RSS Feed

Buku Sekolah Elektronik

Posted by Enggar on 1st July and posted in Pendidikan

Request from my chief editor :)

Departemen Pendidikan Nasional meluncurkan buku sekolah elektronik yang dapat diakses melalui situsnya di sini. Buku ajar ini telah dibeli hak ciptanya oleh Depdiknas. Dari surat kabar harian Kompas, dikabarkan pemerintah telah menargetkan 295 judul buku sekolah elektronik pada Agustus 2008. Dan saat ini  telah terdapat 49 judul buku  digital yang dapat diunduh masyarakat lewat internet secara gratis. Dengan adanya buku sekolah elektronik maka siapapun berhak untuk mengunduh, mencetak, memperbanyak dan menjualnya dengan ketepan harga yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Saya sudah melihat situsnya.  Buku-buku yang ada di sini masih terbatas. Buku-buku yang termasuk ke dalam UN sepertinya lebih diutamakan.  Saya juga mencoba mengunduh satu buku. Filenya lumayan besar.

Terobosan pemerintah untuk meluncurkan program bse ini memang layak kita dukung. Beberapa komentar baik kritik dan saran diberikan. Nah, apa saran dan kritikan Anda? Walaupun sudah banyak orang yang menuliskan dan memberi komentar mengenai bse ini, ndak pa-pa kan? :)

Saya lebih ingin tahu, kira-kira bagaimana dengan industri perbukuan di Indonesia? (Termasuk penulis dan penerbitnya, tentu).

Komentar saya? Hmm.. hmm.. nanti aja deh ;-)

26 Comments

  1. BSE? Hm, sepertinya layak dikembangkan secara komprehensif nih…

    Langkah yang lumayan untuk memulai program pendidikan gratis…

    Gimana dengan perindustrian perbukuan? Waa.. komen deh.. ^^

  2. Eh, ralat, no komen gitu deh.. he.. :D

  3. lebih bagus lagi sih lisensinya di bawah FDL (free document license). jadi pemerintah nggak perlu buang2 uang buat beli lisensi buku.

  4. Pertanyaan saya juga sama dengan bu Enggar.
    “Kira-kira bagaimana dengan industri perbukuan di Indonesia? (pengarang & penerbit)”

    saat saya mencoba mendownload terlihat peratuaran sebagai berikut :
    …………………
    Pengguna dapat mendownload dan/atau mencetak file BS-E serta menggandakan, memperdagangkan, dengan ketentuan:
    1. Pengganda dan/atau penjual berkewarganegaraan Indonesia atau berbadan hukum di wilayah Indonesia;
    …………………

    Berdasarkan peraturan tersebut dapat dilihat bahwa setiap orang (warga RI) dapat menggandakannya. Nah lho, terus nasibnya penerbit-penerbit yang sudah ada gimana? Mungkin hal itulah yang harus diperhatikan pemerintah untuk membuat suatu peraturan yang tidak merugikan siapapun.

    Pertanyaan selanjutnya :
    Apakah buku-buku yang sudah ada dan beredar di pasaran akan dilektronikan juga?
    Hmm, ga tau deh.. :)

    btw, saya sudah mencoba fasilitas baca onlinenya dan kesan saya sungguh sangat lambat , tapi tampilannya sudah cukup interaktif dengan disajikan dengan menggunakan animasi page flipper. jadi mirip kita saat buka buku. nice!

    Maaf bu Enggar, numpang ngeJunk :p

  5. terobosan yang baru dan menarik, bu enggar. sayangnya, belum diimbangin dengan jaringan infrastruktur yang memadai sehingga belum semua masyarakat bisa mengaksesnya. dengan ol-nya BSE, itu bisa menjadi “pukulan” bagi penerbit, sehingga harus melalui fase bargaining yang alot sebelum resmi diluncurkan. semoga kehadiran BSE tak sampai “membunuh” penerbit dalam melahirkan buku2 berkualitas meski pemerintah juga sudah menentukan HET (Harga Eceran tertinggi)-nya.

  6. bagas

    SEMUA DICIPTAKAN UNTUK MENGHADAPI PILPRES 2009. BICARA DENGAN HATI & LIHATLAH DENGAN HATI! DARIPADA BUANG DUIT UNTUK BUAT BUKU MURAH LEBIH BAIK DUITNYA UNTUK CUCI OTAK PEJABAT2 YANG SERING MINTA DISCOUNT. HARGA BUKU MAHAL KARENA PERMINTAAN DISCOUNT YANG TINGGI!

