Sekolah Negeri
Pendidikan June 5th, 2008Jaman saya kecil dulu, sekolah negeri itu jadi rebutan. Jaman sekarang, tidak jarang saya temui orang tua yang anti menyekolahkan anaknya di sekolah negeri. Belum ditambah dengan kalimat-kalimat yang menohok perasaan. Duh, sampai seperti itukah? Saya kok masih percaya bahwa ditempat yang sepertinya brengsek sekalipun masih ada orang-orang yang berhati tulus. Atau mungkin saya yang terlalu naif?
update:
Komentar untuk tulisan ini saya letakkan di sini aja ya.
Memang kondisinya seperti itu ya? Saya memang tidak pernah terjun murni mengajar di sekolah. Selama ini saya mengajar di sekolah karena adanya kerjasama dari lembaga tempat saya bekerja. Di sekolah saya sekarang memang mendapatkan dana bos dan sekolah dilarang memungut dana dari siswa. Pihak sekolah sedang berusaha agar sekolah ini bisa mendapatkan status SSN. Rekan guru bilang jika sekolah mendapat status SNN maka sekolah akan mendapatkan dana bantuan selama 3 tahun. Dana ini akan dialokasikan untuk pengembangan SDM di sekolah. Sebagian sisanya untuk infrastruktur. Dan sekolah boleh menarik dana dari siswa. Tahun ke-3 jika sekolah berhak mendapatkan SSN maka dana bantuan akan terus dialirkan. Sebaliknya, jika gagal maka diputus.
Tapi, terus saya jadi kepikiran. Kalau sekolah boleh memungut dana dari siswa bisa dipastikan anak-anak yang bersekolah di sana berasal dari kalangan menengah ke atas. Lantas, anak-anak yang tidak ada di golongan ini kemana? Akhirnya, balik lagi ke sekolah yang memberikan pendidikan gratis. Dan benar kata Pak Joko, gratis yang seadanya. Bukan gratis sesuai kebutuhan. Bagi kalangan mampu bisa memilih sekolah yang lebih baik, tapi yang tidak? Ah, pendidikan gratis yang memadai mungkin cuma mimpi buat mereka. Pada akhirnya, motivasi belajar pada anak-anak ini pun hanya sekadarnya saja. Bertambah parah jika guru yang diharapkan bisa menumbuhkan semangat justru melakukan sebaliknya. Di sini terjadi lingkaran setan. Guru di sekolah merasa kualitasnya kalah dibandingkan dengan guru swasta atau guru di sekolah negeri yang berstatus SNN dan seperti itulah. Perasaan seperti ini juga dipicu oleh sikap masyarakat sekitarnya. Kekecewaan guru tadi ditimpakan kepada anak didik. Sulit memang ya.
Menurut saya, paradigma guru yang harus diubah. Gratis atau tidak, seharusnya tidak jadi masalah untuk memberikan yang terbaik. Buktinya, ibu gurunya Andrea Hirata, di Laskar Pelangi. Di sana saya melihat peranan beliau tidak saja sebagai pengajar tapi juga seorang pendidik yang baik. Atau mimpi kali ya, kalau kita mengharapkan ada banyak ibu Muslimah? Saya kok terobsesi sangat dengan dedikasi beliau ini ya? :). Inginnya bisa seperti itu tapi nyatanya, oh, sungguh sangat-sangat berat :(.


June 7th, 2008 at 3:10 pm
Iya mbak, saya juga heran. Memangnya ada apa dg sekolah negeri sekarang. Padahal dulu saya dari SD sampai SMA juga di sekolah negeri. SD nya malah di SD Inpres yang notabene sekolah kampung. Saya pikir sih, mau sekolah di negeri atau swasta, sekolah kampung atau unggulan, sepanjang bisa menyelenggarakan kegiatan belajar-mengajar secara baik, itu bukan masalah.
June 11th, 2008 at 7:22 am
Kok heran sih Bu? Sekolah negeri, terutama SD kan sudah dimanjakan dengan adanya dana BOS yang banyak dianggap sebagai “rumus utama” meningkatkan mutu. Tapi masalahnya, sekolah-sekolah penerima dana BOS ini dipasung kreativitasnya karena setelah menerima dana BOS, sekolah tidak diperkenankan (dlarang) memungut uang dari siswa/ortu siswa. Buat sekolah-sekolah yang biaya operasionalnya per siswa rendah (di bawah angka dana BOS per siswa), maka sekolah-sekolah tersebut akan bersyukur menerima dana BOS dan dapat melaksanakan semua kegiatan yang direncanakan. tetapi bagi sekolah-sekolah yang biaya operasional per siswanya tinggi (di atas angka dana BOS per siswa), maka sekolah tersebut terpaksa memangkas beberapa program kegiatan yang direncanakan, misalnya kegiatan ekstrakurikuler, pelajaran tambahan, peningkatan mutu guru, dsb. Akibatnya…terjadi kemunduran penyelenggaraan di sekolah-sekolah ini, yang oleh masyarakat kemudian dilihat sebagai penurunan mutu pendidikan di sekolah-sekolah negeri. Mungkin seperti itu ya Bu analisisnya (menurut saya, yang terus terang juga mikir 2X untuk menyekolahkan anak saya di SD negeri). Malah pernah saya dapat curhat dari seorang guru SD, bahwa semenjak adanya dana BOS, orang tua sudah tidak peduli lagi dengan urusan dan kebutuhan sekolah, karena beranggapan bahwa dana BOS identik dengan sekolah gratis, padahal kepala sekolahnya pusing tujuh keliling mikirin sumber dana untuk ide-ide kreatifnya. Maaf terlalu panjang…habis saya suka gemes sih melihat kampanye-2 dari pemerintah tentang pendidikan gratis, padahal sesungguhnya bukan gratis yang sebenarnya (hanya gratis seadanya, bukan sesuai kebutuhan sekolah).
June 11th, 2008 at 9:58 am
Pak Joko:
Memang kondisinya seperti itu ya? Saya memang tidak pernah terjun murni mengajar di sekolah. Selama ini saya mengajar di sekolah karena adanya kerjasama dari lembaga tempat saya bekerja. -delete- disambung pada tulisan yang sama. Soalnya terlalu panjang
June 12th, 2008 at 11:26 am
waduh bu enggar…kayaknya ga jaman ibu aja deh yang orang tuanya mau anaknya masuk sekolah negeri… (hehehe)
Ibu saya aja masih menerapkan prinsip “Anakku musti masuk sekolah negeri,kalo engga ga aku sekolahin”…
hi…sadis juga nih si mama…
malahan adikku lagi ketar ketir kalo dia ga masuk sma/k negeri…
Tapi hal yg sangat saya syukuri dan ambil hikmah dari sekolah negeri adalah: kemampuan bersaing dan terseleksi…
Bagaimana tidak, waktu saya SMP,saya kudu ikut genera test utk masuk SMP negeri
Pas SMA saya mesti ngikutin passgrade
dan (insya allah) pasti kalo saya mau ngambi PTN toh saya mesti ikut spmb yang penyaringannya …wuih… ~.~