Minggu lalu sekolah saya direpotkan oleh urusan yang berbau dana bantuan. Dana bantuan ini (katanya) akan diberikan kepada sekolah yang dianggap layak untuk mendapatkan sertifikat SSN (Sekolah Standar Nasional). Tentunya berbagai persyaratan harus dipenuhi sekolah yang bersangkutan. Apa saja persyaratannya? Hm, macam-macam. Maka sibuklah sekolah kami mendata, tidak saja SDM berikut berbagai sertifikat yang dimiliki, infrastruktur dan sebagainya.

Sekolah kami adalah sekolah dengan kondisi fisik yang tidak terlalu bagus. Ruang-ruang kelas tempat murid belajar banyak yang dindingnya kropos, lembab dan berjamur. Lampu penerangan pun menurut saya tidak cukup memadai untuk murid belajar. Bahkan ada satu ruang kelas yang keadaannya cukup parah. Terletak di belakang dan cukup terasing dari ruang kelas lain. Bocor jika hujan dan suasana yang pengap. Saya sendiri sebenarnya tidak tahan untuk berada di ruangan tersebut. Untuk lab komputer sendiri kondisinya tidak jauh berbeda. Bahkan pernah ketika saya mengajar dan hujan turun cukup lebat, air pun turun membasahi monitor dan mouse di salah satu tempat. Saat itu kami cepat-cepat memindahkan komputer. Walaupun akhirnya air menggenangi lantai lab juga. Alhamdulillah tidak sampai parah sih. Tapi cukup mengganggu kegiatan belajar. Dampaknya tentu saja ada, rusaknya perangkat komputer.

Ini adalah gambaran keadaan sebuah sekolah, yang terletak di tengah kota. Saya yakin masih banyak sekolah yang kondisinya seperti di atas, bahkan mungkin lebih parah lagi. Dengan situasi seperti di atas, masih mungkin layakkah sekolah kami mendapatkan sertifikat SSN? Tentu saja Anda tahu jawabannya.

Dan sekolah kami memutuskan untuk mengisi data tersebut apa adanya. Mungkin sebuah angan-angan bagi sekolah ini untuk sekedar mendapatkan dana bantuan tersebut. Sedangkan di tempat lain, sekolah yang memiliki predikat SSN kembali mendapatkan dana bantuan tersebut. Sekolah yang secara fisik jauh lebih baik. Tentu saja tidak heran jika melahirkan murid-murid yang dalam penilaian angka juga baik apalagi didukung dengan kualitas input yang sama baiknya. Tapi, apakah itu berarti yang tidak masuk dalam kategori tersebut tidak pantas mendapatkan bantuan? Bukankah semua anak berhak mendapatkan pendidikan yang sama baiknya? Tanpa ada suatu perbedaan?

Tidak ingin protes, tapi hanya ingin mengajukan sebuah pertanyaan, bantuan itu sesungguhnya untuk siapa? Hanya untuk sebuah kalangan dengan sebutan ’sekolah unggulan’? Begitu pentingkah kata itu? Sehingga berduyun-duyun orang menggelontorkan dana nya ke sana dan melupakan bahwa mungkin saja ada anak-anak yang berpotensi unggul di tempat yang tidak berkilauan. Tapi sayangnya, cahayanya lenyap sebelum sempat bersinar.

Baca juga artikel ini.