  7. Joko Sutrisno

    Terpaksa kasih komentar nih…
    BSE dan Penerbit Buku bisa berjalan berdampingan kok, selama tidak ada “tekanan-tekanan” dari pemerintah di mana sekolah hanya diijinkan menggunakan BSE ini saja, tidak boleh menggunakan buku-buku lain yang diterbitkan penerbit buku (swasta). Toh dari dulu sebenarnya pemerintah sudah menyediakan buku paket lewat Balai Pustaka (yang saya ingat sih buku Energi, Gelombang, dan Medan), meskipun banyak guru yang merasa “tidak cukup” dengan buku-buku terbitan Balai Pustaka tersebut, sehingga membeli buku-buku dari penerbit swasta. Kalau sudah main Melarang ini itu, Mewajibkan ini itu…ya sudah bisa ditebak akan seperti apa dunia pendidikan di Indonesia. Semua sekolah akan menggunakan buku-buku yang relatif sama, tidak ada lagi “kompetisi” untuk menjadi lebih unggul dibanding yang lain. Ada juga sih yang komentar, BSE hanya dijadikan alat politik untuk memikat hati rakyat. Kalau menurut saya sih, BSE disebabkan pemerintah sudah kehabisan dana untuk disalurkan ke sekolah-2 melalui BOS Buku. Bayangkan saja, dengan BSE, pemerintah hanya mengeluarkan sedikit dana untuk membayar/membeli hak cipta buku, anggap saja 200 buku dikalikan 100 juta, hanya 20 M saja (nggak tahu berapa biaya untuk penyeleksian buku-2 ini..heheheh). Sedangkan kalau melalui BOS Buku, pemerintah harus mengeluarkan dana sekitar rp20.000 per buku, kalikan dengan jumlah siswa SD sebanyak 25 juta lebih…kalikan lagi dengan jumlah mata pelajarannya….wah…jauh sekali perbedaan dana yang harus dikeluarkan. Dengan adanya BSE ini, sebagian “tugas” pemerintah untuk menyediakan sarana pendidikan sudah dapat dianggap selesai…urusan penggandaannya di sekolah…ya urusan sekolah dan masyarakat sendiri…(????). Dapat diibaratkan, ngajak piknik ke Bali…tapi kumpulnya di Denpasar…! Atau “nelpon gratis”…tapi “syarat dan ketentuan berlaku”. Mirip dengan kasus UN-lah, sarana dan prasarananya belum distandarkan…tapi alat ujinya sudah distandarkan. Katanya KTSP, sekolah boleh membuat kurikulum sendiri-sendiri…tapi ujiannya sama. katanya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), tetapi dana yang dianggarkan oleh pemerintah per anak (BOS) dihitung hanya berdasarkan jumlah siswa, bukan pada kebutuhan siswa dan sekolah. Duh…ternyata carut marut sekali ya bangsa ini?

  8. Enggar

    Yudha:Maksudnya? :)
    Gie dan Ali: Thanks.
    Sawali: Setuju itu, Pak. Semoga bse dan penerbit buku dapat seiring sejalan.
    Pak Joko:
    Kok terpaksa Pak? :) . Betul juga, Pak. Saya jadi ingat koleksi bupel yang saya gunakan jaman sekolah dulu. Jadi, sebenarnya sama aja ya Pak namun sekarang lebih canggih, melalui versi digital walopun nanti dicetak juga. Memang seharusnya pemerintah tidak memberikan tekanan, toh kalau pakai acara tekan menekan sana sini yang namanya informasi bisa didapat dari manapun (jaman internet, gitu loh:)).Dan hak setiap sekolah juga untuk memilih buku-buku yang mereka ingin gunakan. Bukankah semakin bagus jika beraneka ragam? Bandingkan jika segala-galanya harus seragam? Wah, seram juga. Bukankah baik juga bagi guru jika dia mempunyai banyak sumber belajar? Tidak saja dari buku mata pelajaran tapi buku-buku non pelajaran yang mengaitkan dengan bidang ilmunya. Jadi, banyak yang bisa diceritakan ke muridnya, bukan begitu,Pak?
    Btw, tantangan bagi penulis dan penerbit untuk mendapatkan ide-ide baru yang kreatif dalam mengemas buku-buku mereka. Tak mudah tentu saja. Tapi juga tidak ada yang tidak mungkin :) .

  9. fdl tuh lisensi yang memperbolehkan setiap orang menyalin, mendistribusikan, dan lain2, dokumen yang udah dibuat ama penulis. mirip gpl di foss dan linux.
    jadi, kalo setiap buku pelajaran berlisensi fdl, pemerintah kan ngak usah harus buang2 duit buat beli lisensi buku. smuanya tersedia bebas untuk dipake.

