Hari ini saya teringat ucapan kepala sekolah yang menyatakan tingginya angka putus sekolah di tempat kami. Kembali juga saya terkenang usaha rekan guru untuk mengembalikan anak-anak itu ke sekolah. Bukan upaya yang mudah memang. Saya sendiri menyadari betapa sulitnya merangkul anak-anak itu.

Persoalan putus sekolah tidak hanya dialami sekolah ini. Di sekolah terbuka di Bandung kejadiannya pun sama. Di tengah-tengah KBM ada saja siswa yang berhenti. Setelah usaha guru membujuk, ada kalanya beberapa dari mereka kembali namun ada juga yang berhenti. Persoalan yang paling mendasar adalah ekonomi. Dengan alasan membantu orang tua. Ah, semester ini saya kehilangan dua siswa. Nyaris saja menjadi tiga. Alhamduilillah, ibu Ida tidak lelahnya mengunjungi dan berbicara dengan orang tua anak ini. Namanya Imam. Pendiam, namun termasuk yang paling pintar di kelas. Oya, dia akan mewakili sekolah kami untuk lomba cerdas cermat pertengahan bulan ini. Tidak penting menang atau kalah, tapi keberanian sekolah ini untuk tampil bersaing dengan sekolah umum adalah sesuatu yang luar biasa, bukan?

Kedua sekolah di atas sesungguhnya tidak jauh berbeda. Namun keberuntungan masih lebih banyak dimiliki sekolah di Jakarta ini. Mempunyai gedung, walaupun seadanya. Gratis juga. Tidak gratis penuh sih. Dari berbagai macam kalangan, tidak semuanya berada di lapisan bawah. Walaupun mungkin mayoritas adalah kelompok marjinal. Tapi, kenapa ya, tingkat putus sekolah sangat tinggi. Apa kira-kira penyebab dan bagaimana solusinya?