KBM di kelas 9 berakhir sudah, tapi masih banyak tugas dan tanggung jawab yang harus diselesaikan para guru. Apalagi kalau bukan menilai. Hari rabu kemarin saya ditugaskan menjadi korektor untuk menilai hasil UAS siswa-siswa yang berjumlah 203 murid itu. Start dari pagi dan baru selesai setelah dzuhur. Lama? Ya, tentu saja. Dan ini soal essay.
Berikut pelajaran moral yang saya dapat hari ini.
Pertama, berikan nilai 1 untuk jawaban siswa yang salah. Jangan kosong. Kedua, jangan terlalu keras dalam memberikan penilaian. Artinya, saya membenarkan jawaban siswa walaupun ejaan dan penulisan mereka sedikit salah. Seperti Photoshop jadi fotosop. Dengan syarat, tidak terlalu parah kesalahannya. Ketiga, boleh masukkan angka 0 untuk jawaban yang kosong.
Hasil penilaian akan direvisi kembali oleh korektor pertama. Oya, posisi saya disini sebagai korektor kedua.
Hm, di sela-sela tugas koreksi bersama rekan guru lainnya, kami selingi dengan obrolan singkat seputar jawaban siswa yang kadang sedikit nyeleneh. Saya sendiri menilai hampir sebagian besar murid-murid kesulitan menulis. Kesimpulan itu saya ambil setelah mengamati jawaban siswa di lembar tugas. Mungkin mereka tidak terbiasa membaca dan menulis. Bahkan untuk menyusun kalimat yang sederhana. Yang paling membuat sebal adalah kebiasaan siswa untuk korupsi huruf. Yang ditulis yan. Atau bahkan disingkat menjadi yg. Duh, mumet membacanya.
Rekan lain mempermasalahkan tingkah polah anak-anak. Ketika masalah itu saya angkat ke permukaan, beberapa rekan guru memberikan tanggapan. Salah satunya, menyesali kebiasaan yang sudah terlanjur melekat sejak di sekolah dasar. Saya terdiam. Saya baru 5 bulan mengajar di sini. Masih banyak yang belum saya ketahui. Saya harus lebih bijaksana melangkah dan memahami kesulitan yang dirasakan baik oleh siswa ataupun rekan guru di sini.
Namun yang pasti saya senang bisa mengajar di sini. Sekolah ini memberi ruang baru bagi saya memandang setiap persoalan. Dan itu adalah sebuah tantangan yang menarik :).
Recent Comments