  10. Bagi yang merasa file bse dari diknas terlalu besar (contoh Matematika SD kelas 2 besarnya 398MB, saya kecilkan jadi 5 MB, tanpa mengurangi isi), bisa coba download dari homepage saya .. http://www.invir.com (Jumlah ebook akan ditambah terus … server diknas sering sibuk, dan ada beberapa file yang tidak bisa didownload) …

    Salam ..

  11. bu enggar, kulanuwun
    berbagai reaksi ditimbulkan dari BSE ini, kebetulan saya salah satu penulis yang hak ciptanya dibeli oleh diknas, dalam hal ini pusbuk yang melakoninya…dari wira-wiri ke jakarta untuk mengurus dokumen pembelian hak cipta membuat saya jenuh..terlebih seluruh akomodasi ditanggung oleh penulis..nampaknya harga net yang ditawarkan tidak mau diganggu gugat..teman-teman penulis hanya bisa pasrah..terlepas dari semuanya, kami berharap hal ini sebagai salah satu langkah agar anak didik kita dapat mengakses lebih mudah sarana belajar, tapii betapa kecewanya saja begitu membuka situsnya, sangat lambat dan tidak mengakomodir kebutuhan penggunanya, sekali lagi mudah2an kesedian teman2 penulis untuk dibeli hak ciptanya menjadi amal jariah untuk kami, amien

  12. hamim rosyidi

    upaya pemerintah untuk mencerdaskan bangsa harus kita dukung, termasuk fasilitas buku-buku. sebaliknya setiap upaya pihak-pihak tertentu untuk menghalangi kecerdasan bangsa harus kita bumi hanguskan. termasuk kepalas sekolah dan guru yang mestinya digugu dan ditiru, malah jual buku

  13. Enggar

    Syendi:
    Amin, Bu.
    Hamim:
    Tentu saja semua mendukung, Pak. Kritik dan saran itu tetap diperlukan dalam upaya mendapatkan yang terbaik. Dan tentang kepsek atau guru yang berjualan buku, itu tidak semua. Beberapa sekolah diberikan dana operasional dalam bentuk BOS. Dana tersebut sebagian dialokasikan untuk pembelian buku pelajaran. Buku-buku itu dipinjamkan dan akan dikembalikan ke sekolah.

  14. ade putra

    Pada dasarnya saya setuju saja dengan BSE, tetapi soal HET, tunggu dulu. Kebijakan memang bisa menguntungkan tetapi juga bisa sangat merugikan. Bisa kita bayangkan nasib karyawan, sales dll dari penerbit, bagaimana?. Kembali ke HET, sungguh nggak masuk akal. Bayangkan saja, seandainya sekolah ingin menggandakan buku Matematika kelas 5 dengan fotocopy, berarti sekolah harus mengeluarkan biaya 293 lembar x 125 rupiah = 36.625, itu baru fotocopy, sudah melanggar HET, belum njilidnya, murahnya dimana???

  15. Jusuf Padangpradapa

    Halo kawan-kawan,
    Langsung saja, saya coba download BSE di websitenya DEPDIKNAS langsung, hasilnya… kesal, kesal dan kesal.. sebenarnya sdh siap belum sih ? ada aja yang aneh, yang kode sekuritynya yang tidak cocoklah, yang setelah menyetujui pernyataan dan klik, langsung done lah?… maunya apa Sih? jadi tolong kalau ada diantara kawan-kawan yang berhasil tolong lah di sharing… bagaimana caranya kok bisa berhasil…. mungkin saya saja yang masih kurang faham… Tks

  16. @Jusuf Padangpradapa
    Coba download dari servernya kambing (kambing.ui.edu) di http://kambing.ui.edu/bse/pdf/

    Insya Allah berhasil.

  17. aboh

    saya setuju dengan pak ade putra, murahnya di mana……??

  18. Rakyat biasa

    thanks om r88ney, mudah2an ada orang2 yg berilmu dan baik memberikan link kepada kami2 semua sehingga BSE ini benar2 bisa didownload dan dimanfaatkan…

  19. Wong Cilik , Wonogiri

    DEPDIKNAS pancen setengah hati , mau nolong apa mau nyusahkan ? download BSE susahnya setengah mati , bikin praktis dan mudah apa tidak bisa ? Tolong dong diperhatikan kami yang ada di desa terpencil ini. selain itu sekolah-sekolah juga di kendalikan agar jangan arogan ( asal ) menjual buku , yang tujuannya cari laba. Kami rakyat kecil sudah sulit tolong jangan malah dicekik.

  20. Wong Cilik , Wonogiri

    …………. ya ya ya , ada download untuk teknologi tepat guna untuK alternatif BBM , APA TIDAK YA ?

