatan, tidak sekedar alternatif punya uang atau tidak.


July 11th, 2008 at 20:43
yups, negara ini memang kurang menghargai pendidikan. andaikan ada yang nyuruh sekolah, itu pun hanya untuk tujuan yang terbilang pragmatis.
oh yah. apakah yayasan john mengajarkan microsoft juga di lab komputernya…???
July 12th, 2008 at 01:51
Ya ya simpulan bagus di alinea terakhir. Selamat mengambil manfaat.
July 12th, 2008 at 10:17
Salam kenal…
Salute buat John en yang punya blog (udah cukup memberikan inspirasi). Thanks
July 13th, 2008 at 04:19
Semoga kita bisa jadi the next John Wood-nya Indonesia…
Benar…memang pendidikan buat perempuan adalah hal yang amat penting. Sangat disayangkan kalau orientasi pendidikan untuk perempuan hanya kepada masalah “untuk mencari uang”. Sehingga perempuan yang tidak ingin “bekerja” merasa malas untuk menempuh pendidikan atau bahkan belajar. Bagi ibu rumah tangga pun, pendidikan amatlah penting. Dari beberapa pengalaman bertemu dengan beberapa ibu rumah tangga dengan pendidikan tinggi pun memiliki ketrampilan pengasuhan anak yang lebih baik.
July 13th, 2008 at 08:13
wah ini dimasuk oprah, keren dia di oprah juga
July 15th, 2008 at 06:18
Saat seseorang menjadi berhasil -atau mungkin- sudah meraih kebebasan finansial, pasti jiwa sosialnya bangkit dan menjadi orang yang selalu ingin berbagi.
July 17th, 2008 at 06:01
Unita:
.
Setuju, Bu. Mengutip tulisan dari buku yang sama “…seorang ibu yang tak berpendidikan akan mempunyai lebih sedikit pengetahuan untuk diwariskan ke generasi berikutnya.”
Jadi, belajar dan terus belajar