  21. Joko Sutrisno

    Hari Senin, 11 Agustus 2008 kemarin, harian kompas di halaman 12 (Humaniora) menurunkan tulisan berjudul “BSE Bukan untuk Murid”. Lho??? Terus untuk siapa? Begitu pertanyaan spontan saya. Dalam berita itu, Mendiknas menyebutkan: “Program BSE itu tidak ada. Itu hanya nama website Depdiknas yang isinya buku-buku pelajaran yang hak ciptanya sudah dibeli pemerintah. Namun yang terjadi pemerintah dikonyol-konyolkan karena banyak sekolah yang belum punya listrik tapi pemerintah sudah buat program BSE. Sekali lagi saya tegaskan, BSE itu program buku murah. Maksud utama pembuatan website itu bukan untuk murid, tapi perusahaan agar mencetak dan menjual buku dengan harga sepertiga dari harga buku teks di pasaran”. Saat ditanya mengapa pemerintah belum mengusahakan buku teks gratis, Bambang mengatakan, buku teks gratis harus disediakan sekolah dalam jumlah cukup, terutama untuk siswa yang tidak mampu. Yang mampu dianjurkan beli….Duh…ini bagaimana sih? Kok jadi kayaknya semakin tidak jelas arah kebijakan pendidikan di negeri ini. Waktu itu gencar diberitakan oleh Kompas juga bahwa karena adanya BSE ini maka sekolah dan guru dilarang melakukan jual beli buku di sekolah, malahan sampai ada kepala sekolah di Jakarta yang dipecat (?) karena kedapatan mengelola penjualan buku di sekolahnya. Sampai saat ini pun….setahu saya masih banyak sekolah yang menunggu-nunggu datangnya “buku ajaib” dari pemerintah itu, sehingga sementara ini siswa dan guru belajar tanpa ada buku teks. Maunya seperti apa sih?

  22. Enggar

    Iya, pak. Keponakan saya beberapa minggu awal tahun ajaran itu sempat tidak menggunakan buku paket apapun. Belum dikasih tau dari sekolah katanya. Mungkin Pemerintah malu mengakui bahwa kebijakan yang mereka buat belum mereka pikirkan matang-matang sebelumnnya. namun setelah adanya banyak kritik mereka merasa disudutkan dan hasilnya ya tulisan di atas. Lucu juga. Kalau bse ditujukan untuk perusahaan, kenapa tidak langsung saja ke perusahaannya yang menerbitkan buku. Dan omong-omonglah dengan penerbit buku mengenai kesepakatan harga yang boleh ditetapkan. Aneh.

  23. Didik Sadianto,S.Pd

    Za ide dasar peluncuran buku ini sudah bagus. Tapi bagaimana dengan sekolah yang letaknya terpencil apa mungkin mendownload buku ini??????????????????……Apa mungkin?

  24. Menarik sekali fenomena bse itu. Saya juga sempat mempertanyakan, kalau memang pemerintah mau membuat program buku murah, ya harusnya program buku murah untuk murid. Lantas kenapa pemerintah tidak mencetak sekaligus disamping meluncurkan e-book yang bisa diunduh di website depdiknas. Dengan beragam pilihan, masyarakat pada akhirnya akan memilih mana yang lebih mungkin untuk bisa mendapatkan buku yang telah dinilai oleh BNSP itu. Karena memang kita harus bisa memastikan bahwa buku teks ajar itu memang sudah dinilai kualitasnya oleh BNSP. Sebagian besar buku yang digunakan sekarang oleh sekolah-sekolah belum dinilai kelayakannya oleh pemerintah. Oh ya, bagi yang berminat memiliki bse SD dan SMP lengkap, hubungi saya di 0227794027.

  25. nyoba ikut nimbrung ah …

    kebetulan sy bekerja di pershn penerbitan yang membuat buku pelajaran sekolah. kebijakan pemerintah ini berdampak besar buat perusahaan kami. (katanya) Perusahaan kami terpaksa melakukan pengurangan karyawan akibat adanya buku pelajaran gratis yang disediakan pemerintah ini. ini menurut manajemen di perushn kami. saya sendiri ngga begitu yakin dampaknya akan demikian besar buat penerbitan seperti kami. saya juga bertanya2 apa buku kami kalah bersaing dg buku gratis yg disediakan pemerintah. mungkin karena pemerintah mematok harga yg terlalu rendah shg sulit bagi penerbit mendapat keuntungan dan meningkatkan laba perushn. kondisi krisis ini benar2 sy alami di pershn saya.

  26. blogwalking mas. kunjungi blogku juga ya

Trackbacks/Pingbacks

  1. Buku Sekolah Elektronik & Smart Classroom « SD NEGERI GAMBIRANOM

Leave a Reply

Powered By Wordpress || Designed By @ridgey28

Social Widgets powered by AB-WebLog.com.